Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
DONGENG


__ADS_3

Rumanah melangkahkan kakinya mendekati suami rahasianya yang sedang meradang.


"Apa yang kau lakukan, Belle? Tidak kah kau mengingat janjimu padaku?" omel Andre yang tampak kesal.


"Sttttt, jangan bicara di sini. Saya takut princess akan mendengar," ucap Rumanah seraya melirikkan manik matanya pada sang putri sambungnya yang sudah berada di atas ranjang, siap untuk terbang ke alam mimpi.


"Ck, kau benar-benar menyebalkan, Belle." Andre berdecak kesal. Kemudian pria tampan itu melangkahkan kakinya ke luar kamar putri kecilnya. Dan Rumanah pun mengekori suami rahasianya itu.


Srrreeettttt!


Andre menarik tangan istri sirrinya dan menyandarkan gadis desa itu pada dinding kamar putri kecilnya.


"Astaga, jaga sikap Anda, Tuan. Bagaimana kalau ada yang melihat," tegur Rumanah seraya mendorong tubuh suaminya agar tidak mengungkungnya.


Andre mengusap wajahnya kasar dan memutar bola matanya malas. "Kau harus bertanggung jawab! Bagaimana pun caranya, malam ini kau harus melayaniku, Annabelle!" tegas pria tampan itu yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Ya Tuhan, besok atau lusa kita masih bisa melakukannya, Tuan." Rumanah berkelit.


"No! Aku inginnya malam ini. Besok atau lusa sudah beda lagi!" tolak Andre yang tampak memaksa.


Rumanah mendelikkan manik matanya jengah. "Bagaimana dengan putri Anda? Dia sangat ingin ditemani oleh saya, Tuan." gadis desa itu masih mempertahankan keinginan putri sambungnya.


"Hust, dia anakmu juga, Belle. Katakan jika dia anak kita, bukan hanya anakku!" tegas Andre.


"Ya, anak kita. Bagaimana dengannya? Apakah Anda tega melihatnya merajuk sedih sepertu itu?" ujar Rumanah seraya menatap serius pada suami rahasianya itu.


"Tentu saja tidak, Belle. Seumur hidupnya, aku tidak pernah melarang apa pun yang dia inginkan. Aku selalu menuruti semua keinginannya, karena dia adalah putri kecilku. Harta berharga milikku," jawab Andre penuh keseriusan.


"Jika memang seperti itu, Anda tidak bisa menahan saya untuk menemaninya tidur," tegas Rumanah.


Andre terdiam sejenak. Sepertinya dia memang harus mencari jalan pintas dan terbaik. Tentu saja ia tidak ingin membuat sang putri marah dan kesal padanya. Tapi, ia juga sangat ingin meniduri istri sirrinya itu.


"Apa lagi yang Anda tunggu dan Anda pikirkan, Tuan? Sebaiknya Anda segera tinggalkan saya di sini, saya akan tidur bersama putri Anda. Emh, maksud saya putri kita," ucap Rumanah seraya menyilangkan tangannya di dadanya.


"Emh tidak! Tunggu dulu, Belle. Sepertinya aku punya ide yang bagus," Andre mulai menemukan ide yang menurutnya sangatlah bagus.


"Ide apa? Jangan bilang, Anda ingin melakukannya di kamar princess!?" seloroh Rumanah menuding suami rahasianya itu.


Andre terbelalak kaget mendengar ucapan istri sirrinya itu.


Pletak!


Refleks ia menjentikkan telunjuknya pada dahi istri sirrinya itu.


"Aauuuuwh! Sakit, Tuan!"ringis Rumanah seraya menepis tangan suami rahasianya itu.


"Dasar otak dangkal! Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu, astaga!" desis Andre seraya tersenyum geli.


Rumanah mengusap dahinya yang lumayan terasa ngenyut. Sementara bibirnya tampak ia manyunkan lima centi.


"Bukan itu yang aku pikirkan, Belle. Emh, begini saja, kau boleh menemaninya tidur. Tapi, kau jangan tidur sampai princess benar-benar tidur. Nanti saat princess sudah tidur lelap, kau bergegas ke kamarku. Bagaimana? Ide yang bagus dan bijaksana, bukan?" terang Andre yang tampak mulai serius. Ia tersenyum sumringah berharap sang istri menyetujui ide yang ia miliki.


Rumanah terdiam sejenak dan mencerna setiap ucapan suami rahasianya itu. "Tapi, Anda menyiksa saya, Tuan." ucap gadis desa.


"Hah, menyiksa? Bagaimana maksudnya?" tanya Andre tak mengerti.


Rumanah memutar bola matanya malas. "Bagaimana kalau saya terserang ngantuk? Apakah saya harus menahan kelopak mata saya agar tidak terpejam? Astaga, itu sangat berat sekali, Tuan." ucap gadis desa itu.


"Ya Tuhan, kau bisa menahan sedikit saja. Aku akan meminta Muhsin untuk membuatkan secangkir kopi hangat untukmu, agar kau tidak mengantuk, Annabelle!" tegas Andre yang kian memaksa.


Rumanah mengerlingkan manik matanya. "Nggak ngaruh! Mau minum lima belas cangkir kopi pun, kalau ngantuk mah ya ngantuk saja!" protes Rumanah sebal.


"Hehehe, jangan banyak bicara, Belle. Pokoknya kau ikuti saja apa yang aku katakan tadi, jika kau tidak melakukannya, maka tunggu saja hukuman dariku!" ancam Andre yang kemudian melenggang masuk ke dalam kamar putri kecilnya itu.


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan membuang napasnya berat. "Dasar mesum!" rutuknya sebal.


Di dalam kamar princess...


"Princess, maafkan Daddy. Jangan sedih lagi ya! Daddy mengizinkan dewi peri-mu menemanimu di sini." Andre bicara dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Sandrina tersenyum senang mendengar ucapan sang Daddy. "Yeeeeey, terima kasih, Dadd. Princess senang sekali!" sorak gadis kecil itu seraya memeluk leher Daddy nya itu.


"Ya, kalau gitu Daddy akan kembali ke kamar. Sementara dewi peri-mu akan menemani princess di sini. Emh, jangan nakal ya, sayang. Tidurlah yang nyenyak dan mimpilah yang indah. Daddy sangat mencintaimu, emmuaachhh!" ucap Andre yang tampak lembut dan penuh kehangatan. Ia pun mengecup hangat kening putri kecilnya itu.


"Baiklah, Dadd. Princess akan tidur sekarang juga. Tapi, dewi peri akan membacakan dongeng cinderella sebelum princess bobok," balas gadis kecil itu.


Andre tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala putri kecilnya itu. Setelah dirasa cukup, Andre pun berlalu dari hadapan putri kecilnya itu.


"Jangan lupa, saat princesss sudah tidur nyenyak, kau harus bergegas ke kamarku. Oh ya, jangan lupa kau membersihkan tubuhmu. Ganti pakaianmu dengan yang lebih hot! Dan satu lagi, jangan lama-lama!" tegas Andre yang tampak berbisik pada istri sirrinya itu.


Rumanah tersentak kaget. Sementara Andre sudah berlalu dari hadapannya.


"Pakai yang lebih hot? Memangnya aku api unggun dan sambal cabai, astaga!" desis Rumanah dalam hati.


Rumanah pun bergegas mendekati putri sambungnya itu. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tentu saja Rumanah sudah harus menidurkan putri sambungnya itu.


"Princess sayang, dewi peri akan membacakan dongeng cinderella. Tapi, princess harus mendengarkan sambil terpejam, ya!" ucap Rumanah seraya naik ke atas ranjang putri sambungnya.


"Ya, dewi peri," jawab gadis kecil itu.


Rumanah tersenyum hangat serta mulai membuka buku dongeng di tangannya.


Tok tok tok!


Terdengar ketukan pintu.


"Rumanah, ini kopinya," ucap Muhsin di balik pintu.


"Oh Ya Tuhan, pria mesum itu benar-benar menginginkanku meminum kopi," desis Rumanah dalam hati.


"Baik, Pak Muh!" jawab Rumanah seraya menurunkan kakinya dari ranjang. Ia pun bergegas melangkahkan kakinya.


"Terima kasih, Pak Muh," ucap gadis desa itu seraya menerima secangkir kopi yang Muhsin berikan padanya.


"Sama-sama. Tuan Andre berpesan untuk segera menghabiskan kopi ini, Rum," jawab Muhsin seraya menyampaikan amanat dari sang majikannya.


"Hmmmm," balas Rumanah disertai anggukannya. Tak mau membuang waktu, ia pun kembali menghampiri putri sambungnya dan meletakkan kopinya di atas meja.


"Emh, iya, princess." jawab Rumanah sedikit gugup.


"Sudah seperti Daddy, hehehe," celetuk gadis kecil itu disertai cengengesnya.


Rumanah membulatkan mata dan menyunggingkan senyuman masamnya.





"Dan saat cinderella kehilangan sepatu kacanya ... hoaaaaaam!" Rumanah menguap saat ia masih membacakan dongeng cinderella. Sementara sang putri sambungnya sesekali masih membuka matanya.


"Apakah sepatu kaca itu akan ada yang menemukan, dewi.peri?" tanya Sandrina.


"Emh, sepertinya begitu, princess. Sebentar, ya. Dewi peri mau nguyup kopi dulu biar gak ngantuk. Hehehe," jawab Rumanah.


"Oke," balas Sandrina.


"Astaga, aku ngantuk sekali. Ini si kopi pun sudah mau habis. Dan, kenapa gadis kecil ini matanya masih cerah dan seperti belum mengantuk," celoteh Rumanah dalam hati.


Rumanah pun kembali membacakan dongeng cinderella. Beberapa kali ia menguap nikmat menahan kantuk. Sementara yang dibacakan dongeng belum juga terhipnotis. Dan, si kopi hangat pun sudah habis sedari tadi.


"Hoaaaaaaaam!" Rumanah kembali menguap. "Pangeran pun meminta para pengawal untuk mencari tahu siapa pemilik sepatu kaca itu, hoaaaamm! Princess, dewi peri mengantuk sekali. Princess kenapa belum bobok? Ayolah pejamkan mata dan tidurlah!" ucap Rumanah yang semakin lengket matanya.


Sandrina refleks bangun dan tersenyum cerah. Dengan cepat ia menyambar buku dongeng yang ada di tangan dewi peri nya.


"Dewi peri, tidurlah! Sepertinya kita perlu bergantian. Sekarang giliran princess yang membacakan dongengnya." Sandrina tampak antusias dan mulai membuka lembaran buku dongeng di tangannya.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Tentu saja ia sangat terhenyak kaget mendengar ucapan putri sambungnya itu.

__ADS_1


"Tidak, princess. Biarkan dewi peri yang membacakan dongeng. Princess harus tidur, ini sudah malam!" tolak Rumanah penuh penegasan.


"No! Princess ingin belajar membaca dongeng. Sudah dewi peri diam dan dengarkan!" gadis kecil itu tak mau kalah. Ia tetap ingin membacakan dongeng untuk dewi peri nya. Dan, dengan paksa ia merebahkan kepala Rumanah pada bantal.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan membuang napasnya pasrah. Sementara princess Sandrina mulai membacakan dongeng cinderella.


"Hoaaaaaam!" Rumanah kembali menguap. Nampaknya gadis desa itu benar-benar mengantuk. Dan benar saja, ia tampak memejamkan matanya yang sudah lengket dan berat.


Sementara itu di kamar yang berbeda...


Andre bolak-balik mondar-mandir di dalam kamarnya. Sudah satu setengah jam ia menunggu kedatangan istri sirrinya itu. Berkali-kali ia melirikkan matanya pada jam besar yang menempel di dinding. Berkali-kali ia mendudukkan bokongnya, menbaringkan tubuhnya, melangkahkan kakinya. Seperti itu saja terus sampai ia lelah menunggu dan mulai curiga.


"Kenapa Annabelle lama sekali? Apakah princess sulit ditidurkan? Astaga, ini benar-benar menyebalkan!" pria tampan itu mengoceh sendiri dalam keadaan yang kesal.


Dua botol minuman soda sudah ia habiskan. Beberapa camilan sehat pun sudah ia lenyapkan. Tapi, sang istri rahasianya itu belum juga tiba ke dalam kamarnya. Dan hal itu sungguh membuatnya kesal.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya aku harus mengeceknya sendiri. Jangan-jangan gadis desa itu pergi tidur ke kamarnya," ucap Andre yang kemudian keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki menuju kamar putri kecilnya.


Ceklek!


Andre membuka handle pintu. Manik matanya langsung tertuju pada tempat tidur putri kecilnya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat putri kecilnya sedang duduk bersandar pada kepala ranjang dan membaca buku dongeng di tangannya. Sementara sang istri sirrinya tampak sudah terpejam dengan nikmatnya.


"Astaga, princess! Apa yang kau lakukan, sayang." Andre berlari kecil menghampiri putri dan istri sirrinya.


"Seperti yang Daddy lihat, princess sedang membacakan dongeng cinderella." Sandrina menjawab santai.


"Astaga, lalu yang mendengarkan adalah dewi peri mu? Kau menidurkan dewi peri mu ini?" cicit Andre setengah kesal.


"Ya, Dadd. Kasihan dewi peri, dia sangat mengantuk dan sepertinya kecapek'an. Jadi, princess memintanya untuk tidur saja," jawab gadis kecil itu dengan santainya. Tak tahu jika Daddy nya sedang kesal. Kesal pada gadis desa yang sedang tidur nyenyak.


"Astaga, gadis desa ini benar-benar minta diberi pelajaran! Bagaimana bisa dia tidur nyenyak dan membiarkan princess membacakan dongeng untuknya? Astaga. Bahkan secangkir kopi itu pun sudah ludes ia minum. Ck, benar-benar pelooor!" gerutu Andre dalam hati.


Dengan sebal Andre merebut buku dongeng yang ada di tangan putrinya. "Ini sudah malam, princess. Kenapa kau belum tidur? Besok sekolah, kau tidak boleh tidur terlalu malam. Harusnya kau tidur saat dewi peri membacakan dongeng untukmu," omel Andre yang tampak sedikit menaikkan suaranya agar istri sirrinya bangun dari tidurnya.


"Ssstttt, rendahkan suara Daddy! Nanti dewi peri nya bangun," tegur gadis kecil itu.


Andre melipat bibirnya ke dalam. Sungguh ia kesal dalam situasi seperti ini.


"Baiklah, biarkan dewi peri-mu terlelap dengan nikmat, princess. Tapi, sekarang waktunya kau yang tidur. Daddy akan membacakan dongeng yang lain untukmu. Lihat, sekarang sudah jam setengah sepuluh. Ayo, rebahkan tubuhmu," ucap Andre seraya merebut buku dongeng yang ada di genggaman tangan putri kecilnya itu.


"Tidak! Ternyata princess tidak bisa tidur jika dibacakan dongeng," tolak Sandrina.


"Lantas? Mau Daddy elus-elus saja?" tanya Andre.


"No! Sepertinya princess akan tidur jika Daddy menggendong princess," jawab Sandrina yang berhasil membuat Andre terbelalak kaget.


"Apaaa????" Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Gendong! Princess ingin digendong seperti dedek bayi," rengek Sandrina.


Andre tampak menarik napasnya dalam dan membuangnya berat. "Hufffft! Baiklah, Daddy akan menggendong princess. Tapi, princess bobok, yaaa!" ucap pria itu.


Sandrina mengangguk mengiyakan. Ia pun bergegas bangkit dari duduknya dan bersiap untuk digendong oleh sang Daddy.


"Janji?" desak Andre.


"Ya, janji! Princess akan bobok," jawab Sandrina.


Andre tersenyum serta mengangguk. Tak membuang waktu lagi, ia pun menggendong putri kecilnya itu.


"Awas saja kau, Annabelle! Kau akan mendapatkan hukuman dariku! Tak apalah aku menggendong princess seperti ini. Yang penting dia bisa tidur nyenyak dan setelah itu aku akan membangunkanmu, Annabelle menyebalkan!" cerocos Andre dalam hati.


Pria tampan itu tampak menggeong putri kecilnya seperti bayi. Sekitar setengah jam, princess baru terlelap dengan nikmat. Dan hal itu membuat Andre sedikit lega.


"Akhirnya tidur juga," ucap Andre seraya menidurkan putri kecilnya.


Sandrina benar-benar tertidur pada jam setengah sebelas lebih. Lumayan terasa pegal tangan dan kakinya.


"Sekarang, aku harus membangunkan gadis desa ini,"ucap Andre seraya merenggangkan sendi dan ototnya yang terasa pegal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2