
Luna membanting vas bunga terbuat dari kaca ke sembarang tempat. Emosinya begitu meluap-luap ketika ia mengingat kembali kejadian di hotel beberapa jam yang lalu. Konsentrasinya buyar, wajahnya merah padam, dadanya terasa sesak dan kemarahan kini memuncak hingga ke ubun-ubunnya.
Bagaimana tidak? Baru saja ia menerima kenyataan yang begitu mengusik kehidupannya. Mengusik kenyamanan dan ketenangannya. Ya, ia begitu tak terima melihat Rumanah berhasil mendapatkan mantan suaminya.
"Aaaarrggh! Sialan! Dasar berengsek! Beraninya dia menikah dengan mantan suamiku." Luna memaki Rumanah di dalam rumahnya. Nampak jelas kemarahan pada dirinya.
"Sudahlah, Tan. Terima saja apa yang telah terjadi. Lagipula, sekarang sudah ada Dimas di sini," ucap pria berondong yang tak lain adalah Dimas.
Luna membuang napasnya kasar dan menatap tajam pada sebuah lukisan yang tidak bersalah. "Tidak bisa, beb. Bagaimana pun, aku masih mengharapkan Andre kembali padaku. Aku masih mengharapkan kami kembali hidup bersama dengan princess. Memang sekarang sudah ada kamu di sisi Tante, kamu selalu membuat Tante senang dan puas. Tapi 'kan kamu hanya sebagai kekasih bayaran saja. Kamu tidak mungkin menjadi suami Tante, bukan. Astaga," ujarnya panjang lebar.
Dimas tersenyum dan mengangguk. "Ya. Tapi, apa yang akan Tante lakukan sekarang? Sementara, saat ini wanita cantik itu sudah menjadi istri mantan suami Tante." ucapnya.
"Apa katamu!? Wanita cantik? Wanita cantik siapa yang kau maksud, Dimas?" desak Luna yang tampak tak terima jika Dimas mengakui kecantikan Rumanah.
Dimas menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Itu, dia." jawabny sedikit tergagap.
"Dia, dia siapa?" tanya Luna penuh selidik.
"Ah, sudahlah lupakan saja, Tante. Sebaiknya sekarang Tante istirahat saja. Sementara Dimas akan pulang," ucap Dimas seolah tidak ingin membahas apa yang membuat Luna kesal.
Luna memutar bola matanya malas dan menatap penuh intimidasi pada pria tampan di hadapannya itu. Tentu saja ia tahu jika Ferhat pun mengakui kecantikan wanita yang kini menjadi saingannya.
"Oh ayolah, Dimas sayang. Jangan terpincut pada wanita itu. Apakah kau tega pada Tante? Jika itu terjadi, Tante sungguh akan menjadi gila." Luna bicara dengan nada yang memelas dan ingin mendapatkan simpatik dari kekasih bayarannya itu
Dimas menyunggingkan senyuman tipisnya. "Terlambat, aku sudah tertarik dan bahkan jatuh cinta pada wanita itu pada pandangan pertama." ucapnya dalam hati.
Luna membelai lembut dada Dimas dan menatapnya penuh manja.
"Tentu saja tidak, Tante. Hanya Tante lah wanita yang mampu membuat Dimas melayang ke awang-awang," ucap Dimas penuh rayuan.
Luna tersenyum lebar dan mengecup manja bibir Dimas. Padahal, berondong tampan itu hanya menjadi kekasih bayarannya saja. Mereka berdua tidak terikat perasaan apa-apa selain ikatan kontrak.
•
•
"Jadi, kapan kalian akan mengadakan pesta?" tanya Ferhat pada Andre dan Rumanah.
"Tentu saja secepatnya, Fer. Pokoknya setelah ini, kami akan memberitahu orang tua kami masing-masing. Aku benar-benar lega karena kini princess sudah tahu perihal pernikahanku dengan Dewi Peri nya ini," jawab Andre seraya meraih tangan mungil Rumanah lalu menggenggamnya erat.
Rumanah tersenyum dan menatap penuh cinta pada suaminya. Sejujurnya, ia begitu deg-degan menghadapi situasi yang begitu mencekam baginya. Menemui kedua orang tuanya dan mengatakan soal pernikahannya? Astaga, sungguh hal ini membuatnya frustasi dan bahkan sakit kepala ketika memikirkannya.
"Owalah, aku harap kalian tidak lupa untuk mengikutsertakan aku dalam acara yang penuh kebahagiaan itu," desak Ferhat seraya tersenyum usil.
"Ya, tentu saja. Kau akan menjadi pria tersibuk di acara pernikahanku nanti, Fer." Andre menjawab seraya melirikkan matanya pada istri cantiknya yang tampak anggun itu.
"Waaah, aku sangat tidak sabar. Oh ya, kau ingin kado apa dariku, Rumrum?" sorak Ferhat bersemangat.
Rumanah tersenyum kecil dan menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Apa saja, deh. Aku sungguh tidak berharap mendapat apa-apa dari pria pengangguran seperti dirimu, Ferfer." jawabnya mengandung kelakar.
Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada Rumanah. Sementara Andre tampak tertawa kecil mendengar ucapan istri cantiknya itu.
"Astaga, kau ini benar-benar meremehkanku, Rumrum,"cicit Ferhat tak terima.
Rumanah hanya memutar bola matany dan tersenyum usil.
"Kau tidak tahu jika aku pria muda yang tampan dan banyak uang? Ck, tampaknya kau belum memahami siapa diriku ini." Ferhat berkata sembari menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
__ADS_1
"Benarkah?" desak Rumanah.
Ferhat mengangguk. "Tentu saja! Kau pikir hanya suamimu saja yang memiliki uang banyak, hah?" selorohnya.
Rumanah terkekeh. "Kupikir demikian, Fer. Karena, kau hanya pria pengangguran yang hanya sedang melamar kerja di perusahaan milik suamiku. Ha ha ha!" ledeknya disertai tawa ngakaknya.
Andre tampak tertawa mendengar hal itu. "Ha ha ha ha! Kau bicara yang sejujurnya, darling," ucapnya di sela-sela tawanya.
Rumanah terkekeh. Sementara Ferhat tampak menekuk wajahnyq dan menatap kesal pada sepasang suami istri yang sedang meledeknya.
"Hmmmm, bolehlah kalian bersenang-senang kali ini. Tapi nanti, kalian pasti akan kagum kepadaku. Dengar itu, ya! Lagipula, aku melamar kerja di perusahaan suami kamu karena kasihan saja. Sepertinya, suamimu membutuhkan pekerja yang smart dan berbakat seperti diriku," cerocos Ferhat penuh percaya diri.
Rumanah dan Andre tampak saling beradu pandang. Sesaat kemudian...
"Ha ha ha ha!" keduanya tertawa terbahak-bahak.
Ferhat memutar bola matanya malas dan memencengkan bibirnya. "Hadeuuhhhh!" desisnya.
"Sebentar, sejak kapan aku membutuhkan pekerja yang narsis dan kegeeran seperti dirimu? Astaga," seloroh Andre seraya tersenyum geli.
"Hmm, bukan kegeeran siih. Tapi, aku hanya bicara jujur mengenai diriku," balas Ferhat membela dirinya.
Andre dan Rumanah masih terkekeh mendengar ucapan Ferhat.
"Oh ya, apakah Tuan sudah menerimanya?" tanya Rumanah kemudian.
Andre menggeleng tanpa ragu. "No!" jawabnya.
Rumanah tersenyum kecil, sementara Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.
"What? Kenapa lama sekali?" tanya Ferhat yang tampak terkejut.
Ferhat tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kesal. "Kau akan menyesal jika tidak menerimaku, Bang." cicitnya.
"Ya, tentu saja. Aku pasti akan menyesal karena membiarkanmu jadi pengangguran. Ha ha ha!" balas Andre diiringi tawa ngakaknya.
"Ha ha ha ha!" tawa Andre dan Rumanah pecah saat itu juga.
"Astaga, semenjak jadi pasangan suami istri, kalian berdua sangat cocok menjadi komedian." Ferhat bicara dengan ekspresi kesalnya.
Rumanah dan Andre saling beradu pandang. Lalu, keduanya kembali tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha!"
"Kau benar sekali, Fer. Mungkin setelah ini kami akan mendaftar menjadi komedian," ucap Rumanah.
"Daftar saja, aku pasti akan mendukung kalian," balas Ferhat.
Andre dan Rumanah tampak terkekeh. Tidak terasa, Rumanah dan Andre sudah lima jam berada di rumah Ferhat. Tentu saja kini sudah waktunya mereka untuk kembali ke rumah.
"Sepertinya kita sudah harus kembali, darling. Para penghuni di rumah pasti sangat heran dan bertanya-tanya ke mana kita pergi," ucap Andre.
"Ya, Tuan. Kalau begitu, saya akan panggil princess terlebih dahulu." Rumanah menjawab seraya beranjak dari duduknya.
Andre mengangguk serta tersenyum, sementara Rumanah sudah melangkahkan kakinya hendak memanggil putri sambungnya itu.
"Bang, mengenai pernikahan Meliza, apakah dia sudah memberitahumu?" tanya Ferhat penuh selidik.
__ADS_1
Andre mengangguk. "Tentu saja, Fer. Dia mantan sekretarisku, tidak mungkin dia melupakanku saat ia hendak menikah," jawabnya.
Ferhat manggut-manggut tanda mengerti.
"Kenapa? Kau tak ingin datang ke acara pernikahannya?" tanya Andre penuh sindiran.
Ferhat tampak membulatkan kedua bola matanya penuh. "Tidak, bukan begitu." elaknya.
"Lantas? Sudahlah, lupakan saja dia. Kau bisa mencari wanita yang lain. Asalkan bukan istriku saja!" ujar Andre penuh penekanan.
"Ck, aku bukan pebinor, Bang!" protes Ferhat.
"Baguslah! Jika kau ingin, aku bisa mencarikan wanita yang cocok untukmu," ucap Andre.
"Hmmm, aku tidak suka perjodohan," sanggah Ferhat dengan raut wajah yang kecewa.
"Ah, sudahlah jangan dibikin pusing. Jalani saja kehidupanmu ini. Kau masih muda, masih banyak sesuatu yang harus kau lalui," ujar Andre mencoba memberi semangat.
Ferhat manggut-manggut tanda mengerti. Tentu saja ia akan melupakan Meliza dan akan fokus pada kariernya. Siapa tahu, setelah ia sukses dalam pekerjaannya, saat itu juga wanita cantik dan baik hati akan datang padanya.
Sementara itu, Rumanah tampak melangkah masuk ke dalam kamar bermain. Sandrina sedang berada di sana dengan Omma nya. Tentu saja mereka hanya berdua. Karena, suami Mami Ferhat sudah meninggal tiga tahun yang lalu.
"Hai, princess, Mami." Rumanah menyapa dengan hangat.
Princess Sandrina dan Mami Ferhat menolehkan wajah masing-masing.
"Hallo, Dewi Peri. Eh, maksud princes ... Bunda!" sahut Sandrina yang belum terbiasa memanggil Rumanah dengan panggilan Bunda.
"He he he, tidak apa-apa, sayang," ucap Rumanah seraya mengusap lembut puncak kepala putri sambungnya itu.
"Nanti juga princess akan terbiasa," timpal Mami Ferhat diiringi senyuman hangatnya.
"He he he, iya, Omma." Sandrina menjawab disertai cengengesnya.
Rumanah tersenyum hangat. "Princess, Daddy mengajak princess untuk pulang sekarang," ucapnya memberitahu.
"Hah, puuulaaang?" tanya gadis kecil itu.
"Ya, sayang. Apakah princess masih ingin menginap di sini?" kata Rumanah.
"Eeemh, no! Princess akan pulang. Di sini princess tidak bisa makan ice cream," jawab Sandrina setengah merajuk.
Rumanah tersenyum. "Lah, di rumah princess juga jarang makan ice cream 'kan?" ucapnya.
"Omma melarang princess makan ice cream karena takut batuk, sayang." Mami Ferhat menimpali.
"Benar, Daddy juga melarang princess makan ice cream karena takut batuk. Emh, boleh makan ice cream, tapi jangan sering-sering. Begitu maksudnya," sambung Rumanah.
"Hmmmm, iya iya." Sandrina pasrah dan tidak meyangkal.
Rumanah dan Mami Ferhat tersenyum simpul melihat Sandrina yang menggemaskan.
"Rumanah, Mami titip princess sama kamu, ya. Kelihatannya, kau sangat berbakat dan keibuan. Jangan seperti Luna yang tidak pernah mengurus anaknya," ucap Mami Ferhat.
Rumanah tersenyum serta mengangguk. "Tentu saja, Mam. Rumanah pasti akan merawat dan menjaga princess. Mami tenang saja, ya." jawabnya.
Mami Ferhat tersenyum serta mengangguk.
__ADS_1
BERSAMBUNG...