Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Melebihi batas


__ADS_3

Andre menarik tangan Rumanah dan menahannya agar tidak dapat melangkahkan kakinya. Tentu saja ia ingin melakukan sesuatu pada pengasuh putri kecilnya itu.


"Lepaskan tangan saya, Tuan. Saya harus segera kembali ke kamar princess, dia pasti sudah siap untuk berangkat ke sekolah." ucap Rumanah yang tampak semakin terlihat panik.


Andre menggeleng serta menyunggingkan senyuman mesumnya. Bukan saja senyumannya yang terlihat mesum, tetapi juga pancaran matanya yang menatap penuh nafs*u dan bira*hi tinggi.


"Tidak, kau tidak akan kulepaskan sebelum kau membuka kemeja lusuhmu itu." sergah Andre yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.


"Apaaaa??? Membuka kemeja-ku? Astaga, apa-apaan orang ini. Memangnya ada hubungn apa aku dengan majikan galak ini? Sungguh keterlaluan." sungut Rumanah dalam hati.


Gadis desa yang manis itu kini semakin merasa takut dan curiga. Ya, tentu saja ia sangat takut majikan galaknya sampai melakukan sesuatu yang akan merusak harga dirinya.


"Tidak! Saya tidak mau." tolak gadis desa itu tanpa ragu.


Andre memicingkan matanya dan menatap intens pada pengasuh putri kecilnya itu. "Kau berani melanggar perintahku?" duda tampan itu berkata dengan suara yang dingin dan penuh ancaman.


Rumanah hanya memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. Duda tampan di hadapannya sungguh benar-benar membuatnya hampir gila.


"Sekali saja kau melanggar perintahku, maka aku tidak akan pernah mengampunimu, Annabelle!" ucap Andre seraya menarik tangan Rumanah dan membawanya serta menyeretnya agar mengikuti langkahnya.


"Ya Tuhan, apa yang majikan galak ini inginkan dariku? Apakah dia menginginkan tubuhku? Tapi kenapa? Bukankah dia mencintai Mbak Meliza? Kenapa bukan Mbak Meliza yang ia bawa ke dalam kamarnya ini." ucap Rumanah dalam hati.


Andre mendudukkan Rumanah di atas ranjangnya yang berukuran king size. Deru napasnya kini semakin berubah kala ia menatap objek di balik kemeja putih yang Rumanah kenakan. Duda tampan itu berdiri tepat di hadapan pengasuh putrinya yang sedang panik. Sementara tangannya masih memegangi tangan Rumanah agar tidak dapat pergi darinya.

__ADS_1


"Tuan, apa yang akan Anda lakukan? Jangan seperti ini, Tuan. Tuan sudah keterlaluan dan melebihi batas antara pengasuh dan majikan. Astaga!" Rumanah bicara dengan tatapan yang ia buang ke udara. Tak ingin melihat wajah tampan majikan galaknya yang seolah sedang menjilati seluruh tubuhnya.


Andre menyunggingkan senyuman usilnya. Setelah diamati, gadis desa itu memang benar-benar manis dan menggemaskan. Tingkahnya yang lucu serta konyol itu terkadang mampu membuat Andre tersenyum geli dan gemas.


"Sudah kukatakan aku hanya ingin melepaskan kemeja lusuhmu itu, Annabelle." jawab Andre seraya menyentuh kerah kemeja yang Rumanah kenakan.


"Ish!" Rumanah mendesis dan dengan cepat ia menepis tangan majikan galaknya itu.


"Jangan berpaling dariku!" tegas Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.


Rumanah mendelikkan matanya dan menatap heran pada majikan galaknya itu. "Untuk apa? Untuk apa Tuan melepas kemeja lusuh ini?" tanya gadis desa itu dengan suara yang bergetar. Manik matanya yang hitam pekat dan bulu matanya yang lentik nyaris menjadi panorama indah di wajah gadis desa itu.


Andre tersenyum mesum dan menatap dada Rumanah yang masih terlindungi oleh kemeja putihnya yang sedikit terawang. Ya, namanya juga kemeja putih, seputih-putihnya kemeja, tetap saja terkadang sesuatu di dalamnya mampu tertembak oleh pandangan mata yang melihatnya.


Ya, tentu saja Rumanah sudah tahu apa yang majikan galaknya inginkan. Tetapi, kenapa harus dirinya? Kenapa tidak Meliza yang majikan galak itu inginkan? Astaga, hal ini benar-benar membuat si gadis desa itu pusing tujuh keliling.


"Jangan banyak berpikir, Annabelle! Serahkan semuanya kepadaku. Aku Tuanmu di sini, kau masih ingat perjanjian kita? Kau adalah budakku, dan aku adalah Tuanmu. Jadi, kau harus menuruti segala perintahku!" tegas Andre yang kian memaksa dan semakin gila.


Rumanah tampak terhenyak kaget dan semakin ketakutan. Napasnya naik turun tak beraturan, dadanya bergemuruh bagaikan ombak di laut lepas, dan kakinya kini bergetar menahan ketakutan yang menimpanya.


Sementara Andre, sama sekali tidak peduli akan hal itu. Yang duda tampan itu inginkan saat ini adalah Rumanah. Ya, tentu saja Andre sangat menginginkan gadis desa yang menggemaskan itu. Gadis desa yang berhasil membuat hasrat dan bira*hinya kembali muncul setelah sekian lamanya menghilang seiring kehilangan cinta dan kepercayaannya pada seorang wanita.


"Bagaimana ini? Kenapa majikan galak ini semakin menyeramkan. Ya Tuhan, jika tahu seperti ini, maka aku tidak akan pernah menyetujui perjanjianku dengannya tempo hari." ucap Rumanah dalam hati.

__ADS_1


Dalam suasana hening yang tercipta, Andre Wijaya Rakadewa tiba-tiba saja menghempaskan tubuh Rumanah ke atas ranjang. Mendorong tubuh mungil itu agar berbaring di atas ranjang king size nya


"Aaaaaaah!" Rumanah memekik kesal. Detak di jantungnya nyaris saja hampir berhenti. Dan kini, gadis desa itu semakin panik saat Andre yang berdiri di hadapannya menatap penuh jila*tan padanya.


"Oh Ya Tuhan, tolooooooong!" gadis desa itu memekik di dalam hati. Kali ini, tangannya terbebas dari cekalan majikan galaknya itu. Namun, kakinya yang masih menjuntai ke bawah kini yang ditahan oleh duda tampan itu.


Sementara Andre, tersenyum kecil seraya mengikat kaki Rumanah menggunakan dasinya.


"Tuan, apa yang Anda lakukan? Lepaskan saya, Tuan." Rumanah memohon dan merintih. Dengan kerja kerasnya gadis desa itu beringsut bangun dari rebahannya.


"Diam di sana. Jangan begerak dan melakukan apa yang akan membuatku marah!" tegas Andre yang kini sudah selesai mengikat kaki gadis desa itu.


Rumanah menelan ludahnya kasar. Menatap ngeri pada majikan galaknya yang sedang gila itu. Ya, tentu saja Andre sedang gila. Gila karena gadis desa yang menggemaskan itu. Ini mungkin sudah melebihi kewajaran, namun sang duda tampan itu tidak menyadarinya.


Andre menangkap tangan Rumanah lalu memborgolnya. Tentu saja hal itu ia lakukan agar Rumanah tidak dapat melakukan apa-apa. Menjengkelkan memang!


"Apa-apaan ini, Tuan? Anda sudah melakukan penyiksaan terhadap pengasuh putri Anda." ucap Rumanah mencoba menyadarkan majikan galaknya itu.


Andre tersenyum licik. "Hum, baru jam tujuh. Masih ada waktu untuk kita berada di sini, Annabelle." ucap duda tampan itu yang tampak kembali menghempaskan tubuh pengasuh putri kecilnya itu.


"Uuuuhhh!" Rumanah melenguh. Manik matanya menatap langit-langit kamar yang sangat besar dan megah itu.


***

__ADS_1


__ADS_2