
Rumanah mematung menatap ranjang yang kosong. Tak ada suara di sana, hanya ada sebuah tatapan serius ke arahnya. Tak ingin seperti orang bodoh, wanita cantik itu pun memutar tubuhnya. Membalikkan badannya menghadap ruang yang terisi oleh empat orang.
"Haahhhh!!??"
Betapa terkejutnya Rumanah saat manik matanya menatap tiga sosok manusia di sana. Ya, Andre, Mami Purwati dan Papi Dargono sedang menatapnya serius. Namun, ini bukan soal pria tampan yang sudah menjadi suaminya yang membuat dirinya terkejut. Melainkan sosok kedua lansia yang sudah pernah ia temui sebelumnya.
Seketika senyuman hangat tersirat di wajah Mami Purwati, ia memberikan senyuman yang tulus pada wanita yang sudah menjadi menantunya itu. Namun, sepertinya Mami Purwati dan Papi Dargono belum tahu akan hal ini.
"Hallo, Rumanah. Bagaimana kabarmu? Kami datang melalui panggilan suara hati putra kami Andre," sapa Mami Purwati dibumbui kelakarnya. Keluarga ini memang memiliki dosis humor yang sangat tinggi.
"Astaga, dasar Mami. Untung saja bukan suara hati suami, macam drama serial ikan terbang," celoteh Andre dalam hati.
Setelah disapa dan telah mendengar sapaan wanita tua di hadapan matanya, Rumanah tampak masih mematung tiada mengerti. Manik matanya membulat penuh, mulutnya menganga karena keterkejutan yang teramat dalam.
"Tidak mungkin! Apakah ini nyata? Atau hanya halusinasi semata? Mereka benar-benar manusia? Atau hanya mainan semata? Astaga, kepalaku sampai terasa pusing karena memikirkan ini. Tapi, jika mereka benar-benar nyata ada di sini, bagaimana caranya kedua manusia ini bisa sampai di sini secara tiba-tiba? Oh, apakah terbang dengan permadani milik Aladdin? Atau, terbang menggunakan sapu lidi Harry Potter?" celoteh Rumanah di dalam hati.
Mami Purwati melirikkan matanya pada sang suami, mereka berdua tampak saling beradu pandang dan kemudian saling berbisik-bisik.
"Dia terdiam seperti patung di Candi Prambanan, sayang. Sepertinya dia benar-benar terkejut melihat kehadiran kita." Papi Dargono berbisik pada istrinya.
Mami Purwati mengangguk. "Ya, benar sekali. Mungkin dia heran dan menyangka jika kita memiliki ilmu menghilang. Hi hi hi," balasnya yang juga berbisik.
"Hi hi hi, terlalu hebat. Tapi, kenapa dia bisa masuk semudah itu ke dalam kamar majikannya? Apakah Andre sudah mengubah peraturan di rumah ini?" timpal Papi Dargono.
"Entah, aku juga sedari tadi sangat penasaran akan hal itu, Pap. Kenapa dia seperti sudah tidak asing masuk ke kamar ini. Astaga, apakah semua pegawai wanita bersikap seperti itu pada majikannya? Hmmmm," balas Mami Purwati. Sesekali manik matanya melirik pada Rumanah yang masing mematung di tempatnya.
"Sepertinya ini bukan sekali dua kali, Mam. Mungkin Andre sangat senang mengundang pengasuh princess ini. Tapi, setelah Papi perhatikan, wajah dan fashionnya sangat berubah. Dia lebih terlihat sangat cantik dan elegan. Apakah Andre mengorbankan hartanya untuk merubah wanita ini? Astaga," ucap Papi Dargono yang menyadari kecantikan Rumanah.
Ya, tentu saja saat mereka bertemu untuk pertama kalinya, Rumanah masih berfashion kampungan dan wajahnya masih ia buat sejelek mungkin. Maka tak heran jika Papi Dargono mampu membedakan.
"What? Papi berani memuji seorang wanita di hadapan Mami? Kurang ajar, ya!" semprot Mami Purwati seraya menatap tajam pada suaminya.
"He he he, hanya sedikit, sayang." Papi Dargono menjawab enteng dan santai.
Sementara kedua lansia itu masih berargumentasi dengan pokiran mereka. Andre yang menyadari keterkejutan Rumanah tampak merasa perlu melakukan sesuatu. Ya, setidaknya ia memanggil istrinya dan tidak membiarkan wanita cantik itu mematung seperti orang dongo.
"Astaga, Annabelle pasti terkejut dan terheran-heran melihat kehadiran Papi dan Mami di sini. Tapi, Papi dan Mami juga pasti terheran-heran karena Annabelle tiba-tiba masuk dengan mudah dan tanpa perintahku." Andre bicara di dalam hati.
Jangan ditanya bagaimana syoknya Rumanah saat ini. Yang jelas, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Maka hal itu membuatnya sesekali memejamkan matanya, mengerjapkan matanya dan mengucek matanya. Menampar wajahnya sendiri, mencubit tangannya, memastikan jika ia benar-benar tidak sedang bermimpi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, Mam, Pap," ucap Andre yang kemudian melangkahkan kakinya menghampiri istri cantiknya. Ia tidak berniat membiarkan sang istri terdiam dalam keterkejutannya.
Sudah saatnya Andre mengatakan yang sebenarnya pada sang Mami dan sang Papi. Ya, dalam situasi kebetulan seperti ini, sangat tepat bagi Andre mengungkap pernikahannya dengan istri cantiknya itu.
"Darling, kenapa kau diam dan tidak menyahuti sapaan dari Mami? Apakah kau sangat terkejut melihat Mami dan Papi di sini?" ucap Andre saat ia berada di hadapan istrinya.
"Apa? Jadi, mereka berdua benar-benar...." Rumanah memegangi kepalanya yang terasa sakit. Ya, ia sangat pusing memikirkan bagaimana caranya dua lansia itu bisa berada di sana secara tiba-tiba. Pasalnya, ia tidak tahu jika ternyata kedua lansia itu datang tadi malam saat dirinya pergi bersama suaminya.
"Ya, darling. Mereka benar-benar Mami dan Pap—" Andre menghentikan ucapannya secara tiba-tiba saat Rumanah...
"Aauuuwhh, kepala saya sangat pusing sekali, Tuan. Biarkan saya pingsan sejenak, ini benar-benar tidak masuk akal." Rumanah berkata sembari sempoyongan.
Tubuhnya oleng dan dengan cepat Andre menangkapnya. Sepertinya wanita itu benar-benar akan jatuh pingsan karena keterkejutannya. Dan hal itu membuat Andre panik. Juga kedua lansia yang menyadari apa yang terjadi pada Rumanah.
"Astaga, darling. Apa yang kau pikirkan? Hei, bangunlah! Jangan pingsan. Kau hanya melihat dua manusia yang sudah tua, bukan melihat hantu yang menyeramkan." Andre mencoba menyadarkan Rumanah sembari menepuk-nepuk wajah cantik istrinya itu. Namun sayang, Rumanah sudah tergolek lemah tak sadarkan diri.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa gadis ini bisa pingsan, Andre? Dan kau, sejak kapan kau diperbolehkan mengatai kami manusia tua, hah?? Dasar anak nakal!" sosor Mami Purwati yang kini sudah berada di hadapan Andre dan Rumanah yang sedang pingsan.
"Weleh-weleh, rupanya wanita ini sangat lemah. Mungkin karena dia terlalu banyak dimarahi oleh majikannya ini," timpal Papi Dargono yang juga menghampiri Andre dengan Rumanah.
Andre memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. "Astaga, bukan saatnya bermungkin-mungkin, Pap. Ayo bantu putramu yang tampan ini untuk merebahkan wanita ini ke atas ranjang. Papi masih strong, 'kan?" cicitnya penuh penekanan.
"Ck, jangan remehkan Papi, Ndre. Begini-begini juga, Papi masih sering membuat Mami mu kewalahan," jawab Papi Dargono sembari melingkis kaos panjangnya.
Andre hanya tersenyum tipis dan mulai berusaha merebahkan tubuh istrinya pada ranjang.
"Heeuuuuppppp!!" Andre melepaskan tangannya secara perlahan, tubuh Rumanah kini sudah berbaring di atas ranjang king size miliknya.
"Cepat ambil minyak tanah, Ndre!" perintah Mami Purwati yang berhasil membuat Andre terjingkat kaget.
"What? Minyak tanah?" Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Minyak tanah untuk apa? Kau ingin membakar hidup-hidup gadis cantik ini?" seloroh Papi Dargono.
"Apa? Gadis cantik? Berani sekali Papi memuji kecantikan istriku!" cicit Andre di dalam hati.
"Lagi-lagi memuji kecantikan gadis ini. Ck, menyebalkan! Tapi, gadis ini memang berwajah cantik siiih," sungut Mami Purwati dalam hati.
"Hei, kalian berdua kenapa diam dan menatapku seperti itu!? Bukannya cepat lakukan sesuatu agar gadis cantik ini segera sadar," tegur Papi Dargono dengan entengnya.
__ADS_1
"Jangan memuji kecantikannya, Pap!" semprot Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Jangan memuji kecantikan wanita lain di hadapan Mami, Pap!" Mami Purwati juga ikutan memarahi.
"Hah? Kenapa kalian sangat kompak begini?" ucap Papi Dargono yang tampak menatap absurd pada istri dan putranya.
"Ck, astaga. Aku keceplosan. Untung saja tidak melebihi batas kewajaran. Ah, sebaiknya aku bergegas mencari minyak kayu putih dan meminta Deni untuk membawa air hangat ke sini," ucap Andre dalam hati.
Dengan cepat pria tampan itu melangkahkan kakinya ke meja rias. Di sanalah minyak kayu putih berada. Dan, setelah itu ia menghubungi Deni agar membawakan segelas air hangat ke dalam kamarnya.
"Ini, cepat sadarkan wanita ini, Mam." Andre meminta penuh permohonan dan pengharapan. Minyak kayu putih ia berikan pada Mami nya.
Mami Purwati menerima minyak kayu putih itu. "Mami tidak bisa memastikan, karena Mami bukan Tuhan." ucapnya.
"Hmmmm, setidaknya berusahalah demi putramu ini, Mam." Andre kembali meminta. Tangannya memijat kecil tangan istrinya.
"Kenapa bisa begitu? Apakah kau tidak bisa hidup jika gadis cantik ini tiada?" celetuk Papi Dargono.
"Hmmm, meresahkan. Sepertinya putra kita memiliki rahasia yang diketahui oleh gadis ini, Pap." Mami Purwati menimpali.
"Hmm, rahasia apa kira-kira? Papi sangat ingin tahu. Apakah rahasia ini berhubungan dengan pakaian seksi wanita di dalam lemari itu?" celetuk Papi Dargono.
"Bisa jadi begitu, Pap. Tampaknya, putra kita merahasiakan sesuatu. Deretan pakaian wanita, sepatu wanita, tas dan pernak pernik wanita, itu semua sangat mengandung misteri." Mami Purwati bicara sembari mulai melakukan pertolongan pertama pada orang yang sedang pingsan.
Andre tampak tersentak kaget mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Mami dan Papi nya. Tentu saja ia sangat terkejut karena ternyata kedua orang tuanya sudah melihat isi di dalam lemari milik istrinya.
"Astaga, dua lansia ini benar-benar jeli dan teliti. Rupanya mereka sudah melihat pakaian milik istriku," ucap Andre dalam hati.
Ting tong!
Terdengar bell berbunyi. Sepertinya Deni yang hendak mengantarkan segelas air hangat untuk Rumanah. Dengan cepat Andre menekan tombol di remote, seketika pintu pun terbuka. Sosok Deni melangkah masuk dengan segelas air hangat di tangannya.
"Ini air hangatnya, Tuan." Deni berkata sembari meletakkan segelas air hangat itu di atas nakas.
"Oke, thank you," jawab Andre berterima kasih. Selepas itu, Deni kembali keluar dan Andre mulai berusaha keras menyadarkan istri cantiknya itu.
"Beri dia minum air hangat ini, Mam," ucap Andre seraya meraih segelas air hangat di atas nakas.
"Kau mau memberi minum pada orang yang sedang pingsan? Aksimu akan ditertawakan oleh ikan arwana peliharaanmu itu!" cicit Mami Purwati tanpa menerima segelas air hangat yang Andre berikan padanya.
__ADS_1
Hadeuh, dasar Andre. Tingkahnya benar-benar seperti orang bodoh! Hi hi hi.
BERSAMBUNG...