Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Juragan kalian egois!


__ADS_3

Rumanah meronta dan berontak saat para pelayan perempuan menangkap tubuhnya dan memaksanya untuk berjalan menuju kamarnya. Sementara Andre pun kini sudah ditangkap dan diseret untuk keluar oleh para pengawal.


"Tidaaaaak! Lepaskan aku! Hubby, jangan pergiiii!" pekik Rumanah yang tampak memelas.


"Lepaskan! Aku tidak akan pergi dari sini! Aku akan membawa istriku bersamaku!" ucap Andre yang tampak berontak.


"Diam! Kau harus pergi! Juragan sudah mengusirmu dari sini!" bentak pengawal yang menyeret tubuh Andre.


Andre tampak menatap kesal dan penuh kemarahan pada para pengawal dan juga pada ayah mertuanya.


"Maae, tolong jangan biarkan suami Sanee pergi, Maae. Sanee sangat mencintainya!" pekik Rumanah dengan air mata yang sudah mengalir deras.


Maae Lilis tampak uring-uringan dan sangat tidak tega melihat sang putri tunggalnya sedang menangis dan memohon seperti itu. Sementara Phoo Boon-Nam tampak berkacak pinggang dan menatap tajam pada Andre yang sudah diseret keluar.


"Darling! Aku tidak akan meninggalkanmu! Aku akan tetap di sini menunggumu! Darling, kau harus kembali kepadaku! Aku mencintaimu, darliiiiiiing!" teriak Andre yang kini sudah berada di luar rumah besar milik mertuanya itu.


Rumanah terisak melihat kekacauan di rumahnya. Dadanya terasa sesak saat pintu utama itu ditutup dan membiarkan suaminya keluar dari rumah itu. Ini benar-benar membuat hati seorang putri tunggal juragan kaya raya itu patah dan terluka.


"Ya Tuhan, kenapa Phoo setega ini pada Sanee?Phoo tidak kasihan kah melihatnya menangis dan memohon seperti itu? Lagipula, mereka berdua saling mencintai, Phoo. Maae benar-benar tidak habis pikir!" ucap Maae Lilis yang masih memiliki hati nurani.


Tentu saja hati seorang ibu sangat terluka dan berdenyut saat melihat anaknya menangis karena dipisahkan oleh pria yang dicintainya. Ia sangat bisa merasakan apa yang dirasakan oleh putri tunggalnya itu.


Phoo Boon-Nam memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Kau tidak tahu apa-apa soal ini, sayang. Jadi, diamlah dan tenangkan anakmu itu!" ucapnya dingin.


Maae Lilis mengerutkan dahinya tak mengerti. Namun walaupun begitu, ia tetap tidak terima melihat putrinya tersakiti oleh ayahnya sendiri.


"Tega! Maae tidak mau tahu! Pokoknya, Phoo tidak boleh menikahkan Sanee dengan pria yang tidak ia cintai. Karena, cinta itu tidak bisa dipaksakan, Phoo!" tegas Maae Lilis yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan suaminya.


Phoo Boon-Nam menyunggingkan senyuman liciknya dan kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Sementara Maae Lilis berlari menaiki anak tangga menuju kamar putrinya.


Rumanah berusaha keras memohon pada para pelayan agar membuka pintu kamarnya dan membiarkannya keluar. Namun, usahanya sia-sia. Para pelayan wanita itu dengan penuh pendirian mengurung Nona muda mereka.


"Buka pintunya! Biarkan aku keluar dari kamar ini! Aku ingin bertemu dengan suamiku! Buka, sialaaaaaaan!" kemarahan Rumanah semakin membabi buta saat para pelayan yang berjaga di depan pintu kamarnya tidak menggubrisnya.


"Kampree*eet! Buka pintunya! Kalian tega mengurung seorang wanita yang sangat mencintai suaminya. Kalian tega mengurung seorang wanita yang sangat menginginkan suaminya! Sialan kalian semua! Tega tega tegaaaaa! Aku benci kalian semuaaaaaa!" pekik Rumanah seraya menendang pintu kamarnya berkali-kali.


Para pelayan di luar tampak terkejut dan panik saat pintu kamar itu terasa bergetar dan ditendang dari dalam dengan kuat. Bukan takut rusak atau apa, tapi mereka takut kaki Nona muda mereka terluka akibat tendangan yang begitu kuat.


"Astaga, bagaimana ini? Nangsaw pasti menendang pintu ini dengan kuat. Aku takut kakinya terluka." Ucap seorang pelayan berambut pirang.

__ADS_1


"Ya, tapi mau gimana lagi. Than menyuruh kita untuk tidak membuka pintu kamar putrinya. Ini sungguh memang berat, aku sangat kasihan pada Nangsaw. Dia begitu mencintai pria tampan yang bersamanya. Tapi, Than terlalu tega memisahkan mereka berdua. Padahal, Nangsaw tidak mencintai Chaisay yang akan dijodohkan dengannya." Balas pelayan yang lain.


Dug dug dug!


Kembali Rumanah menendangkan kakinya dengan kuat pada pintu kayu jati yang kokoh itu. Tentu saja kakinya terasa sakit, namun itu tidak ia pedulikan. Rasa sakit di hatinya lebih besar daripada rasa sakit di kakinya. Ia sungguh benar-benar membenci ayahnya saat itu juga.


"Egoiiiiiss! Tidak ada yang menyayangiku di dunia ini selain suamiku! Buka pintunya! Jangan pisahkan aku dengan suamiku! Kalian semua jahaaat! Tidak punya hati! Tidak punya otaaaak! Dasar bang*keeeee!" kemarahan Rumanah semakin meledak-ledak. Tidak ada lagi kelembutan pada dirinya. Semua kata-kata kasar pun lolos keluar dari mulutnya itu.


Deru napasnya tak beraturan menahan amarah dan sakit hatinya. Tangannya mengepal dengan sempurna. Matanya menatap tajam dan penuh api kemarahan. Tak ada yang dia inginkan saat ini selain bisa kembali bersama suaminya. Bisa hidup tenang seperti semula. Karena, ia sangat mencintai suaminya itu.


Sementara itu di luar, Andre meronta memohon pada para pengawal yang berbadan tinggi besar di hadapannya. Ia tidak akan pergi sebelum bertemu dengan istrinya.


"Aku mohon! Buka pintunya. Aku harus membawa istriku. Kalian tahu? Kami saling mencintai!" mohon Andre dengan sangat.


Para pengawal itu hanya diam dan tersenyum sinis. Seakan tak mengerti pada perasaan pria yang sedang terpuruk itu.


"Aku mohon! Aku sangat mencintai Nona muda kalian. Aku rela mati demi dia. Aku tidak bisa hidup tanpanya!" kembali Andre memohon, dan kali ini pria itu bertekuk lutut dan benar-benar hina di hadapan para pengawal itu.


"Untuk apa kau memohon seperti itu pada kami. Karena, kami tidak memiliki kekuasaan apa-apa di sini. Kami hanya menjalankan perintah juragan." Ucap seorang pengawal berkepala botak.


Andre menarik napasnya dalam dan membuangnya kasar. Dengan cepat ia bangun dari tempatnya dan menatap tajam penuh api permusuhan pada para pengawal itu.


Plaaaaakkk!!!!


Tangan kekar pengawal berkulit hitam itu melayang cepat dan mendarat tepat di pipi kanan Andre. Hal itu membuat Andre tersentak kaget dan hilang keseimbangan sehingga membuatnya sedikit terjerembab.


Pipinya terasa perih dan begitu sakit. Noda merah tercipta di wajah tampannya itu. Namun, itu tidak seberapa dengan rasa sakit hatinya jika ia tidak bisa lagi hidup bersama istrinya.


"Jangan sembarangan bicara kau! Juragan kami tidak seperti yang kau katakan!" ujar seorang pengawal berkumis tipis.


"Aku bicara sesuai fakta dan sesuai apa yang aku lihat! Juragan kalian egois!" balas Andre dengan kemarahan yang semakin menggunung.


Plaaaaakkk!!


Kembali seorang pengawal melayangkan tangannya mendarat di pipi kiri Andre. Hal itu benar-benar membuat Andre tak dapat lagi menahan emosinya.


"Berengs*ek!" desis Andre seraya menatap tajam pada lima pengawal yang berdiri di hadapannya.


Tanpa rasa takut, Andre melayangkan tinjunya pada seorang pengawal yang tadi menampar wajahnya. Hal itu membuat keempat pengawal lainnya terkejut dan tidak tinggal diam. Mereka mulai mengeroyok Andre yang hanya sendirian. Leo dan sopir memang menunggu di depan pintu gerbang.

__ADS_1


"Ba*jingan! Mamp*us kau!!!" umpat Andre seraya menendang perut kekar si pengawal berkepala botak.


Yang lain terus melawan dan mengeroyok Andre. Pertengkaran hebat itu pun terjadi dalam sekejap mata. Saling tinju dan tendang kini menjadi kegiatan bagi Andre dan kelima pengawal yang mengeroyoknya.


"Aku rela mati demi istriku! Ber*engseeeek!" pekik Andre seraya melayangkan tinjunya pada wajah seorang pengawal. Ia sangat puas melihat orang itu terjerembab ke belakang.


"Mamp*us kau!" umpatnya.


Namun, naas baginya saat seorang pengawal menangkap tubuhnya dari belakang dan menahan tangannya. Tentu saja hal itu membuatnya tak berdaya.


"Lepaskan! Aku akan menghabisi juragan kalian!" teriak Andre tanpa rasa takut.


"Jangan bermimpi! Kau yang akan kuhabiskan!" ucap seorang pengawal yang kemudian melayangkan tinjunya pada wajah Andre.


"Hwaaaa!!"


Andre tidak bisa melawan karena tangannya ditahan oleh pengawal yang lainnya. Alhasil, beberapa tinjuan mendarat di wajah dan perutnya.


"Woy, lepaskan bos kami!" ucap Leo yang tiba-tiba saja datang dengan sopir. Hal itu membuat para pengawal itu menghentikan aksinya.


"Hng, ada urusan apa dengan kalian? Ingin merasakan tinjuanku juga?" ucap seorang pengawal berbadan sedikit gemuk.


"Tidak! Aku yang akan memberikan tinjuan padamu dan akan merontokkan gigi-gigimu!" jawab Leo dengan ekspresi wajah yang sangat marah.


Pengawal itu tersenyum sinis dan mendekati Leo. Sementara itu, dalam keadaan seperti itu, Andre mengambil kesempatan dengan meninju perut pengawal yang menahan tangannya. Hal itu membuat pengawal itu melepaskan dirinya.


"Ber*engsek kau!" umpat Andre seraya mengayunkan kakinya menendang perut si pengawal itu.


Adu tanduk dan taring itu kini terjadi kembali. Namun, kini Andre sedikit medapat kekuatan dari Leo dan sopir. Suasana semakin mencekam dan semakin memanas tanpa ada yang kalah di antara mereka semua.


.


.


.


Duh, othor jadi deg-degan gini, guys. Bagaimana dengan kalian?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2