
Rumanah membuka matanya di waktu subuh, semalam gadis desa itu tampak istirahat dengan tenang dan nyaman. Setelah ia berargumen dengan hati dan jiwanya. Gadis desa itu terbangun dalam keadaan baik-baik saja.
"Hoaaaam, Alhamdulillah aku masih di beri kesempatan untuk bangun pagi dan melaksanakn kewajibanku sebagai seorang muslimah." ucap Rumanah sembari menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Gadis desa itu memang termasuk hamba yang taat pada Tuhannya. Saat tiba waktunya untuk merendahkan diri dan bersujud pada Tuhan, Rumanah tidak akan melewatinya.
"Sepertinya berjama'ah ke mushola akan lebih baik." ucap Rumanah yang tiba-tiba terbersit di kepalanya ingin sholat berjama'ah di mushola.
Tanpa pikir panjang Rumanah pun bergegas mengambil wudhu, setelah itu ia pun langsung mengenakan mukenanya lalu bergegas keluar dari kamarnya. Para penghuni di rumah itu tampak masih terpejam dan membuatnya leluasa untuk pergi ke luar.
"Huuuuuummm, segar dan sejuk sekali udara pagi ini."ucap Rumanah saat ia telah kembali dari mushola dan berjalan menuju rumah mewah milik majikan galaknya.
Di halaman rumah, para asisten yang bertugas menyapu halaman tampak sudah berpatroli mengerjakan tugas mereka masing-masing. Rumanah tampak berjalan santai menyapa para asisten yang berjenis kelamin laki-laki semua.
"Selamat pagi, semangat ya semuanya."sapa Rumanah yang tampak berhasil membuat ke empat laki-laki yang sedang membersihkan halaman tampak menoleh ke arahnya.
Rumanah tersenyum hangat, atasan mukena masih ia kenakan. Sementara bawahan rok mukenanya ia satukan dengan sejadah yang ia bawa di dekapan dadanya.
"Aduh-aduh, Neng Rumanah teh habis dari mushola? Meni cantik pisan euuuuy." Sahroni yang berasal dari Jawa Barat tampak tertegun melihat Rumanah yang tampak cantik mengenakan mukena. Tentu saja karena ini kali pertamanya para lelaki itu melihat Rumanah mengenakan mukena yang menutupi rambutnya.
Rumanah tersenyum kecil, "Iya, saya habis dari mushola, Kang. Eh, si Akang teh orang sunda ya?" jawab Rumanah yang kini tampak memakai logat sundanya.
"Rajin amat si Neng teh. Iya atuh Akang teh dari sunda. Neng Rumanah juga dari sunda ya?" jawab Sahroni disertai pertanyaannya.
"Owalah, kebetulan sekali. Duh Gusti, abdi (saya) teh punya sodara atuh di sini." sorak Rumanah antusias.
"He he he, syukur atuh. Nanti kalau lebaran kita bisa pulang bareng ya." balas Sahroni.
Rumanah tersenyum, "Iya atuh pasti, Akang. Kalau gitu saya masuk dulu ya." ucap Rumanah yang kemudian melangkahkan kakinya kembali.
"Eh, Rumanah." panggil Faisal yang berasal dari Jawa.
"Iya." jawab Rumanah sembari menolehkan wajahnya.
__ADS_1
"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan jika kamu cantik. Hi hi hi." ucap Faisal di iringi cekikikannya.
Rumanah menyunggingkan senyuman kecilnya, "Ih kamu masih pagi sudah menggombal." cicitnya yang kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Sementara keempat lelaki itu tampak berbisik-bisik mengagumi kecantikan Rumanah. Ya, gadis desa itu memang terlihat cantik saat ia menutupi kepalanya dengan mukenanya. Tentu saja hal itu berbeda dengan saat ia membiarkan rambutnya yang ikal terpampang nyata.
"Apaan sii mereka itu. Memangnya apa bedanya aku yang memakai mukena dengan aku yang tidak memakai mukena. Ck, dasar laki-laki." gerutu Rumanah sembari meletakkan sajadahnya di atas meja.
Rumanah mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, rasa kantuk kini kembali menyerangnya. Tanpa membuka atasan mukenanya, gadis desa itu kembali merebahkan tubuhnya dan tak sengaja dia pun terlelap kembali ke alam mimpi.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi, Ferhat terbangun dari tidurnya. Lelaki itu mengucek mata dan melihat keponakannya masih terlelap.
"Hoaaaaam, sebaiknya aku langsung pulang saja. Toh aku tidak membawa pakaian ganti." ucap Ferhat sembari membersihkan sisa-sisa belek di sudut matanya.
Lelaki tampan itu pun beringsut dari tempatnya, mendekati keponakannya lalu mencium kening gadis kecil itu. Setelah itu ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berkumur menggunakan listerin. Setelah di rasa cukup, Ferhat pun bergegas keluar dan langsung pergi tanpa berpamitan.
Di lantai lima, Andre tampak membuka matanya. Di lihatnya jam yang menempel di dinding, "Sudah jam tujuh, kenapa malam cepat berganti pagi." ucap Andre dengan suara yang serak khas bangun tidur.
Duda tampan itu pun mulai bangkit lalu melakukan apa yang biasa dia lakukan di pagi hari. Melangkah masuk ke dalam kamar mandi lalu membersihkan dirinya. Sekitar pukul setengah delapan, seperti biasa duda tampan itu akan menikmati sarapan di meja makan.
"Oke terima kasih,Muh. Kerja yang bagus."sahut Andre seraya mendudukkan bokongnya di kursi.
Muhsin tersenyum seraya mengangguk.
"Princess belum sarapan kah?" tanya Andre saat ia melihat sandwich di piring Sandrina masih utuh.
"Belum,Tuan. Gadis desa itu pun belum menampakkan dirinya." jawab Muhsin.
"Hah?? Tumben sekali princess belum sarapan." gumam Andre sembari mengunyah sandwich di dalam mulutnya.
"Saya juga heran,Tuan. Biasanya gadis desa itu sudah sibuk membuatkan susu dan menyiapkan sarapan princess. Tapi pagi ini saya benar-benar belum melihat gadis desa itu." tutur Muhsin.
"Apa jangan-jangan dia masih tidur?" Andre tampak menerka-nerka.
__ADS_1
"Mungkin saja, Tuan. Jika dia sudah bangun maka princess pun pasti sudah bangun." timpal Muhsin.
"Astaga, gadis desa itu benar-benar!" desis Andre yang kemudian beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Waduh, apakah saya salah bicara? Semoga saja gadis desa itu baik-baik saja." ucap Muhsin.
Sementara itu Andre tampak masuk ke dalam kamar putrinya. Di sana, Sandrina tampak benar-benar masih terpejam memeluk gulingnya.
"Astaga, princess benar-benar masih terpejam. Ck, dan ke mana perginya si Ferhat. Kenapa dia tidak ada di sini?" ucap Andre.
Duda tampan itu pun membangunkan putrinya dengan cara halus dan lembut, Tak membutuhkan waktu lama, Sandrina pun terbangun dan membuka matanya.
"Daddy, ke mana dewi peri? Kenapa Daddy yang membangunkan primcess?" gadis kecil itu tampak heran melihat Daddynya membangunkannya.
"Dewi perimu masih ngorok!" jawab Andre kesal.
"Hah?? Lalu, Uncle Fer?"tanya Sandrina.
"Lenyap di telan bumi!" jawab Andre ngasal.
Sandrina tampak terbelelak.
"Cepat bangun,princess. Segera lah mandi, sementara Daddy akan membangunkan dewi perimu itu." ucap Andre.
"Baiklah Dadd." jawab Sandrina.
Tak membuang waktu lagi Andre pun bergegas keluar dari kamar Sandrina dan turun lagi ke lantai dua untuk membangunkan pengasuh putrinya itu.
"Annabelle! Apakah kau sudah bangun?" teriak Andre di depan pintu kamar Rumanah.
Tak ada jawaban, yang dipanggil sepertinya masih terlelap. Dan hal itu membuat Andre tidak sabaran, duda tampan itu pun akhirnya mendorong pintu Rumanah dan masuk ke dalam kamar itu.
Di dalam, Rumanah tampak tertidur dengan posisi miring memeluk bantal guling.
__ADS_1
"Astaga, dia benar-benar masih tertidur." bisik Andre seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
***