Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Ferhat mulai curiga


__ADS_3

"Hallo, ada apa princess sayang?" sapa Andre melalui video call dengan putri mahkotanya.


"Hallo, Dadd. Kenapa lama sekali?" si cantik Sandrina tampak merengut manja di seberang sana.


"Maafkan kami, sayang. Emh, sebenarnya—" Andre tampak menggantung ucapannya saat tiba-tiba sang putri menyelanya.


"Daddy sedang di pantai?" tanya princess Sandrina yang menggiring Ferhat untuk menengok layar ponsel keponakannya.


"Wah, apa yang sedang kalian lakukan di pantai? Apa dokternya sedang bertugas di pantai?" selidik Ferhat.


Rumanah tampak menggigit bibir bawahnya dan menepuk jidatnya, pusing. Sementara Andre tampak sedang berpikir keras.


"Daddy, Dewi Peri, kalian pergi ke pantai nggak ngajak-ngajak princess sama Uncle Fer!" cicit Sandrina yang tampak merengek.


"Hehehe, sebenarnya ini ketidak sengajaan, princess sayang. Tiba-tiba saja Daddy harus meeting besama klien Daddy di sini. Astaga, ini sangat di luar dugaan Daddy, sayang. Sebaiknya princess tidak perlu marah pada Daddy ataupun pada Dewi Peri, oke. Karena ini benar-benar tidak direncanakan!" tutur Andre yang tampak berbohong. Tentu saja ia harus pandai-pandai beralasan.


"Benarkah begitu? Daddy tidak bohong, bukan?" desak Sandrina.


"Tentu saja tidak, sayang. Ya sudah, sekarang Daddy akan segera pulang. Oh ya, princess ingin oleh-oleh apa?" ucap Andre mencoba membujuk putri kecilnya itu.


"Tidak mau oleh-oleh apa-apa, Dadd. Princess hanya ingin Dewi Peri saja. Cepatlah pulang! Princesa bete bermain dengan Uncle Fer," rajuk Sandrina manja.


Andre terkekeh kecil. Mendengar ucapan putrinya, sugar Daddy itu benar-benar lega. Begitu pun dengan Rumanah, ia tampak membuang napas lega dan tersenyum hangat.




Sekitar pukul enam sore, Andre baru saja tiba ke rumah mewahnya. Tentu saja hal itu karena mereka mengalami sebuah peristiwa yang tak terduga.


Rumanah berlari kecil masuk ke dalam rumah milik suaminya. Wanita cantik itu tampak tergesa-gesa. Satu buah paperbag berada di tangan kanannya. Sepertinya dia membelikan sesuatu untuk putri sambungnya.


Ceklek!


Rumanah membuka pintu. Secara bersamaan, dua orang di dalam tampak menolehkan wajah dan menangkap pada ambang pintu.


"Dewi peri dataaaaaang!" sorak Rumanah seraya masuk ke dalam kamar putri sambungnya itu.


"Yeaaaaayy! Dewi Peri datang!" Sandrina tak kalah bersoraknya. Gadis kecil itu buru-buru berlari menghampiri Dewi Peri nya.


"Anak yang baik. Lihat, tangan Dewi Peri sudah kembali seperti semula." Rumanah memuji putri sambungnya. Kemudian ia menunjukkan jarinya yang sudah dilepas jahitannya.


"Jahitanmu sudah bisa dilepas, Rumrum?" tanya Ferhat seraya mendekati Rumanah.


Rumanah mengangguk. "Ya," jawabnya singkat.


"Waaah, akhirnya tangan Dewi Peri sudah cantik lagi, he he he he," ucap si cantik Sandrina sembari memeluk manja Dewi Peri nya itu.


Rumanah tersenyum hangat lantas mengusap lembut puncak kepala putri sambungnya itu.

__ADS_1


"Coba kulihat, apakah masih kaku?" Ferhat berkata sembari menyambar tangan Rumanah. Dan hal itu terlihat oleh Andre yang baru saja hendak melangkah masuk ke dalam kamar putri mahkotanya.


Degg!


Andre menghentikan langkahnya. Manik matanya tampak menatap tajam pada Ferhat yang telah berani menyentuh miliknya. Namun, tentu saja ia harus tetap menjaga sikap agar Ferhat tidak curiga padanya.


"Sialan, berani sekali dia menyentuh milikku," desis Andre dalam hati.


"Emh, tentu. Kata dokter, ini masih masa pemulihan." Rumanah menjawab sembari menarik tangannya dari genggaman Ferhat. Ia tahu, sang suami sedang menatap kesal karena perbuatan Ferhat.


"Oh, sepertinya kau harus sering menggerakkannya, Rumrum," ucap Ferhat.


"Ya, tentu saja." Rumanah menjawab singkat.


"Hai Dadd!" sapa Sandrina yang baru saja melihat keberadaan Daddy nya.


"Hai, princess," sahut Andre seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar putri mahkotanya.


Rumanah menolehkan wajahnya, bertingkah seolah ia baru menyadari kehadiran suaminya. Begitu pun dengan Ferhat, ia menolehkan wajahnya pada mantan kakak iparnya.


"Bang, aku sudah mengirimkan formulir ke perusahaanmu. Kuharap kau bisa menerimaku tanpa tes apa pun," ucap Ferhat.


"Ngawur! Aku tidak pernah berbuat curang, Fer. Jika kau punya potensi dan keahlian, maka sudah pasti kau akan diterima," ujar Andre seraya menggendong putri kecilnya.


"Hummm, tentu saja aku punya potensi, Bang. Tapi, tetap saja kau harus bekerja sama denganku," balas Ferhat.


Ferhat memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar.


"Princess sayang, bagaimana sekolahmu tadi, apakah menyenangkan?" tanya Andre seraya mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.


"Selalu menyenangkan, Dadd," jawab gadis kecil itu.


"Kau anak yang pintar, sayang. Dewi Peri membelikanmu oleh-oleh, semoga princess suka, ya!" timpal Rumanah seraya melangkahkan kakinya menghampiri putri sambungnya itu.


"Wah, oleh-oleh apa, dewi peri?" tanya Sandrina kegirangan.


"Dibuka saja," jawab Rumanah seraya memberikan paperbag pada putri sambungnya itu.


Sandrina tersenyum ceria. Dengan cepat ia membuka paperbag di hadapannya.


"Aku tidak kau belikan, Rumrum?" tanya Ferhat sembari merangkul hangat bahu Rumanah. Dan hal itu membuat Andre kesal dan tak terima.


"Sorry, Fer. Aku tidak pernah memikirkanmu," ucap Rumanah seraya melepaskan pelukan Ferhat. Ia tampak merasa tidak enak pada pria itu. Tapi, apa boleh buat? Sementara sang suami tidak mengizinkannya untuk dekat dengan pria mana pun.


"Yah, sayang sekali. Padahal, aku selalu memikirkanmu, Rumrum." Ferhat berkata sembari mengusap lembut puncak kepala Rumanah. Kembali Andre terlihat kesal dibuatnya.


"Ck, menyebalkan sekali!" decak Andre dalam hati. Pria tampan itu tampak beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya.


"Mau ke mana, Dadd?" tanya Sandrina.

__ADS_1


"Emh, Daddy capek dan gerah, sayang. Daddy butuh berendam air hangat dan beristirahat. Emh, mungkin juga mesti dipijat agar lebih relax," jawab Andre seraya tersenyum yang dibuat-buat.


"Ooooh, Daddy capek ya. Ya sudah, kalau gitu Daddy istirahat saja sana," ucap gadis kecil itu seraya tersenyum hangat.


Andre mengangguk. Sementara Rumanah tampak merasa bingung dan tidak enak.


"Tuan, saya akan meminta Pak Muhsin untuk menyiapkan makan malam untuk Anda," ucap Rumanah.


"Emh, terima kasih," jawab Andre dengan ekspresi datarnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun melenggang pergi meninggalkan kamar putri mahkotanya.


"Sama-sama," lirih Rumanah sembari menatap hampa punggung suaminya. "Pasti dia ngambek macam bocah lagi, hmmmm." cerocosnya dalam hati.


Ferhat mendudukkan bokongnya di ranjang keponakannya. Diam-diam ia memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi Rumanah dengan Andre.


"Ada apa dengan mereka? Kenapa aku merasa ada yang beda dengan gelagat dan tatapan mereka berdua," ucap Ferhat dalam hati.


"Princess sayang, Dewi Peri mau mandi dulu ya. Nanti Dewi Peri ke sini lagi," ucap Rumanah seraya mengusap lembut puncak kepala putri sambungnya.


Sandrina mengangguk mengiyakan. Sementara Rumanah tampak langsung memutar tubuhnya dan hendak melenggang pergi. Namun, belum sampai Rumanah melangkahkan kakinya, tiba-tiba Ferhat menangkap tangannya.


"Ferhat, ada apa?" tanya Rumanah seraya menolehkan wajahnya dan buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Ferhat.


"Emh, aku ingin mengobrol denganmu nanti malam. Bisa kah?" pinta Ferhat dengan nada yang memelas.


Rumanah terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras. Sejujurnya ia sangat bingung menghadapi situasi seperti ini. Di satu sisi, ia sangat menghormati suaminya. Namun, di sisi lain ia pun sangat menghargai pria di hadapannya itu. Bagaimana pun, Ferhat adalah orang pertama yang mendukung dan menguatkannya.


"Sebenarnya, aku ingin sedikit mencurahkan kegalauanku, Rumrum. Sepertinya bercerita kepadamu adalah hal yang tepat," lanjut Ferhat.


Rumanah menggigit bibir bawahnya dan tampak terlihat bingung. Dan hal itu semakin membuat Ferhat merasa curiga pada tingkahnya.


"Aku rasa kini kau sudah sulit untuk mendengarkan suka dan duka denganku, Rumrum. Padahal, kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri," sindir Andre penuh desakkan.


Rumanah tampak terjingkat kaget mendengar ucapan pria di hadapannya itu.


"Ah, tidak tidak, bukan begitu, Fer," sanggah Rumanah dengan cepat. "Tentu saja aku mau mengobrol denganmu," lanjutnya.


"Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya," ucap Ferhat.


Rumanah tersenyum kecil secara terpaksa. Tanpa berkata apa-apa lagi ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar putri sambungnya.




Rumanah melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Seusai mandi, wanita cantik itu hendak menemui Ferhat di dalam kamar putri sambungnya. Namun, pada saat ia naik ke lantai tiga. Terlihat sosok seorang pria tampan sedang duduk di teras balkon.


"Ferhat di sana," gumam Rumanah seraya melangkahkan kakinya menghampiri pria yang ingin mengobrol dengannya. "Mudah-mudahan si Tuan tidak melihatku dengan Ferhat," ucapnya dalam hati.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2