Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Permainan apa?


__ADS_3

"Tentu saja aku akan bekerja dan mengantarkan princess, Mel." seru Andre menyela ucapan sekretaris cantiknya itu. Entah berapa hari lagi Meliza menjadi sekretarisnya. Pasalnya, wanita cantik itu sebentar lagi akan dilamar oleh kekasihnya yang berasal dari Prancis.


Meliza mengangguk serta tersenyum.


"Kalau begitu sekarang kalian tunggu di mobil saja, ya. Sementara aku akan siap-siap terlebih dahulu." ucap Andre kemudian.


"Baik, Pak." jawab Meliza. "Eh tapi ... gadis desa itu tak nampak di sana. Apakah Pak Andrw menyembunyikannya?" lanjut sekretaris cantik itu yang berhasil membuat Andre terjingkat kaget dan memelototi sekretaris cantiknya.


"Eh, maksud saya, apakah Pak Andre melihatnya? Saya dengan princess menunggunya sedari tadi." lanjut Meliza yang kali ini membuat Andre bisa bernapas lega.


"Aku tidak pernah memperhatikannya, Mel. Dan aku tidak tahu gadis desa itu di mana keberadaannya." jawab Andre dengan ekspresi yang ia buat sedatar mungkin.


"Padahal gue tahu di mana gadis desa itu. Ha ha ha ha ha." ucap Andre di dalam hati.


"Oh, gitu ya, Pak. Ya sudah, jika begitu saya akan kembali ke bawah dan akan mengajak princess untuk menunggu Anda di dalam mobil." ucap Meliza seraya membungkuk memberi hormat.


"Oke," balas Andre singkat. Sebenarnya ia sangat tegang dan cemas menghadapi situasi yang sangat genting seperti ini.


Tanpa membuang waktu lagi, duda tampan itu pun bergegas menutup pintu lalu berlari dengan cepat ke kamar mandi.


"Annabelle!" panggil Andre yang tampak terkejut melihat pengasuh putri kecilnya tidak ada di sana.


"Astaga, ke mana perginya gadis desa itu." gumam Andre yang tampak sedikit ngos-ngosan.

__ADS_1


Andre tidak tahu jika Rumanah sedang berendam busa wangi di dalam bathub. Gadis desa itu tampak santai dan gembira merendam diri di dalam bathub. Sebab, di rumahnya tidak ada yang seperti itu.


"Annabelle, kau di mana?" teriak Andre yang tampak sedikit panik.


"Hust, jangan berteriak seperti itu, Tuan. Ini bukan di hutan." terdengar suara seorang wanita yang sudah tak asing lagi bagi duda tampan itu.


"Hah, Annabelle. Dia ada di dalam rupanya. Apa yang sedang gadis desa itu lakukan? Apakah dia sedang mandi?" lagi-lagi Andre bergumam. Kini kakinya kembali ia langkahkan mencari sosok pengasuh putri kecilnya itu.


"Katanya jangan berisik, tetapi dia sendiri yang berisik. Dasar!" gerutu Rumanah yang sedang asyik membaluri kakinya dengan busa yang melimpah dan harum baunya.


Andre membuka tirai kamar mandinya, penghalang antara toilet dengan bathub dan shower. Seketika ia terbelalak kaget saat melihat gadis desa itu sedang merendam tubuhnya dan mengacungkan kaki mulusnya ke atas. Tentu saja hal itu membuat duda tampan itu sedikit ngiler dan kembali ingin menerkam gadis desa itu.


Glekkk!


"Apakah sudah selesai, Tuan? Mbak Mel sudah pergi?" tanya Rumanah yang kali ini membaluri dadanya menggunakan busa-busa itu. Tentu saja hal itu semakin membuat Andre kewalahan dan kembali terpancing.


"Sudah!" jawabnya seraya melangkahkan kakinya.


"Bagus deh, saya harap Mbak Mel tidak menaruh curiga pada Anda." ucap Rumanah yang tampak santai berada di dalam bathub.


"Hmmm, tentu saja tidak." jawab Andre yang kini sudah berdiri di hadapan pengasuh putri kecilnya itu. "Annabelle, apakah kau sedang mandi?" tanya duda tampan itu basa-basi.


Rumanah menggeleng kecil. "No," jawabnya. "Saya sedang bermain busa saja, Tuan." lanjut gadis desa itu.

__ADS_1


Andre merasa tertantang dan seakan ingin masuk ke dalam bathub bersama pengasuh putri kecilnya itu. "Kau sangat enjoy sekali." ucapnya.


"Ya, saya senang melakukannya." jawab Rumanah.


"Apa? Kau senang? Kalau begitu ayo kita lakukan lagi." seru duda tampan itu yang kini tengah membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Iiish, apa yang Anda pikirkan? Maksud saya, senang melakukan mandi busa ini. Astaga," seloroh gadis desa itu seraya meniup busa yang ia berada di tangannya.


"Hmmm, tapi apakah aku boleh ikut berendam denganmu? Kau harus ingat jika permainan kita belum selesai." ucap duda tampan itu yang kembali meluncurkan strateginya. Ia bahkan lupa dengan Meliza dan Sandrina yang ia suruh untuk menunggu di dalam mobil.


"Permainan apa? Kita tidak sedang bermain apa-apa, Tuan." protes gadis desa itu. "Kalau mau berendam, ya berendam saja," lanjutnya dengan gaya yang judes.


Andre mengusap wajahnya. Kini kemejanya sudah ia tanggalkan begitu saja. Dan, sekarang ia hendak membuka celana dasarnya.


"Eiiits, Anda tidak perlu membuka celana Anda, Tuan." ucap Rumanah.


"No problem. Hanya celana saja, aku masih menggunakan ****** *****, Annabelle." sanggah duda tampan yang mendadak puber setelah melihat seluruh tubuh gadis desa itu.


Rumanah memutar bola matanya pasrah. "Baiklah." ucapnya.


Andre tersenyum senang, duda tampan itu pun menanggalkan celana dasarnya dan kini tinggal ****** ***** yang melekat di tubuhnya. Menutupi mister penpen yang sepertinya tidak dapat dikatakan kecil.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2