Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Malam yang membingungkan


__ADS_3

"Apa yang ingin kau bicarakan, Fer? Jangan lama-lama, ya. Princess mungkin akan kesepian," ucap Rumanah seraya mendudukkan bokongnya di kursi jati.


Ferhat menyunggingkan senyumannya. "Kenapa? Aku rasa kau bersikap cuek dan terkesan menjauhiku, Rumrum." ucapnya penuh sindiran.


Rumanah terhenyak kaget dan tampak terdiam sejenak. Sungguh ia bingung harus berkata apa.


"Emh, tidak seperti itu, Fer. Itu hanya perasaanmu saja," sangkal Rumanah mencoba meyakinkan Ferhat.


"Tapi, kurasa memang begitu, Rumrum," balas Ferhat seraya tersenyum kecil. "Ah, tapi itu tidak masalah. Mungkin kau takut dimarahi oleh majikanmu yang galak itu. Dan, aku sangat memaklumi itu," lanjutnya yang mencoba tetap santai. Padahal ia sangat menyimpan rasa curiga pada wanita di hadapannya.


Rumanah tersenyum kaku dan melemparkan pandangannya ke udara. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat memikirkan suaminya. Ia tahu jika sang suami sedang kesal dan bahkan mungkin marah kepadanya.


"Emh, mari kita bicara ke intinya." ucap Ferhat memecah keheningan.


Rumanah mengangguk sembari menunggu Ferhat melanjutkan ucapannya.


"Kau sudah tahu soal pernikahan Meliza?" tanya Ferhat kemudian.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan terlihat seperti terkaget-kaget. Ya, tentu saja dia belum tahu, sebab sang suami belum membicarakan hal ini padanya.


"Mbak Meliza? Menikah?" tanya Rumanah dengan ekspresi kagetnya.


Ferhat mengangguk. "Kau belum tahu akan hal ini? Apakah Meliza tidak memberitahu majikanmu?" selidiknya.


Rumanah menggeleng. "Tuan Andre tidak bicara apa-apa tentang Mbak Mel." ucapnya. "Tapi, syukurlah jika Mbak Mel sudah akan menikah. Saya ikut bahagia mendengarnya. Selama ini 'kan Mbak Mel memang sangat ingin segera menikah." lanjutnya.


Ferhat mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya perlahan. "Kalau menyinggung soal bahagia, aku pun pasti bahagia. Walaupun, Meliza adalah wanita yang selama ini berada di dalam hatiku," ucapnya yang berhasil membuat Rumanah terbelalak kaget.


"Apaaa???" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Ya, dia baru tahu jika ternyata Ferhat memiliki perasaan pada Meliza. "Jadi, kamu..."


"Ya, aku mencintai Meliza. Bahkan saat dia berniat resign dari pekerjaannya, aku berharap bisa mendapatkan cintanya. Namun ternyata, pria asing itu lebih hebat dariku." Ferhat bercerita dengan suara yang terdengar kecewa.


Rumanah tampak menatap iba pada pria di hadapannya. "Tapi, apakah Mbak Meliza tahu akan perasaanmu padanya?" tanyanya.


Ferhat mengangguk. "Dia tahu. Tapi, aku bukan pilihan hatinya. Wanita itu malah menjodoh-jodohkanku denganmu, Rum. Katanya kau dan aku sangatlah cocok," jawabnya yang kembali membuat Rumanah terjingkat kaget.


"Apa? Menjodohkan kita? Hahaha, itu tidak mungkin terjadi," Rumanah tampak menampik apa yang dikatakan oleh Ferhat. Tentu saja ia tidak akan mau menjadi kekasih pria di hadapannya. Sebab, sang mantan kakak ipar pria di hadapannya itu sudah lebih dulu mendapatkannya.


"Kenapa tidak, Rumrum? Kau dan aku, sama-sama masih jomblo, bukan? Ayolah kau tidak usah munafik, akui saja ketampananku ini, Rumrum." Ferhat semakin mendesak dan memepet Rumanah. Sejujurnya ia ingin tahu bagaimana reaksi wanita cantik di hadapannya itu.


"Hehehe, benar. Kau memang tampan, Ferfer. Tapi..." Rumanah terdiam sejenak sembari melayangkan pandangannya menyapu langit yang tinggi dan luas. "Tapi, jauh lebih tampan suamiku. Hihihi, bukan hanya tampan, dia juga gagah perkasa. Aku bahkan masih dapat merasakan bagaimana nikmatnya senjata tajam milik suamiku itu. Hihihi," celotehnya dalam hati.


"Tapi apa, Rumrum?" tanya Ferhat yang berhasil membuyarkan lamunan Rumanah.


"Emh, tapi ... kau sudah menganggapku sebagai adik. Itu artinya, aku pun menganggapmu sebagai kakak. Hehehe," jawab Rumanah disertai cengengesnya. Nampaknya ia berhasil menemukan alasan yang tepat.


"Oooh, benar juga. Aku sampai lupa." Ferhat nampak santai dan seperti tidak menaruh rasa curiga. Tentu saja hal itu membuat Rumanah dapat membuang napasnya lega.


"Syukurlah, dia biasa saja. Aku rasa dia memang hanya iseng. Semoga dia tidak menaruh curiga apa pun padaku," cerocos Rumanah dalam hati.


"Tapi, tidak mungkin Meliza mengabaikan mantan bosnya. Emh, maksudku ... Meliza pasti mengabari Bang Andre dan mengundangnya. Benar begitu bukan, Rumrum?" ucap Ferhat kemudian.


Rumanah mengangguk kecil. "Ya, itu pasti, Ferfer. Secara Mbak Meliza 'kan sudah bertahun-tahun menjadi tangan kanan Tuan Andre. Aku rasa Mbak Meliza sudah mengundang mantan bosnya itu." balasnya.


"Benar, dan Bang Andre belum cerita kepadamu, hmm. Tapi, aku penasaran soal..." Ferhat menggantung ucapannya.


"Soal apa, Ferfer?" tanya Rumanah seraya menatap penuh selidik pada pria di hadapannya.


"Emh, apakah kau tahu jika majikanmu itu menyimpan perasaan pada Meliza?" tanya Ferhat setengah berbisik.

__ADS_1


Deggg!!!


Entah mengapa, jantung Rumanah terasa berdenyut kala mendengar ucapan pria di hadapannya. Walaupun dia sudah tahu dan bahkan mendengarnya sendiri. Tapi, rasanya hal itu membuatnya sedikit terusik. Padahal, kini majikannya sudah menjadi suaminya sendiri.


"Hah? Emh, itu ... aku sudah tahu!" jawab Rumanah sedikit gugup. "Astaga, kenapa hatiku berat begini. Ayolah, santai saja. Lagipula, itu sudah lama terjadi." ucapnya dalam hati.


"Kau sudah tahu?" selidik Ferhat.


Rumanah mengangguk. "Ya, Mbak Meliza yang mengatakannya sendiri padaku," jawabnya.


Ferhat manggut-manggut tanda mengerti. "Lantas, menurutmu apakah Bang Andre akan merelakan wanita yang dicintainya menikah dengan orang lain? Seperti aku, misalnya. Atau ... mungkin malah sebaliknya?" ucapnya penuh teka-teki.


Rumanah terdiam, sejujurnya ia kesal mendengar ucapan Ferhat tentang Meliza dan suaminya. Ingin rasanya ia berteriak jika kini dirinya lah yang berada di dalam hati Andre. Namun, tentu saja hal itu tidak bisa dia lakukan. Karena, pernikahannya dengan Andre sangatlah dirahasiakan.


"Kenapa sii mesti bahas ini? Kesal aku mendengarnya. Kau tak tahu ya jika Mbak Meliza sudah terhempas di hati mantan abang iparmu itu! Astaga, aku ini istrinya! Aku yang kini menjadi penghuni di dalam hatinya," cerocos Rumanah dalam hati.


"Rumrum, kenapa kau melamun?" tegur Ferhat yang berhasil membuat Rumanah harus meninggalkan lamunannya.


"Ah, iya! Aku sedikit mengantuk, Fer. Kau bicara apa tadi?" ucap Rumanah yang terpaksa berdalih mengantuk.


"Hmmm, mentang-mentang habis jalan-jalan ke pantai, jam segini sudah mengantuk!" ledek Ferhat.


"Astaga, itu bukan jalan-jalan, tapi ... menjadi kambing congek. Hahaha!" sanggah Rumanah berkelakar.


"Hahaha, kasihan sekali. Kau pasti kesal," ucap Ferhat.


"Hmmmm, tentu saja." Rumanah menjawab santai. "Tapi, aku bohong. Hahaha," ucapnya dalam hati.


"Ah sudahlah, sebaiknya kau bergegas tidur. Kelihatannya kau benar-benar lelah," ucap Ferhat.


"Ah iya, aku memang sangat lelah dan mengantuk. Tapi, aku akan menemui princess terlebih dahulu," jawab Rumanah seraya merenggangkan sendi-sendi tangannya.


Rumanah menatap intens pada pria di hadapannya. "Kau akan menginap?" selidiknya.


Ferhat mengangguk. "Yes, kau pikir berdosa jika aku menginap di sini dan menemani keponakanku?" jawabnya.


"Hehehe," Rumanah nyengenges sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Tentu saja tidak, Ferfer." jawabnya sembari menyengir kudanil.


"Tenang saja, besok malam kau yang akan menemaninya," ucap Ferhat seraya mengacak rambut Rumanah.


"Hmmm, iya-iya." Rumanah menjawab pasrah. "Jadi, malam ini aku tidak bisa tidur bersama suamiku. Hmmm, menyebalkan sekali. Astaga!" ucapnya dalam hati.


Sementara itu di lantai lima...


Andre tampak uring-uringan dan terlihat kesal. Sedari tadi ia menghubungi nomor telepon istrinya, namun tak ada jawaban dari wanita cantik yang mengisi hatinya. Tentu saja hal itu membuat Andre semakin jengkel dan bahkan hampir meledak-ledak kemarahannya.


"Sialan! Apa yang sedang Annabelle lakukan? Kenapa dia tidak menjawab teleponku. Astaga, apakah dia sudah tidur?" ucap Andre sembari berkacak pinggang dan menatap layar gawainya.


Pria tampan itu tidak tahu jika ternyata sang istri sedang berbincang-bincang dengan adik mantan istrinya yaitu Ferhat. Mungkin jika ia tahu, pasti kemarahannya tidak bisa terbendung lagi.


"Awas saja jika dia berani macam-macam di belakangku! Aku tidak akan segan-segan untuk menghukum, auuuwhhh!" Andre meringis kecil saat tiba-tiba gendang telinganya terasa seperti sedang ditusuk-tusuk menggunakan linggis.


Sontak saja pria tampan itu terduduk di atas ranjang sembari memegangi telinganya yang terasa berdenyut dan mengiung.


"Astaga, apa yang terjadi. Kenapa telingaku tiba-tiba sakit seperti ini?Apakah ada yang sedang membicarakanku? Ah, jika iya, itu hal yang wajar. Mungkin saja para wanita-wanita cantik di luaran sana sedang bergosip memuji-muji ketampananku. Hahaha, atau ... mungkin karena telingaku terlalu sering dijil*ati oleh Annabelle? Astaga, sungguh membingungkan," cerocos Andre sembari mengorek-ngorek kupingnya sendiri. Dia tidak sadar, ternyata yang sedang membicarakannya adalah istrinya sendiri. Hihihi.



__ADS_1


Rumanah melangkah masuk ke dalam kamarnya. Kamar itu, sudah beberapa hari ia tinggalkan di setiap malamnya. Ya, hal itu karena ia tidur di kamar sang suami yang selalu membuatnya nyaman.


"Hufffft, akhirnya malam ini aku tidur di sini lagi. Astaga, ternyata sudah lama aku tidak meniduri kasur ini, hmmmm." Rumanah bicara sembari menghempaskan bobot tubuhnya di atas ranjang.


Wanita cantik itu menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Seketika ia teringat pada sang suami yang entah sedang apa di atas sana. Terakhir, ia melihatnya saat di kamar princess tadi sore ketika mereka baru sampai.


"Astaga, suamiku. Apa yang sedang dia lakukan sekarang. Tumben sekali dia tidak sibuk menemuiku di kamar princess. Astaga, apakah dia benar-benar marah padaku? Hmmmm," ucap Rumanah sembari mencari gawainya yang tergeletak di atas nakas.


Dengan cepat wanita cantik itu menyambar gawai miliknya. Menekan tombol untuk menyalakan gawainya. Dan, betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari kontak yang diberi nama 'Suami Tampanku'.


"Haaahh??? Lima belas panggilan tidak terjawab. Ya Tuhan, dia pasti kesal," ucap Rumanah seraya memainkan jari jemarinya pada layar ponselnya.


Tidak sampai situ saja keterkejutannya, Rumanah kembali syok saat melihat beberapa pesan whatsapp masuk ke dalam gawainya. Tentu saja pesan dari suaminya yang sangat posesif itu.


// *Annabelle, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tidak menjawab telepon dariku? //


// Secepatnya naik ke lantai lima, sayang. Badanku pegal dan ingin dipijat olehmu.//


// Annabelle, jangan membuatku kesal!!! //


//Balas pesanku!//


//Jangan berani macam-macam di belakangku, Annabelle.//


//Jika sudah selesai, segeralah naik. Kutunggu sampai kau tiba*.//


Seperti itu pesan yang dikirimkan oleh suaminya. Tentu saja hal itu membuat Rumanah tegang dan juga bingung. Ia tahu, sang suami sedang ingin diperhatikan dan dimanja. Namun, situasi saat ini benar-benar membuatnya sulit untuk naik ke atas.


Ya, kehadiran Ferhat di rumah itu membuat Rumanah harus berhati-hati dan mungkin harus menunda tidur di kamar suaminya. Tentu saja ia takut Ferhat akan mengetahui apa yang dia lakukan. Sementara sejauh ini para penghuni di rumah mewah itu tidak ada yang tahu jika setiap malam Rumanah tidur bersama sang pemilik rumah yang besar dan mewah itu.


"Astogeh, apa yang harus aku lakukan? Aku yakin dia sedang ngambek saat ini. Tapi, aku sungguh tidak mungkin tidur bersamanya malam ini. Karena, Ferhat ada di rumah ini, aku takut dia akan mengetahui semuanya," ucap Rumanah yang kini tampak mulai bingung.


Ddrrtttt Drrtttt...


Tiba-tiba getaran di gawai milik Rumanah berhasil membuyarkan lamunannya. Dengan cepat wanita cantik itu menatap layar gawainya kembali. Dan ternyata, pesan dari suaminya.


//Bisa kah kau balas pesan dariku? Jangan membuatku jengkel!// Pesan dari sang suami.


"Hmmm, sebaiknya aku katakan yang sebenarnya," ucap Rumanah seraya mulai menggerakkan jari jemarinya pada layar gawainya.


// Maafkan saya, Tuan. Tadi ... saya menemani princess dan gawai saya tinggalkan di kamar. Dan, sepertinya malam ini saya tidak bisa menemani Anda, Tuan. Sebab, Ferhat menginap di kamar princess. Saya takut dia akan mengetahui keberadaan saya nanti.// balas Rumanah.


Rumanah menggigit bibir bawahnya, berharap sang suami akan mengerti pada keadaan malam ini. Tak berapa lama, sang suami pun membalas pesannya.


// Apa hubungannya dengan pria itu? Apakah kau akan menemani Ferhat tidur? Jika kau menganggapku sebagai suamimu, cepatlah naik sekarang juga. Aku sangat membutuhkanmu!// balasan dari Andre. Sangat mendesak dan memaksa.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. Suaminya itu benar-benar pemaksa dan selalu saja tidak mengerti.


// Mohon maaf, Tuan. Saya harap Anda mengerti, kali ini saja. Bukan saya tidak menganggap Anda sebagai suami saya, tapi malam ini saya benar-benar tidak bisa. Jika pernikahan kita masih dirahasiakan, tolong mengertilah dalam hal ini. Tapi, jika pernikahan kita akan dipublikasikan, saya akan segera naik ke atas dan tidur bersama Anda, Tuan.// balas Rumanah sedikit kesal.


Setelah membalas demikian, Rumanah membuang napas kasar dan memejamkan matanya. Rasanya ia sangat penat sekali malam ini. Menghadapi Ferhat yang seperti sedang menyelidikinya bukanlah hal yang mudah baginya. Ditambah lagi dengan kemanjaan suaminya yang sangat melekat tak dapat diganggu gugat. Benar-benar membuat kepalanya hampir pecah.


Tak terasa, lima belas menit sudah Rumanah terpejam. Dan, wanita itu seketika terbangun dan melirikkan matanya pada gawai yang ada di genggamannya.


"Astaga, aku sampai ketiduran." gumamnya sembari mengucek matanya. "Hmmm, dia tidak membalas pesanku. Apakah dia sudah tidur? Hufftt, mungkin dia sudah mengerti dan menyerah begitu saja." ucapnya sembari meletakkan gawainya kembali.


Dan yang terjadi pada Andre...


"Ck, menyebalkan! Aku menunggunya lima belas menit. Dia tak nampak juga! Sepertinya, aku yang harus berkunjung ke kamarnya," decak Andre kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2