
Andre melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil sportnya. Leo yang tak lain adalah asisten pribadinya tampak siap siaga mengemudi, mengantarkan sang bos duda tampannya ke mana pun ia mau.
"Ayo cepat, Le." ucap Andre seraya menepuk kepala jok pengemudi.
"Ayo ke mana, bos?" tanya Leo.
"Ke hatimu," jawab Andre yang tampak kesal. Tentu saja ia mengajak Leo pulang, kenapa mesti bertanya lagi?
"He he he he he he," Leo terkekeh kecil, menatap absurd wajah tampan bos dudanya melalui kaca kecil di bagian depan. "Hati saya sudah penuh oleh Maura, bos. Jadi mohon maaf karena bos sudah tidak dapat mengisi hati saya lagi. Tetapi jika bos ing—" Leo belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Berhenti bicara yang tidak penting, kaleng rombeng!" sungut Andre yang tampak sedikit membentak asisten pribadinya itu.
Leo tampak sedikit terjingkat kaget dan melipat bibirnya ke dalam. Pria itu pun langsung menyalakan mesin mobil yang akan ia kendarai setelah mendengar bentakan bos dudanya itu.
"Sudah tahu aku ingin segera pulang. Kau masih saja harus bertanya akan pergi ke mana! Benar-benar menyebalkan!" cicit duda tampan itu dengan ekspresi yang sangat kesal.
Leo tak dapat berkomentar lagi, ia pun bergegas menggerakkan tangannya. Menjalankan mobil sport milik bos dudanya itu.
"Sensi amat kali. Seperti seorang wanita yang sedang datang bulan, astaga!" desis Leo di dalam hati.
"Menyetirlah yang baik dan benar. Gunakan kecepatan super agar dalam waktu lima menit kita sudah sampai di rumah!" pinta Andre yang tampak memaksa.
"Haahhhhh??? Dalam waktu lima menit???" Leo tampak terperanjat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Ya, karena aku sedang terburu-buru. Aku ingin kita cepat sampai!" jawab duda tampan itu kian mendesak.
Glekk!
__ADS_1
Leo menelan ludahnya kasar. Bagaimana bisa ia menempuh jarak yang biasanya menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit, kali ini ia harus melewatinya dalam waktu lima menit. Terbang saja sana!
"Kenapa buru-buru sekali, bos? Apakah princess sedang sakit?" tanya Leo yang ternyata sangat penasaran kenapa bos dudanya sangat buru-buru sekali.
"Ck, sudah kau tidak usah banyak tanya, kaleng rombeng! Pokoknya aku ingin kau cepat-cepat agar kita bisa cepat sampai ke rumah." seloroh duda tampan itu yang tampak memaksa.
Leo mengangguk pasrah. Secepat-cepatnya, tetap saja tidak akan menghabiskan waktu kurang dari dua puluh menit. Astaga.
Sementara itu di rumah...
Sandrina dan Ferhat tampak masih berenang bersama, keduanya tampak bahagia dan ceria. Sementara gadis desa yang manis itu hanya menjadi penonton dan penyemangat bagi kedua manusia itu.
"Dewi peri, ayo berenang bersama," ajak Sandrina yang tampak ceria.
Rumanah tersenyum serta menggeleng. "Tidak, princess," tolaknya dengan lembut. "Dewi peri takut kena air, nanti dewi peri berubah wujud menjadi mermaid lhooo." gadis desa itu memulai kelakarnya.
"Ayo Rumrum, seru lhooo berenang di sini. Sebentar lagi kami akan menyudahi berenangnya. Ayo cepat lompat!" timpal Ferhat yang juga mengajak Rumanah untuk berenang.
"Tidak, Fer. Kau lihat tanganku ini, astaga! Aku sungguh masih nyut-nyutan jika harus mengingat bagaimana sakitnya. Uh, sebaiknya nanti saja berenangnya kalau tanganku sudah kering dan sembuh," ujar Rumanah seraya menunjukkan tangan kirinya yang masih terbalut oleh perban, tentunya masih basah dan belum bisa terkena air.
"Oh iya, aku lupa soal itu, Rumrum," ucap Ferhat yang kini tampak mengerti. "Ya sudah kalau begitu kau tunggu saja di situ, sebentar lagi kami selesai," lanjut pria tampan itu.
Rumanah tersenyum hangat. "Baiklah, jangan lama-lama ya, Fer. Aku takut princess kedinginan dan menyebabkan demam. Lagi pula sepertinya sebentar lagi Tuan Andre akan datang, aku takut dia akan ma—" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Ferhat menyelanya.
"Aku sudah memberitahu majikanmu itu, Rumrum. Jadi kau tidak usah khawatir," ucap Ferhat.
"Owalah, ya sudah kalau begitu," balas Rumanah yang kemudian membaringkan tubuhnya di atas kursi panjang. Uh enaknya!
__ADS_1
Ferhat dan Sandrina kembali berenang. Mereka berdua memang sangat lengket dan akrab. Ferhat sebagai Paman tampak begitu menyayangi keponakan satu-satunya itu. Sementara itu Rumanah tampak menatap pohon pakis yang tinggi di pinggiran kolam. Ya, walaupun kolam itu berada di dalam rumah, tetapi di bagian kolam itu tidak ada atap atau pun penutup kolam. Sehingga hal itu membuat suasana di kolam itu terasa lebih mengesankan karena bisa menatap langit biru.
Sekitar kurang lebih dua puluh lima menit lamanya, Leo baru saja sampai ke rumah mewah milik bos dudanya itu. Tentu saja ia mendapat semprotan dan ocehan yang tiada henti dari bos dudanya itu.
"Sudah sampai bo—" Leo menggantung ucapannya saat tiba-tiba Andre meloncat dari dalam mobil dan membanting pintu mobil dengan kekuatan yang lumayan keras.
"Astaga, kenapa dia sangat bersemangat sekali," desis Leo di dalam hati.
Sementara itu Andre tampak berlari dengan cepat masuk ke dalam rumahnya yang besar itu. Tak ada tempat lain yang ia tuju selain kolam renang. Ya, dia sangat ingin melihat pengasuh putrinya berenang di kolam itu.
"Semoga Annabelle masih berenang, aku ingin berenang bersamanya," ucap Andre dalam hati.
Dengan penuh semangat Andre berlari ke lantai dua.Ya, kolam renangnya memang berada di lantai dua. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat kolam yang hanya terisi oleh air dan tanpa disinggahi oleh para manusia yang tadi berenang di sana.
"Hah, ke mana mereka? Kenapa tidak ada di sini? Astaga, sepertinya aku terlambat," desis Andre dalam hati.
Duda tampan itu mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya kecewa. Baru saja ia hendak memutar balik langkahnya, tiba-tiba saja manik matanya menangkap sesosok manusia yang sedang berbaring di atas kursi panjang yang tak jauh dari kolam renang.
Glek!
Andre menelan ludahnya kasar saat mendapatkan Rumanah yang sedang tidur di kursi panjang itu.
"Annabelle kah itu?" bisiknya seraya mengerjapkan matanya dan memincingkannya. Tak mau mati penasaran, ia pun bergegas melangkahkan kakinya dengan pelan tanpa suara. Menghampiri gadis desa yang sedang terpejam dan terlelap dengan nikmat di sana.
"Astaga, dia tidur di sini," gumam Andre saat ia telah berdiri di samping Rumanah.
Ya, Rumanah memang tidak sengaja ketiduran di sana. Dan saat ia sedang tidur, Ferhat dengan Sandrina tampak sudah selesai berenang. Saat melihat gadis desa itu tidur dengan nyenyaknya, Ferhat dan Sandrina membiarkan gadis desa itu terlelap dan tak ingin mengganggunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...