Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Ribetnya


__ADS_3

Rumanah menurunkan kakinya dari mobil. Si manis Sandrina tampak lengket dan tak ingin lepas dari gandengan tangan Rumanah.


"Princess, kau ingin makan apa?" tanya Andre pada putri kecilnya.


"Emh, princess ingin makan di HokBen, Dadd." jawab gadis kecil itu yang tampak tak melepaskan genggamannya pada tangan Rumanah.


"HokBen? Hoka Hoka Bento?" tanya Andre memastikan.


"Yups." gadis kecil itu menjawab penuh ceria.


"Baiklah, mari kita meluncur ke sana." ucap Andre seraya menggandeng tangan putri kecilnya.


Kini mereka bertiga tampak berjalan bergandengan tangan. Rumanah di sebelah kanan, Sandrina berada di tengah-tengah, sementara Andre berada di sebelah kiri. Dan Ferhat? Tentu saja dia berada di belakang ketiga orang itu.


"Humm, kesel gini gue jalan sendirian. Di tambah lagi gue jalan di belakang mereka lagi. Dan lihatlah, mereka seperti keluarga berencana dan gue seperti bodyguard mereka." cerocos Ferhat dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu Rumanah tampak canggung berjalan bersama dengan Andre. Wajahnya tampak tak berani ia dongakkan, melihat tatapan para pengunjung di Mall itu membuat Rumanah sangat merasa minder dan terhina.


Ya, tentu saja semua mata para pengunjung yang melihat dirinya berjalan bersama Andre tampak menatap iri dan penuh tanda tanya. Sesekali beberapa orang di antara mereka tampak berbisik-bisik mengatai Rumanah tidak pantas menjadi pendamping pria tampan nan kaya raya itu.


"Ya, aku memang jelek. Aku tahu itu, tapi kalian tidak usah menatapku seperti itu." rintih Rumanah dalam hati.


Ferhat tampak memperhatikan gelagat Rumanah yang terlihat tidak nyaman. Hingga pada akhirnya pria tampan yang masih melajang itu pun melakukan sebuah tindakan yang sangat konyol.


Tanpa Rumanah duga sebelumnya, Ferhat tampak melangkah cepat dan tiba-tiba menabrak dirinya. Tentu saja hal itu membuat Rumanah terkejut dan hampir saja tersungkur ke depan. Untung saja pada saat itu dengan cekatan Ferhat menangkap tubuh Rumanah dan membantunya untuk berdiri tegak.


Rumanah mengangguk seraya menyelipkan poni carangnya ke sela-sela telinganya, "Ya, aku baik-baik saja. Lagian kenapa sii kamu jalan kok seperti tidak menggunakan mata!?" gadis desa itu menjawab tenang namun bertanya dengan nada yang tinggi dan setengah kesal.


Ferhat mengulum senyuman nakalnya seraya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal sedikit pun, "He he he he, sorry. Aku buru-buru ingin mencari HokBen, aku rasa princess sudah tidak sabar." jawab lelaki itu disertai cengengesnya.


Rumanah memutar bola matanya malas lalu membuang napasnya kasar, sementara Andre tampak menatap cuek pada keduanya.

__ADS_1


"Kalau jalan hati-hati, Uncle. Untung saja dewi peri tidak keselandung dan terjatuh." semprot gadis kecil berusia lima tahun itu.


Ferhat tersenyum kecut, "Baik, Nona muda princess yang sangat cantiiik. Uncle minta maaf karena telah membuat dewi perimu hampir saja keselandung." jawab Ferhat meminta maaf.


"Emh, tapi sepertinya dewi perimu kelelahan dan mengantuk. Jadi biarkan dewi perimu berjalan sendiri atau berjalan bersama Uncle. Sementara princess berjalan bersama Daddy, Uncle rasa princess tidak akan keberatan karena princess adalah anak yang baik dan pintar." lanjut pria si Paman gadis cantik itu.


"Hummm, begitu." gadis cantik itu menanggapi dengan santai tanpa banyak tanya, "Baiklah, kalau begitu Uncle temani dewi peri dan jagalah dewi peri agar tidak terjatuh lagi," lanjutnya seraya menyunggingkan senyuman manisnya.


"Oke princess cantiiik," seru Ferhat sembari mencubit gemas pipi chubby keponakannya.


Rumanah tampak tersenyum simpul menanggapi semua tindakan Ferhat. Gadis desa itu pun kini bisa berjalan dengan santai tanpa diberatkan oleh para manusia yang menatapnya sinis dan tidak suka.


"Ribetnya hidup kalian," cicit Andre dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2