Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Bau kambing


__ADS_3

Andre melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar pengasuh putrinya.Tentu saja ia harus mengambil pakaian ganti untuk gadis desa itu.


"Ada yang bisa saya bantu, bos?" tanya Leo—asisten pribadi duda tampan itu.


"Ada, coba kau cari baju ganti untuk pengasuh putriku. Bekerjalah yang baik dan benar. Kau sudah kuberi libur selama kau menikmati masa - masa menjadi pengantin baru. Jadi, jangan lupakan tugasmu bersamaku!" jawab Andre panjang lebar dan nampak menekan setiap ucapannya.


Leo menganggukkan kepalanya, mengerti dan menyetujui apa yang dikatakan oleh bos dudanya itu. Ya, Leo memang baru saja kembali setelah ia mengambil cuti selama menikmati masa - masa pengantin baru.


"Tentu saja, bos. Saya akan bekerja dengan giat dan lebih semangat. Kalau begitu saya akan mencari pakaian ganti untuk pengasuh princess." jawab Leo yang nampak penuh kesiapan.


"Bagus! Segera kau cari di kamar ini. Terserah mau pilih pakaian tidur semacam piyama atau pun daster, kurasa gadis desa itu memang tidak memiliki pakaian yang cantik dan indah seperti yang Meliza pakai." ucap Andre seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar pengasuh putrinya itu.


"Baik bos!" jawab Leo yang kemudian mulai mencari baju ganti untuk Rumanah.


Andre mendudukkan bokongnya di tepi springbed, memperhatikan gerak-gerik asisten pribadinya yang sedang mencari pakaian ganti untuk pengasuh putrinya.


"Yang ini bagaimana, bos?" tanya Leo seraya menunjukkan baju kaos lengan panjang.


Andre terdiam sejenak, memperhatikan baju kaos milik Rumanah yang ada di genggaman tangan Leo.


"Ya sudah tidak apa-apa. Ambil yang itu saja," ucap Andre mengiyakan.


"Baiklah, sekarang tinggal mencari bawahan dan pakaian dalamnya." ucap Leo.


"Hah, pakaian dalam?" Andre nampak terlihat syok dan tercengang.


"Ya, bos. Memangnya gadis desa seperti Rumanah tidak memakai pakaian dalam?" celetuk Leo.


"Entahlah, aku juga kurang paham pada si gadis desa itu. Dia begitu terlihat primitiv dan klasik. " jawab Andre.


"Tapi tidak mungkin juga kalau gadis desa itu mengenakan dedaunan untuk menutupi miss vagsnya, ha ha ha ha!" Leo tertawa terbahak-bahak saat ia mengatakan hal yang tak sewajarnya ia katakan.


"Ha ha ha ha ha ha!" Andre menyusul Leo. Mereka tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Pakai dedaunan. Ha ha ha ha!" kembali Leo berkata hal yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha, loe kira dia keturunan tarzan." seloroh Andre yang nampak masih tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha ha ha, siapa tahu benar begitu, bos." ucap Leo yang juga masih tertawa.


"Ha ha, gila loe! Dia itu manusia normal, tapi fashionnya saja yang seperti tidak semangat hidup. Ha ha ha ha." Andre nampak tak dapat meghentikan tawanya setiap kali ia mengatakan hal yang menggelikan.


"Ha ha ha ha, bos, sebaiknya Anda cepat minta maaf dan jangan asal bicara. Sebab, saya takut nanti bos akan jatuh cinta pada gadis desa itu. Ha ha ha!" ucap Leo di sela-sela tawa renyahnya.


Andre nampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada asisten pribadinya. Seketika tawanya surut begitu saja saat Leo mengatakan hal yang membuatnya enggan melanjutkan tawa. "Jaga ucapanmu, kamver! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada wanita langka seperti gadis desa itu. Biarkan saja dia menjadi bagian hidupku, tetapi hanya menjadi pengasuh putriku. Dan kuharap, gadis desa itu tidak memikirkan soal cinta dan dia akan mengabdi seumur hidupnya untuk princess putriku." ujar Andre yang nampak menekan setiap ucapannya.


"Glek!" Leo menelan ludahnya kasar. "Tapi saya rasa gadis desa itu sama seperti gadis-gadis pada umumnya, Tuan. Dia memiliki cinta dan kas—" Leo belum selesai bicara, tiba-tiba Andre menyelanya.


"Sudah jangan dibahas! Cepat kau cari apa yang harus kau cari, kamver! Aku harus segera ke rumah sakit, gadis desa itu pasti gelisah menunggu kedatanganku. Bagaimana pun ini semua harus kupertanggung jawabkan." tegas Andre menyela ucapan asisten pribadinya.


"Baik, bos!" jawab Leo dengan sigap. Pria itu pun kembali mencari apa yang harus ia temukan. "Cieee gelisah cieeee!" ucapnya dalam hati.


"Satu jam lagi operasi akan dilakukan, Le." ucap Andre yang kini sudah berjalan melewati koridor rumah sakit.


"Pasti Tuan sangat deg-degan menghadapi situasi seperti ini. Tuan harus tetap tenang dan jangan khawatir, saya yakin pasti gadis desa itu dapat melewati ini semua." jawab Leo yang nampak menyemangati bos dudanya.


"Ck, kau ini." decak Andre tanpa menolehkan wajahnya.


Andre pun telah sampai di kamar vvip yang Rumanah tempati. Di dalam kamar, Rumanah tampak sedang berbaring dan memejamkan matanya. Sepertinya gadis desa itu sedang terpejam.


"Astaga, bisa-bisanya dia tidur nyenyak saat akan melakukan operasi." desis Andre seraya menatapi wajah Rumanah yang sedang tertidur.


Leo berdiri di samping bos dudanya dan menatap wajah manis Rumanah yang sedang terpejam tenang. Ini kali pertamanya Leo melihat sosok Rumanah.


"Ya Tuhan, wajahnya tenang sekali. Saya rasa gadis ini pembawa pintu rezeky bagi siapa pun yang menikahinya." ucap Leo yang berhasil membuat Andre terjingkat kaget.


"Plak!" Andre menepak kepala asisten pribadinya. Dan hal itu membuat Leo meringis kecil.

__ADS_1


"Auuuuw!" ringis Leo.


"Apa saja yang kau lakukan saat honeymoon di Bali? Pergi kursus ke dukun santet, tukang sihir, tukang ramal atau pergi ke Kiyai besar? Sok tahu sekali kau ini!" sungut Andre dengan tatapannya yang dingin.


Leo mengusap-ngusap kepalanya dan menyengir kudanil. "He he he, saya hanya mendengar dari mbah google, Tuan." jawabnya disertai cengengesnya.


Andre mendelikkan matanya. "Dasar kau utusan mbah google!" sungut duda tampan itu.


Keributan dua pria itu membuat Rumanah terusik dan terganggu. Gadis desa itu nampak membuka matanya dan terjingkat kaget saat melihat dua orang yang sedang berargumen di hadapannya.


"Haaahhhh??? Tuan, Anda sudah di sini." ucap Rumanah seraya mengusap wajahnya dan langsung beringsut bangun dari tidurnya.


Andre memutar bola matanya. "Seperti yang kau lihat, Annabelle." jawabnya yang nyaris tanpa senyum.


"He he he, saya kira sedang bermimpi." ucap Rumanah disertai cengengesnya.


Andre mememcengkan bibirnya seraya memutar bola matanya, sementara Leo nampak tersenyum kecut menahan tawa.


"Ini pakaian gantimu, segeralah mandi. Badanmu pasti sangat bau kecut." ucap Andre seraya melemparkan paper bag kecil ke hadapan Rumanah.


Rumanah menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Bau kambing, Tuan." ucapnya mengandung kelakar.


"Hmm, kambing enak dimakan dagingnya, sedangkan kau tidak enak untuk dimakan." cetus Andre seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


"He he, saya memang tidak meminta Tuan untuk—" Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menyelanya.


"Sudah jangan banyak ngoceh saja kau, Annabelle! Cepat bangun dan bersihkan badanmu, sebentar lagi operasi akan segera dilaksanakan." perintah Andre yang nampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah menelan ludahnya kasar dan menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan." jawabnya seraya menyibakkan selimutnya.


"Annabelle Annabelle, kau gadis yang malang. Tapi sepertinya kalian sangat menyenangkan jika menjadi pasangan suami istri. Ha ha ha ha ha!" celoteh Leo dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2