
Sesampainya di Jogjakarta, Andre langsung menyuruh Joe untuk bergegas menuju kediaman orang tuanya.
"Joe, langsung ke rumah Mami saja." perintah Andre pada supir pribadinya.
Joe pun mengangguk mengiyakan.
Andre menatap jalanan kota Jogjakarta, pikirannya berkelana ke mana-mana. Terlintas di kepalanya kenangan delapan tahun yang lalu. Kenangan di mana dirinya bertemu dengan Luna—mantan istrinya, saat Luna mendapat job pemotretan di Candi Prambanan.
Untuk pertama kalinya dua insan yang tak saling kenal itu bertatap muka tanpa sengaja. Luna yang memiliki paras cantik penuh pesona, mampu membuat Andre yang saat itu masih merintis usahanya di Ibu Kota tampak terpincut olehnya.
Sejak pertemuan yang tak sengaja itu, Andre tak bisa berhenti untuk memikirkan Luna. Hingga ia mendatangi tempat syuting Luna dan meminta nomor ponsel model cantik itu.
Kenangan delapan tahun yang lalu itu memang sangat indah dan mengesankan. Andre tersenyum simpul kala memutar ingatannya kembali tentang Luna. Wanita cantik yang mampu membuat Andre mengungkapkan cinta untuk pertama kalinya.
"Bos, kita sudah sampai." ucap Joe yang berhasil membuat Andre meninggalkan kenangannya.
"Oh oke." jawab Andre seraya menyadarkan pikirannya kembali.
Joe membunyikan klaksonnya agar security membukakan pintu gerbang untuk mereka. Sementara itu Rumanah yang berada di samping Joe tampak masih terpejam nikmat. Begitu pun dengan Sandrina, gadis kecil itu tidur di atas pangkuan Daddynya.
Tak berapa lama security pun membukakan pintu gerbang besar itu, Joe segera melajukan mobilnya kembali.
"Joe, kau bangunkan gadis Desa itu. Sementara aku akan menggendong princess." titah Andre pada supir pribadinya.
Joe menelan ludahnya kasar dan mendelikkan matanya. Namun tak bisa ia tolak perintah bos dudanya itu.
"Hei, bangun! Kita sudah sampai." Joe berbisik mencoba membangunkan Rumanah. Namun gadis Desa itu tampak masih terpejam.
__ADS_1
"Haha, kau membangunkan atau menidurkan?" celetuk Andre yang tampak tertawa kecil melihat Joe berbisik pada Rumanah.
Joe nyengenges dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu bagaimana bos?" tanyanya dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Guncangkan bahunya." jawab Andre memberi saran.
Joe terdiam dan terlihat ragu.
"Kenapa kau diam? Jika gadis Desa ini tak bangun-bangun juga, maka terpaksa kau harus menggendongnya. Haha." celetuk Andre diiringi tawa ngakaknya.
Joe tampak terhenyak kaget namun ia ikut tertawa ngakak. Pada saat itu Rumanah terbangun karena merasa terganggu oleh tawa ngakak dua manusia itu.
Rumanah mengerjapkan matanya dan menguap nikmat. Tawa Joe dan Andre tampak masih menggelegar. Tentu saja hal itu membuat Rumanah sedikit tersinggung dan malu.
Dengan pelan ia menolehkan wajahnya ke belakang, melihat Sandrina yang masih terpejam dalam pangkuan Andre.
"Kenapa? Kau mau juga tidur di atas pangkuan bos?" celetuk Joe yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
"Kalau ngomong suka gak masuk akal!" cetusnya seraya nyonyorin tangannya pada lengan Joe. Menampakan ketidakterimaannya.
Andre yang mendengar itu tampak tersenyum sinis.
"Halah, ngaku saja kau. Semua wanita di muka bumi ini pasti ingin merasakan kelembutan bos kita, bahkan para wanita bangsawan pun berbondong-bondong ingin menjadi istrinya. Dan kau, hanya seorang gadis Desa yang lusuh, cupu, dan kampungan ini malah sok-sok'an tidak mau." tuding Joe panjang lebar.
Rumanah mengerlingkan kedua manik matanya. Ucapan Joe benar-benar membuat hatinya panas. Dia memang bukan wanita yang cantik dan sempurna. Tapi, dia memilih untuk meninggikan harga dirinya ketimbang kecantikan wajahnya.
__ADS_1
"Dengar ya, aku memang bukan orang kaya dan hanya wanita biasa. Tapi, aku diciptakan oleh Tuhan agar menjadi wanita yang memiliki hati yang baik dan tulus. Untuk apa wajah cantik dan uang yang banyak, sementara hatinya busuk dan wataknya buruk." tegas Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
Joe dan Andre tampak tercengang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Rumanah. Keduanya tampak terdiam dan saling beradu pandang.
"Kenapa? Apakah ucapanku salah? Apakah ucapanku melukai hati kalian?" selidik Rumanah.
Andre dan Joe tampak masih terdiam. Mereka benar-benar diskak matt oleh gadis Desa yang mereka katakan lusuh dan cupu itu.
"Maaf, aku memang gadis Desa yang kampungan. Jauh dari yang namanya sempurna. Tapi, aku bersyukur karena Tuhan selalu menjaga lisanku agar tidak menghina makhluk ciptaan-Nya." lanjut Rumanah dengan suara yang bergetar.
Lagi-lagi Andre dan Joe dibuat diam dan bungkam. Keduanya tampak masih tercengang dan melongo seperti orang beg*.
Sementara itu Rumanah tampak menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Kedua manik matanya tampak menyapu halaman rumah Omma Sandrina di balik kaca jendela mobil.
"Kau, terlalu banyak bicara dan sudah mulai lancang!" tiba-tiba Andre berucap dengan suara yang dingin.
Rumanah terdiam tanpa menoleh. Dia tahu jika majikannya tidak terima dengan ucapannya.
"Maaf jika saya membuat hati Anda terluka, Tuan." Rumanah menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.
"Saya bersedia berhenti menjadi pengasuh princess jika Anda menginginkan hal itu terjadi." lanjutnya dengan suara yang berat.
Andre membuang napas kasar dan mengusap wajahnya kesal. Melihat wajah tenang princess membuat Andre enggan membiarkan Rumanah berhenti menjadi pengasuh putrinya.
"Tetap temani princess!" ucap Andre penuh penekanan.
****
__ADS_1