
Warning : Banyak adegan yang harus dihindari oleh kalian yang belum cukup umur dan yang belum memiliki suami atau istri.
____________________________________________
Andre menurunkan celana yang Rumanah kenakan. Duda tampan itu tampak hilang keseimbangan dan yang ia pikirkan hanya ingin menancapkan samurai panjangnya ke dalam lubang yang nyaris tak pernah dimainkan. Ya, tentu saja tidak pernah dimainkan, sebab Rumanah memang masih virgin.
Gadis desa itu tiada henti melenguh dan mendes*ah nikmat. Kenikmatan mana lagi yang pernah ia rasakan selain nikmatnya bercumbu seraya digerayangi dan sesekali dihisap serta dilu*mat pucuk balon kembarnya.
"Uuuuuhhhhh," Rumanah melenguh saat tangan kekar Andre memilin pucuk balon kembarnya yang berwarna merah muda.
Srrreeettttt!
Andre sudah berhasil melepas celana yang gadis desa itu kenakan. Seketika manik matanya berbinar ria kala ia melihat kembali barang yang sangat ingin ia lihat. Wah, sungguh indahnya. Putih dan mulus, dihiasi oleh rumput hitam yang begitu halus.
"Wah, barang ini akhirnya dapat kulihat lagi." ucap Andre yang tampak antusias dan berbinar ria.
Seketika Rumanah menutupi mis vagsnya menggunakan tangannya. Tentu saja ia sangat malu pada majikan galaknya itu. Ya, walaupun saat ini hasratnya sudah naik sampai ubun-ubun, tetapi rasa malunya masih tertanam dalam dirinya.
"Kenapa ditutupin, Belle?" tanya Andre penuh kelembutan.
__ADS_1
Rumanah menggeleng, raut wajahnya begitu tersipu malu. "Untuk yang ini... jangan, Tuan." jawab gadis desa itu dengan napas yang masih tak beraturan.
"Kenapa? Tapi aku ingin menciumnya, Annabelle." Andre kembali merayu pengasuh putri kecilnya. Lelaki memang memiliki banyak cara untuk merayu para wanita. Ck, dasar laki-laki!
Rumanah tampak terhenyak kaget mendengar keinginan majikan galaknya itu. "Hahhh??? Tidak, jangan lakukan itu." sergah gadis desa itu mencoba menolak dan menghalangi keinginan majikan galaknya itu.
"Tidak apa-apa, Annabelle. Aku hanya ingin menciumnya, mencium saja. Kau dengar itu? Hanya mencium. Tidak akan kulakukan lebih. Percayalah padaku!" kali ini Andre tampak setengah memohon dan memelas. Ekspresinya benar-benar membuat Rumanah sedikit melemah.
"Ini tidak akan sakit, Annabelle. Aku hanya akan menciumnya. Kau tidak usah khawatir. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab." kembali Andre meluncurkan strateginya. Dasar, gombal!
Rumanah terdiam dan seperti sedang berpikir. Pada saat itu, Andre tak ingin membuang-buang waktu dan membuang kesempatan untuk membuat Rumanah pasrah. Tentu saja duda tampan itu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir ranum pengasuh putrinya. Lidahnya dengan lincah menari-nari pada setiap rongga mulut gadis desa itu. Dan, Rumanah sangat menikmati setiap luma*atan dan hisapan majikan galaknya itu. Ya, ini memang nikmat. Nikmat bagi gadis remaja yang masih virgin dan pemula seperti Rumanah.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Andre pun menyingkirkan tangan Rumanah pada mis vagsnya. Ya, walaupun sesekali gadis desa itu kembali berusaha menutupi mis vagsnya, tetapi lama kelamaan gadis desa itu pasrah pada apa yang majikan galaknya lakukan.
Dan kini, tangan kekar itu berhasil mengusap lembut puncak mis vags gadis desa itu. Mungil, namun tembem. Persis kue apem yang berbulu. Ah, sungguh bahagianya duda tampan itu.
"Aaaaaaacchhh!" Seketika Rumanah mengerang saat jari jemari Andre memilin benda kecil yang berada di sela-sela bibir mis vagsnya.
Andre tersenyum sumringah, tentu saja ia senang melihat Rumanah begitu menikmati. Ya Tuhan, kapan permainan konyol ini berakhir? Akankah gadis desa itu menyerahkan kehormatannya pada majikan galaknya? Atau, majikan galaknya itu harus sabar menunggu waktu itu tiba? Sungguh tidak ada yang tahu akan hal ini.
__ADS_1
"Cantik sekali, apakah kau senang merawatnya?" Andre berkata seraya menatap binar pada mis vags milik gadis desa itu. Dan, tangannya masih bemain di sana.
"Uuuuuuhhhh, saya selalu merawatnya, Tuan. Emmmh!" Rumanah menjawab disertai erangan dan desahannya.
Andre tersenyum. "Pantas saja bentuknya cantik dan menggemaskan. Dan sepertinya rasanya pun sangat lezat sekali. Aku jadi penasaran." ucap duda tampan itu kembali merayu Rumanah.
Rumanah terdiam tak menjawab. Matanya masih terpejam menikmati sensasi yang luar biasa. Tangannya meremas seprei dan bibir bawahnya ia gigit karena menahan sesuatu.
"Oooucch, Tuan. Hentikan, sa saya ingin pi pipis, Tuan. Emhhh!" Rumanah berkata dalam keadaan tubuh yang sudah bergetar menahan sesuatu. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang pasti gadis desa itu merasa mis vagsnya sebentar lagi akan jebol dan menyemburkan air seninya yang menggunung.
"Tidak apa-apa pipis di sini saja, Annabelle." jawab Andre seraya tersenyum nakal dan mesum. Tentu saja ia sudah tahu apa yang sebenarnya gadis desa itu rasakan. Dia pria dewasa dan pernah memiliki istri, sudah sering melakukannya dan pastinya sudah paham.
"Aku semakin gemas padamu, Annabelle. Sepertinya aku tidak bisa menahannya lagi. Aku harus melakukannya secara perlahan." ucap Andre dalam hati.
"Uuuh, Tuan. Saya tidak ingin pipis di sini, hentikan dulu, Tuan. Saya akan berlari ke... aaaaaccchhhhh!" Rumanah tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Andre mempercepat gerakkan tangannya, memilin titik sensitive di mis vags gadis desa itu. Dan, bibirnya pun mulai menghisap kembali pucuk balon kembar Rumanah.
Sungguh kesempatan dan rezeki yang tak pernah Andre sangka-sangka. Nikmatnya menggerayangi seluruh tubuh gadis desa yang masih virgin dan masih original. Beruntungnya kau, Andre!
***
__ADS_1