Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Luar biazza


__ADS_3

"Hei, Rum. Sini kuberitahu." ucap Muhsin sembari melambaikan tangannya.


Rumanah mengernyitkan dahinya, namun ia tetap melangkahkan kakinya mendekati tukang masak di rumah itu.


"Kau tahu? Berapa banyak asisten rumah tangga di sini?" tanya Muhsin.


Rumanah menggeleng.


"Pertanyaan yang sangat konyol. Sudah tahu aku orang baru di sini, dia malah menanyakan hal itu padaku. Ya jelas aku belum sempat menghitung berapa banyak asisten rumah tangga di sini.Dasar tukang masak aneh!" cerocos Rumanah dalam hati.


"Kau belum tahu rupanya." timpal Andre dengan senyuman mengejeknya.


Rumanah hanya mengangguk dan memasang wajah datarnya.


"Harus kau tahu wahai Rumanah, ada dua puluh orang asisten rumah tangga di sini. Dan setiap orang sudah memiliki tugasnya masing-masing. Jadi kau tidak usah repot-repot mengotori tanganmu dengan sapu dan alat pel. Tugasmu adalah mengurus dan merawat Nona muda kita yaitu Nona Sandrina. Apakah kau mengerti!?" tutur Muhsin menjelaskan dengan sangat mendetail dan terperinci.


Rumanah melongo tak percaya, ia tampak menelan ludahnya kasar. Pikirannya menerawang ke mana-mana.


"Busyet dah! Asisten rumah tangga saja sampai segitu banyaknya. Aku jadi penasaran berapa gaji yang mereka dapatkan." celoteh Rumanah dalam hati.


"Hei, gadis desa! Kenapa kau malah bengong seperti itu?" seru Andre yang tampak berhasil membuyarkan lamunan Rumanah.


"Eh iya, anu.. Em, saya hanya sedikit syok mendengar kenyataan di rumah besar ini." ucap Rumanah kaku.


Andre terkekeh mendengar jawaban Rumanah.


"Itu karena kau butiran debu. Sedangkan aku adalah butiran mutiara. Maka tak heran jika aku memiliki asisten rumah tangga sebanyak itu. Dan sekarang, kau adalah budakku! Budak di rumah ini, jadi bekerjalah dengan baik dan benar." ucap Andre panjang lebar.


Rumanah terkesiap mendengar ucapan majikannya, ia benar-benar merasa terhina dan diremehkan oleh pria tampan yang ucapannya sepedas cabe itu.


"Sabar, sabar, ini hanya permulaan. Setelah ini kau pasti akan menjadi kebal dan kuat mendengar ucapan pedas dari mulut majikan tampan tapi galak itu." ucap Rumanah dalam hati.


Setelah berkata demikan, Andre pun bergegas pergi meninggalkan Rumanah dengan Muhsin si tukang masak.


"Ehem, ngomong-ngomong kalau boleh tahu berapa gaji yang kalian terima darinya?" tanya Rumanah polos.


Muhsin mengetukkan pisaunya yang sedang ia genggam pada telenan kayu. Matanya menatap tajam pada Rumanah yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Hei, aku cuma bertanya. Aku ini ke sini ingin mencari beberapa lembar uang, jadi wajar dong aku menanyakan hal itu. Kenapa kau melotot seperti itu?" tegur Rumanah yang berhasil membuat Muhsin terjingkat kaget.


"Haaah, gadis ini benar-benar tak takut mati." ucap Muhsin dalam hati.


"Dewi periii!" terdengar suara Sandrina memanggil Rumanah.


Dengan cepat Rumanah menolehkan wajahnya, menyunggingkan senyumnya pada gadis kecil yang kini menjadi asuhannya.


"Selamat pagi Princess." sapa Muhsin pada Sandrina.


"Selamat pagi Chef. Buatkan sarapan pagi yang lezat untukku." ucap Sandrina pada Muhsin.

__ADS_1


"Siap Princess." jawab Muhsin dengan sigap.


"Chef?" Rumanah melongo tak mengerti.


"Yes, dia adalah Chef di rumah ini. Apakah kalian sudah berkenalan?" ucap Sandrina.


"Oh begitu, dia tukang masak kan di rumah ini. Hmmm, hebat sekali." seru Rumanah yang kemudian menjeda ucapannya.


"Ya, kami sudah berkenalan." lanjutnya lagi.


"Cih, tukang masak? Kenapa gadis ini memilih kosa kata yang membuatku jengah." cerocos Muhsin dalam hati.


"Dewi peri, hari ini aku ingin kau temani diriku ke sekolah." rengek Sandrina dengan tingkah manjanya.


Rumanah tersenyum manis.


"Bersekolah? Hmmmm, tentu saja Princess. Karena itu sudah menjadi kewajiban Dewi Peri." ucanya sembari mencubit gemas pipi anak asuhnya.


Sandrina tersenyum manis.


"Baiklah, kalau begitu ayo ikut denganku. Mulai hari ini kau harus membantuku menyiapkan alat sekolahku." ucap Sandrina.


"Siap Princess imut." jawab Rumanah semangat.


Mereka pun berjalan beriringan ke dalam kamar Sandrina.


"Dewi Peri, bisakah kau bicara pada Daddy jika hari ini aku ada pelajaran tambahan di sekolah!?" tanya Sandrina pada Dewi Perinya.


"Tunggu di sini ya, Princess imut. Dewi Peri akan segera menyampaikan pada Daddy Princess." ucap Rumanah yang kemudian melangkahkan kakinya mencari sosok majikannya.


"Aih, ngomong-ngomong majikan cabe itu di mana sekarang?" tanya Rumanah pada dirinya sendiri.


Rumanah terus melangkahkan kakinya mencari sosok majikannya yang single Daddy.


"Eh, permisi. Kalau boleh tahu di mana letak kamar majikan cabe itu? Eh.." Rumanah bertanya pada seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan foto-foto dari debu.


"Hah?? Majikan cabe? Kau punya nyawa berapa?" semprot si asisten rumah tangga yang berjenis kelamin laki-laki itu.


"Eemmh, maaf. Bukan begitu maksudku, aku hanya keceplosan. Hehe." sangkal Rumanah sembari nyengenges tanpa dosa.


"Kau baby siter baru di sini?" tanya asisten rumah tangga yang bernama Toha itu.


"Bukan, saya pengasuh Princess Sandrina." jawab Rumanah dengan polosnya.


Seketika Toha terdiam dan pada saat itu tawanya meledak tak tertahankan.


"Hahahhahahaha!"


"Kenapa dia tertawa jahat seperti itu?" batin Rumanah berucap.

__ADS_1


"Kau benar-benar kurang cerdas, ladies. Hmmm, oke oke aku mengerti. Itu karena kau hidup di lingkungan yang katro. Hmmm, kalau begitu selamat datang. Kau hebat! Kau sangat hebat. Wanita pertama pemecah rekor di rumah ini. Prok prok prok!" Toha nyerocos sembari bertepuk tangan.


Rumanah benar-benar tak mengerti pada pria biasa saja di hadapannya itu.


"Hei, bisakah kau jawab pertanyaanku. Di manakah majikan kita berada sekarang?" tanya Rumanah yang mulai serius.


Toha menghentikan tawanya.


"Ah itu, Tuan sedang berada di kamarnya. Jam segini Tuan sedang bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaannya." jawab Toha yang kini kembali melakukan pekerjaannya.


"Oh begitu, baiklah. Terima kasih." ucap Rumanah yang kemudian berlalu di hadapan Toha.


Pada saat Rumanah telah sampai di depan pintu kamar majikannya yang berada di lantai empat itu, gadis desa yang lugu dan cupu itu hanya mematung dan tak segera mengetuk pintu.


"Bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam kamar ini?" bisik Rumanah dalam hati.


Lima detik, sepuluh detik, lima belas detik, Rumanah masih mematung.


"Apa yang aku pikirkan, mungkin saja di dalam kamar ini ada majikan cabe itu bersama dengan istrinya. Sebaiknya aku bicara di sini saja, biarkan dia yang keluar." cerocos Rumanah dalam hati.


Akhirnya Rumanah pun mengetuk pintu kamar itu.


Tanpa bersuara ia terus mengetuk pintu, hingga pada saat itu terdengar suara majikan cabenya yang begitu terdengar menggema.


"Astaga, dasar orang kaya. Seperti itu saja harus pakai speaker." cerocos Rumanah.


Sudah mendapat perintah masuk, Rumanah masih bingung bagaimana caranya agar ia bisa masuk. Sementara pintunya tidak ada gagang pintu di sana.


"Ini bagaimana caranya aku bisa masuk?Dan, oh kenapa dia menyuruhku masuk? Hmmm mungkin perintah istrinya." ucap Rumanah yang super kebingungan mencari cara agar bisa masuk.


Di jarak yang tak terlalu jauh seorang pelayan pria sedang berjalan membawa senampan makanan di tangannya. Ia tampak heran melihat wanita baru yang berdiri di depan kamar majikan mereka.


"Masuk!" sekali lagi terdengar suara Andre menyuruh seseorang masuk.


Rumanah masih kebingungan. Hingga pada akhirnya pintu kamar pun terbuka oleh sendirinya. Rumanah tampak syok dan terkejut, ia benar-benar terheran dan terpukau.


"Wooow, luar biazza!" ucapnya dalam hati.


Tanpa pikir panjang Rumanah pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar majikannya. Lagi-lagi ia dibuat terpukau oleh pemandangan indah yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Di dalam kamar yang luas itu, bagaikan kamar seorang raja dan permaisuri.


"Woah, keren. Hmm, di mana majikan cabe itu?" Rumanah tampak mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan. Pintu kamar yang terbuka sendiri kini kembali tertutup lagi.


"Mana makananku? Kenapa lama sekali?" terdengar suara datar dari seorang Andre.


Rumanah terkesiap, dengan cepat ia melangkahkan kakinya dan mencari di mana letak suara itu. Hingga pada saat itu..


"Aaaaaaaaaaaaaaa!!!!!" Rumanah menjerit histeris saat ia melihat Andre berdiri menghadap jendela dengan hanya mengenakan short yang sangat ketat dan bertelanjang dada.


Andre terkejut dan membalikkan badannya, tanpa ia duga sebelumnya jika ternyata baby siter baru itu yang masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


****


__ADS_2