
Andre mengusap lembut wajah Rumanah yang pucat dan berkeringat. Air matanya nyaris hendak mengalir membasahi wajah cantiknya. Napasnya tersengal-sengal dan dari pancaran matanya tergambar jelas jika gadis desa itu sedang ketakutan.
"Istirahatlah dulu, aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini, Annabelle." pria tampan itu merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Memeluk mesra dan mencoba memberi kehangatan pada sang istri yang sepertinya syok dengan apa yang dia alami.
Ya, tentu saja Rumanah syok dan ketakutan. Pasalnya, senjata tajam yang besar dan panjang milik Andre mencoba mendobrak lubang yang kecil dan sempit. Tentu saja gadis desa itu sangat merasa kesakitan dan nyaris tak ingin melakukannya lagi.
"Tuan, saya takut." Rumanah berkata dengan suara yang gemetar menahan takut.
Andre tersenyum kecil seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya itu. "Apa yang kau takutkan, Annabelle?" tanya pria tampan itu penuh selidik.
"Sa... saya takut robek dan berdarah, Tuan." gadis desa itu menjawab polos. Mungkin hal itu memang selalu dialami oleh para wanita pada umumnya saat mereka akan melakukan pergulatan dua jenis kelamin yang berbeda.
"Hehehhe, sudah tidak usah berpikir yang macam-macam, Belle. Nanti kau trauma dan tidak akan berani melakukan itu. Memang, kita harus melakukannya secara perlahan. Jika kau masih syok, maka kita stop dulu dan lakukan nanti malam di kamarku," ujar Andre yang tampak memberikan pengertian pada istri mungilnya.
Rumanah mengangguk, walaupun ia sangat takut dan syok. Akan tetapi dalam hatinya tertanam keyakinan jika setelah melewati rasa sakit itu, ia akan merasakan yang namanya rasa enak dan nikmat.
"Katakan padaku, apa yang kau rasakan, Belle?" pinta Andre seraya membelai lembut perut rata istrinya.
Rumanah menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. "Rasanya perih dan ... emh! Pokoknya sangat sakit sekali, Tuan." jawab gadis desa itu seraya menggenggam tangan kekar suaminya.
"Hehehehe, itu hal yang wajar, Belle. Karena kau masih virgin. Mis vagsmu masih rapet dan benar-benar membutuhkan pengorbanan untuk bisa sampai membuka kuncinya. Dan, aku sangat suka hal ini. Tapi, aku sedikit kecewa karena kau tidak sesuai dengan tingkahmu yang selalu berani mengoceh dan memarahiku. Semestinya kau pun bisa menahan sakit sedikit saja," cerocos Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Jangan banyak berkomentar, Tuan. Ini beda lagi urusannya! Anda bicara seperti itu karena Anda tidak merasakan sakit. Coba saja jika Anda yang merasakan sakit, pasti Anda pun akan seperti saya. Astaga!" cicit Rumanah sedikit kesal.
"Hahahaha!" duda tampan itu tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir mendorong senjataku agar mampu mendobrak pintu yang terkunci itu tidak sakit, hah?" seloroh Andre tak mau kalah.
"Tentu saja tidak, karena Anda yang menyuntik saya. Sementara saya yang disuntik!" balas Rumanah kekeh.
__ADS_1
"Tidak matamu! Dengar, setelah ini kau harus menahan apa pun yang terjadi. Jika kau tidak dapat menahan apa pun, maka kau tidak akan merasakan sengatan yang memabukan dari si ular berbulu milikku ini!" tegas Andre seraya menggerakkan tangannya. Memainkan jarinya pada mis vags istrinya yang masih nyut-nyutan.
"Memabukan? Memangnya minum tuwak?" seloroh Rumanah sebal.
"Hehehe, jangan asal bicara, Belle. Pokoknya kau akan menjadikan ular berbulu milikku ini sebagai favorit untukmu!" bisik Andre seraya menancapkan jari tengahnya pada lubang yang sedikit demi sedikit sudah memiliki jalan.
"Aaaaaaaacch! Tuan, ish! Ja... jangan lakukan lagi, emh!" seketika Rumanah mengerang dan mendes*ah saat Andre mulai memaju mundurkan jari tengahnya yang menancap masuk ke dalam lubang yang masih sempit itu.
Andre tersenyum usil, tak menjawab dan tak menghentikan aksinya. Duda tampan itu malah menghabisi balon kenyal yang mungil itu. Tentu saja Rumanah kembali terangsang dan kewalahan.
"Eeeeemhhhh! Aach, Tuan...," des*ahan itu kembali keluar dari mulut gadis desa itu. Dan Andre semakin bersorak, ia yakin jika saat itu juga ia bisa mendapatkan kesucian istrinya.
Rumanah meremas rambut suaminya dan menekan kepala itu agar lebih panas lagi menghis*ap serta melum*at balon kenyalnya.
"Uuuh! Anda nakal sekali, Tuan!" racau gadis desa itu yang kini kembali bergairah.
"Hehehehe, tapi kau suka, bukan?" goda Andre seraya merenggangkan kedua paha istrinya agar si mekmew yang merah muda dan merekah itu terpampang nyata di hadapannya.
"Ah, sudahlah, jangan banyak bicara. Aku ingin kita coba sekali lagi," paksa Andre yang kini sudah mulai bersiap. Si ular berbulu miliknya pun sudah mulai bangun kembali.
"No no no! Saya tidak mau, Tuan! Tadi Anda bilang nanti malam saja, kok jadi sekarang sii?" tolak Rumanah.
"Hehehe, aku sudah tidak tahan lagi, Belle. Kau sungguh benar-benar membuatku selalu tergoda," ucap pria tampan itu seraya merekahkan bibir mis vags Rumanah yang merah muda.
"Iiiiiihhhh, tapi saya bel—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre membungkam mulut istrinya itu dengan ciumannya.
"Eeeemmh!" Rumanah bergumam. Sementara tangan Andre mengusap lembut mis vags milik istrinya itu.
__ADS_1
"Tahan sedikit ya, Belle." Andre berkata seraya menatap lembut wajah cantik istrinya.
Dengan pasrah gadis desa itu mengangguk mengiyakan. Sementara Andre tersenyum senang dan mulai mengarahkan senjata tajamnya pada mis vags Rumanah yang sudah basah.
"Tarik napas lalu buang perlahan," ucap Andre memberi saran.
Rumanah mengangguk lagi, kemudian gadis desa itu melakukan apa yang suaminya katakan.
"Siap, ya!" ucap Andre yang tampak mulai siap menancapkan senjata tajamnya pada lubang yang sudah mulai terbuka itu.
Dengan perlahan Andre menggesek-gesekkan ular berbulunya itu. Memberi jalan masuk pada kepala ular berbulu miliknya. Hingga baru saja ia hendak menghentakkan bokongnya, tiba-tiba saja...
Drrrttttt... Drrrtttt... Drrrttttt...
Terdengar bunyi dering dari ponsel pria tampan yang hendak menjebol gawang. Tentu saja hal itu membuat Andre dan Rumanah tersentak kaget.
"Tuan, ponsel Anda berdering," ucap Rumanah.
"Tidak apa-apa, abaikan saja! Aku rasa bukan hal yang penting," jawab Andre yang tampak tak peduli dan tak ingin diganggu.
"Tidak, Tuan. Sebaiknya Anda lihat dulu saja, siapa tahu hal yang penting," sanggah Rumanah.
"Tidak perlu, aku yakin itu tidak penting. Sudah jangan dipikirkan, mari kita lanjutkan!" tegas Andre yang tampak tak peduli pada ponselnya yang berdering.
"Tidak, Tuan! Saya tidak ingin melanjutkan sebelum Anda menjawab telephon itu!" Rumanah pun memberi penegasan.
"Ck, baiklah!" decak Andre yang tampak pasrah. Akhirnya ia pun menghentikan kegiatannya dan beringsek turun dari ranjangnya.
__ADS_1
Haduh, ada saja halangannya! Semoga setelah ini kamu sukses menjebol gawang ya, Tuan Andre. Hihihi
BERSAMBUNG...