
Andre mengacak rambutnya kesal. Setelah kepergian Rumanah dari sisinya, duda tampan itu tampak uring-uringan dan merasa kesal. Ucapan sang pengasuh putri kecilnya itu sungguh membuatnya sangat pusing dan frustasi. Di satu sisi, ia sangat ingin mencicipi mahkota dewa milik gadis desa itu, namun di sisi lain ia sangat tidak ingin menikah dengan gadis desa yang membuatnya selalu hornay setiap kali mengingat setiap inci kulit tubuhnya.
Ah, sungguh memusingkan!
"Ck, menyebalkan sekali kau, Annabelle!" duda tampan itu berdecak dengan kesal. Seluruh tubuhnya basah dengan air dan busa di dalam bathub. Inginnya, menikmati tubuh molek menggemaskan milik Rumanah di dalam bathub itu. Akan tetapi itu semua hanya menjadi sebuah keinginan belaka.
"Ah, sialan! Dia benar-benar tidak mau mengerti akan ketegangan dan perasaan adik kecilku ini. Dan, sekarang aku sudah macam orang gila! Ya, untuk apa aku meluangkan waktu berhargaku dan mengorbankan princessku yang kusuruh untuk menungguku di dalam mobil. Astaga, sia-sia sekali hal itu kulakukan. Dan ini semua gara-gara gadis desa itu. Ck, awas saja kau! Kubersumpah akan mendapatkan apa yang aku mau darimu, Annabelle!" gerutu duda tampan itu yang tampak begitu kesal pada pengasuh putri kecilnya.
Duda tampan yang telah kehilangan banyak waktu berharganya itu pun tampak merutuki kebodohan dirinya sendiri. Dan kini, nasib adik kecilnya yang sudah tegang pun kembali harus ia lemaskan. Pasalnya, orang yang telah membuat adik kecilnya tegang sudah tidak ada di sampingnya.
"Sebaiknya aku harus bergegas, kasihan princess dan Meliza yang sudah menunggu sedari tadi. Ck, aku tidak mau seperti pria buruk rupa dan kere, mereka hanya akan mengandalkan shampoo dan tangannya sendiri untuk memanjakkan si ular kadut yang suka muntah ini. Astaga!" kembali duda tampan itu mengoceh ria tanpa kenal lelah.
__ADS_1
Sementara itu Rumanah yang sudah turun ke kamarnya dan sudah berganti pakaian tampak buru-buru ke luar. Semestinya princess Sandrina dan Meliza masih ada di sana. Tentu saja ia harus bergegas menemui mereka berdua. Akan banyak pertanyaan yang ia dapat dari dua manusia itu.
"Hufft, untung saja aku bisa melarikan diri dari majikan galak dan mesum itu. Sialan, kalau aku tidak memintanya untuk menikahiku, pasti majikan galak itu akan terus menggodaku dan membuatku terlena kembali. Astaga, lain kali aku harus lebih waspada padanya." cerocos Rumanah seraya menyibakkan rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai dan menjuntai indah.
Rumanah memang memiliki wajah yang cantik dan manis. Rambur panjang yang hitam dan bulu mata yang lentik. Bibir tipis mungil serta kulit putih mulus yang nyaris membuat Andre tidak dapat melupakan keindahan tubuh gadis desa itu.
"Hallo, princess, Mbak Meeeel." sapa Rumanah saat ia menghampiri princess dan Meliza yang sedang menunggu di dalam mobil.
Sandrina menolehkan wajahnya lalu menyunggingkan senyuman malasnya. "Pagi juga, dewi peri." jawabnya yang tampak sinis dan judes. Sepertinya gadis kecil itu sedikit marah pada pengasuhnya.
"Princess, marah kah pada dewi peri?" tanya Rumanah penuh selidik.
__ADS_1
Sandrina terdiam dan membuang wajahnya ke udara. "Dewi peri dari mana saja? Kenapa baru kelihatan." gadis kecil itu bertanya dengan raut wajah yang tampak terlihat kesal.
Rumanah tersenyum serta mengusap lembut puncak kepala asuhanny itu. "Maafkan dewi peri, ya. Dewi peri tadi sakit perut, rupanya dewi peri diare, sayang." jawabnya yang terpaksa harus berbohong.
Sandrina dan Meliza tampak terperanjat kaget mendengar jawaban gadis desa itu.
"Kamu diare, Rumanah? Sudah minum obat kah?" tanya Meliza yang tampak percaya pada ucapan gadis desa itu.
Rumanah mengangguk. "Ya, tapi tidak usah khawatir. Saya sudah minum obat dan sudah merasa lebih baik, Mbak Mel." jawab gadis desa itu yang berhasil membuat Meliz dan Sandrina dapat bernapas dengan lega.
"Oh, syukurlah kalau dewi peri sudah membaik." ucap princess Sandrina yang kini tampak bersikap normal seperti sedia kala.
__ADS_1
Rumanah tersenyum serta mengangguk. "Maafkan dewi peri, sejujurnya ini hanya alasan agar princess dan Mbak Mel tidak marah dan curiga pada dewi peri." ucapnya di dalam hati.
***