Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Merinding geli


__ADS_3

Andre menatap wajah cantik sekretaris yang sudah akan pergi dari hidupnya. Seketika ia merasa sangat keberatan jika harus terpisah dengan sosok wanita yang sudah belasan tahun menjadi bagian dalam hidupnya.


"Kenapa aku jadi sedih begini akan kehilanganmu, Mel. Kau adalah sekretaris yang perfect bagiku. Tapi kenapa kau harus pergi dariku." ucap Andre di dalam hati.


Meliza menundukkan wajahnya dalam. Sejujurnya ia pun merasa berat meninggalkan perusahaan dan bos dudanya yang sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Tetapi, apa mau dikata? Sementara sang kekasih yang belum lama kenal dengannya sudah ingin menjadikannya sebagai seorang istri. Dan, setelah menikah pun ia akan tinggal di negara Prancis.


"Mel, maafkan atas segala yang telah terjadi selama ini. Maafkan jika aku sering dan sangat sering membuatmu capek bahkan mungkin terluka. Sejujurnya aku—" Andre belum selesai bicara, tiba-tiba saja Meliza menghamburkan diri memeluk bos dudanya itu.


"Jangan bicara seperti itu, Pak. Sejujurnya saya sangat bersedih atas hal ini," ucap Meliza lirih.


Andre tampak mematung tak menyangka jika sekretarisnya akan memeluknya seperti itu. Namun sayang, tidak ada rasa ataupun getaran apa-apa di dalam dadanya. Apakah itu artinya duda tampan itu sudah tidak mencintai Meliza?


Entahlah!


"Saya yang harus minta maaf jika selama ini saya menjadi sekretaris yang kurang baik bagi Anda." lanjut sekretaris cantik itu.


"Tidak, Mel. Kau adalah sekretaris yang sangat perfect bagiku. Aku bahkan tidak yakin jika ada seseorang yang mampu menggantikanmu. Bukan hanya mengganti posisi dan jabatanmu, Mel. Tapi juga menggantikan kinerja, sikap dan semua yang ada pada dirimu. Astaga." sanggah duda tampan itu.


Meliza merenggangkan pelukannya lalu melepaskan dirinya, ia pun tersenyum hangat. Selama belasan tahun lamanya, ini kali pertamanya Meliza memeluk hangat bos dudanya itu.


"Dia pasti bisa menggantikan saya, Tuan. Karena dia adalah adik kandung saya." ungkap Meliza yang berhasil membuat Andre terjingkat kaget.


"Haaaah??? Adik kandungmu?" Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.


Meliza mengangguk mengiyakan. "Ya, Pak. Dan saya sudah mengajarkan semua yang saya lakukan selama menjadi sekretaris Anda." jawab sekretaris cantik itu.


Andre terdiam tanpa kata, rupanya sang sekretaris sudah menyiapkan pengganti dirinya sejauh mungkin dan sebaik mungkin. Good job, Meliza!


***


Sekitar pukul tiga sore, princess Sandrina sudah keluar dari kelasnya. Pelajaran terakhir sudah selesai, dan hal itu membuat Rumanah dapat bernapas dengan lega.


"Ayo, sayang. Tunggu Daddy di sana, ya." ajak Rumanah pada asuhannya.

__ADS_1


"Ayo!" jawab gadis kecil itu seraya tersenyum senang.


"Princess, sepertinya hari ini princess sangat senang sekali. Ada apa rupanya?" tanya gadis desa itu yang tampak penasaran.


Sandrina tersenyum seraya membuka resleting tas ranselnya. "Dewi peri mau tahu kenapa princess sangat senang sekali?" tanya gadis kecil itu sedikit membuat pengasuhnya semakin penasaran.


"Iya doooong." jawab Rumanah.


"Ini diaaaaa!" sorak Sandrina seraya menunjukkan selembar kertas yang entah apa isinya.


"Apa itu, sayang?" tanya Rumanah yang tampak belum tahu.


"Ini adalah formulir pendaftaran peserta lomba ballet antar kota," jawab Sandrina yang tampak membuat Rumanah tersenyum dan berbinar.


"Waaaaah, hebat sekali, princeeeeeess. Itu artinya princess akan mengikuti lomba itu?" sorak Rumanah.


"Ya, dan hanya princess yang terpilih di sekolah ini." jawab gadis kecil itu penuh bahagia.


"He he he he, iya dooong. Dan Daddy harus menandatangani surat ini, dewi peri." ucap Sandrina.


"Oh, tenang saja, Daddy pasti mau." jawab Rumanah.


Sandrina tersenyum penuh ceria. Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di hadapan Sandrina dengan Rumanah.


"Sepertinya ini mobil Uncle Ferhat deh," ucap Sandrina.


"Benarkah itu?" Rumanah memantau siapa orang yang ada di dalam mobil merah itu.


Hingga beberapa detik kemudian...


"Hallo everybody!" sapa Ferhat yang baru saja turun dari mobilnya.


"Hai Uncle Feeeerr!" Sandrina bersorak.

__ADS_1


"Oh, ternyata kamu, Ferfer." ucap Rumanah.


"Hum, apakah kalian sudah akan pulang?" tanya Ferhat.


"Sudah, Uncle," jawab Sandrina.


"Okey, kalau begitu sebelum pulang ke rumah, Uncle akan mengajak kalian bermain ke Mall. Bagaimana, apakah kalian tertarik?" seru pria tampan itu.


"Yeeeaaaaayy, bermain ke Mall. Princess sangat tertarik!" sorak gadis kecil itu.


"No! Dewi peri tidak tertarik." tolak Rumanah.


"Why?" tanya Ferhat.


"Aku takut Tuan Andre akan kehilangan putrinya ini," jawab gadis kecil itu.


"Ha ha ha, aku sudah meminta izin pada majikanmu itu, Rumrum." balas Ferhat.


"Oooh, sudah minta izin ya." ucap Rumanah sembari manggut-manggut.


Seketika ia teringat pada wajah tampan majikan galaknya itu. Teringat dan masih terasa bagaimana nikmatnya digerayangi oleh duda tampan itu. Dan hal itu membuat gadis desa itu bergidik geli seperti sedang menahan buang air kecil.


"Hiiiiiyyyy," Rumanah tampak bergidik geli.


"Kenapa, dewi peri?" tanya Sandrina.


"Kau ingin buang air?" tanya Ferhat.


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Tidak, tidak kenapa-napa." sergah gadis desa itu.


Haduh, Rumanah mulai nakal!


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2