
Beberapa hari kemudian...
Pagi hari, di kediaman Andre tampak heboh dan begitu ramai dengan para penghuni di rumah itu. Bukan hanya Andre, Rumanah dan princess Sandrina. Tapi juga, kini kedua lansia yang sudah beberapa hari berada di rumah mewah itu turut meramaikan suasana.
"Ayo cepat, Daddy! Nanti kita terlambat. Lomba dimulai pukul delapan, Daaaad!" teriak Sandrina yang tampak semangat dan begitu heboh bukan main.
"Yaaa sayang, Daddy sedang puuuup sebentar. Princess tunggu saja di mobil bersama Bunda dan Omma Oppa," balas Andre di dalam kamar mandinya.
"Ya ampun, kebiasaan banget. Kalau pup, pasti lamanya kayak emak-emak mau melahirkan!" desis Rumanah seraya memutar bola matanya malas.
"Apa yang kau bicarakan, darling? Aku dapat mendengar suaramu. Jika kau tetap berdiri di sana, maka aku akan semakin lama mengeluarkan emasku," sungut Andre di dalam sana.
Rumanah memutar bola matanya malas dan memencengkan bibirnya geli. "Iyuuuuuwww, emas berbau busuk. Ha ha ha ha!" ucapnya yang tampak tertawa terbahak-bahak.
"Sialan, sudah sana tinggalkan aku di sini. Kau hanya akan membuatku semakin lama berada di sini," teriak Andre mengusir istrinya itu.
Rumanah dan Sandrina tampak tertawa kecil. Keduanya tampak geli pada Andre yang sedang terganggu pup nya.
"Bunda, coba matikan lampunya, Daddy pasti akan semakin cepat mengeluarkan emasnya." si cantik Sandrina mengusulkan ide yang sangat konyol.
"Haha, bukan emas, sayang. Tapi batu! Haha," ucap Rumanah diiringi tawa ngakaknya.
"Ha ha ha, iya. Daddy seperti mengeluarkan batu saja," balas Sandrina yang juga tampak tertawa.
"Eh, tapi ... sepertinya itu ide yang sangat bagus, sayang. Kalau gitu, Bunda akan mematikan lampunya, ya," ucap Rumanah yang tampak menyetujui ide putrinya itu.
Si cantik Sandrina mengangguk mengiyakan. Dan Rumanah, tanpa pikir panjang, ia pun mematikan lampunya. Dan hal itu membuat Andre tersentak kaget.
"Heeeeeiii, kalian kenapa mematikan lampunya! Cepat nyalakan kembali. Aku bisa salah tempat mengeluarkan emas ini!" teriak Andre di dalam kamar mandinya.
Rumanah dan Sandrina tampak menahan tawa mereka agar tidak meledak saat itu juga.
"Hei, astaga! Cepat nyalakan lagi. Katanya Daddy harus cepat-cepat. Kalau seperti ini caranya, bagaimana Daddy bisa cepat!?" kembali Andre berteriak di dalam sana.
Rumanah dan Sandrina tertawa kecil. Keduanya nyaris tidak bisa menahan tawa mereka.
__ADS_1
"Astaga, Bunda sakit perut karena tertawa, sayang." Rumanah berkata sembari memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
"Ha ha ha, princess juga," balas si cantik Sandrina yang tampak masih tertawa.
"Hei, apakah masih ada manusia di luar?" teriak Andre di dalam kamar mandi.
"Tidak ada, Daaaaad!" jawab di cantik Sandrina setengah berteriak.
Ceklek!
Andre membuka handle pintu. Dua sosok manusia di depan matanya tampak sedang menahan tawa dan saling beradu pandang.
"Siapa yang mematikan lampu, hahhh!!?" tanya Andre sedikit menaikkan suaranya.
"Upps, tidak ada, Dad. Bukan kami yang melakukannya," jawab Sandrina berbohong tanpa dosa.
"Ck, princess pasti sedang berbohong!" tuding Andre tepat sasaran.
"Tidak, Tuan. Memang bukan princess yang melakukannya. Tapi—" belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat si cantik Sandrina menyelanya.
Rumanah tersenyum tipis serta mengusap lembut puncak kepala putri mahkotanya itu. "Tidak, sayang. Jangan berbohong walau dalam hal kecil sekali pun. Sebaiknya kita jujur saja pada Daddy." ujarnya menasihati putrinya itu.
Sandrina manggut-manggut tanda mengerti. "Baiklah, Bunda. Kalau gitu, princess akan mengaku. Emh, Dad! Sebenarnya ... princess yang meminta Bunda untuk mematikan lampunya. Princess minta maaf, ya. Habisnya, princess sebal karena Daddy sangat lama sekali." Ucap gadis kecil itu yang tampak memasang wajah bersalahnya.
Andre tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan. "Tidak apa-apa, sayang. Daddy sangat memaklumi. Dan, lebih baik sekarang kita berangkat menuju Gedung Nusantara. Sepertinya sebentar lagi acara akan dimulai," jawabnya penuh bijaksana.
"Ya, Mami dan Papi sudah menunggu sedari tadi. Mereka sangat tidak sabar ingin melihat cucu kesayangannya menari di atas panggung." Rumanah menimpali.
"Baiklah, kalau begitu, ayo kita berangkat!" jawab Andre seraya menggendong putri mahkotanya itu.
"Ayoooo! Princess akan menari dengan baik dan benar." si cantik Sandrina tampak bersorak riang penuh kebahagiaan.
"Yoooook! Berang-berang makan ketupaaat!" timpal Rumanah berpantun.
"Artinya????" tanya Sandrina dan Andre secara bersamaan.
__ADS_1
"Berangkaaaaaaat!" jawab Rumanah bersorak ria.
"Hahaha!" tawa mereka pecah bersamaan.
Ya, hari ini tepat perlombaan menari yang di adakan di Gedung Nusantara. Tentu saja hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh si cantik Sandrina. Ia akan menari dengan lincah dan mempesona.
"Apakah cucu Omma sudah siap pentas di atas panggung yang megah itu? Ingat ya, princess akan dihadiri oleh pebalet nasional dari Inggris yaitu Alina Cojocaru. Bukan kah itu salah satu idola princess???" ucap Mami Purwati seraya menatap lekat wajah cantik cucu kesayangannya itu.
Sandrina mengangguk mengiyakan. "Ya, Omma. Tentu saja princess siap. Pokoknya, Omma, Oppa, Daddy dan Bunda tenang saja. Princess akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi juara. Dan, princess ingin berfoto dengan Alina Cojocaru." jawabnya yang tampak penuh keceriaan.
"Bagus, Daddy sangat senang mendengarnya. Kalau gitu, Daddy akan memberi princess hadiah yang sangat spesial," ucap Andre penuh antusias.
"Waaaah, hadiah apa, Dad??" tanya princess Sandrina penasaran.
Andre terdiam sejenak. Kemudian ia menolehkan wajahnya pada istrinya yang duduk di sampingnya.
"Tanyakan saja pada Bunda mu ini, sayang." Andre menjawab sembari tersenyum usil.
"Lah, kok Bunda? Memangnya hadiah apa? Bunda juga gak tahu lho, princess sayang. Coba tanyakan saja pada Omma," seloroh Rumanah melemparkan ketidaktahuannya pada Mami mertuanya.
Mami Purwati memutar bola matanya dan membuang napasnya pelan. "Ternyata kalian memang sangat serasi, ya. Hm, kalau gitu, Omma akan menjawabnya, sayang." ucapnya seraya mengusap lembut puncak kepala cucu kesayangannya itu.
"Hehehe, apa hadiahnya, Omma?" tanya Sandrina tidak sabaran.
Mami Purwati terdiam sejenak. Diliriknya sang suami yang tampak sedang tertidur pulas. "Astaga,dasar uwong ndeso. Setiap naik mobil atau pun kendaraan lainnya, pasti tidur pulas. Hadeuuuhhh!" cicitnya dalam hati.
Andre dan Rumanah tampak tersenyum kecil dan menunggu jawaban dari Mami mereka. Tentu saja hal itu dirasakan juga oleh si cantik Sandrina.
"Emh, Omma rasa, Daddy dan Bunda princess akan memberikan hadiah seorang adik bayi yang lucu untuk princess. Benar begitu bukan, Andre, Rumanah!?" ucap Mami Purwati yang berhasil membuat Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap suaminya yang tersenyum usil dengan santainya.
"Ya, tentu saja, Mam. Kami akan memberikan hadiah yang sangat spesial berupa seorang adik untuk princess. Apakah princess mau?" jawab Andre tanpa ragu.
"Yeaaaaay! Mau mau mauuuuu! Kalau gitu, princess akan berusaha semaksimal mungkin!" sorak Sandrina yang tampak begitu bahagia.
Andre tersenyum senang melihat keceriaan putri mahkotanya itu. "Ya, Daddy juga akan berusaha semaksimal mungkin menanam benih dan membuat adik untukmu, princess sayang." Ucapnya di dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG...