
Rumanah melambai-lambaikan tangannya pada duda tampan di hadapannya itu. Ia sangat terlihat cantik mengenakan dress hitam bertabur blink-blink halus yang semakin membuat kecantikannya terpancar dengan sempurna.
Rambut panjang yang hitam lebat itu ditata rapi dan dari sisi kanan serta sisi kirinya dikepang, kepangannya disatukan ke belakang. Dan, uh! Pokoknya dia sangat cantik hari ini. Rambut panjang yang hitam dan tebal alami itu tidak ia perbolehkan diedit dan disulap menjadi model-model kekinian. Dia sangat sayang sekali pada rambut panjang hitam dan tebal miliknya itu.
"Tuan, hallo! Apakah Anda bisa melihat saya?" gadis desa itu melambaikan tangannya lalu mendekatkan wajahnya pada wajah tampan majikan galaknya itu. Pasalnya, Andre hanya bengong tanpa mengedipkan manik matanya.
"Ah, iya, sorry!" Andre mengerjapkan matanya dan membuyarkan lamunannya saat Rumanah menepuk wajahnya yang tertutup oleh masker sebagian.
"Anda kenapa, Tuan?" tanya gadis desa itu yang tampak menatap heran. Ia tidak peka jika majikan galaknya itu sangat terpana dan terpesona padanya.
"Emh, tidak apa-apa, Belle. Jika sudah selesai, tunggu di sini. Aku akan membayar semuanya," ucap Andre seraya menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Baiklah, Tuan." gadis desa itu mengangguk mengiyakan. Sejujurnya ia sedikit merasa canggung mengenakan dress hitam yang tetap terkesan sopan dan rapi namun elegan dan penuh pesona.
Pakaian hitam memang cocok sekali melekat di tubuh Rumanah. Gadis desa pemilik kulit putih mulus itu sangat terlihat anggun dan lebih seperti wanita. (Memang selama ini dia waria?) Ha ha ha ha.
Sementara itu Andre sedang membayar apa semua yang telah digunakan oleh calon istrinya itu.
"Tuan Andre tidak memuji kecantikanku. Apakah aku tidak terlihat cantik? Ah, tapi aku sangat cantik sekali. Hmmm, dengan gaun dan high heels ini ... aku sungguh seperti wanita yang bercahaya. Ha ha ha ha, bukan-bukan! Aku seperti selebriti yang selalu dapat sensasi. Hmmm, bicara apa sii aku ini? Ngawur deh!" cerocos Rumanah dalam hati.
"Ayo," Andre mengajak Rumanah yang sedang memandangi dirinya di pantulan cermin.
"Ah iya," jawab Rumanah seraya memutar tubuhnya. Ia tersenyum manis pada majikan galaknya itu. Berharap agar dipuji oleh duda tampan itu.
"Kau sangat cantik dan seksi, Annabelle. Aku sungguh tidak akan bisa meninggalkanmu atau melupakan dirimu." ucap Andre dalam hati. Ia tampak menatap datar pada wanita di hadapannya. Entah apa sebabnya ia tak sampai memuji kecantikan gadis desa itu melalui lisannya.
"Kenapa dia diam saja? Memang benar, aku memang tidak cantik di matanya," ucap Rumanah dalam hati.
Tanpa berkata apa-apa, Andre melangkahkan kakinya. Dan hal itu membuat Rumanah refleks melangkahkan kakinya mengekori sang majikan yang berjalan di hadapannya.
"Duh, sulit sekali. Kenapa aku harus mengenakan sendal seperti ini sii? Pakai sendal jepit 'kan lebih nyaman." celoteh gadis desa itu dalam hati.
"Jalan lebih cepat, Belle. Kita tidak punya banyak waktu lagi," suara bariton itu membuyarkan lamunan Rumanah.
"Ba... baik Tuan," jawab Rumanah pasrah. Ia begitu kesulitan mengenakan high heels yang mewah itu. Sementara kini banyak mata lelaki yang menatap ke arahnya. Dan hal itu tak luput dari jangkauan Andre.
"Berjalan lah di sampingku," perintah duda tampan itu seraya menghentikan langkahnya.
"Tuan, saya boleh gak melepas sendal ini?" rengek Rumanah.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Andre.
"Saya ... tidak bisa memakai sendal ini. Saya tidak biasa, Tuan." gadis desa itu menjawab sedikit gugup.
Andre memutar bola matanya malas. "Kau harus membiasakan diri dengan hal seperti itu, Annabelle!" tegasnya seraya berjalan kembali.
Rumanah mengerucutkan bibirnya dan membuang napasnya kasar. Mungkin dia kesal. Dengan pasrah ia pun melangkahkan kakinya kembali bersejajar dan menyeimbangi langkah kaki majikan galaknya itu.
"Sialan, dia jadi tontonan para pria mata jelalat. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," desis Andre dalam hati.
Andre dan Rumanah terus berjalan, mereka memang tidak terlihat seperti pasangan kekasih atau suami istri. Dan malah lebih terlihat seperti bodyguard dengan Nona muda. Ha ha ha ha.
Saat sedang berjalan, gadis desa yang manis itu benar-benar tidak bisa menyeimbangkan dirinya dengan high heels yang ia kenakan. Hingga hal itu membuatnya tiba-tiba keseloe, daaaaan...
"Aaaaaaa!" Rumanah memekik saat tiba-tiba kakinya sedikit oleng.
"Annabelle!" dengan sigap duda tampan itu menangkap tubuh gadis desa yang hampir saja terjatuh.
Unch! Pemandangan itu membuat setiap manusia yang ada di sana, dan bahkan patung-patung pun cemburu serta iri pada mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Andre seraya membantu Rumanah untuk berdiri tegak.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya tidak bisa memakai sendal ini." gadis desa itu menjawab dengan raut wajah yang merah padam karena malu pada semua orang yang melihatnya. Bisa jadi ia dikatakan katro.
Uh! So sweetnya Bang Andre nii,
"Tuan, apakah tidak berat?" tanya Rumanah seraya menatap intens pada duda tampan yang kini sudah berjalan sembari menggendong gadis desa itu.
Andre menggeleng. "No!" jawabnya. "Lebih berat jika aku menahan hasratku ini, Annabelle. Maka lebih baik sekarang kita bergegas menjadi pasangan suami istri agar aku bisa menikmati seluruh tubuhmu tanpa takut apa-apa lagi," lanjutnya.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan menelan ludahnya kasar.
•
•
"Masuklah, jika kakimu terasa sakit, maka aku akan memijatnya terlebih dahulu." ucap Andre saat ia telah berada di samping mobilnya.
"Tidak, Tuan," jawab gadis desa itu. Kemudian ia pun masuk ke dalam mobil milik majikan galaknya dan duduk manis di sana. Sementara Andre menutup pintu mobil bagian Rumanah dan setelah itu ia berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Duduk di depan kemudi.
__ADS_1
Bruuugggh!
Kleeekk!
Andre membanting kasar pintu mobilnya dan buru-buru ia menguncinya.
"Annabelle, mendekatlah padaku!" pinta Andre yang tampak memaksa.
Rumanah mengerutkan dahinya dan menatap heran pada majikan galaknya itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya gadis desa itu.
Andre mengusap wajahnya kasar dan melepas topi serta maskernya. Tanpa disangka-sangka ia menarik lengan Rumanah dan...
Muaaaacchhhh!!!
Duda tampan itu mendaratkan bibirnya pada pipi mulus yang kini sedikit dihiasi oleh blushon yang natural.
"Haaa??" Rumanah melongo dan tercengang.
"Kau sangat cantik sekali, Annabelle. Mendekatlah!" puji duda tampan itu seraya menarik paksa tubuh gadis desa itu hingga memepet dirinya.
"Hah, dia memuji kecantikanku?" bisik Rumanah dalam hati.
"Annabelle," Andre berkata setengah berbisik, tangannya lantas mengusap lembut wajah cantik gadis desa itu.
"Ya, Tuan." Rumanah menyahuti.
Andre tersenyum kecil.
Cupppp!!!!!
Seketika Rumanah tercengang saat Andre mendaratkan bibirnya pada bibir ranum milik dirinya.
"Cantik sekali, aku sangat gemas!" puji Andre yang kemudian mendaratkan kembali bibirnya pada bibir tipis gadis desa itu.
Rumanah kembali tercengang. Dan, kali ini bukan hanya mendaratkan bibir, duda tampan itu tampak mel*umat serta menghisap lembut bibir ranum itu. Dan Rumanah? Tentu saja ia menyambutnya dengan hangat.
Aduh! Duda tampan ini sudah tak sabar. Hi hi hi...
__ADS_1
🌷Hallo sobat Rumanah dan Andree... Terima kasih atas antusias kalian pada novel ini. Saya sangat senang karena kalian sangat membangun semangat saya untuk terus update dengan rajin. Tetapi, maaf sekali jika saya tidak dapat sering-sering crazy up. Sebab, bukan hanya di novel ini. Saya juga aktif di aplikasi NM dan NL. Semoga kalian semua tetap terhibur. Thank you all. Happy readiing. Sayang kalian banyak-banyaaaaak🌷
BERSAMBUNG...