
Rumanah mengangguk pasrah tanpa komentar. Sejujurnya ia sangat penasaran dan begitu deg-degan. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama...
"Selamat sore," sapa dokter Zahra dengan sebuah senyuman manis.
"Sore, dok," balas mereka semua.
"Loh, kenapa sekarang memakai masker, Nona Rumanah?" tanya dokter Zahra sembari mengecek denyut nadi di tangan Rumanah.
Rumanah tersenyum di balik maskernya, "Tidak apa-apa, dok," jawabnya enteng.
"Tidak apa-apa gimana? Wong tadi kamu marah-marah dan seperti hendak muntah saat mencium parfumku, darling," protes Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah nyengenges tanpa dosa dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Wah, lucu sekali, ya." Dokter Zahra berkata diiringi dengan senyuman manisnya.
"Iya, dok. Lucu banget. Padahal ini parfum kesukaannya. Tapi, dia malah mengatai bau dan sampai mual menciumnya. Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya, dok?" cerocos Andre panjang lebar.
Dokter Zahra tersenyum simpul dan penuh makna. Sementara yang lain tampak menunggu jawaban darinya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada diriku. Benarkah aku memiliki sebuah penyakit aneh? Astaga. Jika memang benar ... argh! Sepertinya itu tidak mungkin!" cerocos Rumanah di dalam hati.
"Apakah semuanya sudah siap? Saya akan mengatakan apa yang terjadi pada Nona Rumanah," ucap dokter Zahra penuh teka-teki.
Andre tampak menatap wajah istrinya dengan lembut dan lekat. Seperti meminta persetujuan dari sang istri agar mengizinkan dokter Zahra mengatakan apa yang terjadi padanya.
"Semoga Rumanah tidak menderita penyakit langka," bisik Papi Dargono pada istrinya.
Mami Purwati tampak mendelikan matanya dan menyikut lengan suaminya, "Hust! Jangan bicara sembarangan, Pap!" desisnya mengingatkan.
Papi Dargono hanya menyengir kuda dan mengangguk tanpa dosa. Tentu saja ia pun tidak mau hal buruk terjadi pada menantu satu-satunya itu.
"Baik. Kalau begitu, saya akan mengatakan apa yang telah terjadi pada Nona Rumanah. Saya harap semuanya sudah siap untuk mendengar apa yang saya katakan," ucap dokter Zahra yang semakin membuat tegang suasana namun juga semakin penasaran dibuatnya.
Rumanah menatap nanar suaminya dan menggigit bibir bawahnya. Jujur saja ia sangat gugup dan deg-degan. Ia pun takut hal buruk terjadi padanya.
"Don't worry, aku bersamamu," bisik Andre sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Rumanah mengangguk dan tampak pasrah. Apa pun yang dokter katakan, ia harus menerimanya dengan lapang dada.
"Jadi, yang terjadi pada Nona Rumanah...." Dokter Zahra tampak menggantung ucapannya sejenak dan menatap Rumanah.
Hal itu membuat Andre, Rumanah, Mami Purwati dan Papi Dargono tampak semakin deg-degan juga penasaran. Mereka semakin tegang dan bersiap mendengarkan apa yang dokter Zahra katakan.
"Istri saya kenapa, dok?" tanya Andre yang kian tidak sabar.
Dokter Zahra tersenyum penuh makna dan menatap Andre untuk sesaat, "Selamat! Nona Rumanah sedang hamil dua minggu!" ungkapnya yang berhasil membuat keempat orang yang ada di sana tampak tercengang dan benar-benar tidak menyangka.
"Apaaaaa??? Hamil?" Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terkejut namun juga sangat bahagia.
Dokter Zahra mengangguk mengiyakan, "Alasan Nona Rumanah mual ketika mencium parfum Anda, itu karena dia sedang hamil muda," terangnya.
Rumanah tampak tersenyum lebar namun kini kedua bola matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak menyangka jika ternyata di dalam dirinya ada sosok calon bayi yang akan menjadi kebahagiaannya. Entah bagaimana perasaannya sekarang. Yang jelas ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dibilang bahagia, ya! Dia sangat bahagia karena ia telah mengandung anak hasil dari buah cintanya dengan sang suami. Tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sedikit belum siap dan memikirkan usianya yang masih muda. Juga dengan princess yang masih membutuhkan kasih sayang serta waktunya.
"Darling, kita berhasil. Kau berhasil, sayang." Andre berkata dengan suara yang bergetar dan senyuman bahagia.
__ADS_1
Papi Dargono dan Mami Purwati tampak tersenyum bahagia dan saling berpelukan. Tentu saja mereka pun sangat mengharapkan hal ini terjadi. Memiliki cucu kedua dari menantu yang berbeda.
"Iya, hubby. Aku ... aku hamil! Ya Tuhan, apakah aku sudah pantas mendapatkan ini semua?" ucap Rumanah dengan tatapan nanarnya.
Kini ia menangis. Namun, bukan sebuah tangis penyesalan atau kekecewaan. Akan tetapi, sebuah tangisan yang sangat bahagia.
"Karena Tuhan telah menciptakan janin di dalam rahimmu. Itu artinya Tuhan telah mempercayaimu untuk menjaga titipannya, hubby," balas Andre sembari menggenggam erat tangan istrinya dan mengusap lembut puncak kepalanya.
Rumanah menatap sendu pada suaminya yang selama ini telah menjadikan dirinya sebagai ratu di hatinya. Ia benar-benar masih tak menyangka jika suaminya telah berhasil menanam benih di dalam rahimnya.
"Kita akan sama-sama menjaga titipan Tuhan yang diberikan pada kita, darling. Aku sangat bahagia karena kau telah berhasil mengandung anakku, anak kita," ucap Andre seraya mengusap lembut perut Rumanah yang masih rata.
Rumanah mengangguk seraya tersenyum getir. Ia bahagia, namun juga sangat sedih. Bagaimana ya rasanya? Sepertinya nano-nano. Sedih yang bahagia.
Muach!
Dengan manis dan lembut Andre mencium kening istrinya. Menandakan jika ia sangat bahagia dan bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan padanya. Seorang istri yang baik dan nyaris tidak ada cacat di matanya. Dan kini, sesosok janin yang baru tumbuh beberapa minggu di dalam rahim istrinya. Sungguh ia tak dapat lagi berkata apa-apa selain menitikan air mata kebahagiaannya.
"Kalau begitu, saya permisi, ya. Jika ada apa-apa, bisa tekan bel. Oh ya, ibu hamil biasanya akan mengalami ngidam dan mabuk. Mabuk maksudnya sering mual dan pusing. Jadi, sebaiknya Pak Andre tetap stay menjaga istrinya, ya," ujar dokter Zahra panjang lebar.
"Baik, dok." Andre menjawab dengan semangat.
Dokter Zahra pun bergegas keluar dari ruangan itu. Sementara Rumanah dan Andre tampak saling adu tatap dan tersenyum bahagia.
"Selamat ya, Andre, Rumanah. Akhirnya kalian telah berhasil. Mami sangat bahagia dan bersyukur pada Tuhan. Semoga janin yang ada di dalam kandunganmu, tetap sehat dan berkembang dengan baik," ucap Mami Purwati memberikan selamat dan doa pada putra serta menantunya.
Andre dan Rumanah tersenyum manis dan bahagia. Mereka mengangguk secara bersamaan.
"Terima kasih, Mam. Andre janji akan menjaga cucu Mami dan Papi," jawab Andre sembari tersenyum.
"Ya, kami akan menjaganya dengan baik," timpal Rumanah.
"Tentu saja. Kami akan menyalahkan kalian berdua jika kalian tidak menjaga cucu kami!" ancam Papi Dargono dengan raut wajah yang menyeramkan.
Andre dan Rumanah tersenyum simpul dan saling adu tatap untuk sesaat.
"Benar. Kami akan menuntut kalian jika sampai menelantarkan cucu kami. Termasuk ... membuatnya terguncang karena perbuatan kalian di atas ranjang!" timpal Mami Purwati yang berhasil membuat Rumanah dan Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan tersentak kaget.
Andre dan Rumanah saling beradu pandang dan keduanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Mami Purwati.
"Benar! Jangan sampai cucu kami keracunan oleh lem kayu yang kau semprotkan padanya, Andre!" sambung Papi Dargono.
"Hahaha!" tawa Andre pecah saat itu juga.
Sementara Rumanah tampak tersenyum masam dan benar-benar malu dengan ucapan kedua mertuanya itu.
"Kenapa kau tertawa? Papi sedang bicara serius. Pokoknya kalian harus libur terlebih dahulu. Kalau kalian tetap memaksa ingin melakukannya, jangan menggunakan banyak gaya. Lupakan gaya *****-*****, kuda lumping, dan semacamnya yang ekstrimis. Sederhana dan biasa saja. Yaaaa, paling tidak ... gaya cicak berenang," papar Papi Dargono panjang lebar.
Andre dan Rumanah dibuat tertawa terbahak-bahak oleh pria paruh baya itu. Bagaimana tidak? Mereka berdua seolah sedang diajari bagaimana cara yang baik dan benar melakukan hubungan suami istri ketika sedang hamil muda.
"Aduh! Sudahlah, Pap. Jangan seperti mengajari bocah tujuh belas tahun," seloroh Andre, "Putra Papi ini sudah dewasa, sudah punya anak, sudah pernah menikah, dan sudah pernah melihat wanita hamil. Jadi, Andre pasti akan hati-hati dan sudah tahu apa yang harus Andre lakukan. Papi dan Mami tenang saja, ya!" lanjutnya yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Oke kalau kau paham dan tahu bagaimana caranya. Papi percaya dan akan terus memantau," ucap Papi Dargono penuh penegasan.
Andre mengangguk seraya tersenyum kecil.
"Ya sudah, kami keluar dulu, ya. Mungkin kami akan mencaritahu di mana dan sedang apa princess sekarang," ucap Mami Purwati yang berhasil membuat Andre dan Rumanah kembali teringat pada putri kecil mereka.
__ADS_1
"Astaga! Princess!" seru Rumanah dengan ekspresi panik.
"Sudah tidak usah panik. Anak buah Andre sudah mengawasi," ucap Mami Purwati menenangkan menantunya.
"Benarkah, Mam? Apakah princess baik-baik saja? Andre sungguh tidak bisa tenang jika princess masih bersama wanita rubah itu." Andre bicara dengan raut wajah yang terlihat cemas dan tegang.
Mami Purwati mengangguk sembari mengusap lembut punggung putranya, "Tenang saja, ya. Biarkan wanita itu memberikan perhatiannya pada putrinya. Mami mengerti perasaannya, karena Mami juga wanita dan seorang ibu. Yang penting, masih dalam pengawasan dan dia tidak melukai putrimu," ujarnya menghibur putranya.
"Baiklah. Tapi, jika terjadi sesuatu, jangan sungkan beritahu Andre, Mam. Andre yang akan menyusul ke rumahnya," jawab Andre yang kini sudah mulai bisa mengerti.
"Don't worry, okey. Mami pun akan meminta Leo untuk menjemput princess jika sudah malam," ucap Mami Purwati.
"Baik, Mam." Andre membalas dengan singkat dan lirih.
Mami Purwati dan Papi Dargono pun keluar dari ruangan itu. Kini tinggal kedua insan yang saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
"Maafkan aku, hubby. Itu semua karena aku tidak becus menjaga princess," ucap Rumanah dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Andre menggeleng serta menangkap tangan mungil istrinya. Menggenggam erat tangan mungil itu lalu mengecupnya lembut.
"Tidak, darling. Kau tidak salah apa-apa. Aku yakin ini karena kemenangan sedang menghampiri wanita rubah itu. Jangan cemas,ya. Aku sama sekali tidak menyalahkan dirimu," sanggah Andre dengan tatapan mata yang lembut.
Rumanah terdiam dan menatap jauh ke langit-langit. Masih teringat jelas bagaimana tangis dan jeritan princess di sore tadi.
"Sudah jangan banyak melamun, darling. Mungkin benar kata Mami, wanita rubah itu hanya ingin menghabiskan waktu dengan princess. Tapi, aku juga tidak akan membiarkan wanita itu terlalu sering berkunjung dan mengganggu kehidupan kita. Setelah ini, jika princess tidak segera pulang atau dipulangkan, maka aku akan menyusul ke sana dan akan menghabisi wanita rubah itu," ujar Andre penuh penegasan.
Rumanah mengangguk kecil. Jujur saja ia sangat merasa bersalah karena tidak bisa melindungi putri kecilnya.
"Darling, aku sangat berterima kasih padamu. Karena, kau telah berhasil mengandung calon anak kita," ucap Andre seraya mengusap lembut perut rata istrinya.
"Sttttt!" Rumanah menempelkan telunjuknya pada bibir suaminya, "Tidak perlu berterima kasih padaku, sayang. Semestinya kau berterima kasih pada Tuhan," lanjutnya.
Andre tersenyum simpul dan mengangguk, "Itu sudah kulakukan, darling. Pokoknya, saat ini perasaanku begitu campur aduk dan tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Kau tahu? Aku bingung dengan perasaanku sekarang. Haruskah aku bersedih, atau bahagia? Di satu sisi, princess sedang tidak ada di sini. Tapi di sisi lain, telah hadir sesosok janin yang akan menjadi generasi baru di keluarga kita. Entahlah! Tapi, memang kebahagiaan ini yang jauh lebih berkesan di hatiku. So, thank you very much, darling!" ucapnya panjang kali lebar kali tinggi.
Rumanah tersenyum kecil dan mengusap lembut wajah tampan suaminya, Sama-sama, hubby. Aku juga begitu nano-nano saat ini. Semoga tidak terjadi apa-apa pada princess," balasnya.
"Aamiin." Andre mengamini.
"Oh ya, parfum itu ... benar-benarβ" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Iya! Ini parfum kesukaanmu, darliiiiing!" sela Andre sembari mencubit gemas pipi mulus istrinya.
"Tapi kenapa bau sekali? Aku mohon kau jangan menggunakannya lagi, ya!" pinta Rumanah memohon.
Andre tersenyum kecil, "Benarkah kau kebauan mencium parfum ini?" desaknya.
Rumanah mengangguk dengan cepat, "Ya! Bau sekali. Dan kau tahu? Tadi saat di sekolah, aku mencium aroma yang sama seperti parfum milik Luna. Dan itu membuatku heran. Kenapa aku sampai pingsan seperti tadi? Itu karena Luna beberapa kali menyemprotkan parfum itu di hadapanku. Setiap kali aku mencium aroma parfum yang baunya ... uh! Bau sekali! Kepalaku pusing dan perutku mual. Aneh, ya!" ujarnya penuh penjelasan.
Andre tersenyum, "Ya, ibu hamil memang suka aneh. Itulah sebabnya aku tidak mau hamil," ucapnya enteng.
Rumanah mendelikan matanya dan mendesis sebal, "Ya iyalah kamu tidak mau hamil. Kamu 'kan pemilik burung hantu! Bukan lubang buaya seperti diriku. Astaga," cicitnya.
"Hehehe, itu kau tahu." Andre nyengenges tanpa dosa.
Rumanah tersenyum kecil dan mengacak rambut suaminya. Sementara Andre tampak mengusel pada dada istrinya dan tangannya mengusap lembut perut Rumanah yang masih rata.
...
__ADS_1
Berikan selamat untuk Rumanah dan Andre, guys! ππππππ
BERSAMBUNG...