
Rumanah mendudukkan bokongnya di kursi, menyedot air mineral yang diberikan oleh majikan galaknya. Gadis desa itu bahkan sedari tadi tidak sempat memberikan sepercik air ke dalam perutnya.
"Bagaimana ini, Mel? Kata suster itu jari manis Rumanah harus di operasi, sementara Rumanah tidak mau." ucap Andre pada sekretarisnya, Meliza.
"Sudah saya duga, Pak. Rumanah pasti harus di operasi, melihat lukanya yang parah dan dalam seperti itu tidak mungkin hanya di jahit biasa saja." ujar Meliza. "Kalau begitu kita harus membujuknya agar mau di operasi, Pak. Bagaimana pun Rumanah masih sangat muda sekali, kasihan jika tangannya mengalami cacat." lanjut sekretaris cantik itu.
"Ya, kau benar, Mel. Tetapi gadis desa itu sangat ketakutan dan sepertinya dia pun begitu kebingungan. Tapi aku pun tidak akan membiarkan tangannya cacat, karena hal itu akan membuatku semakin merasa bersalah kepadanya." tutur Andre dengan raut wajah yang menampakkan rasa bersalahnya.
Meliza mengangguk seraya tersenyum hangat. "Saya sangat mengerti, Pak. Tapi di dalam kejadian ini, tidak semuanya salah Pak Andre, jadi Pak Andre tenang saja. Saya yakin Rumanah pun tidak menyalahkan Pak Andre. Toh, ini semua sudah kehendak yang di atas." ujar Meliza menenangkan bos dudanya.
Andre terdiam dan mengusap wajahnya kasar. Walaupun ia tahu jika semua yang terjadi adalah kehendak Sang Maha Kuasa, tetapi tetap saja duda tampan itu merasa bersalah pada pengasuh putrinya.
"Ya sudah, sekarang akan saya coba bujuk Rumanah agar mau melakukan operasi." ucap Meliza.
Andre mengangguk mengiyakan, Meliza pun melangkahkan kakinya menghampiri gadis desa pengasuh putri bos dudanya.
"Rumanah, aku sudah mendengar apa yang Pak Andre jelaskan padaku." ucap Meliza seraya mendudukkan bokongnya di samping gadis desa itu.
Rumanah mengangguk. "Saya takut, Mbak Mel." ucap Rumanah dengan raut wajah yang ketakutan.
"Apa yang kamu takutkan?" tanya Andre yang juga menghampiri Rumanah.
__ADS_1
"Saya takut, entahlah, Tuan. Pokoknya saya takut, entah apa yang akan dokter lakukan kepada saya nanti. Saya sungguh tidak dapat membayangkannya." jawab Rumanah seraya menundukkan wajahnya.
Andre dan Meliza saling beradu pandang. Keduanya tampak mencari cara untuk membujuk gadis desa itu.
"Tidak usah takut, Rumanah. Kau tidak akan merasakan apa-apa saat operasi berlangsung. Sekarang kau tidak usah berpikir jauh dan berpikir yang akan membuatmu enggan mengobati lukamu sendiri. Bisa kau bayangkan bagaimana jadinya kalau tanganmu cacat tidak bisa digerakkan. Kau akan kesulitan melakukan apa pun jika tanganmu cacat, Rumanah." ujar Meliza panjang lebar. Sekretaris cantik itu tampak berusaha membujuk Rumanah agar mau melakukan operasi.
Rumanah terdiam sejenak seperti sedang berpikir keras. Sementara Andre dan Meliza tampak harap-harap cemas.
"Benarkah tidak akan terasa apa-apa?" tanya Rumanah dengan segenap rasa kepanikannya.
"Ya, tentu saja, Annabelle." jawab Andre. "Sebab nanti kau akan di bius dan pastinya hal itu akan membuatmu tak sadarkan diri. Nanti setelah kau sadar, tanganmu sudah selesai di operasi dan kau sudah keluar dari ruangaj operasi. Ayolah, ini semua demi kebaikanmu, Annabelle." lanjutnya menjelaskan dan mencoba meyakinkan gadis desa itu.
"Sudahlah jangan banyak berpikir, Rumanah. Percayalah pada kami, jika kau tidak melakukan operasi maka kau akan menyesal nantinya." ucap Meliza seraya menggenggam tangan Rumanah untuk menguatkannya.
Rumanah masih terdiam, sebenarnya gadis desa itu sangat merasa terharu dan tersanjung atas kepedulian majikan duda dan sekretaris majikan dudanya itu. Namun, ia juga sangat bingung dan merasa takut. Tetapi di sisi lain ia pun membenarkan ucapan Meliza, ada keyakinan di dalam dadanya, tetapi masih ada yang ia khawatirkan.
"Ayolah, Belle. Jika seperti ini kau semakin membuatku merasa bersalah kepadamu." seloroh Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah tampak terhenyak kaget mendengar ucapan majikan galaknya. "Apa yang Tuan katakan? Saya sama sekali tidak menyalahkan Tuan ataupun menyalahkan siapa pun. Ini semua sudah kehendak Tuhan yang maha berkehendak, Tuan." ucap Rumanah yang kini tampak merasa tidak enak pada majikan galaknya itu.
"Kalau begitu kau harus mau di operasi, Rumanah. Dengan begitu Pak Andre akan sedikit merasa lega. Aku harap kau mau mendengarkan perkataanku, Rumanah." ujar Meliza yang kini tampak sedikit ngotot dan menekan setiap ucapannya.
__ADS_1
Rumanah menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. "Bukan saya tidak mau, Mbak Mel. Tetapi saya takut jika harus berada sendirian di sini. Siapa yang akan menemani—" Gadis desa itu tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre menyelanya.
"Aku yang akan menemanimu!" sela Andre yang berhasil membuat Rumanah tercengang kaget.
"Ya, jika begitu saya yang akan menemani princess sampai Rumanah sembuh total." timpal Meliza.
"Ya sudah, jika begitu tidak usah ada yang kau ragukan lagi, Annabelle. Segeralah setujui operasi ini." ucap Andre setengah memaksa.
"Tuan Andre akan menemaniku? Benarkah ini?" ucap Rumanah dalam hati.
"Rumanah, apa yang membuatmu diam?" tegur Meliza.
"Ah, tidak ada, Mbak Mel." jawab Rumanah sedikit kaku.
"Jika begitu aku akan bicara pada suster itu jika aku menyetujui operasi ini." ucap Andre tanpa bantahan.
Rumanah sedikit terhenyak, namun ia tidak dapat menolak dan melarang majikan dudanya.
"Tenang, Rumanah. Ada kami di sini." ucap Meliza dengan kelembutan yang haqiqi.
***
__ADS_1