Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Sudah saatnya


__ADS_3

Andre duduk di sofa kamarnya. Sementara kedua orang tuanya duduk di hadapannya. Tatapan serius dan penuh intimidasi terpancar dari manik mata kedua lansia itu. Suasana seketika mencekam dan terasa tegang bagi Andre.


"Janganlah kau seperti itu, Andre! Jangan mentang-mentang kau majikan dan gadis itu hanya sebagai pengasuh putrimu lantas kau bisa semena-mena padanya. Astaga! Papi benar-benar akan menikahkan kalian berdua jika sesuatu terjadi. Kau ingat pesan Papi? Jangan berani kau rusak seorang wanita dengan gairah se*ks mu!" ujar Papi Dargono yang tampak memarahi putra tunggalnya itu.


Ya, Papi Dargono memang bukan orang yang suka merusak harga diri atau menyakiti seorang wanita. Baginya, wanita adalah perhiasan yang harus dijaga. Maka tak heran jika ia sangat merasa kesal saat mendengar kabar jika putranya membawa pergi seorang gadis sampai menginap dan pulang keesokan harinya.


Andre terdiam dan tampak terhenyak kaget mendengar ucapan Papi nya. Ia tahu jika sang Papi sedang marah dan kesal padanya. Tapi, ia harus bicara apa? Sementara kedua orang tuanya tidak percaya pada ucapannya. Haruskah ia mengatakan semuanya? Mengatakan jika dirinya sudah menikah dengan Rumanah?


"Astaga, jauh sekali pemikiran Papi terhadapku. Jika seperti ini terus, Papi akan mengira aku benar-benar menjadi pria berandal dan perusak harga diri wanita. Astaga! Lantas, aku harus bagaimana?" ucap Andre dalam hati. Ia tampak diam dan menatap kosong pada meja di hadapannya.


"Ayolah kau katakan apa yang kau lakukan pada gadis itu, Andre!? Sangat tidak profesional jika kau berani menodai seorang gadis yang tidak berdosa, astaga!" cicit Mami Purwati yang tampak menekan setiap ucapannya.


Andre masih terdiam dan bingung harus bicara apa. Sementara kedua orang tuanya benar-benar mendesaknya untuk berkata jujur.


"Astaga, apa yang harus aku lakukan? Mami dan Papi bersikap seolah aku sudah melakukan kejahatan pada Annabelle. Tapi, jika aku tidak mengklarifikasi, maka ... Mami dan Papi pasti akan mengklaim aku sebagai pecundang. Astagan!" cerocos Andre dalam hati.


Mami dan Papi tampak saling berbisik satu sama lain. Melihat sang putra yang hanya diam tanpa kata, membuat kedua lansia itu ingin melakukan sesuatu.


"Andre! Jawab pertanyaan kami. Apa yang kau lakukan pada gadis itu? Sementara princess menginap di rumah mantan besanku, kau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Astaga!" semprot Papi Dargono semakin kesal.


"Ayo jawab, Andre! Kenapa kau diam saja? Apa yang kalian lakukan dari malam hingga siang hari ini? Tidak mungkin jika kalian hanya berputar-putar keliling kota mengenakan mobil. Itu sangat tidak masuk akal." Mami Purwati kembali mengomeli putra tunggalnya itu.


Andre mengusap wajahnya kasar dan membuang napasnya berat. Ia sangat bingung harus berkata apa. Ia sudah berusaha berbohong pada kedua orang tuanya, tapi tetap saja kedua lansia itu tidak mudah mempercayai ucapan putra tunggalnya itu.

__ADS_1


"Jika kau tidak mau menjawab, maka kami akan menemui gadis itu dan akan kami tanyakan apa yang kau lakukan padanya semalam!" ancam Mami Purwati penuh penekanan.


Glek!


Andre tampak menelan ludahnya kasar dan masih diam di tempat. Semenatara, sang Mami dan sang Papi tampak sudah beranjak dari duduk mereka.


"Ayo, Mam. Lebih baik kita tanyakan langsung pada gadis itu. Papi sungguh tidak sudi memiliki anak yang berani menodai dan merusak harga diri seorang wanita," ucap Papi Dargono seraya menatap tajam pada putra tunggalnya itu.


"Tunggu tunggu tunggu!" dengan cepat Andre beranjak dari duduknya lalu mencoba menghentikan kedua orang tuanya agar tidak melakukan apa yang hendak mereka lakukan.


"Mau apa? Kau seperti orang bisu dan seperti tersangka pemerkosaan. Mami ingin mendengar langsung dari gadis itu!" ucap Mami Purwati mendesak putra tunggalnya.


Andre melipat bibirnya ke dalam. Jari jemarinya ia mainkan, tatapannya kosong ke depan. Sementara dalam hatinya tak berhenti bicara


Andre membuang napasnya perlahan dan siap mengatakan yang sebenarnya. Memang tidak ada gunanya lagi ia tutup-tutupi pernikahannya dengan Rumanah.


"Emh, sebaiknya Mami dan Papi duduk dulu di sini. Andre akan bicara serius dan pasti akan membuat Mami dan Papi terkejut-kejut." Andre bicara sembari menuntun Mami dan Papi nya untuk duduk kembali di sofa.


Kedua lansia itu pun menuruti perintah putra tunggal mereka. Tetap saja, tatapan keduanya penuh intimidasi pada putra Andre.


"Apa yang akan kau katakan, Andre? Mami curiga dan sangat takut jika kau benar-benar menodai gadis itu. Astaga," cicit Mami Purwati yang tetap menyangka sang putra menodai Rumanah.


Andre memutar bola matanya dan membuang napasnya kasar. "Ck, dengarkan dulu lah, Mam." ucapnya meminta pengertian.

__ADS_1


"Its oke!" jawab Mami Purwati sembari mulai memasang wajah serius. Begitupun dengan Papi Dargono, ia tampak menatap serius dan penuh intimidasi pada putra tunggalnya itu.


Sementara itu, Rumanah tampak keluar dari lift dan berjalan menuju kamar suaminya. Tak ada yang ingin ia lakukan selain menyampaikan keinginan putri sambungnya. Ya, tentu saja ia tidak tahu jika kedua orang tua Andre, lebih tepatnya kedua mertuanya berada di kamar suaminya.


"Ada-ada saja princess, masak dia ingin pergi ke kebun binatang hari ini juga. Pakai maksa segala lagi," ucap Rumanah pada dirinya sendiri.


Tanpa pikir panjang, Rumanah pun memencet tombol di samping pintu kamar suaminya. Tentu saja ia sudah menadapt izin dari suaminya untuk bisa masuk ke kamar Andre kapan saja. Dan hal itu membuat Rumanah semakin leluasa dan berani.


Ssrreeeetttttt!!!


Pintu kamar terbuka, wanita cantik itu melangkah masuk tanpa memiliki prasangka apa-apa. Jalannya santai dan seperti biasa manik matanya langsung tertuju pada ranjang king size yang biasa ia tiduri dengan suaminya.


"Wait, kok tidak ada di ranjang. Katanya ingin beristirahat," gumam Rumanah yang tampak masih melangkahkan kakinya. Ia begitu terheran-heran saat melihat ranjang yang kosong tanpa penghuninya.


Langkah kaki Rumanah perlahan-lahan dapat terdengar oleh Andre, Mami Purwati dan Papi Dargono. Hal itu membuat Andre sangat terkejut dan tentu saja ia tahu jika itu adalah langkah kaki istrinya.


"Siapa yang masuk, Ndre?" tanya Mami Purwati sembari menolehkan wajahnya pada arah ranjang.


Andre terdiam dan membulatkan kedua bola matanya penuh. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya dan menatap sosok wanita yang berdiri di samping ranjang. Ya, Rumanah belum menyadari sang suami sedang duduk di sofa bersama kedua orang tuanya.


Jarak antara ranjang dan sofa memang sedikit terpisah jauh. Dan hal itu membuat Rumanah tidak menyadari keberadaan tiga orang di sana.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2