
Rumanah menatap satu persatu manusia yang ada di hadapannya. Kini, ia semakin curiga dengan kandungannya. Ia semakin curiga pada manusia-manusia yang ada di sekitarnya. Ia yakin jika mereka semua sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Sementara itu, Andre tampak tak kuasa menahan sakit di hati dan di kepalanya. Ia begitu sakit melihat wajah cemas dan panik istrinya. Seperti itu saja ia sudah merasa sakit. Apalagi kalau ia mengatakan yang sebenarnya? Istrinya itu pasti akan menangis sejadi-jadinya dan begitu sedih menerima kenyataan yang menimpanya.
"Hubby! Ada apa? Kenapa perutku terasa berbeda? Apakah baby kita baik-baik saja?" tanya Rumanah dengan tatapan yang begitu mendesak.
Resah, gelisah, takut, panik dan tegang yang saat ini ia rasakan. Sementara itu, tangannya Masih mengelus serta meraba perutnya yang rata. Dan Andre, kini tampak semakin pusing dan sulit baginya untuk bicara.
"Kenapa semuanya diam? Jika ada yang bisa menjawab, jawablah! Bagaimana kondisi kehamilanku? Baik-baik saja, bukan? Oh ya, aku masih ingat, tadi itu aku ... astaga! Tadi aku sampai bergulingan di lantai dan perutku pun terbentur ke sana sini. Ya Tuhan! Bisakah kalian menjawab pertanyaanku sekarang juga?! Aku butuh jawaban!"
Rumanah semakin memaksa dan mendesak. Kali ini ia tampak menaikkan suaranya dan menatap tajam pada semua orang yang ada di sana.
"Tenang, darling. Sudah kubilang kau harus tenang. Kau tahu? Tadi dokter bilang kau harus istirahat and don't panik!" ujar Andre sembari menggenggam erat tangan mungil istrinya.
Rumanah semakin merasa heran dan bingung. Ditambah lagi, ketiga orang lainnya masih diam tak berkata apapun. Mereka hanya menatap dengan sebuah tatapan bingung, ragu dan tampak sedih.
"Biar aku tanyakan pada dokter! Kalian diam di sini dan jangan menghalangiku!" Sejurus kemudian, Rumanah melepaskan tangan Andre dengan kasar.
Nada bicaranya terdengar seperti orang yang sedang marah. Ya, tentu saja itu karena Rumanah begitu sangat penasaran dengan keadaan janin di dalam kandungannya. Ah, tidak. Bahkan sekarang tidak ada apa-apa di dalam kandungannya itu.
Andre tampak terbelalak kaget mendengar ucapan istrinya. Begitu pun dengan Maae Lilis, Mami Purwati dan juga Ferhat. Mereka tampak kaget dan bingung menghadapi situasi yang saat ini terjadi.
"Hei, apa yang kau lakukan, Rumrum. Come on! Tenanglah! Tenanglah untuk sesaat saja. Tidak ada yang kami tutup-tutupi darimu, Rumrum. Kami hanya butuh waktu untuk mengatakannya padamu," ucap Ferhat yang turut menahan Rumanah agar tidak berontak dan nekat.
Deggg!!!!!
Mendengar ucapan Ferhat. Seketika jantung Rumanah tampak berdetak kencang dan seperti ada yang meninju dadanya. Netra kecoklatannya itu semakin melebar dan membulat.
"Ada apa ini? Kenapa kau bicara seperti itu, Ferfer? Kalian butuh waktu? Kenapa harus membutuhkan waktu untuk mengatakan semuanya padaku? Katakan! Katakan! Apa yang terjadi? Kalian semua membuatku curiga. Jangan-jangan, yang telah dibunuh itu ... janin di dalam kandunganku! Benar, bukan?" Kali ini Rumanah berkata dengan suara yang bergetar.
Netra bulat milik wanita itu kini berkaca-kaca dan nyaris mengeluarkan kristal bening yang rasanya asin. Tangan mungilnya mengepal dan dadanya kian terasa sesak. Sudah membayangkannya saja ia begitu sakit dan sesak. Apalagi kalau memang benar kejadian?
"Sialan! Kenapa kau bicara seperti itu? Kau hanya membuat situasi mencekam dan semakin tegang! Lihat istriku! Dia semakin panik dan ketakutan. Ck! Menyebalkan!" omel Andre yang tampak terlihat kesal pada Ferhat.
Ferhat melipat bibirnya ke dalam. Sementara Andre tampak mengusap wajahnya kasar dan begitu bingung dengan keadaan saat ini.
__ADS_1
"Andre, boleh Mami berikan saran?" bisik Mami Purwati sedikit keras dan mampu terdengar oleh Rumanah juga Maae Lilis dan Ferhat.
Andre mengangguk, "Saran apa, Mam?" tanyanya dengan raut wajah yang begitu kacau.
Mami Purwati terdiam sejenak. Untuk sesaat ia mengumpulkan keberanian dan mencari kata-kata yang baik dan bisa membuat Andre mengerti. Sementara Rumanah kini begitu menatap intens dan kristal bening itu mulai mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Aku tahu! Baby ku sudah tidak ada di sini. Aku sudah tidak bisa merasakan kehangatannya saat kuusap perutku ini," ucap Rumanah yang berhasil membuat Andre, Ferhat, Maae Lilis dan Mami Purwati tampak terbelalak kaget.
"Darling, apa yang kau kat—"
"Jangan bicara! Aku sudah bisa menebak bahkan bisa merasakannya. Jangan banyak drama! Aku sudah tahu," sela Rumanah dengan suara yang bergetar karena kini ia tengah menangis.
Melihat putri kesayangannya menangis sedih dan terlihat rapuh seperti itu, Maae Lilis tampak tak kuasa menahan sesak di dadanya. Inilah yang dia khawatirkan dan pikirkan. Ia begitu tidak akan kuat melihat tangis dan kesedihan putri tunggalnya itu.
"Sayang, aku belum selesai bic—" lagi-lagi Andre harus menggantung ucapannya saat tiba-tiba Rumanah menyelanya.
"Bahkan aku ingat persis bagaimana kerasnya benturan di perutku ini. Saat itu pun aku sudah sangat khawatir pada janinku. Dan kini, aku ... hu hu hu hu hu!" Rumanah kini tak kuasa lagi melanjutkan ucapannya.
Tangisnya kini pecah dan begitu membuat Andre semakin sakit. Sakit! Ya, hati Andre begitu terasa sakit melihat istrinya menangis seperti itu.
"Darling, tenanglah! Jangan menangis seperti ini. Aku sungguh tidak sanggup melihatmu menangis. Tenang, sayang. Ada aku di sini. Ada aku, aku selalu ada untukmu. Jangan menangis, darling." Andre memeluk istrinya dan menciumi wajah pucatnya.
"Aku sungguh tak sanggup melihat ini," ucap Mami Purwati sembari mengusap air matanya kasar.
"Aku lebih tidak sanggup, Mbak. Kesedihan mereka, tentunya menjadi kesedihanku juga," balas Maae Lilis sembari memeluk besannya itu.
Mereka berdua berpelukan dan begitu meratapi kesedihan yang mereka rasakan.
"Ya Tuhan!" gumam Ferhat sembari mengusap wajahnya kasar. Ia pun bergegas keluar dari ruangan itu dengan sejuta kesedihan.
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
Rumanah membuka matanya, pucat di wajahnya masih terlihat. Semalam, ia tidur tenang dan nyenyak setelah suster menyuntikan obat tidur pada selang infusnya.
"Hubby," panggilnya dengan suara yang serak dan parau.
Andre yang masih terlelap dengan nyenyak itu tampak tidak mendengar panggilan istrinya. Tentu saja itu karena ia tidur begitu nyenyak.
"Sepertinya dia belum bangun," gumam Rumanah sembari memperhatikan suaminya itu.
Satu detik, dua detik, tiga detik sampai lima detik Andre tampak belum bangun juga. Hal itu membuat Rumanah terpaksa harus menurunkan kakinya sendiri. Ya, ia ingin buang air kecil saat itu. Tentu saja ia tidak akan mengganggu tidur suaminya.
"Auwh, perutku sakit sekali. Rasanya begitu linu," ringis Rumanah sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
Dengan perlahan ia menurunkan kakinya, melepaskan kantung cairan infusnya dari tianganya.
"Hm, dia ini benar-benar tidur nyenyak. Sepertinya semalam suamiku sangat kesulitan menghadapi kekacauan diriku," ucap Rumanah sembari memperhatikan wajah suaminya yang tidur nyenyak di atas sofa.
Ya, semalam Rumanah memang tak henti menangis dan mengamuk. Tentu saja ia begitu terpukul dan benar-benar tak terima dengan kepergian janin di kandungannya. Namun, dengan setegar hati dan sekuat-kuatnya, Andre berusaha menenangkan juga menghibur istrinya itu.
Walau pada akhirnya Rumanah tidur karena efek obat tidur yang suster berikan pada cairan infusnya.
"Kasihan sekali," gumam Rumanah sembari mengusap lembut wajah tampan suaminya
Andre yang sedang tertidur tampak merasakan belaian lembut tangan mungil istrinya itu. Dengan cepat ia membuka mata dan betapa terkejutnya ia saat melihat sang istri berdiri di hadapannya.
"Darling! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berdiri di sini, sayang?" tanya Andre yang tampak begitu cemas.
Dengan cepat pria tampan itu meloncat dari sofa. Berdiri di hadapan istrinya dengan tatapan yang cemas dan kaget. Sementara Rumanah tampak tersenyum manis padanya. Walau wajahnya kini begitu pucat, tapi kecantikannya tetap terlihat. Karena memang dia sudah biasa tidak mengenakan riasan di wajah yang begitu tebal dan mencolok. Sehingga hal itu membuatnya terlihat stabil walau tanpa make up.
"Tidak apa-apa, hubby. Aku ingin buang air kecil, tapi saat kupanggil, ternyata kau masih tidur." Rumanah menjawab disertai dengan senyumannya.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh, "Astaga, darling. Kenapa kau tidak melemparku dengan botol minum itu. Ya sudah, sekarang aku akan menggendongmu, okey!" ujarnya penuh penekanan.
Rumanah nyengenges sembari menggeleng, "Tidak usah digendong, hubby. Temani aku saja. Aku masih bisa berjalan walau pelan seperti siput," tolaknya dengan lembut dan halus.
Andre terkekeh kecil dan mengusel pada lengan istrinya, "Benar-benar menggemaskan!" desisnya gemas.
__ADS_1
"Hei, pelan-pelan. Nanti kena infusan ku," omel Rumanah dengan cemberut manjanya.
BERSAMBUNG...