
"Daddyyyyyyyy! Bundaaaaaa!" sorak si cantik Sandrina yang tampak semangat empat lima menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
Ya, tepat pukul empat sore, Rumanah dan Andre baru saja sampai ke rumah mereka di Jakarta. Tentu saja keduanya tampak sudah merasa merindu pada princess Sandrina dan Mami juga Papi.
"Ya Tuhan, akhirnya kalian sampai juga," ucap Mami Purwati dengan ekspresi wajah yang terlihat lega.
"Iya, Mam. Kebetulan perjalanan di Bandung tadi sedikit macet saat menuju kota. Jadi, lumayan membutuhkan waktu lama. Ini juga untung saja kami menggunakan jet pribadi. Jadi, tidak terlalu menghabiskan waktu sampai dua puluh empat jam." Andre menjelaskan apa yang terjadi di perjalanan. Senyumannya mengembang dengan sempurna. Ia menatap sang putri kecilnya yang kini tengah ngelendot manja pada istrinya.
"Pantas saja. Kupikir kalian berkelana dulu ke luar angkasa," kelakar Papi Dargono.
"He he he, tidak, Pap. Kami takut membuat kalian berdua kepikiran dan akhirnya sakit karena merindukan kami," timpal Rumanah yang juga berkelakar.
"Cih, kege'eran kau!" desis sang ibu mertua.
Rumanah dan Andre tampak tertawa kecil dan begitu terlihat bahagia. Ya, tentu saja mereka bahagia, sebab saat ini mereka kembali berkumpul dengan Mami dan Papi juga dengan si cantik Sandrina. Di tambah, mereka sudah mendapatkan restu, doa dan harapan dari kedua orang tua Rumanah. Tentunya setelah ini mereka akan membahas tentang pernikahan yang akan mereka laksanakan beberapa minggu mendatang.
"Bunda, kenapa lama sekali sih pulang kampungnya. Princess 'kan jadi sedih karena ditinggalin sama Bunda dan Daddy," rengek si cantik Sandrina yang tampak manja.
Rumanah tersenyum kecil dan mengusap lembut puncak kepala putri mahkotanya itu. "Maafkan Bunda dan Daddy, ya. Sebenarnya Bunda juga merasa berat meninggalkan princess. Tapi, bagaimana lagi, kami harus berangkat mendadak malam itu. Sekarang, princess tidak usah sedih, ya. Karena, Bunda dan Daddy sudah pulang kembali," ujarnya membujuk si gadis kecil yang sedang merajuk manja.
"Benar, kami juga pergi bukan karena bermaksud meninggalkanmu, sayang. Kami pergi karena ada suatu keperluan," timpal Andre.
"Tentulah, princess juga sudah mengerti akan hal ini. Bukan begitu, princess sayang?" Mami Purwati pun ikut menimpali.
Si cantik Sandrina tampak mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang princess ikut Bunda, yuk. Bunda punya oleh-oleh untuk princess," ajak Rumanah sambil menatap lembut wajah cantik putrinya itu.
"Nah, benar itu. Sekarang princess ikut Bunda gih sana. Sementara Daddy akan bicara dengan Omma dan Oppa." Andre turut menimpali.
"Ayok!" seru Sandrina penuh semangat.
Rumanah tersenyum lantas mengusap lembut puncak kepala putrinya itu. Kemudian ia beranjak dari duduknya bersamaan dengan Princess.
"Rumanah," panggil Mami Purwati yang berhasil menghentikan langkah kaki menantunya.
"Ya, Mam?" sahut Rumanah sambil menoleh.
"Oleh-oleh untuk Mami, mana?" tanyanya sambil menengadahkan tangannya.
Rumanah tersenyum kecil dan menolehkan wajahnya pada suaminya yang juga tersenyum, "Oleh-olehnya ketinggalan di jalan, Mam," kelakarnya.
"What? Ketinggalan??" Mami Purwati tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap syok pada menantunya.
"Ya, Mam. Itu oleh-oleh yang kami makan selama perjalanan, maksudnya. He he he. Tenang saja, kalau untuk Mami dan Papi, ada di dalam tas itu." Rumanah berkata diiringi cengengesnya yang tanpa dosa. Kemudian ia menunjuk pada sebuah tas yang berisi oleh-oleh untuk kedua mertuanya.
Mami Purwati menggeleng kecil dan memutar bola matanya, "Kau sudah ketularan suamimu yang jail ini, ya?" ledeknya.
Rumanah terkekeh kecil dan menggeleng.
"Tidak, Mam. Bukan ketularan dari Andre. Tapi, memang kedua orang tuanya pun sama jailnya seperti putrinya ini," sanggah Andre dengan cepat.
"Waw, benarkah? Kupikir kedua orang tuanya sangat serius dan menyeramkan. Rupanya, tidak, ya?" balas Mami Purwati.
"Tidak, Mam. Mereka hobby bercanda juga, sama seperti Mami dan Papi." Rumanah yang menjawab.
"Bagus dong! Itu artinya sebentar lagi kita akan membangun sebuah klub lawak," celetuk Papi Dargono sambil meletakkan kacamatanya di atas meja.
"Ha ha ha, klub lawak? Astaga," Andre tampak tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Papi-nya.
"Sekalian saja bikin Chanel YouTube dengan nama 'Family Lawak'," celetuk Mami Purwati dengan entengnya.
"Nah, itu ide yang sangat bagus. Lumayan 'kan bisa menghasilkan uang," timpal Rumanah.
Andre terkekeh kecil dan menggeleng, "Aku tidak setuju. Kau seperti kekurangan uang saja, darling. Kekayaan dari kedua orang tuamu sudah berlimpah, dan kekayaan milikku juga masih bisa membuatmu tersenyum karena belanja tas Hermes. Mau apa lagi kamu, istriku? Jangan seperti orang kekurangan uang, ya!" cicitnya panjang kali lebar kali tinggi.
Rumanah terkekeh kecil dan bergegas memeluk pundak suaminya, "Bukan begitu maksudku, sayang. Aku hanya bercanda saja. Ini 'kan temanya sedang melawak, bukan? Jadi, aku pun sedikit melawak. He he he," sangkalnya sembari terkekeh.
__ADS_1
"He he he, iya iya. Aku mengerti," balas Andre sambil mengusap lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah tersenyum manis.
"Bunda, katanya mau membuka oleh-oleh untuk princess?" sindir si cantik Sandrina yang berhasil membuat Rumanah tersenyum kaku.
"He he he, iya iya sayang. Ayo, kita tinggalkan para orang tua ini," ucap Rumanah sambil menggandeng tangan putrinya.
"Ck, kalau bicara suka jujur, Rumanah!" decak Mami Purwati sambil mengibaskan kipas bulunya.
Rumanah pun bergegas ke kamar putrinya. Sementara Andre masih berada di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
"Jadi, bagaimana, Ndre? Apakah kedua orang tua Rumanah merestui kalian?" tanya Papi Dargono memulai pembicaraan.
Andre mengangguk pasti dan tersenyum semangat, "Tentu saja, Pap. Mereka merestui kami. Walaupun awalnya ayahnya Rumanah sangat kaget dan tidak menerima Andre, tapi karena pengorbanan dan rasa cinta Andre yang begitu dalam, akhirnya mampu membuat ayah Rumanah tertegun dan menerima Andre menjadi menantunya," jawabnya dengan lugas dan penuh percaya diri.
"Kenapa? Kok tidak setuju? Apa karena tahu kau duda?" tanya Mami Purwati.
"No!" jawab Andre sambil menggeleng. "Tapi, karena Rumanah telah dijodohkan dengan teman kecilnya di Thailand." Andre melanjutkan ucapannya.
Mami Purwati dan Papi Dargono tampak mengerutkan dahi mereka dan seperti tidak percaya.
"Dijodohkan dengan orang Thailand? Kok bisa? Apakah itu semua karena uang?" tanya Mami Purwati penasaran.
Andre menggeleng, ia sudah yakin jika kedua orang tuanya menganggap jika Rumanah adalah gadis desa yang miskin. Ya, semua orang pasti beranggapan seperti itu. Sebab, Rumanah memang menyamar jadi gadis desa yang jelek dan miskin.
"Sebaiknya sekarang Papi dan Mami siapkan jantung untuk mendengar semua yang Andre katakan. Sebab, ini pasti sangat mengejutkan bagi kalian berdua. Jangan sampai karena kabar ini, Mami dan Papi syok dan sampai mengalami jantungan. Itu pasti sangat tidak lucu," kekeh Andre yang berhasil membuat Mami Purwati dan Papi Dargono menatap tak mengerti.
"Sudah jangan banyak bicara yang membuat kami pusing kepala, Andre! Bicaralah yang benar, jelas, tegas, dan tanpa kebohongan." Mami Purwati tampak sedikit kesal dan menekan setiap ucapannya.
Andre tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baiklah," ucapnya sambil merogoh saku celananya, mencari gawai di dalam saku celananya itu.
"Katakan saja, kenapa Rumanah dijodohkan dengan orang Thailand? Kurasa karena kedua orang tua Rumanah memiliki hutang piutang atau karena dijanjikan dengan beragam kekayaan? Atau bagaimana?" desak Mami Purwati yang tampak tidak sabar.
"Bukan seperti itu, Mam. Semua tebakan Mami, tidak ada yang benar!" jawab Andre dengan tegas.
Andre tersenyum, kemudian ia menyeruput mocachino hangat di dalam gelas.
"Begini, sebelumnya kalian harus lihat rumah ini," ucap Andre sambil menunjukkan sebuah gambar rumah di layar gawainya.
Mami Purwati dan Papi Dargono langsung menatap serius dan saksama pada layar gawai putranya.
"Ada apa dengan rumah ini?" tanya Papi Dargono.
"Ya, ada apa? Sepertinya tidak ada yang mencurigakan." Mami Purwati menimpali.
"Jika kau ingin meminta pendapat kami tentang rumah ini. Aku rasa ini rumah tidaklah sederhana. Sepertinya yang punya bukan orang biasa," ucap Papi Dargono sembari memperhatikan rumah itu.
"Benar. Atau jangan-jangan kau ingin membeli rumah ini?" timpal Mami Purwati.
Andre terkekeh dan menggeleng, "No!" sangkalnya, "Sekarang, dengan villa ini?" ia beralih menunjukkan Sanee Village.
Lagi-lagi kedua orang tuanya berdecak kagum dan bertanya-tanya.
"Dengan kebun bunga ini?" Andre menunjukkan kebun bunga yang luas dan subur.
Dan, kembali kedua orang tuanya terkagum-kagum. Begitu seterusnya, Andre menunjukkan semua aset kekayaan milik kedua orang tua Rumanah dan juga termasuk kekayaan milik istrinya itu.
"Andre, sedari tadi kau menunjukkan semua foto-foto itu. Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan dengan foto-foto itu?" desak Mami Purwati yang tampak penasaran.
Andre tersenyum kecil dan meletakan gawainya di atas meja, "Sebenarnya, semua foto yang Andre tunjukkan tadi, itu milik kedua orang tua Rumanah," ungkapnya yang berhasil membuat Mami Purwati dan Papi Dargono terbelalak kaget dan syoknya bukan main.
"Whaaaat???" Mami Purwati tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan membulatkan mulutnya. Tercengang dan terkaget-kaget tentunya.
"Kau tidak berbohong?" selidik Papi Dargono.
Andre menggeleng, "No. Andre berkata jujur. Sudah Andre katakan, sebaiknya Mami dan Papi siapkan jantung agar tidak terkejut dan jantungan. He he he," ucapnya.
__ADS_1
"So, istrimu bukan gadis desa yang kismin?" tanya Mami Purwati.
Andre menggeleng, "No!" jawabnya.
Mami Purwati dan Papi Dargono saling beradu pandang dan tampak terlihat masih syok.
"Ternyata, dia kabur ke Jakarta dan menyamar menjadi gadis desa yang kumel dan kismin karena dia tidak mau dijodohkan dengan orang Thailand itu. Dan, ayah Rumanah itu ternyata asli Thailand. Sementara ibunya asli Sunda. Dan, mereka menetap di desa pada saat Rumanah berusia lima tahun!" ungkap Andre tanpa memotong sedikit pun kisah yang Rumanah ceritakan padanya.
"Astaga! Kukira dia benar-benar gadis desa yang kismin, Ndre. Ternyata, dia holang haya," ucap Mami Purwati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tercengang.
"Ya, itu pun yang Andre kira, Mam," balas Andre.
"Benar-benar penuh teka-teki," timpal Papi Dargono.
Andre tersenyum dan mengangguk. Ya, Rumanah memang penuh teka-teki. Dari awal Andre bertemu dengan wanita cantik itu, dia sudah sering dibuat bingung dan tak mengerti oleh wanita yang kini telah menjadi istri untuknya, juga ibu untuk anaknya.
"Jadi, kapan kalian akan mengesahkan pernikahan kalian?" tanya Mami Purwati pada intinya.
"Kami bersepakat dua minggu yang akan datang, Mam." Andre menjawab dengan raut wajah yang terlihat serius.
Mami Purwati dan Papi Dargono manggut-manggut tanda mengerti.
"Kedua orang tuanya akan datang 'kan?" tanya Mami Purwati penuh selidik.
"Tentu saja, Mam. Mereka pun sangat ingin bertemu dengan Mami, Papi dan juga princess," jawab Andre.
"Baiklah, kalau gitu Mami harus mulai melakukan perawatan agar terlihat cantik di mata besan Mami," ujar Mami Purwati sambil memainkan rambutnya.
Papi Dargono memutar bola matanya malas dan berdecak kecil, "Ck, kalau sudah tua, ya tua saja!" ledeknya.
Mami Purwati tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada suaminya, "Setidaknya aku tidak lebih tua darimu!" balasnya.
"Nyeh! Walaupun aku tua, tapi kalau aku mencari janda, pasti banyak yang datang mengantre padaku!" ucap Papi Dargono mengeluarkan pembelaan.
"Oooh begitu! Ya sudah, sana cari janda! Kalau begitu, aku pun akan mencari bronis, berondong manis!" balas Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.
Papi Dargono tampak membulatkan kedua bola matanya penuh, "Durhaka kau!" tudingnya.
"Kau juga durhaka pada istrimu!" balas Mami Purwati.
Andre hanya terkekeh kecil dan begitu geli menyaksikan kekonyolan kedua orang tuanya itu.
"Tidak ada, ya! Di mana-mana, istri yang durhaka pada suami! Lagipula, tidak akan ada berondong yang mau sama Mami!" ejek Papi Dargono.
Mami Purwati tampak memelototkan kedua matanya, "Sembarangan! Kalau gitu, Mami akan temui berondong yang selalu menggoda Mami di kaffe Kartini itu! Biarin, Papi pasti iri melihat kami bersama," ucapnya tak mau kalah.
"Apa katamu? Mau kukutuk kau menjadi sebongkah berlian, hah?" sungut Papi Dargono.
"Ha ha ha." Andre tampak tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Mami Purwati.
"Kau senang dan setuju 'kan jika Mamimu dikutuk menjadi sebongkah berlian?" tanya Papi Dargono.
"Ha ha, tidak sama sekali, Pap. Andre hanya penasaran, kenapa harus dikutuk menjadi sebongkah berlian? Biasanya 'kan menjadi apa yang menyeramkan gitu," ujar Andre.
"Tidak, kalau dikutuk menjadi yang menyeramkan, itu tidak ada gunanya buat Papi. Tapi kalau dikutuk menjadi sebongkah berlian, itu pasti akan menguntungkan. Karena Papi akan menjualnya dengan harga yang mahal," ucap Papi Dargono yang berhasil membuat Mami Purwati mengerucutkan bibirnya.
"Ha ha ha, benar juga, ya," balas Andre sambil tertawa.
"Hng, dasar suami tidak tahu diri! Sebaiknya aku pergi saja dari pada meladeni suami yang sudah mulai tua dan pikun. Tidak bertenaga, lagi!" desis Mami Purwati sambil beranjak dari duduknya lalu melenggang pergi meninggalkan kedua pria di sana.
Sementara itu di dalam kamar princess, Rumanah tampak sedang bercerita banyak pada putri kecilnya itu.
"Wah, seru sekali ya, Bunda. Kapan-kapan princess mau ke sana dong!" seru Sandrina antusias.
"Tentu saja, sayang. Kau pasti akan ke sana," balas Rumanah sambil mencubit kecil pipi chubby putri cantiknya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...