
"Uhuk uhuk uhuk!" Rumanah terbatuk kecil saat aroma etanol menusuk masuk ke dalam indera penciumannya.
Setelah beberapa saat, wanita cantik itu baru saja tersadar dari pingsannya. Mami Purwati sengaja meneteskan etanol pada kapas lalu mendekatkannya pada lubang hidung menantunya itu. Alhasil, Rumanah bisa mencium aroma etanol itu dan ia pun tersadar dari pingsannya.
"Oh My Good, akhirnya kau sadar juga, Belle." Andre tampak membuang napas lega dan mengecup mesra tangan istrinya yang sedari tadi ia genggam.
Ada apa ini? Kenapa Andre mencium tangan Rumanah dan tampak terlihat khawatir sedari tadi? Astaga. Kemungkinan besar kedua orang tua Andre memiliki pemikiran yang sama. Ya, mereka tampak melongo heran melihat sikap Andre yang sangat mesra pada Rumanah.
"Auwh, Ya Tuhan. Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Rumanah yang tampak heran dengan keadaan saat ini. Di mana saat itu ia terbaring di atas ranjang. Suaminya duduk di sampingnya dengan ekspresi cemas. Sang Mami mertua duduk di sisi ranjang menghadap dirinya. Sementara sang Papi mertua duduk di kursi samping ranjang.
Andre tersenyum kecil seraya mengusap lembut puncak kepala istri cantiknya itu. "Tidak apa-apa, darling. Ini hanya sebuah kejadian unik yang belum pernah terjadi," jawabnya enteng.
Rumanah tampak mengerutkan dahi tak mengerti. Sementara Mami dan Papi tampak semakin dibuat heran oleh putra tunggalnya itu.
"Darling?" Mami Purwati menatap bergantian pada Andre dan Rumanah.
"Dadar guling?" timpal Papi Dargono yang juga menatap kedua insan yang sudah menjadi suami istri itu.
Rumanah dan Andre tampak saling beradu pandang dan diam seribu bahasa. Keduanya tampak tengsin dan bingung mau bicara apa. Sementara kedua lansia itu sedang menatap.mereka penuh intimidasi.
"Ah, Ya ampun, ternyata ini bukan mimpi," ucap Rumanah seraya beringsut bangun dari tidurnya.
"Jangan banyak bergerak dulu, anak muda. Kau baru saja tersadar dari pingsanmu setelah kau melihat penampakan hantu di kamar ini," ucap Papi Dargono mengandung sindiran usil.
Rumanah tampak menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal dan menyengir kudanil. "He he he, maafkan saya, Omma, Oppa. Saya hanya sedikit syok dan tidak percaya jika Omma dan Oppa benar-benar ada di sini, he he he." ucapnya sembari nyengenges tanpa dosa.
"Astaga, dasar Papi. Bisa-bisanya bicara seperti itu pada istriku. Ck, Annabelle pasti sangat tengsin sekali," cerocos Andre dalam hati.
Mami Purwati tersenyum hangat dan menatap lembut wajah menantunya itu. "Tidak apa-apa, Nak. Kadang-kadang, kami memang sering membuat orang-orang syok dan jantungan. Jadi, tidak perlu minta maaf, ya." ucapnya dengan ramah.
Rumanah tersenyum kecil dan tampak malu-malu kucing pada kedua mertuanya itu. "Aku mau bicara apa? Astaga, ini sangat menegangkan sekali. Agaknya, Tuan Andre akan mengungkap pernikahan kami saat ini juga." cerocosnya dalam hati.
"Apakah kepalamu masih terasa sakit, darling?" tanya Andre seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.
Rumanah menolehkan wajahnya dan menatap tajam pada suaminya. Kemudian ia menyikut kecil tangan suaminya itu.
"Why?" tanya Andre seraya menatap heran pada istrinya.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Astaga, maksudku jangan panggil-panggil darling." desisnya dalam hati.
"Kenapa, darling? Maksudnya kau jangan memanggilnya darling di hadapan kami, Andre!" celetuk Papi Dargono yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
Andre menatap datar pada Papi nya dan mencoba mencerna ucapan pria tua itu. "Benarkah begitu? Astaga, aku bahkan tidak mengerti." ucapnya dalam hati.
"Ya Tuhan, dasar pria labil. Dia memang tampak bodoh ketika sedang tegang," cicit Rumanah dalam hati.
Mami Purwati menatap intens wajah tampan putra tunggalnya itu. "Ada apa ini, Andre? Bisakah kau jelaskan pada kami?" desaknya penuh selidik.
Andre menolehkan wajahnya pada Mami nya. Seketika wajahnya berubah tegang saat sang Mami menatapnya tajam dan penuh intimidasi padanya.
__ADS_1
"Apa lagi jika bukan—" Papi Dargono menggantung ucapannya saat tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka.
Sssrreeeetttttt!!!
Keempat orang di dalam kamar itu tampak menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Siapa yang datang? Andre tidak meminta siapa pun untuk datang ke kamarnya.
"Daaad, Bundaaaaaa," terdengar suara si cantik Sandrina yang tampak sedikit berteriak. Gadis kecil itu mungkin merasa kesal dan heran pada Daddy dan Bunda nya. Sedari tadi ia menunggu kedua orang itu di dalam kamarnya.
"Oh Ya Tuhan, cucu kesayanganku," ucap Mami Purwati yang kemudian beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menyambut sang cucu satu-satunya itu.
"Princess. Hmmm, siapa yang dia panggil Bunda?" gumam Papi Dargono yang juga melangkahkan kakinya menyusul istrinya.
Selepas kepergian dua lansia itu, Rumanah dengan kesal mencubiti lengan suaminya. Semestinya ia bertanya sedari tadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Anda tidak memberitahu saya jika Mami dan Papi ada di sini," semprot Rumanah yang tampak kesal.
Andre mengusap wajah kasar dan membuang napasnya perlahan. "Ck, jangan bilang kau menyalahiku, Annabelle." decaknya.
Rumanah mengerutkan dahi. "Lantas, siapa yang saya salahkan? Princess? Gadis kecil itu pasti tidak tahu apa-apa." protesnya.
"Dia tidak tahu apa-apa. Aku juga! Saat aku masuk ke kamar, tiba-tiba Mami dan Papi sudah berada di dalam kamarku. Mereka berbaring di atas ranjang kita ini. Ini benar-benar kejutan, darling. Aku rasa, Mami dan Papi datang semalam saat kita tidak ada di rumah." Andre menjelaskan sedetail mungkin agar sang istri tidak salah sangka padanya.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terkejut pada ucapan suaminya. "Astaga, jadi, mereka berdua tahu jika kita pergi bersama?" tanyanya.
Andre mengangguk. "Tentu saja. Bahkan, mereka mengira jika aku telah menodai dirimu, Annabelle." jawabnya.
"Haaah??" Rumanah tampak tersentak kaget. "Lantas, apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan?" tanyanya kemudian.
Rumanah tampak tersentak kaget mendengar jawaban suaminya. Bagaimana pun, ini sangat terlalu cepat menurutnya.
"Bundaaa, apa yang terjadi?" terdengar suara si cantik Sandrina yang sedang digendong oleh sang Oppa.
Rumanah menolehkan wajahnya dan tersenyum manis pada putri sambungnya itu. "Tidak ada, sayang." jawabnya singkat.
"Katanya, Bunda pingsan." gadis kecil itu naik ke atas ranjang dan duduk di samping Bunda nya.
Rumanah tersenyum kecil seraya mengusap lembut puncak kepala putri sambungnya itu.
"Bunda mu hanya pingsan tipis-tipis, princess. Itu karena, Bunda terkejut dan syok saat melihat Omma dan Oppa," ucap Andre menjawab pertanyaan putri mahkotanya.
"Haaaah?? Sampai pingsan?" Sandrina tampak terlihat keheranan.
"Iya, princess sayang. Bunda mu sangat syok melihat Oppa dan Omma yang tiba-tiba ada di sini," jawab Mami Purwati.
"Ooooh, gitu. Princess juga sangat terkejut sekali, tapi princess tidak pingsan. He he he," ucap gadis kecil itu disertai cengengesnya.
"He he he, karena princess anak yang hebat," balas Rumanah sedikit memberikan pujian pada putri sambungnya itu.
"Iya doooong, hebat seperti Daddy dan Bundaaaa!" sorak Sandrina seraya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Bunda nya.
__ADS_1
Rumanah tersenyum hangat dan memeluk manja putri sambungnya itu. Sementara Papi Dargono dan Mami Purwati tampak saling beradu pandang dan menatap heran pada Rumanah dan Andre. Belum terjawab pertanyaan yang berputar di kepala keduanya.
"Sepertinya ada yang telah terjadi di rumah ini, Pap." Mami Purwati membisiki suaminya.
Andre menolehkan wajahnya pada kedua orang tuanya. Sepertinya ini waktu yang sangat tepat untuk ia bicara.
"Mam, Pap, sebaiknya kita bicara di sana," ucap Andre seraya beringsek turun dari atas ranjang.
"Hmmmm, Mami tahu. Cepatlah bicara dan jangan membuat kami mati penasaran," jawab Mami Purwati seraya menatap sinis pada putranya itu.
"He he he he, ayolah kita duduk di sana." Andre berkata sembari merangkul kedua orang tuanya dan mengajaknya berjalan bersama. Sementara Rumanah dan Sandrina masih betada di tempat tidur.
"Sebenarnya gadis itu siapa, Ndre? Pakaian wanita dan kebutuhan wanita di dalam lemari itu milik Rumanah kah?" tanya Mami Purwati to the point.
Andre menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. Kemudian ia tersenyum hangat dan menatap serius pada kedua orang tuanya itu.
"Sebaiknya Mami dan Papi siapkan mental dan siapkan diri untuk mendengar segala ucapan yang keluar dari mulut Andre," ucap Andre basa-basi.
Mami Purwati dan Papi Dargono tampak saling beradu pandang.
"Sudah jangan banyak gaya, Andre. Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan. Kami ini masih kuat, tidak mungkin sampai syok dan pingsan seperti gadis cantik itu," seloroh Papi Dargono yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Astaga, lagi-lagi Papi memuji kecantikannya," desis Mami Purwati.
"Apakah Mami cemburu pada menantu Mami sendiri?" tanya Andre yang berhasil membuat Mami Purwati dan Papi Dargono terbelalak kaget.
"Apaaa?? Menantu?"
Keduanya tampak tercengang hebat dan membulatkan kedua bola mata penuh.
"Ya, Andre sudah menikah dengan Rumanah," ungkap Andre tanpa ragu.
"Apaaaa??? Meniiikaaaaaah?" kembali kedua lansia itu terbelalak kaget saat mendengar ucapan putra tunggalnya itu.
"Ya, sudah ah biasa saja ekspresinya. Mami dan Papi kuat, kan? Tidak akan pingsan seperti menantu kalian?" ucap Andre dengan entengnya.
Plaaakkk!!
Mami Purwati menampar kecil wajah tampan putranya.
"Aauuuwwwhhh!" Andre meringis kecil.
"Kau bilang biasa saja? Astaga, kau pikir ini bukan sebuah kabar yang mengejutkan, hah???" semprot Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.
Andre nyengenges dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Mami dan Papi merestui pernikahan kami, bukan?" tanyanya tanpa dosa.
"Dasar bodoh! Apa gunanya kau bertanya seperti itu? Sementara kau sudah menikahi gadis cantik itu, Andre!" cicit Papi Dargono.
"Hei, coba jelaskan. Kenapa kau tidak memberitahu kami jika kau ingin menikah dengan Rumanah!?" desak Mami Purwati penuh penekanan.
__ADS_1
Andre terdiam dan hanya menyengir kudanil, sementara kedua orang tuanya tampak kesal karena sang putra terkesan main-main dengan mereka.
BERSAMBUNG...