Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Mencurigakan


__ADS_3

"Akhirnya jahitannya sudah dilepas juga, Belle. Kau pasti sangat senang," ucap Andre saat mereka keluar dari area rumah sakit.


Rumanah tersenyum hangat. Tentu saja ia senang karena kini jari manisnya sudah terlihat lebih baik. Ya, dokter sudah membolehkan Rumanah untuk melepas jahitannya. Tentu saja karena jahitannya sudah kering dan jari Rumanah sudah terasa lebih baik.


"Tentu saja, Tuan. Saya sangat senang sekali dengan hal ini. Sekarang jari manis saya kembali seperti semula. Tapi sayang, ada bekas jahitannya." Rumanah bicara sembari memperhatikan jari jemarinya.


"Tidak apa-apa, sayang. Kau tetap terlihat cantik dalam keadaan apa pun," hibur Andre seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya itu.


Rumanah tersenyum hangat. "Terima kasih ya, Tuan. Berkat Anda, saya bisa melewati ini semua." ucapnya berterima kasih.


Andre mengulas senyuman manis serta menggenggam tangan istrinya penuh cinta. "Apa pun akan kulakukan untukmu, Annabelle sayang." ucapnya.


Rumanah tersenyum. Ia sangat bahagia mendengar ucapan suami tampannya ini. Semakin hari, pria yang menikahinya secara sirri itu tampak semakin menampakkan perasaannya pada Rumanah. Dan hal itu membuat Rumanah semakin yakin jika suaminya sangat mencintainya.


"Oh ya, apa yang ingin kau katakan tadi, Belle?" tanya Andre.


"Hmm? Yang mana, Tuan?" Rumanah balik bertanya.


"Yang tadi, saat kita hendak berangkat ke rumah sakit. Katanya kau ingin bicara sesuatu. Apa itu?" terang Andre.


Rumanah memutar bola matanya dan seperti sedang berpikir keras. Hingga beberapa detik kemudian...


"Oooohh, itu. Emh, sebenarnya saya ingin meminta izin untuk..." Rumanah tampak terlihat ragu mengatakan apa yang ingin ia katakan pada suaminya.


Andre menolehkan wajahnya dan menatap serius wajah cantik istrinya. "Untuk apa, sayang? Katakanlah!" desaknya penasaran.


Rumanah terdiam sejenak dan membuang napasnya perlahan. "Eeemh, untuk mengonsumsi pil kontrasepsi, Tuan." ungkapnya dengan raut wajah yang tampak tegang dan seperti ketakutan. Ya, tentu saja dia takut dimarahi oleh suaminya itu.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terperanjat kaget mendengar keinginan istrinya itu.


"Apa? Mengonsumsi pil kontrasepsi?" ucapnya penuh keterkejutan.


Rumanah mengangguk dengan gugup.


"Biar apa?" tanyanya.


Rumanah mengerutkan dahinya dan menatap heran pada suaminya. "Anda tidak mengerti maksud saya, Tuan?" tanyanya.


"Jawab saja, biar apa kau mengonsumsi pil kontrasepsi?" desaknya.


Rumanah memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. "Untuk menambah nafs*u makan!" ucapnya kesal.

__ADS_1


"Ha ha ha ha!" Andre tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban istri sirrinya itu. Tentu saja ia sangat tahu tentang pil kontrasepsi. Bagaimana pun dia pernah memiliki istri sebelumnya.


"Astaga, malah tertawa. Ini serius, Tuaaaaan," cicit Rumanah kesal.


"Hehehe, aku tahu," ucap Andre santai.


"Lantas, bagaimana? Apakah saya boleh melakukannya?" tanya Rumanah yang tampak menatap serius pada suami tampannya itu.


Andre terdiam sejenak dan sesaat kemudian ia pun mengulas senyuman hangat. "Tidak perlu, Annabelle sayang. Melakukan KB sendiri pun sudah cukup. Suatu saat nanti, kau pasti bersedia 'kan mengandung anakku? Aku harap kau mengerti," ujarnya seraya memainkan jari jemarinya pada wajah cantik istrinya.


Rumanah terdiam sejenak dan seperti sedang kebingungan. Ia berpikir jika mengonsumsi pil kontrasepsi akan aman ketika mereka melakukan pergulatan di atas ranjang. Sementara jika KB sendiri, ia sangat takut suaminya akan lupa mencabut senjata tajamnya dan menenar benih di rahimnya. Seperti yang pernah Andre lakukan beberapa hari yang lalu.


"Kenapa kau diam begitu, sayang? Kau masih ragu padaku? Kau tidak tahu jika sebenarnya aku sudah tidak sabar ingin memberitahu pernikahan kita pada princess, orang tuaku, orang tuamu, dan semua orang yang ada di dunia ini." Andre bicara seraya menatap lekat wajah cantik istrinya dan menggenggam tangan mungil itu.


Rumanah menggeleng kecil seraya tersenyum manis. Dia pun sangat ingin memberitahu dunia jika dia sudah menikah dengan pria tampan di sisinya itu.


"Tidak, Tuan. Saya tidak meragukan apa pun dari Tuan. Emh, baiklah. Jika begitu ... saya tidak akan mengonsumsi pil kontrasepsi," ucap Rumanah yang kini tampak patuh dan luluh.


Andre tersenyum senang. "Bagus, itu namanya istri yang baik dan penurut," pujinya.


Rumanah tersenyum manis dan tersipu malu. Wajahnya tampak memerah merona dan sangat menggemaskan.


"Oh ya, sayang. Sejujurnya aku penasaran dengan kehidupanmu di desa. Bisakah kau menceritakannya padaku? Emh, maksudku ... tentang orang tuamu, keluargamu, atau apa pun itu. Aku sangat ingin tahu," ucap Andre yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget dan seketika ia tampak gugup.


"Untuk apa? Kita suami istri, bukan? Tentu saja aku ingin tahu semua tentangmu, sayang," ucap Andre dengan suara yang lembut dan penuh cinta.


Rumanah terdiam sejenak. "Anda akan tahu nanti, Tuan." jawabnya singkat.


Andre mengerutkan dahi. "Ada apa? Kenapa dia terlihat gugup begini? Apakah ada yang dia sembunyikan dariku?" ucap Andre dalam hati.


Rumanah tampak meremas jari jemarinya dan seperti sedang ketakutan.


"Oke, aku mengerti. Tapi, aku sangat ingin mendengar suara orang tuamu. Bagaimana pun, mereka adalah orang tuaku juga, Belle. Bagaimana kalau kau telepon mereka sekarang. Dan, aku juga berniat untuk mengirimkan uang pada orang tuamu, berapa nomor rekeningnya?" ucap Andre yang tampak mendesak.


Rumanah semakin tegang dan gugup. Dilihat dari segi manapun, wanita cantik itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari suaminya.


"Astaga, kenapa dia sangat semangat sekali. Apa yang harus aku katakan? Aku sungguh belum siap mengungkap semuanya." Rumanah bicara dalam hati.


"Dia diam? Aku yakin, ada yang dia sembunyikan dariku. Tapi ... sudahlah, aku tidak perlu mendesaknya saat ini," ucap Andre dalam hati.


"Emh, sebenarnya orang tua saya tidak punya ponsel, Tuan. Dan, rekening pun mereka tidak punya. Ya, namanya juga tinggal di desa yang kumuh, Tuan. He he he," ucap Rumanah disertai cengengesnya.

__ADS_1


Andre tersenyum kecil, ia tidak akan memaksa istrinya untuk berkata jujur. "Oooh, begitu. Aku jadi tidak sabar ingin segera menemui orang tuamu. Mereka berhak tahu pernikahan kita, sayang. Aku juga ingin berterima kasih pada mereka karena sudah menghadirkan seorang wanita cantik dan menggemaskan seperti dirimu ini," ucapnya yang tampak santai namun sebenarnya ia sangat ingin menyelidiki semuanya.


Rumanah tersenyum kikuk. "Tentu saja, Tuan. Anda pasti akan menemui orang tua saya," balasnya.


"Bagaimana kalau hari minggu?" usul Andre yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.


"Haaahh? Ha–hari minggu?" tanya Rumanah yang tampak syok.


Andre mengangguk serta tersenyum. "Iya, lebih cepat lebih baik, bukan?" jawabnya.


Rumanah menelan ludahnya kasar dan meremas jari jemarinya. Ia tampak terlihat tegang dan gugup.


"Tidak, Tuan. Emh, sebaiknya nanti saja, ya. Saya rasa ini terlalu buru-buru, mereka pasti akan sangat terkejut. Saya harap Anda mengerti, Tuan," tolak Rumanah tanpa menatap wajah tampan suaminya.


"Sudah kuduga, kau pasti menolak. Aku semakin yakin, ada yang kau sembunyikan dariku. Annabelle, ada apa sebenarnya dengan dirimu? Mungkinkah kau bukan gadis desa? Atau mungkin kau anak yatim piatu yang tidak memiliki tempat tinggal? Entahlah, mungkin aku harus menyelidikinya," ucap Andre dalam hati.


Andre tersenyum manis dan berusaha tetap santai. Dengan lembut ia mengusap wajah cantik istrinya. "Baiklah, sayang. Aku hargai keputusanmu," ucapnya.


Rumanah mengangguk dan tersenyum kecil. Ia tampak sudah bisa membuang napas lega. "Syukurlah, untung saja dia tidak memaksa," ucapnya dalam hati.


"Emh, bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan, sayang. Kau pasti penat karena setiap hari harus menghadapi kemanjaan putri sambungmu," ucap Andre.


"Emh, sebenarnya tidak, Tuan. Bukan princess yang membuat saya penat, tapi ... Daddy nya!" ungkap Rumanah yang berhasil membuat Andre terhenyak kaget.


"Apa?? Kenapa aku?"


"Ya, karena Anda lebih manja dari princess," jawab Rumanah seraya tersenyum genit.


"Hehehe, hanya kamu tempatku bermanja, Annabelle," ucap Andre seraya mengusap lembut puncak kepala istri sirrinya itu.


Rumanah tersenyum manis serta menyandarkan kepalanya pada pundak kekar suaminya.


"Bagaimana? Mau jalan-jalan?" tanya Andre.


"Jalan-jalan ke mana, Tuan?" tanya Rumanah.


"Ke hatimu," jawab Andre seraya menepuk dada istrinya lembut.


"Ck, gombal!" Rumanah berrecak seraya tersenyum manis.


"Hanya kau tempatku menggombal, Annabelle," ucap Andre.

__ADS_1


"Hehehe, tentu saja," balas Rumanah disertai senyuman manisnya. Ia tampak senang mendengar setiap kata yang terucap dari mulut suaminya itu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2