
Rumanah menggenggam erat tangan suaminya. Menatap wajahnya penuh keseriusan. Air matanya sudah mengalir deras sedari tadi. Sementara sang suami tampak membuang wajahnya seakan malas menatap wajah cantik istrinya itu.
"Sayang, aku mohon. Dengarkan penjelasanku dulu!" pinta Rumanah penuh permohonan.
Andre hanya diam dan tidak menanggapi. Tentu saja ia sangat kecewa karena merasa telah dipermainkan oleh istrinya sendiri. Sang istri telah menipu dirinya dengan mengaku sebagai gadis desa yang miskin dan kampungan. Ia ingin marah, tapi rasanya tidak bisa. Apalagi, sekarang mereka sedang berada di depan rumah besar milik kedua orang tua Rumanah.
Leo dan sopir tampak merasa tidak enak melihat percekcokan antara bos besar dengan Nyonya muda mereka. Hal itu membuat keduanya memutuskan untuk keluar dari mobil. Membiarkan Andre dan Rumanah menyelesaikan permasalahannya.
"Hubby, aku datang ke Jakarta tempo hari, bukan karena tidak ada alasan. Saat itu, aku—" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Tapi kenapa kau tidak jujur padaku!? Kau bersandiwara pada kami. Kau mengaku dirimu hanya seorang gadis desa yang miskin dan kampungan. Padahal kenyataannya, astaga! Aku benar-benar muak! Apakah kau sengaja tidak jujur padaku karena kau hanya mempermainkanku? Kau hanya main-main dengan pernikahan kita?" bentak Andre dengan kemarahannya yang kian memuncak.
Suasana tegang tercipta di dalam mobil itu. Wajah tampan Andre seketika berubah menjadi merah padam. Dari atas kepalanya, kobaran api menyala dan seakan hendak melahap siapa saja yang ada di hadapannya.
Rumanah menarik napasnya dalam dan membuangnya kasar. Ia benar-benar terkejut dengan tudingan suaminya. Air matanya kini telah mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Tentu saja ia tidak seperti yang suaminya bayangkan.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Aku sungguh tidak main-main menikah denganmu. Apa yang aku lakukan semuanya memiliki alasan khusus. Kau tidak akan tahu jika tidak mau mendengar penjelasan dariku!" mohon Rumanah dengan sangat. Ia begitu memelas pada suaminya.
Andre membuang wajahnya ke luar kaca jendela mobil. Ia benar-benar tidak menyangka jika ternyata selama ini sang istri menyembunyikan identitas aslinya. Selama ini ia benar-benar mengira jika sang istri adalah gadis desa yang melarat. Secara kebetulan, takdir mempertemukan mereka dalam keadaan ketidaksengajaan. Ya, saat itu Andre bertemu dengan Rumanah yang kumel dan benar-benar seperti gadis desa yang tidak tahu apa-apa.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Kenapa pria ini diam saja. Aku sungguh tidak ingin melihatnya marah seperti ini padaku." Ucap Rumanah dalam hati.
Di luar, Leo dan sopir sedang berdiri menatap hamparan perkebunan bunga yang sangat cantik-cantik. Entah itu perkebunan atau taman bunga, yang jelas, di sana banyak sekali tanaman bunga yang sangat cantik dan wangi-wangi.
Namun, tiba-tiba saja dua orang penjaga datang menghampiri Leo dan sopir. Mereka tampak terlihat heran dan menatap penuh intimidasi pada Leo dan Pak sopir.
"Astaga, apa yang akan mereka lakukan?" ucap Rumanah yang tampak heran melihat kedua anak buah ayahnya.
"Siapa mereka?" tanya Andre.
__ADS_1
"Mereka anak buah ayahku, sayang. Emh, sepertinya aku harus turun menemui mereka." Jawab Rumanah seraya bersiap turun dari mobil.
"Tunggu!" cegah Andre seraya menangkap tangan istrinya.
Rumanah menoleh. "Ada apa?" tanyanya.
"Siapa namamu?" tanyanya yang berhasil membuat Rumanah tersentak kaget.
"Apa maksudmu? Namaku Rumanah, ah tidak. Namaku Annabelle yang selalu kau sebut," jawab Rumanah seraya membuka pintu mobil lalu meloncat keluar dari mobil itu.
Andre terdiam dan membuang napasnya kasar. Ia benar-benar syok saat tahu siapa istrinya.
"Ck, dia tidak sebodoh yang selama ini aku kenal. Apa alasan dia melakukan itu. Astaga!" decak Andre yang tampak kesal.
Rumanah melangkahkan kakinya menghampiri kedua anak buah ayahnya.
"Stop!" ucapnya yang berhasil membuat kedua anak buah ayahnya menolehkan wajah masing-masing.
"Jangan melukai mereka, aku datang bersama mereka." Ucap Rumanah yang semakin membuat kedua pria berbadan tegap itu bertanya-tanya.
"Nangsaw," ucap salah satu pria berbadan tegap itu.
Nangsaw\=Nona
Rumanah mengangguk. "Ya, ini aku." ucapnya santai.
"Ya Tuhan, Anda ke mana saja, Nangsaw Tesanee Sunee. Than dan Naang sangat mencemaskan Anda selama ini." Ucap si pria berkulit sawo matang.
Than\=Tuan
__ADS_1
Naang\=Nyonya
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Benarkah? Apakah mereka baik-baik saja?" tanyanya.
"Tidak, mereka sering melamun karena memikirkan Anda, Nangsaw." Jawab si anak buah itu.
Rumanah melipat bibirnya ke dalam. Dilihatnya sang suami yang sudah keluar dari mobil.
"Bisakah aku menemui Phoo dan Maae sekarang juga? Aku ingin mengenalkan seseorang pada mereka." Ucap Rumanah yang ternyata memiliki nama asli Tesanee Sunee.
Phoo\=Ayah
Maae\=Ibu
Kedua anak buah ayah Rumanah melirikkan manik mata mereka pada Andre yang mematung di samping mobil.
"Siapa dia, Nangsaw? Kekasih Anda, kah?" tanya si pria berkepala botak.
Rumanah menggeleng. "Tidak usah kepo. Bawa aku dan pria itu menemui Phoo dan Maae," ucapnya seraya melangkahkan kakinya mendekati suaminya.
kedua anak buah itu mengangguk mengiyakan. Walaupun mereka heran, tapi keduanya tetap menuruti keinginan Nangsaw mereka.
"Come on, hubby," ajak Rumanah seraya merangkul manja lengan suaminya.
"Apakah kau yakin? Aku melihat kedua pria itu seperti meremehkanku," ucap Andre seraya menatap sengit pada kedua anak buah mertuanya.
"No problem, dia hanya robot-robot ayahku." Jawab Rumanah seraya tersenyum manis.
Andre menarik napasnya dalam dan membuang napasnya perlahan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ia pun melangkahkan kakinya bersama istrinya mengikuti kedua anak buah mertuanya. Tentu saja ia harus tahu apa yang sebenarnya istrinya rencanakan. Apa alasan istrinya menyamar menjadi gadis desa yang kumel. Ia juga harus tahu bagaimana keadaan kedua orang tua Rumanah. Jika ia menyerah, ia tidak akan tahu siapa sebenarnya kedua orang tua istrinya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...