Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sindiran


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Andre...


Rumanah melangkahkan kakinya menuju kamar asuhannya. Gadis desa itu tampak mulai beraktivitas seperti biasanya. Namun, sayangnya ia tidak dapat bekerja dengan sempurna. Sebab, tangan kirinya yang masih terbalut kain kasa dan perban. Luka jahitannya pun masih sedikit-sedikit terasa sakit. Tentu saja ia harus bekerja dengan satu tangan. Namun, hal itu tidak akan menjadi masalah baginya. Selagi ia masih bisa menggerakkan tangannya dan membantu asuhannya untuk memakai seragam sekolah dan menyiapkan peralatan sekolah asuhannya itu, kendala di tangan kirinya tak jadi masalah.


"Selamat pagi, princess cantik kesayangan semuanya." seperti biasa Rumanah akan menyapa asuhannya dengan senyum dan kata-kata yang manis.


"Selamat pagi juga, dewi peri." sahut Sandrina yang tampak sudah bangun dari tidurnya. Gadis kecil itu tersenyum hangat pada pengasuhnya yang sangat ia sayangi.


"Kau sudah bangun rupanya, sayang." ucap Rumanah seraya mengusap lembut wajah cantik Sandrina. "Di mana Aunty Meliza?" tanyanya kemudian.


Ya, Meliza memang masih tinggal di rumah milik Andre, dan selama sekretaris cantik itu tinggal di sana, kamar Sandrina lah yang menjadi tempat tidurnya. Walaupun masih banyak kamar yang lain, Meliza tidak tertarik menempati kamar lain selain kamar putri cantik bos dudanya itu.


Gadis kecil itu mengangguk seraya tersenyum. "Seperti yang kau lihat, dewi peri. Aunty Meliza baru saja membangunkanku, dan sekarang Aunty Meliza sedang mandi." jawab gadis kecil pemilik pipi chubby dan mata bulat itu.


Rumanah tersenyum hangat. "Begitu rupanya," ucapnya. "Baiklah, kalau begitu dewi peri akan menyiapkan peralatan sekolahmu, hari ini dewi peri akan menemani princess berangkat ke sekolah dan menunggu princess sampai pelajaran selesai." lanjut gadis desa itu penuh semangat. Kakinya nyaris bergerak cepat melangkah mendekati meja belajar asuhannya itu.


Melihat hal itu membuat Sandrina refleks meloncat dari ranjangnya, berlari kecil mengejar pengasuhnya itu. "Jangan, dewi peri!" cegah gadis kecil itu seraya menarik tangan kanan pengasuhnya.


"Kenapa, sayang? Dewi peri akan menyiapkan alat-alat sekolah princess." seloroh gadis desa itu yang tampak menatap heran pada asuhan cantiknya itu.


"Tidak usah, dewi peri. Biarkan princess saja yang melakukannya. Dewi peri diam saja di sini, tangan dewi peri pasti masih sakit. Princess tidak mau menyakiti dewi peri, jadi biarkan princess yang melakukannya." sanggah gadis desa itu yang tampak begitu perhatian dan khawatir pada pengasuhnya.


Rumanah tersenyum penuh makna. Sejujurnya ia begitu terenyuh dengan ucapan dan perlakuan asuhannya kepadanya. Tentu saja ia pun sangat senang, karena asuhannya begitu pintar dan memiliki rasa peduli yang tinggi.


"Terima kasih, sayang. Dewi peri sangat tersanjung," ucap gadis desa itu seraya berjongkok dan menangkupkan kedua tangannya pada wajah cantik Sandrina. "Tetapi, princess tidak usah khawatir. Dewi peri pun sungguh bisa melakukannya, 'kan dewi peri masih memiliki tangan kanan yang bisa melakukan apa pun, sayang." lanjut gadis desa itu meminta pengertian dari asuhannya.


Sandrina tersenyum manis. "Oh, dewi peri bisa, ya?" ucap gadis kecil itu.


Rumanah mengangguk. "Tentu saja, sayang. Jadi, princess duduk di sini dan biarkan dewi peri yang menyiapkan semuanya. Nanti saat Aunty Meliza sudah selesai manโ€”" Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba terdengar suara Meliza.


"Aku sudah selesai, Rumanah." ucap Meliza yang baru saja selesai mandi.

__ADS_1


Rumanah menolehkan wajahnya dan tersenyum hangat pada sekretaris majikan galaknya itu.


"Rumanah, biarkan aku saja yang menemani princess mandi. Kalau kau yang menemaninya, aku takut lukamu terkena air. Bukankah dokter menyarankan untuk menghindari air?" ucap Meliza seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


Rumanah mengangguk. "Ya, Mbak Mel. Memang saya tidak menemani princess mandi, tapi saya bisa menyiapkan peralatan sekolah princess." jawab gadis desa itu.


"Oh begitu. Ya sudah jika kau bisa melakukannya, kalau begitu kita bagi tugas, ya. He he." balas Meliza.


"Iya, Mbak Mel." jawab Rumanah seraya tersenyum. "Kalau begitu saya hendak menyiapkan makanan untuk bekal princess dulu, ya." lanjut gadis desa itu seraya menutup resleting tas ransel milik asuhannya.


"Baiklah, Rumanah. Dan sepertinya hari ini aku kembali pada qodratku sebagai sekretaris Pak Andre." balas Meliza seraya tersenyum.


Rumanah tersenyum hangat. "Ya sudah, Mbak Mel, semangat yaaa! Dan saya yang akan menemani princess sekolah." seru Rumanah.


Meliza mengangguk mengiyakan, sementara Rumanah bergegas melangkahkan kakinya menuju lantai bawah untuk menyiapkan bekal sekolah princess.


Di meja makan, makanan pembuka di pagi hari tampak sudah penuh menghiasi meja yang terbuat dari interior kayu jati dan keramik berbalut kaca yang bening. Namun, tak ada yang duduk di sana. Nampaknya majikan galak itu belum turun dan menyantap sarapan paginya.


"Pagi, Rum. Bagaimana keadaanmu?" sahut Pak Muhsin disertai pertanyaannya.


"Syukur pada Tuhan, tangan saya sudah di operasi, Pak. Kini sudah terasa lebih baik." jawab Rumanah seraya meraih tempat makan untuk bekal Sandrina.


"Syukurlah, aku rasa mantan Nyonya besar itu harus segera dilenyapkan." ucap Pak Muhsin yang tampak dingin saat mengatakan hal itu.


"Waw, seram sekali." cicit Rumanah.


"Lebih seram kalau dia masih hidup, Rum." jawab Pak Muhsin.


"Ha ha ha, Pak Muhsin ini kalau bicara suka jujur." kelakar Rumanah disertai tawa renyahnya.


Pak Muhsin juga tertawa, mereka berdua tampak berbincang kecil dan bercanda gurau. Dan tentunya tanpa menghentikan pergerakan tangan mereka yang bekerja ke sana kemari.

__ADS_1


Andre menuruni anak tangga dari lantai dua ke lantai bawah. Terdengar gelak tawa di bagian dapur serta mini bar. Tentu saja duda tampan itu sedikit penasaran pada orang yang sedang tertawa itu.


"Asyik sekali, pagi-pagi begini sudah tertawa. Apa yang membuat mereka tertawa?" ucap Andre dalam hati.


Duda tampan itu terus melangkahkan kakinya mendekati meja makan. Di sana, nampak jelas sosok Rumanah yang sedang berbincang dan tertawa renyah bersama koki di rumah itu.


"Annabelle, sedang apa dia di sana. Apa yang mereka bicarakan sehingga membuat mereka tertawa begitu." ucap Andre lirih. Duda tampan itu menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan.


"Ehem!" sekali ia mendehem, kedua orang yang sedang berbingang ria itu seketika menghentikan kegiatan mereka.


Muhsin membungkuk memberi hormat, sementara Rumanah mematung tanpa melakukan apa-apa.


"Membungkuk, Rumanah!" bisik Muhsin mengingatkan.


Rumanah terjingkat. "Ah, iya." jawabnya yang kemudian membungkukkan badannya memberi hormat pada majikan mesumnya.


Andre tersenyum sinis. "Cih," desisnya seraya mendudukkan bokongnya di kursi.


Sementara itu Rumanah dan Muhsin tampak masih terdiam tanpa melakukan apa-apa.


"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Annabelle?"tanya Andre seraya meraih secangkir kopi espesso hangat di hadapannya.


Rumanah sedikit terjingkat. "Emh, saya sedang menyiapkan bekal untuk princess, Tuan."jawab gadis desa itu sedikit gugup.


"Begitu." ucap Andre. "Tapi sepertinya makanannya ada di sini semua. Lantas, apa yang kau masukkan ke dalam wadah bekal putriku? Beras mentah atau obrolanmu dengan Muhsin?" desak Andre yang tampak menyindir.


Rumanah tercengang dan melongo mendengar sindiran majikan mesumnya itu.


***


Jangan lupa dukungannya, dears ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2