Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Why Dadd?


__ADS_3

"Princeeeeessss!" Andre memanggil putrinya saat ia tiba ke rumahnya. Para asisten rumah tangga tampak terlihat heran pada majikan mereka.


"Joe, apakah princess ada di rumah?" tanya Andre pada Joe, supir pribadinya.


"Princess, anu, itu.." Joe tampak gugup menjawab pertanyaan majikannya. Tentu saja hal itu semakin membuat Andre terlihat kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi dia pun berlari ke kamar putrinya.


Meliza yang setia tampak mengekori bos tampannya ke mana pun melangkah. Mereka benar-benar tidak tahu jika ternyata princess Sandrina dalam keadaan baik-baik saja dan sudah ada di rumah sejak pukul setengah enam sore.


"Bruuaaaakk!" dengan tidak sabar Andre mendorong pintu kamar Sandrina dengan sangat kasar. Tentu saja hal itu membuat para manusia yang berada di dalam sana tampak terkejut dan refleks mereka menolehkan wajah masing-masing ke arah pintu.


"Princesss!" melihat putrinya sedang asyik menonton televisi sembari mengemil dan minum susu membuat Andre tampak bisa bernapas dengan lega. Seketika kakinya terasa lemas dan dadanya yang bergemuruh pun kini terasa adem.


"Daddy." ucap Sandrina seraya menatap aneh pada Daddynya yang terlihat kusut dan ngos-ngosan.


Rumanah dan Ferhat pun sama-sama terlihat heran pada Andre yang tiba-tiba berlari lalu memeluk erat putri sematawayangnya.


"Ya Tuhan, princess. Ternyata kau baik-baik saja." ucap Andre dengan suara yang bergetar.


"Why Dadd?" Sandrina yang tak paham dengan sikap Daddynya tampak terlihat datar dan penuh tanya.


Andre melepaskan pelukannya perlahan, dengan lembut ia mengusap wajah cantik Sandrina.


"Daddy takut kehilangan princess." ucapnya yang kemudian menciumi pipi putri sematawayangnya itu.

__ADS_1


Meliza melangkahkan kakinya mendekati Sandrina dan Andre, dengan lembut ia mengusap puncak kepala putri bosnya.


Sementara itu Rumanah tampak bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa wanita cantik yang datang bersama majikannya?


"Princess sayang, kamu membuat kami khawatir." ucap Meliza lembut.


"Aunty Meliza!" Sandrina tampak bersorak ria saat menyadari jika Meliza datang bersama Daddynya.


Meliza tersenyum manis.


Sementara Rumanah dan Ferhat tampak bengong tak mengerti apa-apa.


"Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mereka saat ini. Astaga, kenapa mereka seperti sedang kehilangan uang seratus milyar." ucap Ferhat dalam hati.


Andre mendudukkan bokongnya di ranjang putrinya, sementara Meliza tampak masih berdiri di hadapan mereka. Kedua orang itu seakan tak melihat Ferhat dan Rumanah yang sedang duduk di sofa menghadap televisi.


"Princess, coba katakan pada Daddy, kenapa kau tidak menjawab telephon dari Daddy? Dan kenapa princess tidak menunggu Daddy menjemput princess ke sekolah?" Andre mulai menginterogasi putri sematawayangnya.


Sandrina tampak terdiam sesaat, kedua bola matanya tampak menatap kosong pada Daddynya.


Sementara itu Rumanah yang mendengar pertanyaan yang Andre katakan pada putrinya, seketika jantungnya berdetak tak karuan. Tentu saja ia mulai merasa takut kalau saja Sandrina sampai mengatakan hal yang sebenarnya dan sudah pasti dia akan kena amuk majikan dudanya itu.


"Astaganaga, apa yang harus aku lakukan. Haduh! Majikan galak itu pasti akan memarahiku habis-habisan. Aiiish, sebaiknya aku harus kabur sebelum majikan galak itu menyadari kehadiranku di sini." celoteh Rumanah dalam hati.

__ADS_1


Dengan perlahan ia bangkit dari duduknya dan mengajak Ferhat turut bersamanya. Dengan setengah berbisik Rumanah memberi kode pada Ferhat agar ikut kabur dari tempat itu.


"Ayo, lebih baik kita keluar dari sini sebelum kena hukuman pancung dari majikan galak itu." bisik Rumanah seraya mengarahkan tangannya memberi kode pada Ferhat.


Ferhat tampak diam dan setengah heran pada tingkah pengasuh keponakannya itu. Tentu saja ia tidak akan patuh dan mengikuti ajakan Rumanah. Hingga hal itu membuat Rumanah jengkel dan panik, ia benar-benar takut kena marah oleh majikan dudanya. Tanpa pikir panjang ia pun menarik paksa lengan Ferhat agar bangun dari duduknya dan turut mengikuti langkahnya.


"Astaga, hei, apa yang kau lakukan?" setengah berbisik Ferhat tampak terkejut dengan tindakan Rumanah.


Buru-buru Rumanah menempelkan telunjuknya pada bibirnya, memberi kode agar Ferhat tidak membuat kegaduhan di sana.


"Sssstttt.." dengan kesal ia memelototi Ferhat yang juga tampak menatap kesal pada Rumanah.


Ferhat mengerutkan dahinya dengan manik mata yang membulat penuh. Sementara Rumanah tampak tak memperdulikan hal itu, yang ia pikirkan saat ini adalah kabur dari kamar itu dan menyelamatkan dirinya dengan Ferhat.


Tanpa membuang waktu lagi Rumanah pun kembali melangkahkan kakinya dengan perlahan sembari menarik lengan Ferhat agar ikut bersamanya. Ferhat yang diseret paksa tampak tidak bisa menghindar dan turut mengekori Rumanah, hingga pada saat mereka telah mendekati pintu....


"Hei, mau ke mana kalian?" terdengar suara bariton dari seorang Andre.


Seketika langkah kaki Rumanah terhenti mendadak, begitu pun dengan Ferhat, ia tampak mengerem kakinya dengan sangat cakram.


"Mampus gue!" dengus Rumanah dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2