
Seorang pria tampan berjalan dengan gagah menuruni anak tangga di rumahnya. Di sampingnya, sosok wanita cantik memakai gaun pengantin yang indah pun turut menemaninya. Mereka berdua tersenyum dengan anggun dan mempesona. Setiap orang yang melihat, pasti akan terkagum-kagum pada mereka. Mereka cocok, serasi, dan begitu membuat setiap orang yang melihatnya tercengang hebat.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Rumanah dengan Andre. Pernikahan ke dua kalinya, tentunya. Karena mereka sudah pernah menikah sebelumnya, namun secara siri. Dan kini, mereka berdua menikah secara sah menurut agama dan negara. Tentu saja hal itu memang harus dilakukan oleh keduanya.
Pada momen ini, Andre menjemput bidadari miliknya saat ia telah menyelesaikan segala urusannya dengan penghulu dan saksi juga wali. Tentu saja ini moment yang paling ditunggu.
Para tamu undangan yang notabenenya adalah pengusaha dan orang-orang ternama di tanah air tampak penasaran dengan sosok wanita yang mampu menggantikan posisi mantan istri Andre yaitu Luna.
"Selamat ya, Tuan Andre dan istri. Istrinya cantik banget sih, kayak orang Thailand," ucap rekan bisnis Andre yang sangat kaya sama seperti dirinya.
"Terima kasih, ya. Aku sangat tersanjung atas pujianmu. Tapi, aku sangat tidak suka karena kau telah memuji kecantikan istriku. Kuharap kau tidak bermaksud untuk menjadi pebinor. Hahaha!" kata Andre yang tampak tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Itu tidak mungkin, Tuan. Justru yang saya miliki tidak akan tertandingi oleh siapa pun," balas si pengusaha yang istrinya baru saja melahirkan tiga hari yang lalu.
"Ya, benar sekali," ucap Andre sembari menepuk punggung temannya itu.
Setelah ia menyapa hampir dari setengah tamu undangan yang hadir, kedua sepasang suami istri itu pun bergegas ke pelaminan yang luar biasa dahsyatnya. Pelaminan yang luas dan lebar. Indah, mewah dan juga megah. Tentunya tidak perlu tahu berapa banyak uang yang Andre keluarkan untuk pesta pernikahannya itu.
"Cantiknya putri Maae," seru Maae Lilis yang tampak cantik mengenakan pakaian adat Sunda yang modern.
Rumanah tersenyum manis lalu menyalami tangan Maae nya itu, "Terima kasih, Maae. Doakan Sanee agar menjadi istri yang baik dan tetap menjadi anak yang berbakti pada Maae dan Phoo," ucapnya yang tampak sudah menahan tangis.
Maae Lilis mengusap lembut punggung putri tunggalnya itu. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Tentu saja ini adalah moment yang sangat menyakitkan tapi juga membahagiakan baginya.
"Selalu, sayang. Maae selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Kau akan tetap menjadi putri Maae dan Phoo yang manja dan menggemaskan," kata Maae Lilis dengan suara yang bergetar karena menangis.
Untuk sesaat mereka berdua berpelukan dan saling melepas rindu. Melepas segala yang harus mereka lepaskan. Setelah dirasa cukup, mereka pun saling melepaskan pelukan. Dan kini Rumanah beralih menyalami tangan Phoo nya. Tentu saja Phoo Boon-Nam pun tak kuasa menahan tangis. Walau tampangnya menyeramkan seperti itu, tapi hatinya lemah lembut dan begitu penyayang.
"Maafkan Sanee ya, Phoo. Sanee selalu mengharapkan doa dari Phoo dan Maae," ucap Rumanah dengan isak tangisnya. Tak peduli pada make up yang juga tidak akan luntur karena make up nya bagus dan mahal.
"Phoo dan Maae pasti selalu mendoakan yang terbaik untukmu, sayang. Jadilah istri yang baik untuk suamimu, ya. Jika butuh pada Phoo dan Maae, jangan sungkan untuk datang pada kami," balas Phoo Boon-Nam dengan suara yang terpaksa ia tegar-tegarkan.
Rumanah terisak kecil dan begitu tenang berada dalam pelukan Phoo nya. Tentu saja ia pun merasa sedih karena kini ia akan semakin jauh dengan ayahandanya.
Setelah dirasa cukup, Rumanah pun bergilir pada kedua mertuanya. Lalu pada keluarga besar Andre dan keluarga besarnya yang dari Thailand maupun dari Jawa Barat. Terakhir, seorang pria tampan yang sudah lama menjadi kawan bagi Rumanah.
"Selamat ya, akhirnya pernikahan kalian sudah sah dan diakui oleh negara. Sekarang, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Hihihi," ucap Ferhat diiringi tawa cengengesnya.
Rumanah dan Andre terkekeh kecil, Andre meninju kecil lengan mantan adik iparnya itu.
"Kuharap kau tidak canggung pada kami, Ferhat. Kau tetap kuanggap sebagai adikku," ucap Andre penuh kehangatan.
Ferhat tersenyum senang. Ya, tentu saja ia senang karena Andre masih mau menganggapnya sebagai adiknya.
"Kalau begitu, aku juga menganggapmu sebagai adik, ya, Ferfer!" timpal Rumanah yang berhasil membuat Ferhat tertawa.
"Hahaha! Boleh saja. Tapi jika kau tidak malu!" jawab Ferhat penuh sindiran.
"Hahaha!" Rumanah tertawa renyah dan begitu happy.
Si cantik Sandrina tampak happy bersama dengan Omma, Oppa, Nenek dan juga Kakeknya. Ya, tentunya Sandrina sudah akrab dengan kedua orang tua Rumanah. Karena gadis kecil itu memang humble dan hangat.
__ADS_1
Acara yang meriah itu berlangsung dengan lancar tanpa halangan sedikit pun. Walaupun tidak menggelar acara di Hotel atau di gedung, tapi acara yang luar biasa itu begitu berkesan dan meriah. Rumah mewah dan besar milik Andre cukup menampung ribuan tamu yang datang. Rumah besar itu pun disulap seindah mungkin oleh wedding organizer.
"Sayang, sepertinya aku tidak bisa mengikuti pesta sampai larut malam. Aku begitu lemah dan letih. Aku juga sedikit mual jika mencium parfum-parfum yang begitu menyengat," ucap Rumanah pada suaminya.
Andre tersenyum lantas mengusap lembut wajah cantik istrinya, "No problem, darling. Kau bisa istirahat nanti jam tujuh, ya. Sementara aku akan menemani teman-temanku sampai larut malam," jawabnya penuh pengertian.
Rumanah mengangguk seraya tersenyum, "Tapi, kau jangan mabuk, ya!" pintanya penuh desakan.
Andre tersenyum kecil dan mengangguk, "Aku tidak pernah mabuk, darling. Aku hanya sering mabuk karena keracunan cintamu. He he he," jawabnya disertai gombalannya.
Rumanah memutar bola matanya dan tersenyum kecil, "Gombal!" desisnya sambil memalingkan wajahnya yang bersemu merah.
"Gombal sedikit, gak apa-apa, 'kan? Hehehe," goda Andre sembari memeluk hangat istrinya itu.
Rumanah tersenyum manis dan mengangguk kecil, "Ya, tidak apa-apa. Aku juga senang, kok. Hehehe," jawabnya sambil nyengenges.
"Manis sekali," puji Andre seraya mencubit gemas hidung istrinya.
Rumanah tersenyum dengan manisnya. Sudah tiga kali ia berganti kostum yang berbeda-beda. Dari adat Sunda, Thailand, modern dan gaun yang cantik. Mungkin ada dua kostum lagi yang harus ia kenakan. Tetapi, jika ia masih kuat menghadapi pakaian yang berat dan juga hiasannya yang cetar membahana badai.
Di sudut lain, seorang wanita berusia tiga puluh tahunan tampak menatap sengit pada sebuah foto yang tertera di layar gawainya. Ya, sebuah foto yang menunjukkan senyum bahagia sepasang suami istri yang sedang melaksanakan pesta pernikahan.
Luna membanting gawainya pada lantai di dalam kamarnya. Tak peduli gawai itu pecah berantakan atau tidak. Yang jelas saat ini ia begitu kesal dan iri melihat Rumanah bersanding dengan mantan suaminya.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika wanita miskin dan kampungan itu berhasil mendapatkan mantan suamiku! Aku yakin dia merayu dan menggunakan obat-obatan untuk mendapatkan mantan suamiku. Ini benar-benar membuatku muak dan kesal. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi! Sepertinya aku harus mengacaukan pesta pernikahan mereka berdua. Kalau bisa, aku akan menghabisi wanita kampungan yang telah berani merebut pria yang sangat aku cintai!"
Luna tampak memaki dan mengumpat sendiri di dalam kamarnya. Ia begitu terlihat emosi dan tidak terima dengan apa yang telah terjadi padanya. Ya, ia sangat ingin menjadi istri Andre kembali. Namun ternyata keinginannya itu tak bisa ia raih dan wujudkan karena Andre sudah sangat membenci dirinya dan melupakannya begitu saja.
Wanita cantik itu tidak sadar jika dirinya memang sudah bersalah dan berdosa pada suami dan anaknya. Ia telah berani berselingkuh di belakang Andre dan menelantarkan putrinya sendiri. Pria mana yang tidak benci dan sakit hati pada istri seperti itu? Anak mana yang tidak marah dan sakit hati pada ibu semacam itu? Anaknya sendiri melihat perselingkuhan Mommy nya dengan pria tua yang menjadi biang suksesnya karier Luna di dunia permodelan.
Wanita itu benar-benar seperti orang yang sudah kehilangan akal dan semangatnya. Ia bahkan mengacak tempat tidur dan rambutnya.
"Aku harus menghabisi wanita itu! Ya, dia yang sudah merebut Andre dariku!" ucap Luna dengan tampang yang sangat menyeramkan.
Rambutnya yang acak adul dan wajahnya yang merah karena emosi tampak membuat Luna seperti kerasukan. Tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi, wanita itu pun bergegas mengganti pakaiannya dan tentu saja ia harus menyamar dan menyembunyikan identitasnya.
"Aku akan menyamar menjadi pelayan di pesta pernikahan Andre dan wanita kampungan itu," ucap Luna sembari mengenakan pakaian pelayan yang sama persis dengan para pelayan yang bertugas di pesta pernikahan Andre dengan Rumanah.
Setelah dirasa cukup, Luna pun bergegas melangkahkan kakinya dan mengendari mobilnya sendiri. Sebuah pisau kecil namun tajam ia letakkan di dalam tas selempangnya. Pisau itu yang akan ia gunakan untuk menghabisi Rumanah.
Sementara itu di kediaman Andre, Rumanah yang merasa sudah kelelahan kini tampak sudah berada di dalam kamarnya. Sekitar pukul setengah delapan malam, ia diantar oleh suaminya ke dalam kamarnya. Tentu saja di depan kamarnya ada dua penjaga yang bertugas menjaga Nona muda yang ada di dalam kamar.
"Jangan boleh ada yang masuk, ya. Kecuali jika aku yang menyuruh," ucap Andre pada kedua pelayan di depan pintu kamarnya.
"Baik, bos!" jawab kedua penjaga itu dengan sigap dan bersamaan.
Setelah Andre menemani istrinya berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya, pria tampan itu pun kembali ke bawah. Ke tempat pesta dilaksanakan. Tentu saja ia harus begadang kemeriahan pesta pernikahannya dengan rekan bisnis dan para sahabatnya.
"Ayo, guys. Kita nikmati malam ini dengan penuh kebahagiaan," seru Andre pada teman-temannya.
"Siaaaap! Sepertinya pengantin akan menghabiskan minuman yang banyak, niiih!" goda salah satu teman Andre.
__ADS_1
"Hahaha, tidak tidak! Istriku tidak ingin aku mabuk," ucap Andre sambil mendudukkan bokongnya di sofa.
"Hah? Tidak ingin kau mabuk? Lalu kau menurut saja?" tanya teman yang lainnnya.
"Tentu saja. Menghargai larangan istri itu sangatlah penting, guys!" jawab Andre penuh percaya diri.
"Hahaha! Bukan menghargai. Tapi ... lemah! Hahaha!" ucap teman yang lainnya lagi.
"Hahahaha!" tawa ngakak pun pecah di antara mereka semua.
Sementara itu, Luna tampak baru saja masuk ke dalam area pesta. Ia bisa dengan mudah masuk ke dalam karena ia memakai seragam pelayan. Tentu saja ia pun mengaku sebagai pelayan yang bertugas di pesta itu.
"Yes, gue berhasil masuk ke dalam rumah ini," ucap Luna dengan suara yang sangat pelan.
Wanita licik itu pun bergegas mencari tahu di mana Nona muda yang kini telah menggantikan posisinya di rumah itu.
"Oh, dia sedang istirahat. Bagus! Aku rasa ini waktu yang sangat tepat," ucap Luna sembari melirikkan matanya ke sana kemari.
Demi memuluskan aksinya, wanita itu membawa minuman di tangannya. Tentu saja ia akan berpura-pura jika ia diperintah oleh Andre untuk memberikan minuman itu pada Nona muda yang sedang istirahat di kamar.
"Permisi, aku—" belum sampai Luna selesai bicara, dengan cepat penjaga di depan pintu menyelanya.
"Sesuai dengan perintah Tuan Andre, tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamar Nona," ujar penjaga itu penuh penegasan.
Luna tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan dengan cepat ia berpikir keras. Ia tidak mau sampai gagal di tempat, "Ah ini, sebenarnya aku diperintah oleh Tuan Andre untuk mengantarkan minuman ini," ucapnya.
Dua penjaga itu tampak saling beradu pandang untuk sesaat, tentu saja mereka harus mempertimbangkan keputusan yang mereka ambil.
"Sebenarnya aku disuruh cepat oleh Tuan Andre. Jadi, aku harap kalian bisa mengerti," ucap Luna mulai melakukan strategi agar lancar masuk ke dalam kamar Rumanah.
"Oke, silakan masuk," ucap salah satu penjaga sembari membuka pintu.
Luna mengangguk, di balik masker yang ia kenakan, wanita itu tampak tersenyum licik dan merasa menang.
"Dasar bodoh!" desis Luna dalam hati.
Wanita itu pun cepat-cepat masuk dengan minuman di tangannya. Mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Tentu saja ia harus cepat menemukan Rumanah.
Sementara itu, Rumanah tampak sedang berbaring di atas ranjangnya. Tentu saja matanya terpejam karena ia memang sangat merasa lelah. Ia benar-benar tidak tahu jika Luna berada di dalam kamarnya.
"Bagus! Sepertinya aku langsung habisi saja wanita kampungan ini," ucap Luna dalam hati.
Dengan pelan wanita itu melangkahkan kakinya mendekati Rumanah yang sedang berbaring. Pisau kecil yang tajam itu sudah berada di tangannya, ia sembunyikan di balik punggungnya.
Langkah kakinya benar-benar pelan dan tak menyisakan suara apa-apa. Namun, pada saat ia berada di jarak tiga langkah, tiba-tiba Rumanah berbalik badan dan berhasil membuat Luna terperanjat kaget.
"Astaga! Kenapa dia harus bangun, sih!" desis Luna dalam hati.
Rumanah menggerakkan tangannya mencari benda pipih miliknya. Namun pada saat itu, manik matanya menangkap sosok wanita yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Siapa itu," gumam Rumanah dalam hati.
__ADS_1
"Sialan! Sepertinya gue harus berhati-hati agar dia tidak curiga," desis Luna dalam hati.
BERSAMBUNG...