
Ferhat menangkap tangan Rumanah dan mengajaknya naik ke tangga escalator itu. Namun gadis desa yang kuper itu tampak masih mematung dan malah menarik tangan Ferhat agar tidak menaiki tangga escalator itu.
"Ada apa? Ini hanya sebuah tangga berjalan. Kau tidak usah panik dan takut, Rumrum. Ayo, naiklah bersamaku. Lihat itu, princess sudah menunggumu di atas." ujar Ferhat yang mencoba membujuk Rumanah agar mau naik ke atas. Tentu saja ia paham jika Rumanah masih takut dan ngeri untuk menginjakkan kakinya pada tangga berjalan itu.
Rumanah menggeleng dengan raut wajah yang berubah pias, gemetar di kakinya begitu membuat Ferhat ingin tertawa. Namun lelaki tampan yang sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya itu tampak berusaha untuk menahan tawanya. Ini kali pertamanya Ferhat menyaksikan wanita yang menurutnya aneh namun sangat.unik.
"Kenapa? Kau takut?" selidik Ferhat seraya melangkah mundur mendekati gadis desa itu.
Rumanah mengangguk tanpa ragu, "Aku tidak pernah naik tangga seperti ini, Fer. Aku takut dan aku tidak bisa. Emh, bisakah kau mengajakku naik melalui tangga biasa saja?" papar gadis desa itu dengan raut wajah yang terlihat mengiba.
Ferhat mengulas senyuman kecilnya, "Tidak bisa, Rumrum. Kau harus menaiki escalator ini. Dengar, ini tidak apa-apa dan tidak akan menelanmu. Kau hanya perlu tenang dan berani. Lihat anak itu, dia berani naik sendiri, bukan? Jadi ayolah naik, kau tidak usah takut. Aku akan melindungimu." ujar Ferhat yang masih berusaha membuat Rumanah agar berai naik escalator itu.
Rumanah terdiam sejenak, beberapa kali ia pandangi tangga berjalan itu dengan tatapan yang serius. Saat orang lain melangkahkan kakinya naik ke tagga itu, kedua manik matanya pun tak luput dari memandangi cara mereka naik escalator.
"Tidak akan terjadi apa-apa selama kau tenang dan berani, Rumrum." ucap Ferhat meyakinkan Rumanah.
"Tapi aku sangat tegang, Fer." gadis desa itu meremas jari jemarinya dan masih memandangi setiap anak tangga yang berjalan.
"Tidak usah tegang ataupun takut, Rum. Percayalah setelah ini kau akan sering menemui tangga berjalan seperti ini. Kau akan lebih sering menaikinya, maka sekarang kau harus berani mencobanya. Ayo, pegang tanganku dan ikuti aku." ujar Ferhat yang tampak menekan setiap ucapannya. Lelaki tampan itu pun mengulurkan tangannya pada pengasuh keponakannya dan menyunggingkan senyuman hangatnya.
Rumanah tampak masih terdiam dalam keraguan, sementara asuhannya sudah tidak sabar ingin segera makan di Hoka Hoka Bento dan terus meneriaki pengasuhnya.
"Baiklah, sepertinya aku memang harus berani mencobanya. Jika aku tidak mencobanya, maka sampai kapan pun aku tidak akan berani dan tidak akan bisa menaiki tangga berjalan ini. Ya, Ferhat benar, setelah ini aku pasti akan sering menemui tangga seperti ini. Sebab, aku mengasuh putri kecil sang pengusaha kaya yang mungkin saja akan hampir setiap hari menjumpai tangga seperti ini." cerocos Rumanah dalam hati.
Rumanah menarik napasnya panjang lalu membuangnya perlahan, menatap melas pada Ferhat yang sudah siap membimbing gadis desa itu.
"Ayo, pegang tanganku. Ikuti langkah kakiku, jangan takut karena ini bukan jembatan sirotol mustaqim." ajak Ferhat sembari menorehkan sedikit gurauan agar gadis desa itu tidak tegang lagi.
Rumanah menyunggingkan senyuman kecilnya seraya menepis tangan Ferhat dengan gemas, "Mati saja dulu, baru kau akan menjumpai jembatan sirotol mustaqim." sungutnya yang berhasil membuat Ferhat terkekeh kecil.
__ADS_1
"He he he, sudahlah jangan lama-lama. Ayo genggam tanganku," ajak Ferhat sekali lagi.
Rumanah menganggukkan kepalanya dan siap untuk naik ke tangga escalator itu, "Baiklah," ucapnya seraya meraih tangan Ferhat lalu menggenggamnya erat macam perasahabatan bagai kepompong.
Ferhat tersenyum ramah seraya mengangguk, "Lihat kakiku, oke." ucapnya memberi intruksi.
"Oke." jawab Rumanah tanpa ragu lagi.
"Siap ya, satu, dua,'" Ferhat mulai menghitung sementara Rumanah tampak menatap kaki Ferhat dengan serius. Ia benar-benar harus fokus agar dapat menyeimbangkan langkah kakinya dengan Paman asuhannya itu.
"Tiga!" dalam hitungan ke tiga, Ferhat melangkahkan kakinya dan Rumanah pun dengan sigap turut melangkah mengikuti Ferhat.
"Woooooow! Aku bisa! Yeaaaaay!" gadis desa itu bersorak seraya memeluk manja lelaki tampan yang mengajarinya naik escalator itu.
Ferhat tersenyum senang, ia tampak membiarkan gadis desa itu memeluk tubuhnya. Sementara Sandrina tampak ikut bersorak dan meloncat kegirangan serta merta bertepuk tangan gembira ria.
"Astaga, maafkan aku." saat Rumanah menyadari tindakannya, dengan cepat ia melepaskan pelukannya lalu meminta maaf dengan ekspresi wajah yang berubah kikuk.
Gadis desa itu mengangguk tanda mengerti, "Baiklah, aku siap dan akan fokus." ucap Rumanah penuh percaya diri.
"Come on, genggam lagi tanganku." perintah Ferhat.
Rumanah mengangguk, ia pun meraih tangan Ferhat lalu menggenggamnya erat. Beberapa saat lagi mereka akan sampai ke tepi tangga, Rumanah tampak menatap fokus pada anak tangga yang mengantarnya sampai ke atas. Namun pada saat ia sudah berada di atas dan anak tangga itu sedikit lagi sampai ke tepian, Rumanah tampak bengong dan kurang fokus.
"Ayo Rum!" ajak Ferhat seraya melangkahkan kakinya meloncat satu anak tangga.
Sialnya, Rumanah yang tidak fokus tampak lambat melangkahkan kakinya dan alhasil hal itu membuat dirinya terpeleset dan...
"Aaaaaaaaaaa!" Rumanah memekik saat dirinya terpeleset dan tersungkur ke lantai. Dan hal itu membuat Ferhat, Sandrina dan Andre tampak terbelalak kaget melihat kejadian menggelikan itu.
__ADS_1
"Dewi peri!" pekik Sandrina seraya mendekati dewi perinya yang tengah tergeletak di lantai.
"Waduh, apa-apaan ini. Kenapa aku tidak fokus. Ish, memalukan! Aku ingin pingsan, tapi bagaimana ini, aku sendiri masih tersadar." cerocos Rumanah dalam hati.
"Annabelle, are you oke?" tanya Andre yang sudah berdiri di hadapan Rumanah.
"Apaan sii, pakai bahasa inggris segala lagi. Akukan nggak ngerti." sungut Rumanah dalam hati.
"Rumrum, apakah kau baik-baik saja?" kali ini Ferhat yang bertanya. Lelaki tampan itu mendekati Rumanah lalu membantu gadis desa itu untuk bangun berdiri.
Rumanah mengangguk dan mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Tentu saja beberapa pasang mata menatap geli padanya. Ada yang tertawa lepas, ada yang tersenyum kecut, ada yang menahan tawanya dan ada juga yang mengomentarinya. Sungguh memalukan!
"Dewi peri, apakah ada yang tersakiti?" tanya gadis kecil yang masih polos itu.
"Siapa yang tersakiti, princess?" tanya Andre.
"Dewi peri." jawab Sandrina.
Andre tersenyum kecil, "Dia tidak mungkin tersakiti, karena dia terjatuh akibat ulahnya sendiri. Benarkah begitu, Annabelle?" ucapnya seraya melirikkan matanya pada Rumanah.
Rumanah menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyuman kakunya, "Dewi peri tidak apa-apa, princess. Ini semua karena dewi peri terlalu katro, he he he." ucapnya sembari nyengenges.
"Hmmm, ini bukan salah dewi peri. Tapi salah Uncle Fer!" tuding Sandrina seraya menatap tajam pada Pamannya.
"Whatt???" Ferhat terhenyak.
"Yes!" ucap Sandrina.
"Kenapa jadi Uncle yang salah, princess? Jelas-jelas ini kesalahn dewi perimu. Salah siapa dia tidak mengepakkan sayap-sayapnya." protes Ferhat yang berhasil membuat Andre tertawa lepas.
__ADS_1
"Hummm, menyebalkan!" dengus Rumanah kesal.
***