Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Hampir pingsan


__ADS_3

"Silakan dinikmati makanannya, Pak, Bu." Ucap Ririn pada para tamu undangan. Ya, Ririn selaku adik kandung Meliza tampak sigap membantu acara pernikahan kakaknya itu.


"Iya, Rin." Jawab para tamu undangan.


Ririn tersenyum lantas melangkahkan kaki mendekati tamu yang lain. Namun, pada saat manik matanya menangkap sosok bos tampannya, dengan cepat ia melangkahkan kaki menghampiri bos tampannya itu.


"Pak, Ya Tuhan, ternyata Anda sudah hadir di sini," ucap Ririn saat ia berada di hadapan Andre dan Rumanah.


Andre tersenyum pada sekretarisnya itu. "Hai, Rin. Kukira kau tidak hadir di sini. Astaga!" sahutnya disertai kelakarnya.


Ririn terkekeh kecil mendengar kelakar bos tampannya itu. Sementara Rumanah tampak tersenyum kecil dan bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa wanita ini? Wajahnya cantik dan hampir mirip dengan Meliza. Tapi, tidak! Wanita ini lebih cantik dari Meliza.


"He he he, tentu saja saya hadir, Pak. Kalau saya tidak hadir, pasti saya sudah dipecat jadi adiknya Kak Meliza." Ucap Ririn seraya tersenyum kecil dan sesekali melirikkan matanya pada wanita cantik di samping bos tampannya itu.


Tentu saja ia pun tampak bertanya-tanya dalam hatinya. Pasalnya, ia tidak pernah bertemu dengan wanita cantik yang sedang bersama dengan bos tampannya itu.


Andre tertawa kecil. "Kukira begitu, Rin. Oh ya, kenalkan, ini istriku." ucapnya yang kemudian memperkenalkan istrinya pada sekretarisnya itu.


Sontak saja Ririn terbelalak kaget mendengar pengakuan bos tampannya itu. Apa katanya? Istri? Tentu saja Ririn terkejut dengan kabar itu. Ia tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap bengong pada wanita cantik yang ternyata adalah istri bosnya sendiri.


"Apa? Istrinya? Jadi, si bos sudah menikah? Ah, kenapa aku baru tahu. Tapi, sejak kapan? Astaga. Kenapa si bos tidak mengundangku. Ih, cantik banget lagi istrinya. Kalau gini sih, aku jadi minder. Hmmmm," ucap Ririn di dalam hati.


Rumanah tersenyum pada Ririn, ia menyadari keterkejutan wanita cantik di hadapannya itu. "Hallo," sapanya dengan senyuman manis.


Ririn mengerjapkan matanya dan lamunannya buyar saat itu juga. "Hallo, ah, senang sekali bertemu dengan Anda, Bu." sahutnya dengan senyuman kaku. Ia masih sedikit syok dan tampak setengah tidak menyangka.


Rumanah tersenyum hangat dan berusaha akrab dengan wanita yang sebenarnya membuatnya bertanya-tanya. "Dan, siapa wanita ini? Apakah rekan kerja suamiku? Atau, temannya? Atau, mantan kekasihnya? Astaga!" cerocosnya dalam hati.


"Kau kapan menyusul, Rin?" tanya Andre menyindir.


Ririn mengerutkan alis. "Menyusul apa, Pak?" ia malah kembali bertanya.


Andre tersenyum usil. "Menyusul Kakakmu ke pelaminan." jawabnya yang berhasil membuat Ririn tersentak kaget.


"Hah? Oh, itu. He he, saya belum memikirkannya, Pak." Jawab Ririn dengan senyuman kaku.


"Belum memikirkan atau belum dapat calonnya? Hahay," goda Andre dengan senyuman usilnya.


Ririn menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Astaga, ini sih tegang sekali. Kalau ditanya soal calon menyalon, gue nyerah deh! Belum ada cowok yang mau sama gue. Huwa!" pekik Ririn dalam hati.


"Hust, jangan begitu, tii-rak. Jangan membuatnya salah tingkah. Mungkin saja dia ingin mengejar impiannya terlebih dahulu. Benar begitu, Ririn?" tegur Rumanah dengan sikap ramahnya.


Ririn yang disebutkan namanya tampak mengangkat wajahnya dan mengangguk kecil. Padahal aslinya dia sangat gugup.


"Tii-rak? Itu 'kan panggilan sayang dari bahasa Thailand. Tunggu! Apakah istri Pak Andre berdarah Thailand? Atau memang orang Thailand?" celoteh Ririn dalam hati.


"He he he, aku hanya bercanda, darling." Ucap Andre disertai cengengesnya.


"Hmmm, kamu memang selalu bercanda, hubby." Rumanah berkata sembari menggelengkan kepalanya. "Ohya, kenapa si Ferfer lama sekali." lanjutnya seraya menolehkan wajahnya ke sana kemari.


"Benar, sepertinya dia tidak tahu di mana letak mobil kita, darling," jawab Andre yang juga menolehkan wajahnya ke sana kemari.


"Rin! Sini sebentar!" teriak seorang wanita paruh baya memanggil Ririn.


"Ah, iya!" jawab Ririn mengiyakan. Kemudian ia pamit pada bos tampannya untuk menemui orang yang memanggilnya.


Tak berapa lama, Ferhat datang membawa hadiah untuk Meliza. Ia tampak terlihat tergesa-gesa.


"Huh hah huh hah." Ferhat mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


Rumanah dan Andre dibuat heran dan penasaran oleh pria tampan itu.


"Kau kenapa, Fer? Kenapa ngos-ngosan seperti itu? Habis dikejar anjeng, kau?" sosor Andre bertanya berentetan.


"Gila! Mana ada anjeng di hotel ini." Cicit Ferhat yang tampak masih ngos-ngosan.


"Terus? Kamu kenapa? Seperti habis lari-lari." Rumanah menimpali.


Ferhat menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. "Huffft! Tadi itu, aku...," ucap Ferhat seraya menaikkan bola matanya ke atas.

__ADS_1


Rumanah dan Andre menatap dengan serius. Sepertinya Ferhat sedang berpikir keras.


"Tadi, kenapa?" tanya Andre penasaran.


"Emh, tadi aku bertemu dengan seorang perempuan, gila! Dia itu—" belum sampai Ferhat menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rumanah menyelanya.


"Apaaa? Bertemu dengan wanita gila? Astaga, di mana ada orang gila, Ferfer?" sela Rumanah yang tampak terkejut mendengar ucapan Ferhat.


"Aduh!" Ferhat menepuk jidatnya frustasi.


"Ada apa? Kau benar-benar bertemu dengan orang gila? Terus, kau dikejar-kejar sama orang gila itu?" desak Andre penuh selidik.


Ferhat memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Bukan orang gila! Astaga. Makanya kalau orang ngomong tuh didengarkan dulu sampai selesai, hih!" gerutunya kesal.


Andre dan Rumanah tampak saling beradu pandang tak mengerti.


"Coba jelaskan, kau benar-benar membuang-buang waktu saja, Ferhat!" cicit Andre penuh desakan.


"Oh Ya Tuhan, kalian tidak akan mengerti jika tidak mendengar ceritaku." Ferhat menatap serius pada Andre dan Rumanah.


"Ya sudah, cepatlah kau bercerita!" pinta Rumanah penuh desakan.


Ferhat mengangguk. "Oke, jadi begini. Tadi tuh gue ketemu cewek. Gak sengaja sih gue nabrak dia. Gue kira dia mau marah-marah seperti cewek-cewek cantik pada umumnya. Ternyata, dugaan gue salah dong! Setelah gue minta maaf, dia gak ngomel gak apa. Dia malah tersenyum manis dan berkata 'no problem' astaga. Ini sih cewek idaman banget. Di situ, gue penasaran dan gue ikutin tuh cewek, tapi ... gue kehilangan dia, guys. Gue kehilangan jejak dia. Jadi, gue gak ketemu cewek itu lagi. Gagal deh mau minta nomor whatsapp-nya." Papar pria tampan itu panjang kali lebar kali tinggi.


Ferhat tampak berekspresi kecewa dan menekuk wajahnya murung. Sementara Andre dan Rumanah tampak tersenyum kecil dan geli mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Ferhat.


"Duh, dramatis sekali sih, Fer. Aku dengar kisahmu kok hampir mirip dengan kisah-kisah anak muda di sinetron dan novel-novel yang kubaca. Astaga! Bedanya, kalau di sinetron, dia bisa bertemu lagi dengan cewek itu. Tapi kalau kamu 'kan, gak ketemu lagi. Kasihan banget sih!" celoteh Rumanah seraya menatap iba pada Ferhat.


"Haha, kau belum beruntung, Fer. Tapi, coba kau percaya kata-kataku ini. Walaupun kau tidak bertemu dengan wanita itu untuk saat ini. Tapi, jika dia adalah wanita yang dikirim oleh Tuhan sebagai cinta sejatimu, maka suatu saat nanti kau dan dia akan bertemu dalam keadaan yang berbeda. Cobalah! Yakinlah akan hal itu." Ujar Andre dengan kebijakannya yang berhasil membuat Ferhat sedikit mencerna setiap ucapannya.


"Benar sekali, karena cinta sejati akan kembali walau harus terpisah terlebih dahulu. Aku percaya itu juga kok, hubby." Rumanah menimpali. Ia bicara sembari merangkul manja lengan kekar suaminya.


Andre tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.


"Hmmm, aku juga percaya." Ucap Ferhat. "Kalau gitu, aku akan berdoa semoga Tuhan mempertemukanku kembali dengannya." Lanjutnya.


"Nah, gitu dong!" Andre menepuk kecil pundak mantan adik iparnya itu. "Ya sudah, jika begitu, ayo kita temui Meliza." ajaknya.


Mereka pun berjalan bersama-sama. Rumanah dan Andre berjalan berdampingan, sementara Ferhat berjalan sembari menggandeng keponakannya yang cantik dan menggemaskan.


Meliza tersenyum manis dan berseri-seri. Menyambut tamu undangan yang datang mengucapkan selamat, doa, dan memberikan hadiah untuknya. Sungguh ia terlihat bahagia sekali di hari pernikahannya.


"Hai, Mel." Andre menyapa dengan senyuman. Setelah ia bersalaman dengan kedua orang tua Meliza yang juga berada di puade.


Meliza menolehkan wajahnya, seketika senyuman sumringah terpancar di wajah cantiknya. "Hallo, Pak. Ya Tuhan, ternyata Anda bisa hadir, Pak. Ini sungguh suatu kehormatan bagi saya, Pak." seru sang pengantin baru yang tampak semangat dan antusias.


Andre tersenyum hangat.


"Mbak Mel, selamat, ya. Ya Tuhan, Mbak Mel cantik sekaliiiii!" Rumanah memberikan ucapan selamat pada Meliza.


Meliza tersenyum hangat dan memeluk Rumanah yang sudah lebih dulu mendekatkan dirinya untuk dipeluk.


"Terima kasih, Rumanah. Kau pun sangat cantik dan begitu berbeda hari ini. Elegan sekali." Meliza memperhatikan penampilan Rumanah dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Rumanah tersenyum manis dan tampak malu-malu. Sementara sang suami menatap penuh cinta padanya.


"Hai Aunty, kenapa Aunty berubah menjadi Cinderella? Aunty cantik sekali!" ucap si cantik Sandrina menyapa Meliza.


Meliza tersenyum. "Ya Tuhan, princess. Tentu saja princess yang lebih cantik." jawabnya seraya mencubit gemas pipi tembem Sandrina.


"No, untuk saat ini Aunty Meliza yang lebih cantik dari Princess," sanggah gadis kecil itu.


"He he he, terima kasih, sayang. Aunty sangat tersanjung," jawab Meliza.


"You are very beautiful, little girl. Uncle wants to have a child like you!" ucap suami Meliza yang belum bisa bahasa Indonesia.


(Kamu sangat cantik, gadis kecil. Uncle ingin memiliki anak seperti dirimu)


Sandrina tersenyum manis. "Thank you Uncle. then ask aunty Meliza a cute baby girl like a princess." ucapnya seraya mengedipkan matanya pada Meliza.

__ADS_1


(Terima kasih, Uncle. Kalau begitu, mintalah pada Aunty Meliza seorang bayi yang lucu seperti princess)


Meliza terkekeh kecil mendengar ucapan gadis kecil yang cantik itu. "Haha, Of course, princess. Auntie will ask Daddy princess for the recipe." jawabnya sedikit bergurau.


(Tentu saja, princess. Aunty akan meminta resepnya pada Daddy princess)


Andre terkekeh. "Can not! my recipe is secret and very expensive." jawabnya seraya tersenyum usil pada istrinya.


(Tidak bisa! Resepku sangat rahasia dan mahal)


Meliza tertawa kecil. Diliriknya Ferhat yang sedang tersenyum hangat kepadanya.


"Hei, Fer. Kenapa kau diam saja? Kau tidak bahagia di hari pernikahanku?" sapa Meliza dengan sindirannya.


Ferhat mengerjapkan mata dan berusaha keras mengusir lamunannya. "Oh, sorry. Tentu saja aku sangat bahagia, Mel. Selamat, ya. Semoga pernikahan kalian langgeng dan selalu dihujani dengan kebahagiaan." ucapnya menahan sesak di dada.


Meliza tersenyum seraya mengangguk. "Aamiin, terima kasih, Fer. Semoga kau juga segera dapat pasangan." jawabnya.


Ferhat tersenyum. Dalam hatinya tak berhenti mengamini. Ya, dia bahkan berharap akan bertemu dengan wanita cantik yang tadi ia temui.


"Oh ya, Mel. Aku hanya bisa memberikan hadiah kecil ini padamu. Semoga kau senang dan bisa menerimanya, ya." Andre berkata seraya merogoh saku celananya dan menunjukkan sebuah kunci mobil pada Meliza.


Meliza tampak tersentak kaget namun begitu senang melihat apa yang diberikan oleh mantan bosnya itu.


"Ya Tuhan, ini bukan hadiah kecil, Pak. Ini ... astaga! Luar biasa sekali. Saya benar-benar terharu dan merasa tersanjung, Pak." Meliza berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Andre, Rumanah dan Ferhat tersenyum hangat pada Meliza. Mereka ikut bahagia di hari bahagia wanita itu.


"Terimalah, Mel. Ini hadiah tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan padaku dan perusahaan." Ucap Andre seraya menyerahkan kunci mobil yang masih berada di dalam kotak kecil itu.


Meliza tampak tersenyum sumringah namun menitikan air mata bahagia. "Terima kasih, Pak. Saya sangat bahagia." ucapnya.


"Sama-sama, Mel. Oh ya, hadiah darimu, mana? Darling." Andre menanyakan hadiah dari istrinya.


Rumanah tersenyum.


"Hah? Darling?" lirih Meliza yang tampak heran karena Andre memanggil darling pada Rumanah.


Rumanah tersenyum. "Ini, sayang." jawabnya.


"Sayang?" Meliza semakin pusing tujuh keliling.


"Biar princess saja yang berikan pada Aunty Meliza, Bunda." Pinta si cantik Sandrina seraya menengadahkan tangannya.


"Apa? Bunda?" Meliza semakin dibuat penasaran dan keheranan. Tentu saja dia tidak tahu jika Andre telah menikah dengan Rumanah.


"Kau pasti heran, Mel." Celetuk Ferhat.


Meliza melongo tak mengerti. Sementara Rumanah dan Andre tampak tersenyum kecil dan saling beradu pandang.


"Mantan bosmu ini, sudah menikah dengan mantan pengasuh princess. Kaget gak? Kaget gak? Kaget lah masak enggak!?" ungkap Ferhat yang berhasil membuat Meliza terbelalak kaget dan hampir saja ia pingsan mendengar pengakuan Ferhat.


"Apaaa? Sudah menikah?" ucap Meliza seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia benar-benar syok dan tidak menyangka.


Rumanah dan Andre mengangguk mengiyakan.


"Dia istriku, dan Bunda-nya princess, Mel." Andre mengungkap semuanya pada Meliza yang benar-benar belum tahu. Tentu saja ia sangat terkejut dan hampir pingsan mendengarnya.


"Astaga, ini mengejutkan sekali." Ucap Meliza dengan tubuh yang hampir oleng. Untung sang suami dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Are you ok, Bebi?" tanya suami Meliza.


Meliza mengangguk. "Yes, aku hanya terkejut." jawabnya.


Rumanah dan Andre tertawa kecil melihat keterkejutan Meliza.


"Ini gara-gara kalian berdua, Meliza sampai hampir pingsan, haha!" ucap Ferhat diiringi tawa ngakaknya.


"Haha, mungkin karena kami pasangan fenomenal." Ucap Andre yang juga tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2