Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Dua lansia


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Andre, suasana rumah terasa berbeda. Hening dan beberapa makanan enak tersaji di atas meja makan, meja ruang tamu, meja ruang keluarga dan meja ruang televisi. Hal itu membuat Andre dan Rumanah tampak sedikit merasa aneh dan bertanya-tanya.


"Ini kenapa banyak makanan yang tersedia, ya?" ucap Andre seraya mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan di lantai satu.


Rumanah mengangkat bahu. "Entah, dan suasana pun sangat terasa sepi. Pada ke mana penghuni di rumah ini?" balas Rumanah yang juga tampak mengedarkan pandangannya.


"Hmmmm, mereka semua memang suka aneh. Apa mungkin mereka mengira kita sedang pergi jauh? Atau, mengira jika kita sedang liburan ke luar negeri? Astaga, awas saja jika mereka semua pergi kelayapan tanpa minta izin padaku!" celoteh Andre yang tampak menerka-nerka.


Rumanah tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya mendekati meja. "Mereka menyiapkan makanan untuk menyambut Anda dan Princess," ucapnya seraya menyuil sepotong brownies cokelat keju.


Andre terkekeh dan melangkahkan kakinya mendekati istrinya. Sementara si cantik Sandrina tampak sudah duduk di kursi menghadap meja makan.


"Apa pun itu, sekarang kau pun sudah berhak dihormati dan dihargai oleh para penghuni di rumah ini. Aku yakin jika mereka akan terkejut saat mengetahui pernikahan kita. Mereka semua pasti tidak menyangka," ucap Andre seraya memainkan jemarinya pada wajah cantik istrinya. Kini, ia tak ingin berakting lagi. Sebab, sang putri mahkota sudah tahu akan pernikahannya dengan Rumanah.


Lagipula, Andre akan secepatnya mengabari kedua orang tuanya perihal pernikahannya dengan wanita cantik itu. Tentunya, ia tidak akan melupakan kedua orang tua Rumanah yang masih menjadi misteri baginya.


"Ya, Daddy benar. Sekarang, Dewi Peri sudah menjadi Bunda untuk Princess. Jadi, mereka semua tidak boleh ada yang nakal pada Bunda," timpal si cantik Sandrina yang tampak antusias.


Rumanah tersenyum hangat serta menatap lembut putri sambungnya itu. Sejujurnya ia sangat bahagia dan tersanjung dengan kasih sayang suami juga putri sambungnya itu.


"Terima kasih, princess sayang. Sebenarnya mereka semua tidak ada yang nakal. Manusia yang sering nakal pada Dew–emh, maksudnya Bunda, adalah Daddy princess!" ungkap Rumanah yang tampak masih latah menyebut dirinya Dewi Peri.


"Haaaah? Daddy?" Sandrina melongo tak percaya. Sementara Andre tampak cungar cengir tanpa dosa.


Rumanah mengangguk mengiyakan. "Ya, Daddy princess nakal pada Bunda. Setiap malam, Daddy menggigit Bunda, sayang." jawabnya dengan suara yang ia buat se melas mungkin.


"He he he." Andre terkekeh. "Tapi, itu adalah gigitan dan enak dan nikmat, bukaaaan??" bisiknya pada telinga istrinya.


Rumanah menekuk lehernya ke samping dan tampak bergidik geli. "Ish, geli, Tuan!" desisnya.


"Daddy, jangan nakal pada Bunda doooong! Bunda 'kan baik, kenapa Daddy nakalin Bundaaa?" tegur Sandrina yang tampak mengomeli Daddynya.


Rumanah tampak terkekeh kecil melihat pembelaan putri sambungnya itu. Sementara Andre tampak memutar bola matanya santai dan membuang napasnya kasar.


"Hmmmm, jangan dengarkan yang Bunda katakan, princess. Daddy tidak pernah nakal pada Bunda mu itu," ujar Andre mencoba menghasud putri mahkotanya.


Sandrina terdiam dan menatap penuh intimidasi pada Daddy nya. Sepertinya ia memang tidak suka dan tidak terima jika sang Daddy benar-benar nakal pada sang Bunda.


"He he he, jangan terlalu serius, princess. Bunda hanya sedang bercanda," ucap Rumanah menengahi.


"Oooh, hanya bercanda. Princess kira, betulan, Bunda," balas Sandrina seraya manggut-manggut tanda mengerti.

__ADS_1


Andre tersenyum senang melihat istri dan putri mahkotanya. Ia sungguh ingin segera menghadirkan sosok seorang adik untuk Princess Sandrina. Sepertinya akan semakin seru dan tentunya akan menambah kebahagiaan keluarganya.


"Aku mau ke kamar dulu, darling. Sepertinya aku perlu merebahkan tubuhku kembali," ucap Andre pada istrinya.


Rumanah tersenyum kecil seraya mengangguk mengiyakan. "Makanya, kalau malam jangan terlalu bekerja keras, Tuan. Inilah akibatnya, Anda kecapek'an, bukan? Hi hi hi," bisiknya mengandung sindiran.


Andre memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. Ya, semalam ia memang bekerka keras membuat bercocok tanam dengan istri cantiknya itu. Ia sangat berharap, benih yang telah ditanam di rahim Rumanah akan segera tumbuh menjadi bibit-bibit Andre junior.


"Itu karena kau yang membuatku selalu ingin bekerja keras, darling," bisik Andre seraya merengkuh bahu istrinya.


Rumanah bergidik geli dan menjauhkan telinganya dari bibir suaminya. "Sudah sana ke kamar, semoga saja tulang belulang Anda masih utuh dan kokoh," ucapnya yang berhasil membuat Andre membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Kau pikir aku kakek-kakek bau tanah, hah!!?" sosor Andre seraya menjewer telinga istrinya.


"Aaauuuwhhhh, sakit, Tuan!" ringis Rumanah dengan ekspresi manjanya.


Andre terkekeh kecil.


"Daddy, jangan sakiti Bunda, dooooong!" tegur si cantik Sandrina seraya menatap ekstream pada Daddy nya.


"He he he, tidak sama sekali, princess. Daddy hanya menjewer pelan. Bunda mu saja yang kelewat aleman," jawab Andre seraya mengusap lembut puncak kepala putri mahkotanya itu.


"Ck, menyebalkan!" Rumanah berdecak.


"Annabelle, Annabelle. Kau memang selalu membuatku gemas. Semoga saja kau bisa cepat mengandung anakku." Andre bicara sendiri selama ia berada di dalam lift.


Tring!


Pintu lift terbuka, dengan cepat Andre keluar dari lift dan berjalan santai menuju kamarnya.


"Jika pernikahan kami sudah menyebar ke mana-mana, aku bisa semakin leluasa mengajak Annabelle ke mana saja. Hmmm," ucap Andre yang tampak masih berargumen dengan dirinya sendiri.


Sssrreeeeeetttttt!


Pintu kamar terbuka saat Andre menekan tombol di depannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia pun melangkah masuk ke dalam kamarnya itu. Suasana sejuk dan nyaman mulai terasa menyapanya. Aroma maskulin begitu menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.


Baru dapat beberapa langkah saja, Andre tampak terbelalak kaget saat melihat dua manusia lansia yang sedang berbaring di atas ranjangnya. Kedua manusia itu tampak terpejam dan saling berpelukan. Dan hal itu benar-benar membuat Andre syok berat.


"Astaga! Apa aku tidak salah lihat? Benarkah itu Mami dan Papi?" ucap Andre seraya mengucek matanya berkali-kali.


Andre memelototkan matanya dan menatap fokus pada dua orang di atas ranjang. "Hah, benar. Ini bukan mimpi!" bisiknya seraya melangkahkan kaki menghampiri Mami dan Papi nya yang sedang terpejam di atas ranjang.

__ADS_1


Dengan perlahan Andre melangkahkan kakinya, menatap fokus pada kedua orang tuanya yang seperti tidak menyadari kehadirannya di sana. Beberapa pertanyaan bergelayut di kepalanya. Namun, ini bukanlah mimpi di siang bolong. Nyatanya, kedua orang tuanya benar-benar berada di atas ranjang.


"Astaga, kapan mereka datang ke sini? Dasar, lansia rempong. Kenapa mereka tidak mengabariku jika akan ke rumahku? Ck, benar-benar membuatku merinding. Dan sekarang, apakah mereka berdua benar-benar sedang terpejam?" celoteh Andre dalam hati.


Ia tampak sedang berdiri di sisi ranjang sembari memandangi kedua orang tuanya yang masih terpejam.


"Jam berapa mereka sampai? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" kembali Andre bicara dalam hati.


Setelah memastikan jika Mami dan Papi nya benar-benar sedang terpejam, Andre memutar tubuhnya dan hendak merebahkan dirinya di sofa. Namun, belum sampai itu terjadi, tiba-tiba saja dari belakang ada yang melemparkan bantal pada kepelanya.


Plug! (Bunyi bantal)


"Aauuuwh," ringis Andre yang sebenarnya tidaklah sakit. Hanya saja lebih ke kaget.


"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Kenapa kau tidak ada di rumah saat kami datang, hah??" semprot Papi Dargono yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Whatt?" Andre tampak mengerutkan dahinya dan memutar tubuhnya menghadap kedua orang tuanya. "Wow, mereka hanya berpura-pura tidur," ucapnya dalam hati.


"Ke mana saja kau, anak nakal! Kenapa kau tidak menyambut kami di rumah ini?" timpal Mami Purwati yang juga tampak mengomeli putra tunggalnya itu.


Andre menatap heran pada kedua orang tuanya yang benar-benar absurd menurutnya. "Astaga!" desisnya seraya memutar bola matanya malas. "Bagaimana Andre akan menyambut Mami dan Papi, sementara Andre tidak tahu jika Mami dan Papi akan berkunjung ke sini." ucapnya seraya mengusap wajahnya kasar.


Mami Purwati beringsut turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menghampiri putra tunggalnya. "Harusnya kau merasakan getaran-getaran dan tanda-tanda kami akan datang! Dasar kau anak tidak peka!" cicitnya sembari menepuk punggung putra tunggalnya itu.


"Auuuwh, astaga! Apakah hal semacam itu bisa dirasakan? Ayolah jangan menyalahkan putra kalian yang tampan ini. Lagipula, Mami dan Papi punya gawai, kenapa tidak menghubungi Andre?" ujar Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Kami sengaja tidak menghubungimu, karena kami ingin memberi kejutan untukmu dan princess!" jawab Papi Dargono yang juga turun dari ranjang.


Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan membuang napasnya kasar. "Jika begitu, tidak ada gunanya Mami dan Papi menyalahkan putra kalian yang tampan ini!" selorohnya.


"Hei hei hei, ke mana saja kau baru pulang jam segini, hah?" Papi Dargono mulai menyelidiki.


Andre tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Emh, anu. Princess menginap di rumah Omma nya dan Andre menjemputnya tadi pagi." jawabnya seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


"Ck, jangan berbohong. Kau pikir kami tidak tahu jika kau membawa pergi pengasuh princess tadi malam dan kalian berdua tidak pulang sampai pagi!? Astaga, kau apakan anak orang itu, hah? Jangan jadi anak yang nakal, Andre! Mami dan Papi tidak mengajarkan itu padamu!" oceh Mami Purwati panjang kali lebar kali tinggi.


"Apaaa???" Andre tampak terbelalak kaget mendengar ucapan Mami nya itu. Tentu saja itu artinya sang Mami dan sang Papi sampai ke rumahnya di waktu malam.


"Apa? Apa yang kau lakukan pada gadis itu, Andre? Kau mencari kesempatan sebagai majikan, ya!? Mentang-mentang kau duda kaya, jadi kau bisa semena-mena pada pengasuh putrimu itu! Papi sangat tidak mendukung hal ini!" sosor Papi Dargono yang juga mengomel ria.


Andre menatap kosong dan belum sempat mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2