Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Membeli cincin


__ADS_3

"Apa yang dokter katakan, Annabelle?" tanya Andre pada pengasuh putri kecilnya itu.


"Emh, kata dokter ... saya harus sering-sering menggerakkan jari saya, Tuan. Dan, setiap tiga kali sehari harus dibersihkan dan diganti perbannya," terang Rumanah.


"Hahh???? Setiap tiga kali sehari? Kok kayak minum obat sii?" seloroh Andre yang tampak sedikit heran.


Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Eh, maksud saya tiga hari sekali, Tuan. He he he he he he," ucap gadis desa itu disertai cengengesnya.


Pletak!


Andre menjentikkan telunjuknya pada jidat gadis desa di sampingnya.


"Aaaauuuwwhh!" ringis gadis desa itu seraya mengusap-usap jidatnya yang sedikit terasa ngilu.


"Dasar, bodoh!" hardik Andre disertai senyuman gelinya.


Rumanah memanyunkan bibirnya bertingkah manja.


"Baik, kalau gitu aku akan menyewa jasa suster untuk datang ke rumah setiap tiga hari sekali. Dengan begitu, kau tidak perlu repot-repot pergi ke rumah sakit lagi," ucap duda tampan itu.


"Memangnya tidak apa-apa, Tuan?" tanya Rumanah.


"Ya, tidak apa-apa, Belle. Semuanya aman," jawab Andre.


Rumanah tersenyum manis. Kini, jari manisnya sudah lebih terasa membaik. Setiap hari ia harus meminum obat yang telah dokter resepkan tadi. Obat itu berguna untuk menghilangkan nyeri dan mempercepat luka jahitan menjadi kering.


"Oke, Annabelle, tak perlu membuang waktu lagi, sudah saatnya kita melangsungkan pernikahan. Tapi, sebelum itu ... muaacccch!" dengan manis Andre mendaratkan bibirnya pada pipi mulus gadis desa itu.


"Hmmmm?" Rumanah sedikit menghindar dan bergidik geli.


"Kita akan pergi membeli sebuah cincin yang akan menjadi mahar pernikahan kita. Oh ya, kau juga perlu sedikit berdandan agar lebih terlihat cantik," ucap Andre seraya memainkan setiap helai rambut milik gadis desa itu.


"Emh, apakah tidak terlalu berlebihan, Tuan?" tanya Rumanah.


Andre menggeleng. "No, kau harus mendapatkannya. Sebuah cincin permata yang cantik dan mewah, sepertinya cocok sekali jika terpasang di jari manismu ini." terang Andre seraya meraih tangab gadis desa itu lalu mengecupnya penuh cinta.


Rumanah tersenyum manis dan sangat bahagia. Wajahnya yang manis itu berubah menjadi merah merona. Uh, lucunya gadis desa itu.


"Annabelle," panggil Andre.


"Ya," gadis desa itu menjawab serta menolehkan wajahnya pada duda tampan itu.

__ADS_1


"Kau tidak sedang alergi makanan, bukan?" tanya Andre yang berhasil membuat Rumanah sedikit heran.


"Hah? Tidak, Tuan. Memangnya kenapa?" jawab Rumanah.


"Pipimu merona merah seperti sedang alergi makanan," jawab Andre seraya mencubiti pipi mulus yang merah merona itu. Ia sangat gemas pada gadis desa itu.


"He he he he, ini karena saya malu, Tuan." Rumanah menjawab disertai cengengesnya.


"Kau memang menggemaskan, Annabelle. Aku sudah tak sabar ingin menghabisimu," ucap duda tampan itu seraya mengacak rambut gadis desa itu.


"Huft, lama-lama rambut saya berubah seperti singa jika setiap saat Tuan mengacak rambut saya seperti itu," oceh si gadis desa yang sebentar lagi akan menjadi istri Tuan Andre Wijaya Rakadewa.


"Ha ha ha ha ha!" seketika Andre tertawa terbahak-bahak. "Kenapa kau sering sekali mengomel seperti itu? Dengar, kau masih muda. Jangan banyak-banyak mengomel dan marah-marah, nanti kau cepat tua!" ucap duda tampan itu di sela-sela tawa ngakaknya.


Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. Sementara Andre tampak masih terkekeh.




Andre memarkirkan mobilnya di basement sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Seperti yang ia katakan, ia akan membeli mahar dan mengajak Rumanah ke sebuah salon untuk dimake up.


"Kita mau ngapain?" tanya Rumanah yang tampak sedikit gugup.


"Kita akan ... sebaiknya jangan banyak bertanya. Ayo turun!" jawab sang duda tampan itu.


"Emh, baiklah!" Rumanah pasrah dan akhirnya turun dari mobil.


Duda tampan itu mengenakan kacamata hitam dan topi hitam, tak lupa ia mengenakan masker hitam agar tidak terlihat jelas wajahnya yang tampan dan sudah terkenal di mana-mana. Tentu saja ia harus menutupi dirinya agar tidak menjadi sorotan dan bahan gibahan.


"Pilih, mau cincin yang mana?" ucap Andre saat mereka berdua berada di sebuah toko perhiasan yang paling bagus di tempat itu.


Rumanah menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Sejujurnya ia sangat bingung harus memilih yang mana. Sementara semua cincin yang ada di hadapannya sangatlah indah dan mewah. Tentu saja harganya pun tidak akan murah.


"Duh, kepala saya pusing, Tuan." gadis desa itu memijat pelipisnya karena pusing.


"Pusing? Kenapa tiba-tiba sekali. Apa jangan-jangan ini hanya alibimu saja?" selidik Andre.


"Tidak, ini saya bingung pilih yang mana. Sementara semuanya sangat indah sekali," jawab Rumanah seraya menyengir kudanil.


"Astaga, hal begini saja membuatmu sakit kepala? Ck, dasar bodoh!" cibir Andre seraya menjentikkan telunjuknya pada dahi gadis desa itu.

__ADS_1


Rumanah hanya meringis kecil dan menyengir kuda.


"Ya sudah, kalau gitu biar aku saja yang memilihnya." Andre mengambil keputusan bijak. Sementara Rumanah hanya mengangguk pasrah.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Andre memilih sebuah cincin yang cantik dan mewah. Yang ia prediksikan cocok melingkar di jari manis calon istrinya itu. Mungkin karena ia dulu sering membelikan cincin untuk mantan istrinya itu.


"Yang ini saja," ucap Andre pada pramuniaga.


"Baik, Tuan. Tapi, apakah tidak dicoba dulu?" tanya pramuniaga itu.


"Tidak perlu, saya sangat tahu ukuran jari manisnya." Andre menggelengkan kepalanya dan menjawab penuh percaya diri.


Si pramuniaga tersenyum serta mengangguk. Sementara Andre pun ikut tersenyum serta bicara dalam hati.


"Jangankan ukuran jari manisnya, ukuran bra-nya pun aku sangat tahu. Hi hi hi," ucap duda tampan itu dalam hati.


Setelah selesai membeli cincin, Andre pun bergegas mengajak Rumanah ke sebuah salon. Ia ingin melihat Rumanah berdandan dan mengenakan pakaian yang indah.


"Sulap wajahnya agar lebih terlihat cantik, berikan perawatan pada seluruh tubuhnya!" perintah Andre pada petugas salon.


"Baik, Tuan," jawab petugas salon itu.


"Annabelle, ikuti saja apa yang akan petugas salon lakukan padamu. Kau tidak perlu khawatir, mereka hanya akan memberikan yang terbaik untukmu," ucap Andre seraya mengusap lembut wajah manis gadis desa itu.


"Ba... baik, Tuan," jawab Rumanah.


Rumanah pun meninggalkan majikan galaknya dan mengikuti si petuga salon untuk melakukan serangkaian perawatan. Mungkin ia akan melakukan mandi susu, pedicure medicure, perawatan rambut, dan dipoles oleh make up natural.


Beberapa jam kemudian...


Andre masih setia menunggu calon istrinya yang sedang diobrak-abrik oleh para petugas salon. Sejujurnya ia sangat tidak sabar ingin melihat perubahan yang ada pada diri gadis desa itu.


"Tuan," terdengar suara seorang wanita yang sudah tak asing lagi bagi Andre.


Seketika Andre menolehkan wajahnya dan menatap lekat pada sosok gadis desa di hadapnnya itu.


"Sudah selesai, Tuan." Gadis desa itu berjalan mendekati majikan galaknya.


Senyuman manis dan bahagia terukir di wajah cantiknya, sementara Andre tampak tercengang dan seakan enggan mengedipkan matanya sedetik pun.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2