Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Siapa yang dibunuh?


__ADS_3

"Darling, aku ada di sampingmu. Kau harus kuat, sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap Andre sembari menggenggam tangan mungil istrinya.


Air matanya itu sudah surut saat ini. Ia tidak mau menangis di hadapan istrinya. Tentu saja ia harus terlihat kuat dan tegar. Walau sebenarnya ia begitu rapuh dan sangat terpukul.


Rumanah menatap sayu wajah tampan suaminya. Bibirnya pucat dan tampak bergetar.


"Hubby! Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini? Wanita itu, wanita itu sudah pergi, 'kan?" Rumanah bertanya dengan suara yang bergetar dan tampak panik.


Mungkin Rumanah masih syok dan ketakutan. Masih terbawa halusinasi dan rasa trauma. Tentu saja ia begitu panik dan ketakutan karena otaknya kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di dalam kamarnya.


Andre menggenggam erat dan semakin erat tangan mungil istrinya itu. Sementara para petugas medis masih mendorong brankar yang ditiduri oleh Rumanah menuju ruang VVIP sesuai dengan permintaan Andre.


"Tenang, darling. Jangan panik dan takut, ya. Aku selalu di sampingmu. Wanita itu sudah tidak ada. Dia akan mendapatkan balasan dari apa yang dia lakukan," ucap Andre sembari mengelus lembut puncak kepala istrinya.


Rumanah menggeleng dan mengusap perut ratanya yang masih sedikit terasa sakit. Saat itu ia sudah sampai di ruang VVIP yang akan menjadi tempatnya beristirahat dan dirawat.


"Ayo pindahkan ke tempat tidurnya. Pelan-pelan saja," ucap petugas medis perempuan.


"Sanee sayang, jangan berpikir yang macam-macam dulu, ya. Kau harus sehat dan kuat," ucap Maae Lilis menenangkan putri tunggalnya itu.


Rumanah mengangguk, "Ya, Maae," jawabnya.


Maae Lilis tersenyum lalu mengusap lembut wajah cantik putrinya itu.


"Darling, peluk leherku. Pegangan yang kuat, ya. Kau akan dipindahkan ke tempat tidur ini," ucap Andre sembari membungkuk dan siap memindahkan tubuh istrinya.


Rumanah mengangguk seraya memeluk leher suaminya dan berpegangangan begitu kuat. Setelah itu, tubuhnya pun dipindahkan ke atas tempat tidurnya.


"Kami permisi, Pak. Jika ada sesuatu, jangan sungkan tekan tombol ini, ya," ucap perawat perempuan dengan ramah.


"Baik, terima kasih, Sus." Andre menjawab sembari mengangguk.


Para perawat itu pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Tentu saja Rumanah kini sudah dapat berinteraksi dengan siapa pun yang bicara padanya.


"Ya Tuhan, bagaimana kalau istriku bertanya soal anak kami. Apa yang harus aku jawab? Aku sangat bingung dan dilematis saat ini. Haruskah aku jujur saja? Atau aku tutupi dulu semua ini sampai beberapa waktu? Astaga," gumam Andre di dalam hati.


Rumanah menatap sayu pada suaminya, bergantian menatap Maae nya lalu beralih lagi menatap mertuanya.


"Maae, Mami, kenapa kalian ikut ke sini semua? Bagaimana dengan pestanya? Apakah sudah berakhir? Oh ya, princess kenapa tidak ikut?" Rumanah bertanya bertubi-tubi.


Maae Lilis dan Mami Purwati tampak saling beradu pandang untuk sesaat. Lalu mereka pun tersenyum kecil dan menggeleng.


"Sudah tidak usah dipikirkan soal pesta, Nak. Di rumah, masih ada pelayan dan anak buah yang berjaga. Papi juga sekarang ada di rumah, menemani princess yang sudah tertidur." Mami Purwati yang menjawab. Ia menjawab dengan pelan, santai dan mudah dipahami.


Rumanah manggut-manggut tanda mengerti, "Princess sudah tertidur, ya," ucapnya, "Kalau Phoo, di mana, Maae?" tanyanya pada Maae nya.


Maae Lilis tampak terdiam sejenak dan sedikit tersentak mendengar pertanyaan putri tunggalnya itu, "Eh itu ... Phoo sedang...." Ia menolehkan wajah dan menatap Andre. Seakan meminta persetujuan dari menantunya itu. Boleh atau tidak ia menjawab pertanyaan Rumanah.

__ADS_1


Andre tampak mengerti dengan tatapan mertuanya. Tak ingin membuat sang mertua ragu dan bingung, akhirnya ia sendiri yang menjawabnya.


"Phoo sedang di kantor polisi, darling. Kau tahu bukan apa yang sudah wanita rubah itu lakukan padamu? Tentu saja wanita itu harus mendapatkan balasan yang setimpal. Jadi, sekarang lebih baik kau tenang dan jangan banyak berpikir ya, sayangku," ungkap Andre panjang lebar dan disertai menenangkan istrinya itu.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu kaget mendengar jawaban suaminya, "Apa? Kantor polisi? Dia akan dipenjara, ya?" tanyanya penuh tanda tanya.


Andre tersenyum kecil, "Lantas, apa yang ingin kau lakukan padanya sekarang, darling?" Ia balik bertanya.


Rumanah memencengkan bibirnya dan terdiam sejenak, "Entahlah," jawabnya sembari menatap kosong pada langit-langit ruangan itu, "Aku rasa wanita itu akan selalu datang untuk melukai bahkan membunuhku," lanjutnya yang kemudian menolehkan wajahnya pada suaminya.


Mendengar jawaban istrinya yang terkesan cemas dan ketakutan, Andre tampak terdiam sejenak dan menatap sendu pada istrinya. Ia merasa jika dirinya telah membuat sang istri dalam bahaya. Tentu saja karena Luna selalu datang dan mungkin akan terus datang lagi untuk menyakiti bahkan membunuh Rumanah. Ya, seperti yang Rumanah katakan tadi.


"Maafkan aku, darling. Itu terjadi karena aku," ucap Andre lirih dan begitu merasa bersalah.


Rumanah menggeleng, "Jangan bicara seperti itu, hubby. Memang ini sudah menjadi garis Tuhan," sanggahnya.


Maae Lilis dan Mami Purwati tampak menatap haru pada kedua insan di hadapan mereka. Rasa cinta di antara keduanya tampak begitu jelas dan tulus.


"Sanee sayang, wanita itu sekarang pasti sudah dimasukkan ke tempat yang harus ia singgahi. Dia pasti akan mendapatkan apa pembalasan yang setimpal dengan perbuatan yang sudah dia lakukan padamu," timpal Maae Lilis sembari menggenggam tangan mungil putrinya.


Rumanah tersenyum getir dan mengangguk kecil.


"Ya Tuhan, Mami benar-benar tidak habis pikir pada wanita itu, Andre. Bisa-bisanya dia mengusik kehidupan kalian yang begitu bahagia. Bukannya dia sendiri yang telah selingkuh darimu? Tapi kenapa kini dia yang ngebet ingin kembali padamu dan bahkan sampai tega melukai Rumanah. Mami benar-benar kesal dan sangat marah padanya. Jika Mami bertemu dengannya lagi, Mami pasti akan mencakar habis wajahnya lalu menjambak rambutnya hingga rontok dari kepalanya," ujar Mami Purwati panjang kali lebar kali tinggi.


Mami Purwati tampak menumpahkan kekesalannya. Ya, mungkin karena ia memang benar-benar kesal dan marah pada wanita rubah yang telah melukai bahkan membunuh calon cucu yang masih berusia satu empat minggu.


"Aku pun sama, Mbak. Kalau aku bertemu lagi dengannya, aku akan meninju perutnya berkali-kali sampai dia kesakitan dan muntah karena isi di dalam perutnya diaduk-aduk oleh tinjuanku! Aku benar-benar tidak terima karena dia telah melukai putriku dan membun—" Maae Lilis menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menyela ucapannya.


"Tunggu! Apa yang Maae katakan tadi? Kenapa tidak dilanjutkan? Hubby, kenapa kau menyelanya? Ayo, katakan lagi. Tadi Maae bilang apa? Melukai putriku dan mem–mem ... membun? Membunuh? Siapa yang telah dibunuh olehnya, Maae?" Rumanah tampak menatap heran dan penuh selidik pada ketiga orang di sana.


Tentu saja ia dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Maae nya tadi. Dan, tentu saja sang Maae tidak sengaja dan bahkan hampir saja keceplosan mengungkap gugurnya sang janin yang berada di dalam rahimnya.


Sontak saja Maae Lilis diam dan membungkam mulutnya tak berdaya. Sementara Mami Purwati dan Andre tampak saling beradu pandang dan mulai panik. Mereka begitu bingung dan dilematis saat ini. Apa yang akan mereka katakan pada wanita yang sudah kehilangan anaknya?


"Astaga! Apa yang harus aku lakukan? Haruskah sekarang juga kami mengungkapnya? Aku takut putriku tidak kuat mendengar jawaban dari kami. Aku takut putriku semakin menderita saat tahu janinnya telah tiada," rintih Maae Lilis di dalam hati.


"Ck! Dasar ceroboh! Kenapa dia bisa bicara seperti itu? Padahal, aku ingin mengungkapnya nanti saja saat Rumanah sudah membaik. Jika mengatakannya sekarang juga, aku takut Rumanah syok sehingga membuat kesehatannya pun terganggu. Lantas, harus bagaimana setelah ini?" celoteh Mami Purwati di dalam hati.


Andre menatap sayu pada istrinya yang tampak penasaran. Tentu saja hati seorang suami begitu sakit dan rapuh saat melihat kesedihan istrinya. Dan hal itu benar-benar tak ingin Andre lihat dari istrinya itu. Tetapi, kesedihan itu pasti datang jika ia mengatakan yang sebenarnya. Rumanah pasti akan sedih dan terpukul sama seperti dirinya jika wanita itu tahu bahwa calon anak mereka telah tiada.


"Aku benar-benar membenci keadaan ini. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku melukai hati istriku ini? Tetapi, jika aku menutupinya, suatu saat nanti pun istriku akan tahu soal kegugurannya. Dan, kalau aku mengatakannya sekarang, aku sangat takut terjadi apa-apa pada istriku. Aku yakin dia akan syok dan tidak terima. Aku sangat bingung sekali," celoteh Andre di dalam hati.


Ketiga orang di hadapan Rumanah tampak masih diam seribu bahasa. Sementara Rumanah sendiri masih menatap heran dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang telah dibunuh oleh wanita itu? Mereka bilang, Phoo sedang berada di kantor polisi.


Sementara Papi kini sedang menemani princess yang sudah tidur. Lalu, siapa yang Luna bunuh? Ferhat, kah? Ah, itu tidak mungkin. Karena 'kan Ferhat adik kandungnya sendiri," ucap Rumanah di dalam hati. Ia tampak menebak-nebak dan berpikir keras.

__ADS_1


Pada saat itu seseorang masuk ke dalam ruang VVIP tersebut. Hal itu membuat Rumanah dan ketiga orang di dalam membuyarkan lamunan masing-masing dan beralih menatap sosok manusia yang masuk.


"Bang, Phoo Boon-Nam ingin bicara denganmu," ucap Ferhat pada Andre. Ia memberikan gawai di tangannya pada mantan kakak iparnya itu.


Andre tampak mengerutkan dahinya, tetapi tangannya menyambar gawai yang Ferhat berikan padanya, "Ada apa, ya?" tanyanya sembari melangkah hendak ke luar.


Ferhat menggeleng, "Mungkin soal Kak Luna, Bang," jawabnya.


Andre mengangguk, ia menoleh sejenak pada istrinya lalu menyunggingkan senyuman terpaksanya. Setelah itu, ia pun kembali melangkah ke luar dari ruangan itu.


"Hai, Rumrum. Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik lagi? Oh ya, aku sangat meminta maaf soal kejahatan Kakakku—Luna. Aku benar-benar merasa bersalah dan tidak enak padamu," ucap Ferhat sembari mendekati Rumanah.


Rumanah mengangguk kecil lantas tersenyum simpul, "Tidak apa-apa, Ferfer. Karena kau tidak salah sama sekali. Kecuali jika kau terlibat dalam kasus ini, maka aku mungkin tidak akan memaafkanmu," jawabnya mengandung ancaman.


Ferhat tersenyum kecil lalu menggeleng, "Tentu saja tidak, Rumrum. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal dia. Tapi, tetap saja aku merasa bersalah karena kau terluka oleh Kakakku sendiri," ucapnya sembari menekuk wajahnya berekspresi bersalah.


Rumanah menggeleng kecil dan menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Ini gawaimu, Fer. Aku sudah selesai bicara," ucap Andre pada Ferhat saat ia telah kembali masuk dan selesai bicara dengan Phoo Boon-Nam yang berada di kantor polisi.


"Oh, baiklah. Apa yang Phoo Boon-Nam katakan? Apakah semuanya sudah selesai?" tanya Ferhat sembari menyambar gawainya.


"Sudah, dia sudah masuk ke jeruji besi. Sudah diwawancara oleh detektif. Mamat sama Angga juga sudah diwawancara sebagai saksi. Sedangkan kamarku sedang diperiksa oleh polisi," jawabnya sembari mendudukkan bokongnya di kursi samping tempat tidur Rumanah.


"Syukurlah kalau begitu, itu artinya semuanya hampir selesai," timpal Maae Lilis.


Andre mengangguk, ia meraih tangan istrinya yang sedari tadi diam dan seperti sedang melamun, "Dia akan mendapatkan balasan yang setimpal, darling," ucapnya sembari menatap penuh cinta pada istrinya.


Rumanah mengerjapkan matanya dan menyunggingkan senyuman kakunya, sementara pikirannya masih berkeliaran ke mana-mana, "Ini Ferhat masih hidup. Jika begitu, siapa yang Luna bunuh?" gumamnya dalam hati.


Rumanah masih memikirkan siapa orang yang Luna bunuh. Tentu saja ia begitu penasaran, apalagi saat ia melihat tingkah dan sikap orang-orang di hadapannya yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Tidakkah ia mengingat janin di dalam kandungannya? Tentu saja ia belum mengingatnya. Hingga pada saat itu...


"Anakku! Bagaimana dengan kondisi anak di dalam rahimku? Apakah dia baik-baik saja?" ucapnya dalam hati. Ia mulai teringat pada janin di dalam kandungannya yang sebenarnya sudah tiada.


Tangannya kini meraba perutnya yang terasa linu. Ya, tentu saja ada rasa yang berbeda di dalam perutnya. Rasa sakit, perih, linu dan juga mules itu sedikit masih terasa paska keguguran.


"Kenapa perutku terasa sakit begini? Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?" kembali Rumanah itu tampak tegang dan cemas. Dan hal itu dapat dilihat oleh keempat orang di sana.


"Astaga! Apa yang istriku pikirkan? Apakah dia sudah mengingat soal kandungannya?" gumam Andre dalam hati.


"Aduh! Rumrum pasti sedang bertanya-tanya dan sedang mengingat-ingat apa yang terjadi pada janin yang ia kandung. Gawat ini!" desis Ferhat dalam hati.


Maae Lilis menatap panik dan cemas. Matanya melotot namun dadanya kini begitu deg-degan. Ia merasa jika sebentar lagi Rumanah akan tahu apa yang telah terjadi. Sementara Mami Purwati tampak menutup mulutnya menggunakan tangannya dan seakan tak sanggup melihat wajah Rumanah yang sedang cemas dan keheranan.


"Sayang, bagaimana dengan anak kita? Dia baik-baik saja 'kan? Tapi, perutku rasanya sakit sekali. Seperti habis diaduk-aduk," ucap Rumanah yang berhasil membuat Andre terlonjak kaget.

__ADS_1


Ah, tidak! Tentunya bukan hanya Andre saja yang kaget mendengar pertanyaan dan ucapan Rumanah. Ferhat, Maae Lilis dan Mami Purwati pun sangat terkejut dan bahkan bingung dengan keadaan saat ini.


BERSAMBUNG...


__ADS_2