
Di kediaman Luna...
Sandrina tampak sedang menonton televisi di dalam kamar yang sudah Luna siapkan untuk putri kecilnya itu. Sejak tadi sore ia tak henti meminta pulang pada Mommy nya. Namun, sang Mommy tidak segera mengantarkannya. Tentu saja hal itu semakin membuat Sandrina geram dan kesal pada sang Mommy yang selalu memaksanya.
"Princess sayang. Ayo kita makan malam dulu. Mommy sudah siapkan makanan enak untuk princess," ajak Luna dengan nada yang lembut penuh bujuk rayu.
Sandrina dengan cepat menggeleng, "No! Princess tidak mau makan. Princess hanya ingin pulang!" tolaknya tanpa basa-basi.
Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menahan kesal di dadanya. Tentu saja ia kesal, karena sedari tadi princess cantik itu hanya diam dan selalu menolak apa yang dia tawarkan. Dari saat ia mengajak princess jalan-jalan ke mall, ke pantai dan tempat bermain lainnya. Gadis kecil itu nyaris tidak pernah tersenyum dan terkesan terpaksa. Ya, memang pada kenyataannya gadis kecil itu sangat terpaksa.
"Ayolah, sayang. Jangan seperti ini, ya. Mommy mohon pada princess untuk tidak bersikap cuek pada Mommy. Princess tahu tidak? Mommy sangat sedih jika princess selalu seperti ini pada Mommy," rengek Luna dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Ya, mungkin Luna memang sedih karena anak kandungnya sendiri selalu bersikap cuek dan begitu membencinya. Dan, jika dia mau berpikir lantas introspeksi diri. Mungkin saja semuanya tidak akan seperti ini.
"Mommy sedih?" tanya gadis kecil itu dengan raut wajah yang datar.
Luna mengangguk dengan ekspresi sedihnya.
"Kalau Mommy sedih. Berarti Mommy sedang merasakan apa yang sudah princess rasakan. Mommy tahu tidak? Princess juga sangat sedih dulu waktu Mommy masih menjadi istri Daddy. Mommy selalu pergi pagi pulang malam. Sibuk dengan pekerjaan Mommy dan tidak pernah ada waktu buat princess. Mommy ... Mommy jahat!" gadis kecil itu nyaris tak mampu lagi melanjutkan ucapannya yang mungkin masih banyak yang ingin ia katakan pada sang Mommy.
Air matanya mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Semua uneg-uneg gadis kecil tentang Mommy nya itu seakan tercekat di tenggorokannya dan tidak mampu keluar karena ia terlalu merasa sakit. Ya, walau princess Sandrina masih kecil dan anak-anak. Tapi, dia sudah memiliki hati dan pikiran yang berfungsi. Ia tahu rasanya sakit, rasanya sedih dan kecewa. Ia sudah tahu semuanya. Karena, ia sudah merasakannya sendiri.
Luna tampak terdiam seribu bahasa dan hanya memandangi wajah cantik putrinya yang sedang menangis tersedu-sedu. Seketika batinnya berontak dan ia ikut merasakan kesedihan putrinya. Mungkinkah ia baru menyadari semua yang telah ia lakukan? Entahlah!
"Princess ingin pulang! Princess tidak mau membuat Daddy, Omma, Oppa dan Bunda khawatir pada princess!" ucap gadis kecil itu sembari melempar boneka yang semula ia peluk ke sembarang tempat.
"Tunggu, sayang. Mommy masih ingin bicara denganmu," cegah Luna sembari menarik tangan putrinya agar kembali duduk di tempat semula.
Sandrina tampak menekuk wajahnya bertingkah sebal dan menatap tajam pada televisi yang entah apa acaranya.
"Sayang, Mommy mau—" Luna menggantung ucapannya saat tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.
Tok tok tok tok tok tok!
"Nyonya, ini saya, Mega," terdengar suara seorang wanita yang sepertinya adalah asisten rumah tangga.
"Sebentar ya, sayang. Mommy akan menemuinya terlebih dahulu," ucap Luna pada putri kecilnya.
Sandrina tidak menjawab dan juga tidak mengangguk. Ia hanya diam dan menatap lurus ke televisi.
Ceklek!
Luna membuka pintu kamar dengan cepat. Di hadapannya, Mega tampak terlihat panik dan cemas.
"Ada apa, Mega?" tanya Luna dengan wajah yang serius.
Mega terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras, "Anu, Nyonya," ucapnya yang tampak gugup. Ia begitu kaku dan hanya meremas jari jemarinya tiada henti.
"Ada apa? Bicara yang jelas, ya!" kembali Luna bertanya dengan penuh selidik.
Ia pun menutup pintu agar putri kecilnya tidak mendengar obrolannya dengan Mega.
"Anu, Nyonya. Di bawah, ada—" belum sampai Mega menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Luna menyelanya.
"Asisten Andre datang lagi? Sudah katakan lagi jika princess belum mau pulang!" tebaknya menyela.
Mega dengan cepat menggeleng, "Sama sekali bukan, Nyonya. Tapi ini ... Daddy nya princess, Nyonya!" jawabnya yang berhasil membuat Luna tersentak kaget.
"Apaaa????" Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap heran setengah tidak percaya.
"Ya, Nyonya. Tuan Andre sedang menunggu di depan rumah. Dia memaksa saya untuk menemui Anda dan meminta izin untuk membawa putrinya pulang," ungkap Mega dengan tubuh yang gemetar.
"Apa? Anaknya? Hei, anak saya juga, kali!" cicit Luna tak terima.
"Maksud saya begitu, Nyonya," ucap Mega.
Luna menyibakkan rambutnya dan membuang napasnya berat, "Bagaimana bisa pria itu masuk ke dalam area rumahku? Lantas, ke mana perginya para pengawal itu, Mega?!" tanyanya penuh desakan.
__ADS_1
Mega menggeleng kecil, "Saya tidak tahu, Nyonya. Saya juga terkejut saat mendapati Tuan Andre beserta anak buahnya berdiri di depan pintu rumah ini," jawabnya.
"Astaga! Ya sudah, kalau begitu sekarang kau—" Luna menggantung ucapannya ketika saat itu pintu kamar terbuka secara tiba-tiba.
"Daddy!" seru Sandrina saat ia membuka pintu kamar itu.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Tetap di dalam, sayang. Mommy belum selesai bicara dengan Mbak Mega," ucap Luna yang tampak mulai panik.
Sandrina menggeleng dengan cepat, "Tidak! Princess ingin pulang bersama Daddy!" tolaknya dengan suara yang sengaja ia keraskan, berharap sang Daddy dapat mendengar suaranya.
Ya, tadi saat Luna menutup pintu, diam-diam Sandrina melangkah pelan dan menguping di balik pintu. Tentu saja suara Luna dan Mbak Mega terdengar walau hanya remang-remang. Tetapi, perasaannya begitu terikat kuat dengan sang Daddy sehingga membuatnya semakin yakin jika di rumah itu ada sang Daddy yang sedang menjemputnya.
"Tidak ada, princess. Tidak ada siapa-siapa di luar," ucap Mega berbohong.
"Ya, tidak ada siapa-siapa, sayang. Sebaiknya kau kembali masuk, ya. Mommy mohon kali ini saja, sayang." Luna memohon dengan sangat pada putri kecilnya itu.
Sandrina cepat menggeleng dan melangkah maju keluar kamar itu, "Kalian berbohong! Aku dapat mendengar apa yang tadi kalian bicarakan!" tegasnya.
Luna tampak terhenyak kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia benar-benar tidak ingin putrinya pulang saat itu juga. Ia masih rindu dan masih ingin menghabiskan waktu dengan putri kecilnya itu.
Sementara itu di bawah, Andre tampak mondar mandir menunggu Mega membawa putrinya. Namun, beberapa menit ia menunggu, tiba waktunya rasa tidak sabar dan penasarannya. Hal itu membuatnya ingin menerobos masuk ke dalam rumah milik mantan istrinya itu.
"Sepertinya kita harus nerobos masuk, Le. Aku yakin wanita rubah itu tidak akan membiarkan princess pergi bersamaku," ucap Andre dengan tatapan yang kesal.
"Ya, bos. Saya pun berpikir demikian," balas Leo yang memiliki pemikiran sama dengan bosnya itu.
"Ya sudah, kalau gitu ayo kita masuk saja." Andre berkata sembari membuka handle pintu yang tidak terkunci. Ya, mungkin Mega lupa mengunci pintu tadi.
Leo dan segenap anak buah Andre pun melangkah masuk mengikuti bos mereka. Rupanya di dalam tidak ada penjagaan sama sekali. Jadi, hal itu membuat Andre beserta anak buahnya dapat masuk dengan mudah dan mencari keberadaan princess.
"Kalian cari ke arah yang berbeda. Aku akan mencari ke atas bersama Leo," perintah Andre pada anak buahnya.
"Baik, bos!" jawab anak buah Andre secara bersamaan.
Mereka pun bergegas mencari di mana keberadaan princess saat ini. Andre dengan hati-hati dan penuh teliti memeriksa ke setiap penjuru ruangan dan ke setiap penjuru kamar.
"Tidak ada di sini, bos. Ada satu kamar lagi yang belum kita jelajahi," ucap Leo.
"Ke arah sini, bos!" kata Leo sembari mengarah ke barat. Ya, tepat kamar princess berada saat itu.
Tanpa membuang waktu lagi Andre pun bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia sudah tak sabar ingin membawa putrinya pulang bersamanya.
Hingga pada saat di depan kamar itu...
Tok tok tok tok tok!
Andre mengetuk pintu dengan keras dan begitu kuat. Ia sengaja melakukan itu untuk memberi aba-aba pada mantan istrinya.
"Aku tahu kau menyembunyikan princess di dalam sana!" teriak Andre yang tampak kesal.
Tak ada jawaban, hal itu membuatnya semakin ingin mendobrak pintu kamar itu.
"Dobrak saja, Le!" perintah Andre seraya berkacak pinggang.
"Anda yakin, bos? Apakah princess tidak akan terkejut dan ketakutan?" tanya Leo memastikan dan mengingatkan.
Andre terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras.
"Sebaiknya tidak lakukan keributan, bos. Kita lakukan secara halus agar princess tidak ketakutan dan trauma dengan setiap apa yang dia alami malam ini," lanjut Leo memberi saran.
Andre mengangguk mengiyakan, "Ya, kau benar, Le. Sudah cukup princess melihatku ribut-ribut dengan Mommy nya saat kami masih sepasang suami istri. Sekarang, aku tak mau lagi menampakan sebuah keributan di hadapan putriku," ucapnya yang tampak setuju.
"Ya, bos. Kalau begitu, kita terpaksa harus menunggu wanita itu membuka pintunya. Jika mau mendobrak pun, kita tidak boleh gegabah dan lakukan dengan cantik," kata Leo.
"Oke. Jadi, sekarang gimana? Apakah kita butuh mencari kunci cadangan pintu ini?" tanya Andre sembari berpikir keras.
"Sebentar, bos. Coba kita intip dulu. Apakah kamar ini benar-benar ada orangnya atau tidak. Hehehe," ucap Leo disertai kekehannya.
__ADS_1
"Apa? Mengintip?" Andre tampak terhenyak kaget mendengar ucapan asisten pribadinya itu.
"Ya, bos!" jawab Leo penuh percaya diri.
"Astaga! Kau saja. Aku tidak mau sampai bintitan," ucap Andre sambil bertopang dagu.
"Hehehe, oke, bos. Sepertinya tidak akan bintitan jika tidak mengintip gadis cantik dan seksi, bos. Hehehe," kelakar Leo disertai cengengesnya.
Andre mengusap wajahnya dan tersenyum geli, "Sudah ah, jangan banyak berkicau! Cepat lakukan apa yang kau pikir baik!" tegasnya penuh penekanan.
"Siap, bos!" jawab Leo sembari memberi hormat.
Tanpa membuang waktu lagi Leo pun bergegas meloncat meraih pentilasi kamar dan menggantung dengan kaki menempel pada pintu.
"Gimana? Ada orang kagak?" tanya Andre.
"Sebentar, bos. Saya sedang mengamati. Tapi, sepertinya tidak ad—" Leo tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba pintu kamar dibuka dari dalam.
Ceklek!
"Astaga! Bos! Tidaaaaak!" pekik Leo saat tiba-tiba kakinya terlepas dari pintu dan refleks tangannya pun tak kuat menahan beban tubuhnya. Hingga pada akhirnya pria itu terjatuh ke lantai.
Brruuggghhhhh!
"Auuuwh!" ringis Leo sembari memegangi bokongnya yang lumayan terasa sakit.
"Astaga!" desis Luna yang tampak kaget melihat Leo terjatuh.
"Leo! Apa yang kau lakukan? Astaga." Andre bergegas membantu Leo bangkit berdiri.
"Om Leo, kenapa terjun payung seperti itu?" ucap si cantik Sandrina dengan wajah polosnya.
"Waduh! Ini bukan terjun payung, princess. Tapi, terjun di atas tebing. Hwaaa!" seloroh Leo sembari meringis dan berlagak menangis.
"Astaga!" desis Andre seraya menepuk jidatnya.
"Daddy!" panggil Sandrina sambil bergegas meloncat keluar kamar dan memeluk paha Daddy nya.
"Ya Tuhan, princess sayang putri Daddy! Apakah kau baik-baik saja, Nak? Apa yang Mommy lakukan padamu, sayang? Apakah kau terluka? Apa yang sakit, sayang? Katakan semuanya pada Daddy!" berondong Andre yang tampak cemas dan panik.
Sandrina menggeleng kecil dan tersenyum manis. Sementara Luna tampak menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan menatap sinis pada mantan suaminya.
"Kau pikir aku seorang wanita cantik-cantik serigala, hah!?" sungut Luna tak terima.
Andre mendelikan matanya dan menatap tajam pada mantan istrinya itu, "Memang! Kau seperti serigala yang menyeramkan! Kau! Serigala berbulu ayam!" sungutnya sembari berkacak pinggang.
"Enak saja kau! Jika kau ragu, tanyakan saja pada princess sendiri. Tanyakan apa yang aku lakukan padanya!" cicit Luna tak mau kalah.
"Oh! Tentu! Aku akan menanyakan pada putriku sekarang juga! Jika dia berkata tidak terjadi apa-apa. Itu artinya dia sedang berbohong karena kau telah mengancamnya!" ujar Andre penuh penegasan.
Luna memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar, "Dasar! Kau bicara sesuai dengan apa yang sering kau lakukan pada princess ku!" tudingnya dengan kesal.
"Apa kau bilang? Sembarangan saja kau bic—" Andre tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Sandrina menyelanya.
"Sudahlah, Dad! Jangan berdebat seperti ini. Princess bosan melihatnya." Gadis kecil itu tampak menekuk wajahnya murung.
"Astaga, Anda lupa yang saya ingatkan tadi, bos?" bisik Leo pada telinga Andre.
Andre memejamkan matanya sejenak dan mengusap wajahnya kasar, "Sorry, sayang. Daddy janji tidak akan mengulanginya lagi. Daddy hanya khawatir padamu, sayang," ucapnya sembari memeluk hangat putri kecilnya itu.
"Baiklah, princess percaya. Princess ingin pulang sekarang juga, Dad. Mommy sudah mengizinkan princess pulang. Oh ya, Mommy tidak melukai princess, kok. Mommy cuma ingin menghabiskan waktu dengan princess. Jadi, Daddy tidak usah marah pada Mommy," ujar gadis kecil itu panjang lebar. Memaparkan apa yang telah terjadi padanya.
Andre tampak menatap lekat wajah cantik putrinya. Memastikan jika ia sedang tidak berbohong.
"Dia tidak berbohong, Andre. Aku dan princess sudah membuat kesepatakan," ucap Luna.
"Kesepakatan?" Andre tampak mengerutkan dahinya tak mengerti.
__ADS_1
"Ya! Kesepakatan," jawab Luna penuh teka teki.
BERSAMBUNG...