
Ferhat mengusap wajahnya menggunakan handuk kecil. Pria tampan itu terbangun pada pukul delapan pagi. Semalaman ia nyaris tak bisa tidur karena terlalu serius memikirkan Rumanah. Ya, ia sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita cantik itu di lantai empat atau lantai lima.
"Gila! Lama-lama kepala gue bisa pecah kalau pertanyaan yang berputar di kepala gue gak secepatnya terjawab. Gue heran, kenapa akhir-akhir ini Bang Andre semakin akrab dengan Rumanah. Bahkan ia sampai sudi membawa pengasuh putrinya itu bertemu klien di pantai. Padahal, kemarin-kemarin dia sangat jutek dan terkesan jijik pada Rumanah. Hmmm, sebenarnya ada apa ini? Dan, apa yang akan Rumanah semalam? Kenapa dia masuk lift?" cerocos Ferhat dalam hati.
"Selamat pagi, Ferfer. Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak bukan? Kurasa kau tidak merasakan mimpi buruk tadi malam." Rumanah menyapa dengan penuh ceria. Ya, tentu saja ia ceria. Sebab, sang suami sudah mengizinkannya untuk tetap akrab dengan pria di hadapannya itu.
"Astaga, gadis ini sudah ada di hadapanku saja." batin Ferhat berucap.
Pria tampan itu menyunggingkan senyuman hangatnya. "Selamat pagi juga, Rumrum. Nampaknya kau sangat ceria sekali pagi ini. Ah tidak! Aku 'kan tidak pernah tahu bagaimana kau di pagi-pagi sebelumnya." ucapnya seraya mendudukkan bokongnya di sofa. "Hmmm, tentu saja aku tidur nyenyak, Rumrum. Sebab, kamar princess benar-benar nyaman dan aman, hehe." lanjutnya.
Rumanah terkekeh kecil. "Hehehe, aku selalu ceria di setiap pagi, Fer. Karena, waktu pagi adalah hal yang tepat untuk memulai keceriaan," ucapnya.
"Ya, kau benar, Rumrum. Aku setuju dengan ucapanmu!" sahut Ferhat.
"Tapi, kenapa beberapa hari yang lalu Dewi Peri tidak ceria dan di waktu pagi marah-marah terus pada Daddy. Dewi Peri seperti sedang ngambek pada Daddy. Hihihi," celetuk si cantik Sandrina.
Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan terdiam seribu bahasa. Sementara Ferhat tampak menatap intens dan penuh intimidasi pada wanita cantik di hadapannya.
"Terlihat sedang ngambek pada Daddy? Marah? Atas dasar apa dia marah dan ngambek pada Bang Andre. Hmmm, aku jadi semakin ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi," ucap Ferhat dalam hati.
Rumanah menyunggingkan senyuman kakunya dan mendekati putri sambungnya itu. "He he he, apa yang princess pikirkan pada hari itu? Sebenarnya Dewi Peri hanya sedang kesal karena orang tua Dewi Peri sulit dihubungi. Akhirnya, kekesalan itu Dewi Peri tumpahkan pada Daddy princess. He he he," ucapnya beralasan.
Sandrina manggut-manggut tanda mengerti. "Oooh, jadi begitu. Princess kira, Dewi Peri sedang marah pada Daddy. He he, untung saja Daddy tidak memarahi Dewi Peri." ucapnya.
Rumanah tersenyum kaku penuh paksaan. Sementara Ferhat, diam-diam tampak mencerna ucapan keponakannya.
"Bang Andre tidak marah? Ini benar-benar tidak masuk akal!" ucap Ferhat dalam hati.
__ADS_1
"Emh, sebaiknya princess sekarang mandi dulu gih. Dewi Peri sudah siapkan sarapan di meja makan. Ini, minum air mineral dulu, ya." Rumanah memberikan segelas air mineral pada putri sambungnya.
Sandrina mengangguk, ia pun meraih segelas air mineral yang Dewi Peri nya berikan lalu dengan cepat ia meneguknya.
"Kalau gitu Uncle mau pulang dulu ya, princess," ucap Ferhat seraya beranjak dari duduknya.
"Kenapa buru-buru sekali, Fer? Sarapan lah dulu di bawah, ini masih pagi lhoo. Lagipula ini hari libur, kau pasti tidak ada kegiatan di rumah," cekal Rumanah.
"Ya, benar. Uncle tidak mau ikut pergi ke kebun binatang dengan kami? Daddy sudah janji pada princess, hari ini akan pergi ke kebun binatang." Sandrina menimpali.
Ferhat tersenyum seraya menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "He he he, aku sampai lupa kalau ini hari libur, Rumrum." ucapnya seraya melangkahkan kaki mendekati keponakannya. "Dan, benarkah yang princess katakan? Kalian akan pergi ke kebun binatang? Hmmm, bay the way, siapa saja yang akan ikut?" tanyanya pada Sandrina.
Rumanah dan Sandrina tersenyum simpul dan saling beradu tatap untuk sesaat.
"Tentu saja Daddy dan Dewi Peri. Kalau Uncle mau ikut, berarti nambah satu anggota. Jadi, Daddy, Dewi Peri, Uncle dan Princess," jawab gadis kecil itu yang tampak ceria.
Ferhat tersenyum sembari manggut-manggut tanda mengerti. "Sepertinya semakin baik jika aku ikut dengan mereka. Dengan begitu, aku bisa semakin leluasa menyelidiki apa yang terjadi dengan Rumanah dan Bang Andre," ucapnya.
Ferhat mengangguk tanpa ragu. "Ya, aku ikut!" jawabnya.
"Yeeaaay! Uncle ikut, jadi tambah seru!" sorak Sandrina kegirangan.
"Ya sudah, sekarang lebih baik Princess mandi dulu yuk," ajak Rumanah.
Sandrina mengangguk. Gadis kecil itu pun bergegas masuk ke kamar mandi, kali ini ditemani oleh Dewi Peri nya. Sementara Ferhat keluar dari kamar keponakannya hendak mengisi perutnya dengan sarapan buatan chef Muhsin.
"Muhsin, dari mana dia? Tumben sekali keluar dari lift," ucap Ferhat dalam hati. Manik matanya tak sengaja melihat Muhsin yang baru saja keluar dari lift. Tentu saja hal itu membuat Ferhat penasran.
__ADS_1
Muhsin melangkahkan kakinya hendak menuruni anak tangga. Namun, pada saat itu dengan cepat Ferhat menghentikannya.
"Tunggu, Muh!" cegah Ferhat yang berhasil membuat langkah kaki Muhsin terhenti.
Muhsin menolehkan wajahnya pada Ferhat yang setengah berlari ke arahnya. "Ada apa, Tuan Ferhat?" tanyanya.
Ferhat membuang napasnya kasar dan mengatur napasnya. "Emh, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu, di lantai empat dan lantai lima ada apa." jawabnya yang berhasil membuat Muhsin mengerutkan dahi.
"Di lantai empat dan lantai lima ada apa? Maksudnya ada apa bagaimana ini, Tuan Ferhat? Saya sama sekali tidak mengerti," tanya Muhsin yang tidak mengerti dengan maksud ucapan pria di hadapannya itu.
Ferhat terdiam sejenak. Sepertinya dia harus mencari kata-kata yang lain agar Muhsin mengerti.
"Emh, begini. Aku penasaran, apakah lantai empat kini menjadi tempat tidur kalian? Pasalnya, semalam aku melihat Rumanah masuk lift ini. Dan, pagi ini pun aku melihatmu keluar dari lift. Sebenarnya, apa yang terjadi? Benarkah apa yang kuperkirakan?" ungkap Ferhat panjang lebar. Dan hal itu membuat Muhsin sedikit terjingkat kaget.
"Apa? Semalam Rumanah masuk lift ini?" tanya Muhsin yang tampak terlihat kaget.
Ferhat mengangguk. "Kenapa kau terkejut seperti itu? Benarkah apa yang aku kira? Kalian tidur di lantai empat ?" selidiknya.
Muhsin memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. "Sudah saya duga! Ini ada sesuatu dibalik sesuatu!" ucapnya yang berhasil membuat Ferhat mengerutkan dahi.
"Hah? Ada apa? Sesuatu apa yang ada dibalik sesuatu?" selidik Ferhat.
"Emh, begini, Tuan. Tadi saya dipanggil oleh Tuan Andre ke kamarnya. Saya disidang di sana," ungkap Muhsin.
"Apa? Disidang? Apa yang terjadi? Kau membuat kesalahan fatal?" tanya Ferhat penasaran.
Muhsin terdiam dan seperti sedang dalam keraguan untuk menjawab. Sementara Ferhat tampak penasran dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Hai, dears. Maaf ya, othor baru up. Semoga suka, ya! Jangan lupa dukungannya😊
BERSAMBUNG...