Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Kalian pacaran ya??


__ADS_3

Rumanah mengatur napasnya yang terasa sesak saat ia tak sengaja melihat pemandangan cetar membahana di hadapannya. Matanya masih ia tutup rapat-rapat, gemetar di dada dan seluruh tubuhnya semakin menjadi kala sang majikan duda tampan itu berjalan ke arahnya dengan santai.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan? Di manakah istri majikan cabe ini? Oh Ya Tuhan, mataku yang normal dan suci ini begitu ternodai." celoteh Rumanah dalam hati.


Sementara itu Andre tampak mengerutkan dahinya, sebenarnya ia tak mengerti kenapa Rumanah bisa masuk ke kamarnya. Dia pikir tadi seorang pelayan yang biasa membawakan makanan untuknya, ternyata dugaannya salah.


"Ehem!" Andre mendehem cool.


Rumanah terjingkat kaget, dengan cepat ia membalikkan badannya membelakangi majikannya.


"Apa yang kau cari di kamarku, boneka Annabelle?"tanya Andre dengan suara yang cool.


Rumanah tersentak kaget, ia benar-benar gemetar dan kelabakan. Sementara itu Andre semakin mendekat ke arahnya.


"Hei, Annabelle, apakah kau tuli?" semprot Andre yang kini sudah berada di belakang Rumanah.


"Sial, kenapa aku merasa seperti buronan begini." ucap Rumanah dalam hati.


Rumanah membuang napas kasar dan membuka matanya, namun pada saat itu...


"Aaaaaaaaaaaa!!!" Rumanah menjerit histeris kala matanya menangkap sosok pria yang bertelanjang dada di hadapannya. Ya, saat itu Andre sudah berdiri di hadapan Rumanah. Tentu saja gadis desa itu tampak syok dan terkejut, lagi-lagi ia harus menodai kesucian matanya.


"Hei, bisakah kau bersikap biasa saja? Aku ini manusia tampan, Annabelle! Kenapa kau malah ketakutan seperti itu!?" sungut Andre yang tampak heran dan tak terima dengan sikap Rumanah yang terkesan ketakutan melihatnya.


Rumanah memejamkan matanya, kakinya bergetar dan dadanya pun ikut berguncang. Tanpa menjawab ocehan majikan cabenya, Rumanah tampak berlari secepat mungkin menghindari majikannya. Namun langkahnya terhenti saat ia berada di ambang pintu.


"Ck, sialan! Bagaimana ini? Aku tidak akan bisa keluar jika majikan cabe itu tidak membuka pintu ini." ucap Rumanah dalam hati.


Sementara itu Andre tampak memperhatikan tingkah aneh pengasuh putri kecilnya itu. Senyuman geli mengembang di wajah tampannya, entah mengapa Rumanah benar-benar seperti boneka yang bisa menjadi permainannya.

__ADS_1


"Kenapa kau mematung di sana, Annabelle?" tanya Andre yang berhasil membuat Rumanah kembali tersentak kaget.


"Waduh, bagaimana ini? Kenapa aku terlihat seperti orang bodoh begini si. Tapi nyatanya aku memang bodoh si, buktinya membuka pintu ini saja pun aku tidak tahu caranya." celoteh Rumanah dalam hati.


"Dan, ke mana lagi istri majikan cabe ini? Kenapa di dalam kamar mewah ini begitu hening? Duh, ini bisa gawat. Istri majikan cabe ini bisa salah paham jika melihatku berada di dalam kamar ini bersama dengan suaminya. Aku harus cepat-cepat keluar dari kamar ini." lanjut Rumanah yang masih mengoceh dalam hati.


"Selamanya kau akan terkurung di tempat ini jika kau tidak bertanya bagaimana caranya membuka pintu itu." ujar Andre yang berhasil membuat Rumanah menelan ludahnya kasar.


Rumanah terdiam, ia sedang mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan. Hingga beberapa detik kemudian..


"Srrreeeeeeett!!" pintu pun terbuka dengan sendirinya. Rumanah tampak membuang napas lega karena ia bisa segera keluar dari kamar itu. Namun saat pintu terbuka lebar, betapa terkejutnya saat ia melihat Sandrina berdiri di depan pintu itu.


"Dewi Periii!" panggil Sandrina.


"Princess." sahut Rumanah yang tampak terlihat tegang.


"Hei, Princess Daddy, apakah kau sudah siap berangkat sekolah?" tanya Andre pada putri kecilnya.


"Seperti yang kau lihat, Dadd." jawabnya singkat.


"Princess, kamu pasti sedang menunggu Dewi Peri ya? Maaf ya sayang, Dewi Peri.." belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Sandrina menyelanya.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Aku sudah menunggu di meja makan, kenapa kalian lama sekali. Dan malah berduaan di kamar ini." sungut Sandrina setengah merengek dan merajuk.


Rumanah dan Andre tampak terdiam seribu bahasa. Sementara Sandrina yang manja tampak mengerucutkan bibirnya.


"Princess, maafkan Dewi Peri, tadi itu.." lagi-lagi Rumanah menggantung ucapannya saat tiba-tiba Sandrina menyelanya.


"Kalian pacaran ya??!" tebak Sandrina yang tampak berhasil membuat Rumanah dan Andre tersentak kaget.

__ADS_1


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh, tak menyangka anak sekecil Sandrina bisa berpikir yang aneh-aneh padanya. Sementara Andre tampak menepuk jidatnya pasrah.


"Princess, apa yang kau katakan? Sebaiknya kita segera berangkat sekolah. Nanti Dewi Peri jelaskan pada Princess." ucap Rumanah mencoba membujuk asuhannya.


Sandrina menggeleng.


"Kita akan berangkat sekolah bersama Daddy." jawab Sandrina.


Rumanah tersentak kaget.


"Oke Princess, kau tunggu di meja makan ya. Sebentar lagi Daddy akan menyusul." seru Andre.


"Astaga, bagaimana ini? Kenapa Princess harus berangkat bersama Daddynya. Lalu bagaimana dengan ibunya?" celoteh Rumanah dalam hati.


"Cepat, Dadd. Jangan lama-lama, hari ini aku ada pelajaran tambahan, apakah Dewi Peri sudah memberitahu Daddy?" Sandrina merengek.


Rumanah tampak terjingkat kaget, pasalnya ia lupa menyampaikan apa yang Sandrina perintahkan.


"Hmmm, belum. Dewi Perimu tidak mengatakan apa-apa pada Daddy. Dia hanya menjerit histeris seperti ketakutan. Entahlah, coba kau tanyakan pada Dewi Perimu itu." jawab Andre sembari mengekori Rumanah dengan kedua manik matanya.


Rumanah terjingkat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh.


"Benarkah itu, Dewi Peri?" selidik Sandrina.


Rumanah terdiam dan melipat bibirnya ke dalam.


"Hmm, sudahlah Princess. Sebaiknya kau tunggu Daddy di meja makan. Jika kalian masih di sini maka Daddy tidak akan selesai mengenakan pakaian Daddy." ujar Andre.


Sandrina mengangguk, kemudian ia berlalu bersama Dewi Perinya.

__ADS_1


***


__ADS_2