
Andre memakai jaket hitam berbahan kulit yang berguna untuk menutupi identitasnya. Tak lupa topi, masker dan kacamata hitam pun ia gunakan.
"Kenapa harus seperti itu, Tuan?" tanya Rumanah seraya menatap intens pada suami tampannya itu.
Andre tersenyum. "Kenapa? Emh, agar ketampanan dan kegagahanku tidak terlihat oleh siapa pun, Darling." jawabnya.
Rumanah mengerutkan dahinya. "Tumben sekali, biasanya Anda selalu narsis," ucapnya. Padahal ia tahu jika suaminya sedang menyamar agar tidak dapat dikenal oleh siapa pun.
"Hehehe, aku hanya narsis jika sedang berada di atas ranjang bersamamu, Annabelle," jawab Andre disertai cengengesnya.
Rumanah memutar bola matanya dan menyunggingkan senyuman tipisnya. "Dasar mesum," desisnya seraya mencubit gemas pinggang suami tampannya.
"Hehehe, aku hanya mesum padamu saja, Belle." Andre berkata seraya membuka pintu mobilnya.
Rumanah tersenyum. Setiap kali ia menyaksikan tingkah manja dan manis suaminya, terbesit keinginan untuk segera memiliki buah cinta dengan suaminya. Tapi, mengingat statusnya masih menjadi istri sirri, wanita itu malah selalu wanti-wanti dengan yang namanya kehamilan.
"Come on, Darling." Andre mengulurkan tangannya pada istrinya. Pria tampan itu benar-benar membuat Rumanah semakin terbucin-bucin.
Rumanah tersenyum lantas menyambar tangan suaminya. Dengan pelan ia turun dari mobil sport milik suaminya itu.
"Kenapa kita harus ke sini, Tuan? Apakah tidak terlalu belebihan?" tanya Rumanah.
Andre menggeleng. "No! Pantai adalah tempat yang cocok untuk honeymoon." jawabnya.
"Hah? Honeymoon?" Rumanah tampak terjingkat kaget mendengar jawaban suaminya.
Andre mengangguk seraya tersenyum. "Yes, honeymoon. Kenapa kau terkejut begitu? Kita perlu melakukannya, Darling." jawabnya santai seraya menyelipkan anak rambut istrinya.
"Hmm, setiap malam pun kita melakukan honeymoon, Tuan," balas Rumanah.
"Hehehe, itu beda lagi. Kalau di kamar kita, bukan honeymoon namanya, tapi sugarmoon," ucap Andre.
Rumanah terkekeh kecil. "Hihi, bukan sugarmoon, Tuan. Tapi, sugar Daddy, hihi," balasnya.
"Hehehe, bisa saja kamu," ucap Andre seraya mencubit gemas pipi mulus istrinya. "Dia mengerti bahasa inggris. Hmmmm, nampaknya dia sangat berbeda dengan Annabelle yang pertama kali kukenal," batinnya berucap.
"Hehe," Rumanah hanya nyengenges.
"Ya sudah, sebaiknya ayo kita nikmati pantai dan honeymoon yang hanya membutuhkan waktu..." Andre melirikkan matanya pada arloji yang membelit pergelangan tangannya. "Tiga jam!" lanjutnya yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
"Hah? Tiga jam?" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan membuang napasnya berat.
"Ya, hanya tiga jam. Karena kita harus kembali ke rumah sebelum princess pulang sekolah," jawab Andre yang berhasil membuat Rumanah paham.
"Astaga, benar juga. Kenapa aku sempat tidak memikirkan princess," ucap Rumanah dalam hati.
Rumanah mengangguk tanda mengerti. Setelah itu, mereka berdua pun melangkahkan kaki bersama-sama menyapa pasir pantai yang terasa hangat.
"Duduk di sana, kau pasti tidak pernah menikmati pantai semacam ini, bukan?" ucap Andre seraya menunjuk pada saung minimalis yang terlihat sejuk.
"Hhmmmm, benar juga. Ini kali pertamanya saya bermain di pantai, Tuan," jawab Rumanah.
Andre tersenyum. Mereka pun duduk di saung yang menghadap hamparan pantai yang indah.
"Apakah kau senang? Oh ya, kita bisa berfoto di sini, Darling." Andre bicara sembari meraih ponselnya dan mencari camera di sana.
Rumanah tersenyum lantas mengangguk. "Ya, saya sangat senang sekali, Tuan. Terima kasih, ya!" jawabnya seraya menyandarkan kepalanya pada pundak kekar suami tampannya.
"Tersenyumlah yang manis, Darling," ucap Andre seraya mengarahkan ponselnya pada wajah mereka berdua.
__ADS_1
Rumanah melirikkan matanya pada camera lalu melengkungkan bibirnya membentuk senyuman termanis yang ia miliki.
Cekrek!
Satu pose berhasil tersimpan di memori. Keduanya tampak puas dan mengulang pemotretan dengan pose yang lain.
"Coba lihat fotonya, Tuan. Bagus atau tidak," pinta Rumanah.
"Pastinya bagus dong, Darling," ucap Andre seraya mulai menunjukkan foto mereka tadi.
"Waaaah, yang ini lucu sekali. Jangan lupa kirim ke whatsapp saya, Tuan." Rumanah tampak bersorak dan sangat semangat.
"Tentu saja. Tapi ingat, jangan diposting di sosial media, ya!" tegas Andre.
"Hehe, tidak akan. Lagipula, saya tidak memiliki sosial media, Tuan. Hanya whatsapp saja," jawab Rumanah disertai cengengesnya.
Andre tersenyum. "Sudah kukirim," ucapnya.
"Hmm, belum masuk," sahut Rumanah seraya melirikkan matanya pada layar ponselnya.
"Data selulermu belum kau hidupkan, Annabelle! Sampai ikan asin berubah menjadi ikan manis pun foto-foto yang kukirimkan tidak akan masuk ke dalam whatsappmu! Astaga," cicit Andre yang tampak kesal-kesal geli.
"Hahaha, benar juga. Saya lupa, Tuan." Rumanah tampak tertawa setelah mendengar ucapan suaminya.
"Dasar! Sudah ah, sebaiknya kita check in dulu, katanya di villa pantai ini, menyajikan suasana honeymoon yang manis dan menenangkan. Aku sudah tidak sabar untuk mengobrak abrik seluruh tubuhmu sembari menikmati angin pantai dan pemandangan indah," ucap Andre penuh semangat.
"Wah, benarkah, Tuan? Apa itu artinya kita akan melakukannya di tempat terbuka?" tanya Rumanah.
"Tidak, kita berada di dalam villa yang memiliki jendela kaca menghadap pantai yang luas dan aestetich ini. Tidak usah khawatir, tidak akan ada yang melihat kita, karena villa itu menghadap langsung ke bibir pantai yang tidak akan disinggahi oleh siapa pun. Pokoknya kau akan terkesan dengan nuansa keindahan dan kenyamanannya, Darling," terang Andre panjang lebar.
"Hmmmm, begitu rupanya. Tapi, kenapa Anda sangat hafal sekali. Apakah Anda pernah honeymoon di sini bersama ... mantan istri Anda?" celetuk Rumanah mengandung penyelidikan.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kesal pada istrinya. "Apa yang kau katakan, Annabelle. Aku sangat tidak suka membahas lintah darat itu! Tentu saja ini kali pertamanya aku akan menikmati honeymoon di villa itu. Ah, sudahlah jangam banyak bicara. Ayo kita bergegas! Waktu kita tinggal dua jam lagi," sungutnya yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Tunggu di sini, aku akan mengurus segalanya," ucap Andre.
"Baik," jawab Rumanah singkat. Ia tampak tersenyum dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut di tempat itu. "Hmmmmm, sejuknya. Aku heran deh, kenapa setiap hari harus melakukan olahraga di atas ranjang? Memangnya setiap pengantin baru pasti seperti ini? Apa hanya aku dan dia saja? Hmmm, sepertinya kami pasangan pengantin baru yang tidak normal. Astaga!" cerocosnya dalam hati.
Beberapa menit kemudian...
"Ayo, Darling. Kita menyewa villa vvip. Siapkan dirimu dan nikmatilah honeymoon dadakan ini, hehehe," ucap Andre seraya menggandeng tangan istrinya.
Rumanah tersenyum manis. "Anda terlalu serakah, Tuan." sahutnya.
"Serakah bagaimana, Annabelle?" tanya Andre tak mengerti.
"Serakah! Setiap hari harus bergelut dengan saya di atas ranjang. Memangnya tidak bosan apa? Untung saja saya ciptaan Tuhan, jadi tetap utuh dan kuat. Bagaimana kalau saya ciptaan manusia? Ah, pasti sudah remuk dan hancur berantakan!" oceh Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Hehehehe, kenapa kau kesal begitu? Justru harusnya kau bangga dan gembira. Karena suamimi ini tidak ada bosan-bosannya bercinta denganmu. Karena, kau tidak membosankan. Mucchh!" ucap Andre diiringi dengan ciuman manisnya pada pipi mulus istrinya.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh. "Ish, jangan cuam cium di sembarang tempat, Tuan!" omelnya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru di tempat itu.
Andre terkekeh. "Hehehe, santai saja. Tidak akan ada yang memarahi kita, Darling," ucapnya santai.
"Hmmm, bukan itu masalahnya. Tapi, saya malu dilihat oleh banyak orang. Astaga!" cicit Rumanah setengah sebal.
"Hehehe, tidak usah malu. Kau dicium oleh suamimu yang tampan dan mapan ini. Jadi, percaya diri saja!" ucap Andre yang kemudian memakai maskernya kembali.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya pasrah.
__ADS_1
•
•
Andre dan Rumanah berjalan bergandengan tangan melewati jembatan kayu yang di bawahnya hamparan air pantai yang dangkal. Tentu saja mereka sedang menuju sebuah villa vvip yang sudah Andre pesan.
"Indah banget ya, Tuan. Saya benar-benar tidak pernah bermimpi untuk bisa pergi ke tempat ini," ucap Rumanah seraya menyapu setiap objek yang memang sangat indah sekali.
"Apakah kau senang? Kau menyukainya? Jika kau ingin, aku bisa membeli beberapa villa di sini untuk menjadi tempat honeymoon kita, sayang," ucap Andre yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh.
"Hah? Membeli villa di sini? Ah, itu terlalu berlebihan, Tuan. Saya memang menyukai keindahan pantai ini, tapi ... tidak bermimpi untuk memiliki villa di sini," ucap Rumanah.
"Hehehe, 'kan jika kau ingin." Andre terkekeh kecil.
Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke villa yang luar biasa indahnya. Hanya beberapa menit saja, mereka berdua sudah sampai ke villa yang mereka sewa.
"Ayo, waktu kita tinggal satu jam empat puluh menit lagi." Andre menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam villa itu.
Rumanah tersenyum. "Dalam satu jam, kita harus menikmati empat gaya bercinta, Tuan." ucapnya.
"Hehehe, kau nakal sekali. Memangnya gaya apa yang kau sukai, Annabelle?" tanya Andre.
"Emh, semua gaya. Kecuali gaya kodok terbang," jawab Rumanah disertai senyuman nakalnya.
"Hah? Gaya kodok terbang? Aku baru mendengarnya," ucap Andre seraya menurunkan istrinya.
"Anda tidak tahu, bukan? Hmmmm, saya juga tidak tahu. Makanya saya bilang tidak suka pada gaya itu. Hehehe," ucap Rumanah disertai cengengesnya.
"Astaga, dasar istri nakal! Kupikir memang ada gaya semacam itu, Annabelle!" sungut Andre seraya mengacak gemas rambut istrinya.
"Hehehe, tidak ada. Emh, coba lihat itu, Tuan. Pemandangannya indah sekali. Kok bisa ya, ada gunung di tengah-tengah laut seperti itu," ucap Rumanah yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati jendela yang terbuka lebar.
Andre tersenyum, ia sangat senang sekali melihat antusias sang istri yang terlihat gembira.
"Indah, bukan? Itulah ciptaan Tuhan, walau di tengah lautan seperti itu, gunung itu tidak goyah dan tetap kokoh. Apakah kau ingin pergi ke gunung itu? Kudengar di sana ada tempat tinggal," ucap Andre seraya melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya.
"Hmm, indah sekali, Tuan. Benarkah? Gunung itu ada penghuninya?" Rumanah bicara seraya memandangi hamparan pantai biru dan gunung minimalis di tengah-tengah laut. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya. Mungkin hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit jika menggunakan perahu mesin atau kapal.
"Ya, di sana ada penghuninya. Mereka yang akan mencari ikan ke laut lepas," jawab Andre seraya membuka topi, jaket dan maskernya.
"Hmmmmm, hebat sekali, mereka tidak takut pada ikan hiu," ucap Rumanah.
"Kalau ikan hiunya cantik seperti kamu, aku pun tidak akan takut, Belle," goda Andre seraya memutar tubuh istrinya agar menghadap kepadanya.
Rumanah tersenyum. "Kalau saya jadi ikan hiu, saya yang akan takut pada Anda, Tuan." ucapnya seraya membelai lembut dada bidang suaminya.
Andre terkekeh kecil mendengar ucapan istrinya. "Hehehe, kau benar-benar menyabalkan. Tapi, walaupun kau takut, pada akhirnya kau akan hanyut ke dalam pelukanku, Darling," ucapnya seraya memeluk manja istri cantiknya itu.
Rumanah tersenyum manis. Untuk sesaat mereka berdua berpelukan dan saling menyatukan detak jantung yang terdengar merdu bagi mereka berdua.
"Waktu kita tinggal satu jam dua puluh menit lagi, Belle. Dalam waktu satu jam, kita akan bercinta sampai puas dan lelah sembari menikmati deburan ombak, angin pantai dan pegunungan. Dua puluh menit, kita gunakan untuk mandi dan makan. Setelah itu, kita akan langsung capcuss pulang ke rumah," ucap Andre seraya mengusap lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah tersenyum serta mengangguk. "Ya, saya mengerti." ucapnya seraya meletakkan tas selempangnya dan membuka kancing dress simple nya satu persatu.
Andre tersenyum manis dan menatap penuh cinta pada istri cantiknya itu. "Biar aku saja," ucapnya sembari mengambil alih.
•
•
__ADS_1
"
BERSAMBUNG...