
Satu hari seletah operasi...
Rumanah mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidurnya. Hari ini ia sudah bisa pulang dari rumah sakit itu. Tentu saja hal itu sangat menggembirakan bagi dirinya.
"Bagaimana, Belle? Apakah sudah selesai?" tanya Andre yang baru kembali setelah mengurus administrasi.
"Saya sudah selesai, Tuan. Apakah sudah bisa pulang?" jawab Rumanah disertai pertanyaannya.
"Tidak, kau tetap di sini." jawab Andre yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.
"Apaaaa????" gadis desa itu nampak membulaykan kedua bola matanya penuh.
Andre tersenyum usil dan menyambar kunci mobilnya. "Kau bisa pulang setelah kau membuka seluruh pakaianmu di hadapanku." ucap Andre yang berhasil membuat Rumanah semakin kesal pada majikan galaknya itu.
"Apa-apaaan, saya tidak mau!" sungut Rumanah menolak.
Andre tersenyum kecil. Manik matanya kini menatap pada paypayud milik Rumanah yang masih terlindungi oleh pakaiannya.
"Astaga, mesum! Ngapain sii liatin buah dada miliku. Sialan!" desis Rumanah dalam hati. Tak ingin menjadi perhatian majikan galaknya, gadis desa itu kini menutupi paypayud miliknya menggunakan paper bag yang berisi pakaiannya.
"Oh, ayolah, Belle. Kenapa kau menutupinya, bukankah kau sudah memperlihatkannya padaku?" ucap Andre yang semakin membuat Rumanah kesal.
"Ish, jangan bicara asal, Tuan. Itu bukan keinginan saya dan saya harap Tuan tidak mengingatnya lagi dan lagi!" sungut Rumanah yang nampak menekan setiap ucapannya.
Andre mengusap wajahnya dan tersenyum usil. "Mungil, bulat dan putih. Ha ha, bagaimana aku bisa melupakannya, sampai saat ini aku masih bisa mengingatnya." ucap Andre dalam hati.
"Kalau begitu kau tidak bisa pulang, Belle. Tetaplah di sini sebelum kau membuka pakaianmu di hadapanku." ucap Andre tanpa ragu dan berekspresi mesum.
__ADS_1
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Hng, lebih baik saya pulang sendiri saja dari pada harus meladeni Anda, Tuan." ketus gadis desa itu seraya menghentakkan kakinya kesal.
Andre tersenyum kecut dan melipat tangannya di dadanya. "Silakan jika kau ingin nyasar dan kehilangan arah. Nanti kau bertemu dengan penculik yang akan menjualmu ke luar negeri untuk dijadikan budak se*ks di sana." ucap Andre menakut-nakuti pengasuh putrinya itu.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan nampak bergidik ngeri saat ia membayangkan apa yang diucapkan oleh majikan galaknya itu. "Hiiiiy, mengerikan sekali sii." ucap Rumanah dalam hati.
"Bagaimana? Apakah kau tetap ingin nekat pulang sendiri dan diculik oleh penjahat yang akan menjualmu ke luar negeri? Atau kau bersedia membuka pakaianmu di hadapanku agar kau bisa pulang bersamaku? Coba kau pikirkan dari sekarang. Kuberi waktu lima menit untuk berpikir." ucap Andre mendesak Rumanah, terkesan sangat memaksa memang, dan hal itu semakin membuat Rumanah jengah pada majikannya yang galak plus mesum itu.
"Oh begitu. Tentu saja saya tidak perlu berpikir lagi, Tuan. Saya setuju!" jawab Rumanah tanpa ragu.
Andre tersenyum lebar. "Oke, sekarang kau boleh membuka semua pakaianmu di hadap—" Andre nampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba Rumanah menyelanya.
"Jangan bermimpi, majikan mesum!" seloroh Rumanah seraya berlari mengambil langkah seribu.
Andre nampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan berdecak kesal. "Ck, sialan kau Annabelle!"
"Huh hah, sial sekali. Sudah gila kali ya si majikan galak itu. Sialan, dia pikir aku wanita apaan? Tomat-tomattan yang bisa dipermainkan seperti itu. Astaga, benar-benar setres tuh majikan. Sudah galak, sekarang tambah lagi dengan kemesumannya. Huh!" Rumanah mengoceh sendiri merutuki majikan galaknya itu.
"Kuharap Mbak Mel berpikir seratus juta kali sebelum menerima cinta majikan mesum itu." kembali Rumanah mengoceh.
Sementara itu Andre nampak berjalan cepat melewati koridor rumah sakit. Duda tampan itu nampak sudah selesai mengurus administrasi dan menebus obat-obatan yang harus Rumanah konsumsi.
"Sialan si gadis desa itu. Bisa-bisanya dia membuatku kesal. Awas saja kau, Annabelle. Kupastikan seluruh tubuhmu akan kulihat lagi." gerutu Andre dalam hati.
Rumanah berdiri di samping mobil majikan galaknya dengan ekspresi panik dan tegang. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
"Hei, mau apa kau berada di dekat mobilku?" tegur Andre seraya menatap tajam pada pengasuh putri mahkotanya.
__ADS_1
Rumanah menggigit bibir bawahnya dan menatap ngeri pada majikan mesumnya itu. "Emh, saya ingin pulang bersama Anda, Tuan." jawab gadis desa itu sedikit gugup.
Andre berseringai sinis. "Hng, tidak bisa! Kau pulang sendiri dan jangan mengharapkan bantuanku. Aku tidak peduli jika kau sampai diculik oleh penjahat dan dijual ke luar negeri." ketus Andre seraya membuka pintu mobilnya lalu masuk ke dalam.
Rumanah nampak terbelalak kaget dan mulai panik. Nampaknya sang majikan benar-benar kesal padanya. "Tidak, Tuan! Saya tidak mau pulang sendiri." rengek Rumanah seraya membuka pintu mobil bagian depan lalu masuk ke dalamnya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Turun dari mobilku! Aku tidak mau mengajakmu pulang. Kau sendiri yang memilih jalan ini, sana turun!" sungut Andre menolak kehadiran Rumanah. Tentu saja ia kesal pada pengasuh putrinya itu.
Rumanah menggigit bibir bawahnya dan menatap melas pada majikan galaknya. "Ayolah Tuan, maafkan saya soal tadi. Emh, saya tidak mau pulang sendiri. Saya takut, Tuan." rengek Rumanah memelas.
Andre menyunggingkan senyuman usilnya. "Baiklah, kalau begitu kau sudah setuju untuk membuka pakaianmu di hadapanku, benar begitu?" lagi-lagi duda tampan itu memaksa Rumanah untuk membuka pakaiannya.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Tidak! Tidak seperti itu, Tuan. Ayolah jangan seperti ini, masak Tuan tega pada saya. Astaga, saya sungguh tidak menyangka jika ter—" Rumanah belum selesai bicara, tiba-tiba Andre menyelanya.
"Turun!!!" perintah Andre seraya menatap tajam pada pengasuh putri cantiknya itu.
Rumanah terhenyak kaget dan terdiam membisu. Nyalinya menciut saat menatap manik mata Andre yang begitu memancarkan api kemarahan. "Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" ucap gadis desa itu di dalam hati.
"Kenapa kau diam? Cepat turun jika kau tidak mau melakukan apa yang kuinginkan." desak Andre.
Rumanah menundukkan wajahnya dan bingung harus berbuat apa. Tentu saja ia tak mau pulang sendiri karena gadis desa itu benar-benar tidak tahu arah jalan pulang. Lagi pula dirinya tidak membawa uang sepeser pun.
"Annabelle, turun!" sekali lagi Andre meminta Rumanah untuk turun dari mobilnya.
Rumanah menggeleng.
"Astaga, kau ini benar-benar menyebalkan! Kalau begitu kau telah menerima syarat dariku. Maka, sekarang cepat kau buka seluruh pakaianmu. Tenang, hanya aku yang dapat melihatnya. Oh, apa mungkin kau ingin aku yang membukanya?" desak Andre yang semakin membuat Rumanah panik dan bingung.
__ADS_1
***