
Andre memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Rumanah yang ketakutan sedari tadi meronta dan memohon untuk tidak di bawa ke rumah sakit. Namun hal itu tidak membuat Andre luluh dan menuruti kemauan pengasuh putrinya itu.
"Ayo, kita sudah sampai." ajak Andre seraya membuka sabuk pengamannya.
"Ayo, Rumanah. Kau harus di periksa oleh dokter, masalahnya ini darahnya gak berhenti - berhenti. Bukan apa - apa, aku hanya takut pisau itu ternyata sampai menggores urat jarimu. Sebaiknya kau tidak membantah, Rumanah." tegas Meliza mencoba membujuk dan meyakinkan pengasuh putri bos dudanya.
Rumanah menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mau, Mbak Mel. Sudah kubilang tanganku baik - baik saja." tolak gadis desa itu dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
"Baik - baik saja matamu!" sungut Andre seraya membuka pintu mobil bagian tempat Rumanah. "Ayo turun, jika kau tidak segera di periksa, maka kuyakin tanganmu akan semakin terluka dan membusuk." ajak Andre sembari menakut - nakuti Rumanah agar mau di periksa dan mungkin saja akan di jahit.
"Ayo dewi periii, tidak apa - apa, princess akan menemani dewi peri." si cantik Sandrina turun dari mobil dan menyemangati pengasuhnya.
Rumanah terdiam dan seperti sedang berpikir keras. Gadis desa itu menatap ngeri pada tangan kirinya yang sudah di balut kain kasa dan perban. Namun, memang darah segar masih mengalir tak mau berhenti. Sehingga membuat kain kasa itu kini penuh dengan darah plus betadine.
"Ayolah, Rumanah. Jangan banyak berpikir, kami melakukan ini karena perduli kepadamu." ucap Meliza mencoba meyakinkan Rumanah.
"Iya, iya, iya, aku mengerti apa tujuan kalian. Tapi aku takut lhooooo. Tahu gak takut? Yaelah." celoteh Rumanah dalam hati.
Pada saat Rumanah sedang terdiam dalam lamunannya, tiba - tiba saja Andre naik ke dalam mobil dan menarik Rumanah secara paksa agar turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa, apa - apaan ini, Tuan. Saya tidak mau, ini pemaksaan namanya." teriak Rumanah yang kali ini sudah ke luar dari mobil dan berdiri dengan raut wajah yang ketakutan.
"Jangan banyak bicara," cetus Andre yang kemudian mengangkat tubuh Rumanah lalu menggendongnya secara paksa. Tentu saja tenaga seorang pria perkasa seperti Andre tidak akan mungkin terkalahkan oleh tenaga seorang wanita seperti Rumanah.
"Aaaaaaa, Tuaaan lepaskan sayaa. Saya ingin pulaaaaang." Rumanah kembali meronta dan berteriak meminta dilepaskan oleh majikan galaknya. Namun Andre sama sekali tak menggubris, tubuh mungil gadis desa itu berada dalam gendongan Andre.
Andre berjalan cepat mencari ruang Unit Gawat Darurat. Dengan cepat ia melewati lorong demi lorong rumah sakit itu. Sementara Meliza tampak berjalan cepat sembari menggandeng tangan Sandrina mengekori bos dudanya.
"Di mana ruang UGD?" tanya Andre pada seorang suster di sana.
"Di sebelah sana, Pak. Lurus lalu belok kiri." jawab si suster memberi tahu.
"Sialan, kenapa UGD - nya jauh sekali." Andre mendengus kesal sembari ngos - ngosan karena menggendong pengasuh putrinya.
"Kenapa, Tuan? Anda lelah ya?" celetuk Rumanah yang berhasil membuat Andre kesal namun juga ingin tertawa.
"Kalau tidak kuat gak apa - apa berhenti di sini saja, saya bisa berjalan sendiri, Tuan." ucap Rumanah mencoba memberi pengertian pada majikan galaknya.
"Tidak, kau pasti akan kabur jika kubiarkan berjalan sendiri." tolak Andre yang masih terus berjalan menggendong Rumanah sampai ke ruang UGD.
__ADS_1
"Tuan, tapi saya, aduh.. Bagaimana ini." Rumanah tampak menahan ucapannya dan seperti sedang menahan sesuatu.
"Sudah jangan banyak bicara, Annabelle!" desis Andre yang kini tampak sudah beberapa jengkal lagi menuju ruang UGD.
"Aduh, gimana ini. Uh perutku mulas dan seperti ingin segera mengeluarkan gas beracun." ucap Rumanah dalam hati.
"Kau harus siap, Annabelle. Sebentar lagi kit...." Andre menggantung ucapannya saat tiba - tiba..
"Ddduuuuuuuuuuuuutttttt!" terdengar bunyi irama gendang tetapi bukan irama dangdut.
Andre menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada pengasuh putrinya.
"He he he he, maaf Tuan. Tiba - tiba perut saya muleeees." Rumanah berkata sembari nyengenges tanpa dosa.
Andre memutar bola matanya kesal dan membuang napasnya kasar. "Pelanggaran!" desis Andre yang kembali melangkahkan kakinya menuju ruang UGD.
"Hah, dia gak marah." ucap Rumanah dalam hati.
***
__ADS_1