Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Saling mengirim foto


__ADS_3

Satu minggu setelah Rumanah menemui Luna di sel tahanan, wanita cantik itu kian hari kian ceria. Seakan masalah sudah tak pernah ia pikirkan lagi. Kendati demikian, wanita cantik itu harus tetap waspada dengan keadaan sekitar.


"Maae mau pulang hari ini katanya, sayang." Rumanah bicara pada suaminya yang sedang siap-siap hendak berangkat ke perusahaannya.


"Hah? Hari ini? Apakah kau tidak sedang berjanda? Eh, maksudnya bercanda!?" tanya Andre yang tampak sedikit tersentak kaget.


Rumanah terkekeh kecil mendengar ucapan suami tampannya itu. Masak berjanda!


"Tidak, hubby! Barusan Maae kasih tahu aku, mereka akan pulang hari ini juga. Mungkin siang ini kali," jawab Rumanah sembari memberikan sehelai dasi pada suaminya.


Andre benar-benar kaget dan sangat merasa keberatan karena kedua mertuanya akan pulang hari ini. Tentu saja itu terlalu mendadak, menurut dirinya.


"Kenapa harus hari ini, darling? Besok-besok juga masih bisa, 'kan?" seloroh Andre yang tampak tidak setuju. Pasalnya, hari ini ia akan bekerja dan ada rapat di luar kota. Tentu saja hal itu membuatnya tidak bisa mengantarkan atau melihat keberangkatan kedua mertuanya itu.


Rumanah menggeleng kecil, "Tidak bisa katanya, sayang. Besok itu Phoo ada acara di sana, mungkin itu juga dadakan," jawabnya.


Andre terdiam sejenak dan mengerutkan dahinya berpikir keras, "Jika tetap hari ini, aku tidak bisa melihat keberangkatan mereka, darling," ucapnya resah.


Rumanah tersenyum manis dan mengerti dengan kegalauan suaminya, "No problem, sayang. Yang penting pagi ini kau masih sempat bertemu dengan Phoo dan Maae. Mereka pasti akan berpamitan padamu," ujarnya sembari mengusap lembut dada bidang suaminya.


Andre menatap datar wajah cantik istrinya. Ya, memang benar yang Rumanah katakan, dia masih bisa sempat bertemu dengan Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis. Akan tetapi, ia tidak bisa mengantarkan keberangkatan kedua mertuanya walau hanya seperapat jalan.


"Ya sudah, kalau gitu ayo kita sarapan. Oh ya, kamu tidak apa-apa 'kan kalau aku hari ini rapat ke luar kota? Mungkin bisa menghabiskan waktu selama satu hari. Itu pun kalau selesai di hari ini juga. Kalau tidak selesai, mungkin aku akan menginap. Bagaimana, apakah kau tidak keberatan? Atau kau ingin ikut saja denganku?" ujar Andre panjang lebar. Sekalian ia izin soal pekerjaannya yang mungkin membutuhkan waktu lama.


Rumanah tersenyum, dia bukanlah istri yang suka melarang-larang suaminya bekerja. Atau istri yang manja dan selalu ingin berada di samping suaminya setiap saat. Dia juga bukan istri yang posesif, istri yang selalu curiga dan terkesan mengekang suaminya. Tidak! Rumanah tidak seperti itu. Walaupun usianya masih muda, tapi sifatnya begitu dewasa. Baginya, ketika suaminya ada di rumah, dirinya berhak melakukan apa saja pada suaminya itu. Tetapi ketika suaminya sedang di luar atau sedang bekerja, ia harus menahan dan mengerti keadaan.


"It's oke, hubby. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan di luaran sana, ya! Asalkan jangan bermain-main dengan wanita lain saja!" jawab Rumanah penuh penekanan.


Andre tersenyum kecil sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya, "Perfecto! Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu, darling. Bagiku, tidak ada gunanya bermain-main dengan wanita yang bukan siapa-siapa bagiku. Lebih baik aku menghabiskan waktu seumur hidupku dengan dirimu," ujarnya panjang kali lebar kali tinggi.


Rumanah tersenyum serta mengangguk, "Kupercaya. Ya sudah, jika sudah selesai, ayo kita ke bawah," ajaknya.


Andre mengangguk mengiyakan, lalu mereka pun bergegas ke luar kamar dan masuk lift menuju lantai 3. Sampai lantai tiga, tidak ada lift untuk ke bawah, mereka harus menggunakan tangga biasa.


"Kalian benar-benar akan pulang hari ini?" tanya Mami Purwati penuh selidik.


Maae Lilis mengangguk mengiyakan, "Ya, Mbak. Kami sudah menghabiskan waktu lama di sini. Tidak enak jika kami harus menambah waktu lagi. Kami sudah sangat merepotkan Andre, Rumanah dan kalian berdua," jawabnya dengan raut wajah yang tidak enak.


Mami Purwati mendelikan matanya dan membuang napasnya kasar, "Apa katamu? Tidak enak? Merepotkan? Astaga! Siapa yang direpotkan. Kita ini keluarga. Lagipula, rumah Andre ini sangat lebar dan luas. Jika dibagi perlantai, cukup untuk kita hidup dan tinggal bertahun-tahun di rumah ini. Astaga!" cicitnya mengomeli besannya itu.


Maae Lilis tersenyum kecil dan menatap usil pada besannya itu, "Ya, memang begitu kenyataannya, Mbak. Kami merasa tidak enak karena selalu merepotkan," balasnya.


"Merepotkan siapa, Maae?" tanya Andre yang baru saja tiba ke meja makan.


Maae Lilis tersenyum kecil dan sedikit kaget karena tiba-tiba Andre menyerukan suaranya, "Hehehe, merepotkan kalian semua," jawabnya.


Andre mengerutkan keningnya, "Tidak ada yang direpotkan di sini, Maae," ucapnya sembari mendudukkan bokongnya di kursi.


"Benar, tidak ada yang direpotkan di sini. Lagipula, kalian berdua sudah bisa mandi dan makan sendiri. Jadi, kami tidak repot-repot memandikan dan menyuapi kalian berdua." Mami Purwati tampak menimpali.


"Hehehe, benar. Tapi, tetap saja kami merasa tidak enak. Lagipula, sekarang Sanee sudah tenang dan aman. Jadi, kami sudah bisa pulang ke desa," jawab Maae Lilis.


"Hm, kalian ini terlalu lebay. Bagaimana dengan kami yang sudah lebih dulu di sini daripada kalian. Kalau gitu, kami juga akan segera pulang ke Jogja karena kami merasa tidak enak pada kalian," seloroh Mami Purwati penuh sindiran.


Maae Lilis membulatkan kedua bola matanya penuh, "Loh loh loh, kenapa jadi ikut-ikutan ingin pulang, Mbak? Justru aku merasa kalian bisa menemani Sanee dan Andre di sini," ujarnya.


Mami Purwati memutar bola matanya malas, "Hng! Mereka sudah besar dan dewasa, kali! Untuk apa ditemani. Lagipula, mereka berdua sudah harus membuat adik untuk princess, 'kan! Jadi, tidak ada salahnya kalau kami juga pulang ke Jogjakarta," balasnya memberi penegasan.


Andre dan Rumanah tampak tersenyum simpul mendengar perdebatan Mami Purwati dan Maae Lilis. Padahal, kedua besan membesan itu baru kenal satu bulan yang lalu, tapi rasanya seperti sudah sangat lama sekali. Mereka begitu akrab dan berkeluarga.


"Benar juga! Sepertinya adanya kita di sini, membuat mereka merasa terganggu. Benar tidak?" ucap Maae Lilis dengan tatapan seriusnya.


"Jadi, kalian akan pulang?" tanya Papi Dargono.


Mami Purwati dan Maae Lilis mengangguk mengiyakan.


"Kau akan pulang juga, Omma?" tanya Papi Dargono pada istrinya.


Mami Purwati mengangguk mengiyakan, "Tentu saja. Kau pikir aku akan meninggalkan tanaman hias yang harganya mahal itu? Astaga!" desisnya dengan wajah sinisnya.


"Ya sudah, pulang lah sana. Aku akan tetap di sini menemani princess," ucap Papi Dargono yang berhasil membuat Mami Purwati tersentak kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh.

__ADS_1


"Apaaaa????" sosor Mami Purwati dengan tatapan tajamnya.


"Ya, aku tidak akan pulang. Jadi, kau saja yang pulang. Sekalian urusi ikan koi dan arwana milikku," ucap Papi Dargono santai tenang dan tanpa dosa.


Mami Purwati tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tajam pada suaminya. Rahangnya mengeras dan giginya gemelutuk. Sementara Andre, Rumanah, Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam tampak terkekeh kecil melihat ekspresi kesal Mami Purwati.


"Kalau bicara itu memang suka enak begitu, ya! Apa katamu tadi? Mau menemani princess? Heeeeeiii! Gadis kecil itu kini sudah punya pengasuh, ya! Lagipula, dia akan aman bersama Daddy dan Bunda nya. Jangan suka beralasan! Dan, soal ikan koi dan arwana milikmu, nanti akan kupancing semua lalu kujadikan ikan guling!" cicit Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Ha ha ha ha!" tiba-tiba saja tawa renyah pecah di sana.


Semua orang tertawa, tak terkecuali Sandrina yang baru saja duduk di kursi. Ya, beberapa hari yang lalu, Andre dengan Rumanah memutuskan untuk menyewa jasa pengasuh. Mengingat Rumanah yang kali ini sudah menjadi istri resmi bagi Andre, dan juga mungkin mereka akan segera melakukan program kehamilan, akhirnya mereka benar-benar memutuskan untuk menghadirkan pengasuh untuk Sandrina.


"Jangan lupa kirim ke desa ikan gulingnya ya, Mbak," kelakar Maae Lilis disertai tawa kecilnya.


Mami Purwati mendelikan matanya dan membuang napasnya kasar, "Mau aku jual juga ke luar negeri. Pasti orang-orang bule suka sama ikan guling buatanku itu," ujarnya penuh sindiran.


Papi Dargono hanya menatap datar dan tetap santai. Seolah semuanya akan baik-baik saja, "Jangan terlalu serius, semuanya. Dia memang suka bercanda dan keterampilannya itu memang bercanda. Jadi, santai saja!" ucapnya tanpa dosa.


"Ha ha ha! Papi ini benar-benar. Lihat, Mami itu sudah kesal, lho! Jadi, sudah ah jangan dibuat kesal lagi. Lebih baik sekarang kita sarapan saja," ujar Andre yang tampak tertawa.


Papi Dargono hanya mengangguk kecil dengan ekspresi datarnya, sementara yang lain tampak masih terkekeh. Dan Mami Purwati? Tentu saja ia masih cemberut.


"Oh ya, Maae, Phoo, mohon maaf sekali karena Andre hari ini ada rapat di luar kota. Jadi, mungkin Andre tidak bisa mengantar atau melihat keberangkatan Maae dan Phoo," lanjut Andre yang kini tampak mulai serius.


Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam mengangguk lantas tersenyum.


"Tidak apa-apa, Ndre. Kami sangat mengerti," jawab Phoo Boon-Nam.


Andre mengangguk kecil, "Tadi juga Andre sempat menawar pada Sanee agar pulang di lain hari saja. Tapi kata Sanee, Phoo ada acara di sana besok hari," tuturnya.


Phoo Boon-Nam tersenyum dan mengangguk, "Benar. Tadinya memang kami berniat berangkat pulang di hari minggu. Tapi ternyata ada acara dadakan yang harus dilakukan besok hari. Jadi, kami benar-benar tidak bisa menunda atau membatalkan acara itu," ujarnya penuh penjelasan.


Andre tampak manggut-manggut tanda mengerti. Kerok memang kalau sudah ada acara penting bersifat dadakan dan tidak bisa dibatalkan. Jadi, dia pun sangat mengerti dan tidak bisa melarang-larang kedua mertuanya untuk pulang hari ini juga.


"Ya sudah kalau begitu, Andre sangat mengerti. Tapi, Andre sangat berterima kasih pada Maae dan Phoo karena telah menemani Sanee untuk beberapa waktu di sini. Itu, kami sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua. Hadiahnya ada di depan," ucap Andre panjang lebar. Rupanya ia sudah menyiapkan hadiah untuk kedua mertuanya.


Maae Lilis dan Phoo Boon-Nam tampak tersenyum simpul dan saling beradu pandang untuk sesaat.


"Tidak apa-apa, Maae. Kami memang ingin memberikan hadiah itu untuk Maae dan Phoo," balas Rumanah.


Maae Lilis tersenyum, "Terima kasih, ya. Kami sangat senang sekali. Tapi, kami benar-benar tidak meminta ini, ya!" ucapnya.


Rumanah dan Andre mengangguk mengiyakan. Sementara Papi Dargono dan Mami Purwati tampak tersenyum senang. Tentu saja mereka tidak merasa iri pada Phoo Boon-Nam dan Maae Lilis yang dibelikan hadiah oleh putra mereka.


Setelah selesai sarapan, Andre bergegas berangkat ke perusahaannya. Sementara Sandrina berangkat ke sekolah dengan pengasuhnya yang bernama Septi. Rumanah yang kini menjadi seorang istri, ia tampak tetap berdiam diri di rumah. Kalau bete dan jenuh, ia pun akan bermain ke sekolah princess.


🧚


🧚


🧚


Di perusahaan, Andre menyiapkan segala yang harus ia bawa. Tentunya sang sekretaris yang menyiapkan semuanya. Wanita cantik itu pun akan diajak olehnya ke luar kota.


"Jangan lupa yang akan kita bahas di sana nanti, Rin." Andre berkata sembari mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya.


Ririn mengangguk dengan pasti. Tangannya yang gesit itu masih bergerak mencari apa saja yang harus ia temukan.


"Sudah semua, Pak. Saya juga sudah menghubungi Pak Agung untuk standby di Hotel Horizon," ucap Ririn saat ia telah menyelesaikan tugasnya.


"Baik. Nanti saat kau check in, jangan lupa pesan satu kamar, ya!" perintah Andre.


Ririn tampak mengerutkan dahinya setengah tak mengerti, "Anda akan menginap?" tanyanya penuh selidik.


Andre mengangguk, "Denganmu," jawabnya disertai senyuman usilnya.


Ririn tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kaget pada bos tampannya itu. Mungkin jika dia belum punya kekasih, bisa jadi dia terpincut oleh ketampanan bosnya itu.


"Kenapa kau tegang? Haha, aku hanya bercanda, Rin. Jangan dianggap serius, ya! Istriku bisa mengamuk kalau tahu aku bicara seperti itu padamu," ucap Andre yang berhasil membuyarkan kekagetan Ririn.


Ririn tampak memutar bola matanya malas dan membuang napasnya lega, "Tentu saja, Pak. Saya tahu jika Anda seorang pria yang setia. Dan, saya juga tidak akan berani macam-macam pada Anda dan Nona Sanee," ujarnya.

__ADS_1


Andre tersenyum dan mengangguk.


"Tapi, memangnya rapatnya akan berlangsung lama, Pak?" tanya Ririn.


Andre menggeleng kecil, "Tidak ada yang tahu soal ini. Namanya juga kita akan berdiskusi, Rin. Siapa tahu akan sangat banyak yang kita bahas nanti," jawabnya sembari bangkit dari duduknya.


"Oh, benar juga ya, Pak," ucap Ririn.


Andre mengangkat kedua alisnya, "Oh ya, Rin. Aku ingin si Ferhat menjadi manager di perusahaan ini. Menggantikan posisi manager lama yang akan segera geser. Jangan lupa kau beritahu dia bagaimana cara bekerja yang baik dan giat. Mungkin bulan depan dia sudah akan menjadi manager," ujarnya yang berhasil membuat Ririn tersentak kaget.


"Apa? Ferhat akan menjadi manager?" Ririn malah terkesan tak percaya.


Andre mengangguk mengiyakan, "Kenapa? Kau seperti tidak percaya," sosornya.


Ririn tersenyum kecil dan menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal, "He he he, tidak juga, Pak." Jawabnya.


"Ya sudah, jika sudah selesai, ayo kita berangkat," ajak Andre yang sudah melangkahkan kakinya.


"Siap, Pak!" jawab Ririn yang juga mulai melangkahkan kakinya.


Malam hari, Rumanah tampak merasa kesepian karena sang suami tidak ada di sampingnya. Tapi, walau kesepian, ia tetap tidak bisa meminta suaminya untuk berada di sisinya. Sepertinya memang suaminya itu akan menginap.


Tring!


Rumanah menolehkan wajahnya saat terdengar notifikasi whatsapp di gawainya. Dengan cepat ia menyambar gawainya itu, seketika senyuman ceria mengembang di wajahnya.


"Suamiku," gumamnya saat ia membuka whatsapp yang suaminya kirim padanya.


Rupanya sang suami mengirimkan fotonya yang sedang berada di kamar hotel. Tentu saja hal itu membuat Rumanah merasa rindu pada suaminya itu. Walaupun baru satu hari ia berjauhan dengan suaminya, tapi rasanya sudah seperti lima hari saja.



"Tampan sekali," ucap Rumanah mengirim voice note.


Centang dua warna abu. Tak berapa lama, centang abu berubah menjadi biru. Artinya sang suami sudah membuka pesan suara darinya.


Rumanah tampak senyum-senyum sendiri menunggu balasan dari suaminya. Entah mengapa ia merasa seperti sedang berpacaran.


"Ya iyalah, siapa lagi, dong istrinya. Emh, darling, kau sedang apa? Coba kirim fotomu yang cantik dan seksi," balas Andre yang juga mengirim pesan suara pada istrinya.


Rumanah tampak tersenyum kecil dan tampak salah tingkah. Padahal, suaminya sedang berada jauh di sana, tapi ia seperti sedang bersama suaminya.


"Aku sedang memakai baju daster, sayang. Jadi, tidak seksi," jawab Rumanah sedikit berbisik.


Tak berapa lama...


"Justru kau selalu seksi jika sedang memakai baju daster. Cepat, kirimkan fotomu!" Andre memaksa.


Rumanah terkekeh kecil mendengar suara suaminya. Akhirnya ia pun menyalakan kamera lalu mengarahkan pada wajahnya. Tentu saja terlihat sampai bahu dan dadanya.



"Semoga kamu suka, ya!" ucap Rumanah setelah ia mengirimkan fotonya.


Centang dua biru, tapi Andre sangat lama sekali membalas pesan dari Rumanah. Sementara Rumanah tampak menunggu balasan dari suaminya.


"Kenapa lama sekali, apakah dia sudah tidur? Tapi, pesan dariku sudah dibaca dan WhatsAppnya pun masih aktif," gumam Rumanah yang tampak heran.


Yang terjadi pada Andre...


"Oh My God! Istriku benar-benar seksi dan panda membuatku tak tahan melihatnya. Astaga! Kenapa dia berpose seperti ini? Oh Tuhan, bagaimana ini? Aku begitu ingin mencium bibirnya yang mungil dan seksi ini. Uh!"


Andre tampak uring-uringan melihat foto istrinya yang begitu cantik. Padahal, Rumanah hanya berpose sekali saja, tapi ternyata hasilnya begitu memuaskan dan berhasil membuat Andre kelabakan. Hal itulah yang membuatnya tak segera membalas pesan dari istrinya itu.


Pria tampan itu tampak masih memandangi wajah cantik istrinya. Bibir ranum itu membuatnya hampir saja mengeluarkan encesnya. Kedewasaannya tiba-tiba menggelitik. Ini sangat sulit sekali bagi Andre saat ini.


"Gila! Sepertinya kalau sedang berjauhan dengannya, memang aku tidak perlu memintanya untuk mengirimkan fotonya padaku. Lihat saja saat ini aku seperti orang gila! Astaga!" desis Andre yang tampak mengacak rambutnya frustasi.


Ya, Andre begitu gemas melihat wajah cantik dan bibir ranum istrinya walau hanya di foto saja. Apalagi pasangan suami istri itu memang sudah satu bulan tidak melakukan hubungan suami istri setelah peristiwa keguguran yang menimpa Rumanah.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2