
Andre menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Permainan keduanya tampak masih di pertengahan. Rumanah yang masih virgin begitu kewalahan menghadapi amukan sang suami yang gagah perkasa.
Padahal, si ular berbulu belum menampakkan pesonanya. Hanya bermain dengan tangan dan mencoba memberi jalan untuk si ular berbulu agar bisa sedikit mudah menerobos masuk pada lubang yang belum pernah terobok-obok.
"Bagaimana? Apakah masih terasa sakit?" tanya Andre pada istrinya.
Rumanah menggeleng kecil. "Tidak terlalu, Tuan." jawabnya.
Andre tersenyum. "Annabelle, kau belum siap mengandung anakku, bukan?" ucap pria tampan itu.
Rumanah mengangguk kecil dengan tatapan lembutnya.
"Jika begitu...," Andre menarik lengan Rumanah agar ia bangun dari tidurannya. "Lakukanlah perlawanan padaku, Annabelle." lanjut pria tampan itu yang kemudian merebahkan tubuhnya dan membiarkan istrinya duduk di atas pahanya.
Glek!
Rumanah menelan ludahnya kasar. Manik matanya membulat penuh dan seketika jantungnya berdetak lima puluh kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Ayo, lakukanlah!" ucap Andre seraya menyunggingkan senyuman genitnya. Pria itu memang belum melepas segalanya. Tentu saja ia ingin Rumanah yang melepas semua kain yang melekat di tubuhnya.
"A... apa? Bagaimana, Tuan?" Rumanah plangah-plongoh tak dapat mengerti. Padahal tugasnya saat ini hanya melakukan seperti apa yang Andre lakukan padanya.
Andre tersenyum kecil serta menangkap tangan kanan istri mungilnya.
Cup!
Pria itu mengecup lembut tangan halus dan putih milik istrinya itu. Sementara Rumanah tampak bengong dengan ekspresi keheranan.
"Tidak usah tegang seperti itu, Annabelle. Kau cukup melakukan seperti apa yang aku lakukan padamu. Kau mengerti, bukan? Jadi, sekarang aku ingin kau yang memegang kendali." Andre menjelaskan dengan tenang dan cukup lembut. Sehingga hal itu membuat Rumanah dapat mengerti.
__ADS_1
Namun, gadis desa itu tampak ragu. Pasalnya, ia sedikit malu dan masih canggung melakukan apa yang suaminya inginkan.
"Ayolah, Annabelle. Kenapa kau diam saja? Tidak usah bingung. Lihat ini, bajuku masih menempel di tubuhku. Dan, bagaimana caranya kau harus melepas semua pakaianku ini? Hum, sekarang ... lakukan dengan memulai mencium bibirku. Ayo, lakukan!" desak pria tampan yang sudah memiliki putri kecil itu.
Rumanah menarik napasnya lalu membuangnya kasar. Ya, mungkin dia memang harus mencobanya. Bagaimana pun, kemungkinan besar setelah ini mereka akan lebih sering melakukan pergulatan di atas ranjang.
"Hum, baiklah, Tuan." Rumanah akhirnya pasrah. Setelah ia memberanikan diri dan mencoba merelaxkan dirinya. Tak membuang waktu lagi gadis desa itu pun mulai mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya.
Andre bersorak dalam hati, dengan lembut ia membelai rambut panjang yang hitam itu. Sementara kini sang istri sedang berusaha menjadi wanita binal. Dengan buas ia melahap bibir seksi suaminya.
"Emmhhh!" Andre bergumam, kini tangannya meremas gemas bokong Rumanah yang bahenol emplok cendol. Sementara tangan gadis desa itu kini membelai lembut dada bidang hingga perut sixpack suaminya.
Untuk beberapa saat keduanya menikmati ciuman dan belaian yang lembut menenangkan. Tangan kekar Andre terus tak mau diam. Sesekali ia memilin serta meremas balon kenyal milik istrinya itu. Dan, sesekali pula ia memainkan jemarinya pada mis vags yang sudah basah sedari tadi.
Cup!
"Kau membosankan, Annabelle!" cicit pria tampan itu.
Rumanah membulatkan mata dan menatap heran. "Membosankan?" selidiknya.
"Ya, semestinya kau bermain pula pada dadaku. Lakukanlah seperti yang kulakukan padamu! Kau terlalu monoton," omel pria tampan itu sedikit sebal.
"Haaaaa???? Keterlaluan! Jika Anda tidak sabar dan sudah tak ingin dengan saya, maka sekarang juga kita bisa sudahi permainan ini!" semprot Rumanah yang tampak tak terima. Dengan kesal ia meringsek turun dari tubuh kekar suaminya.
Wajahnya merengut dan seketika moodnya hilang begitu saja. Gadis desa itu duduk di sisi ranjang tanpa menatap.suaminya.
"Astaga, apa yang kau katakan, Annabelle!? Kenapa kau malah ngambek seperti ini?Jangan salah paham, aku hanya ingin melihatmu berkembang. Ayolah, lakukan dengan benar agar aku tidak bosan!" cicit pria tampan itu seraya beringsut bangun dari tidurannya.
Rumanah hanya diam dan mengerucutkan bibirnya sebal. Sungguh ia tidak mengerti dengan suaminya yang sangat pemaksa dan tidak sabaran.
__ADS_1
"Sialan! Dia bilang aku membosankan dan monoton? Semestinya dia dapat memaklumi itu. Sebab, aku bukanlah seorang wanita yang sudah pandai melakukannya. Aku ini pemula, woooyyy! Kenapa dia tidak mencari jeleng-jeleng yang sudah lihai dan pintar memanjakannya? Astaga, lama-lama bisa darah tinggi kalau seperti ini terus!" gerutu Rumanah di dalam hati.
"Annabelle, lakukanlah sekali lagi. Kau harus paham apa yang aku katakan dan apa yang aku inginkan. Kau tahu? Aku suka dengan wanita yang binal dan liar di atas ranjang. Maka hal itu pun harus kau lakukan, Belle." pria tampan itu berucap seraya merangkul manja bahu istrinya itu.
Rumanah memutar bola matanya malas dan memenceng-mencengkan bibirnya. "Maksud Anda, sepeti mantan istri Anda, begitu?" celetuk gadis desa itu menuding suaminya.
"Apaaa???" Andre tampak terhenyak kaget mendengar tudingan istri mungilnya itu. Tentu saja ia tidak pernah membandingkan Rumanah dengan mantan istrinya yaitu Luna.
"Jika begitu, silakan saja Anda kembali deng—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Andre menyelanya.
"Hentikan, Annabelle!" sela pria tampan itu yang tampak menekan setiap ucapannya. "Jaga ucapanmu itu! Aku sungguh muak dengan wanita itu! Bagaimana bisa kau mengatakan hal yang tidak pernah aku pikirkan!?" lanjut pria tampan itu yang tampak mengomel ria pada istri mungilnya.
Rumanah menyipitkan matanya dan menolehkan wajahnya pada suaminya itu. "Jika begitu, Anda harus bersabar menghadapi saya, Tuan! Saya bukan wanita yang terbiasa dengan hal itu. Bagaimana bisa Anda memaksa dan ... argh! Sebaiknya sudahi saja, saya sudah tidak mood lagi!" gadis desa itu tampak kesal dan turun dari ranjang. Dengan cepat ia menyambar dress hitam yang tergeletak di lantai. Tak lupa dengan bra dan cd nya.
Melihat hal itu membuat Andre sedikit meradang. Dengan kasar ia mengusap wajahnya dan turun menghampiri istrinya yang ambekan itu.
"Apa yang kau lakukan, Annabelle. Kenapa kau ngambek begini padaku? Ayolah jangan seperti ini, Annabelle. Ini hari pernikahan kita, semestinya kita lalui dengan hal yang manis." pria tampan itu merengkuh bahu istrinya dan menatap lembut penuh permohonan.
Rumanah menepis tangan suaminya dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia berjalan ke arah jendela dan berdiri di sana.
"Semestinya Anda yang mengerti, Tuan." rengek gadis desa itu seraya menyilangkan tangannya di dadanya.
Andre mengusap wajahnya lantas melangkahkan kakinya menghampiri istrinya yang sedang ngambek.
"Okelah, kalau begitu aku minta maaf, Annabelle. Aku tahu aku salah, dan kuharap kau jangan marah lagi padaku," ucap pria tampan itu seraya melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya.
Rumanah hanya diam dan membiarkan suaminya memeluk manja tubuhnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1