
Rumanah berlari kecil masuk ke dalam kamarnya. Tak peduli pada Pak Muhsin yang baru saja keluar kamar. Chef dingin itu tampak heran pada wanita yang menjadi penghuni wanita pertama setelah Luna.
"Ada apa dengannya? Aneh sekali," gumam Pak Muhsin seraya memakai celemek masaknya.
Sementara itu di dalam kamar...
"Hiks hiks hiks hiks, apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku tidak ingin hamil, hiks hiks hiks hiks!" ucap Rumanah di tengah-tengah isak tangisnya.
Wanita cantik itu sangat ketakutan dengan kehamilan yang mengintainya. Walaupun ia tahu dan yakin jika sang suami akan bertanggung jawab, tapi tetap saja ia merasa takut dan belum siap. Banyak sekali hal yang membuatnya ragu.
"Kenapa aku harus terjerat oleh cinta majikanku sendiri. Dan, bodohnya aku yang dengan mudah jatuh cinta padanya. Huwaaaa huwaaa! Padahal, belum tentu pria itu benar-benar mencintaiku. Hiks hiks hiks," kali ini Rumanah mengoceh sendiri. Menatap dirinya di pantulan cermin.
"Astaga, tato merah ini. Ck, benar-benar menyebalkan! Dia benar-benar tidak mau mendengarkan dan menghargai ketakutanku. Awas saja kau, aku tidak akan melayanimu lagi. Pokoknya aku kesaaaaaal sekali padanya!" oceh Rumanah seraya menyentuh lehernya yang penuh dengan tato merah buatan suami tampannya itu.
Sementara itu di kamar Andre...
Pria tampan itu berdiri di depan jendela kamar yang sudah ia buka. Membiarkan angin pagi dan sejuknya udara pagi masuk ke dalam kamarnya. Manik matanya menatap kosong pada kolam renang yang ada di halaman samping rumahnya.
"Sebenarnya apa yang membuat Annabelle sangat tidak ingin hamil? Apakah dia pikir pernikahan ini hanya main-main? Astaga, dia benar-benar kekanak-kanakkan. Harusnya dia terima apa pun risikonya. Toh, aku juga tidak akan meninggalkannya begitu saja." Andre bicara di dalam hati.
Andre sangat heran dengan sikap dan penolakan Rumanah.Padahal dia sudah berjanji dan meyakinkan istri sirrinya itu jika dirinya tidak akan meninggalkan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Tetapi, tetap saja Rumanah menolak dan malah tidak ingin membahasnya lagi.
"Apa karena kedua orang tuanya? Mungkin kah? Mungkin kah ia ingin aku segera menemui kedua orang tuanya dan mengatakan perihal pernikahan kami ini? Dengan begitu ia jadi lega dan berani untuk mengandung anakku. Hmmm, jika memang benar keinginannya seperti itu, maka aku akan mengajaknya untuk menemui kedua orang tuanya. Aku harus tunjukkan padanya jika pria tampan dan kaya raya ini pun sangat gentle dan pemberani. Hng!" cerocos Andre seraya menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
•
•
Rumanah melangkahkan kakinya menuju kamar putri sambungnya. Rambut panjangnya yang sedikit basah tampak ia biarkan tergerai begitu saja. Ya, sesuai dengaj yang disarankan oleh suaminya. Tentunya hal itu ia lakukan karena untuk menutupi tato merah yang suaminya ukir di tengkuknya.
Sementara untuk tato-tato yang terukir di lehernya, ia tutupi menggunakan koyo cabe yang ia gunting kecil-kecil. Untuk menghindari kecurigaan para penghuni rumah mewah itu, tak lupa Rumanah menempelkan koyo pada sisi keningnya. Tentu saja ia harus berpura-pura sakit kepala.
"Semoga tidak ada yang curiga," ucap Rumanah di dalam hati.
Ceklek!
Rumanah membuka pintu kamar putri sambungnya. Melangkah masuk untuk membangunkan gadis kecil itu. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat princess Sandrina yang sudah bangun dari tidurnya.
"Dewi peri, dari mana saja?" tanya Sandrina dengan tatapan penuh intimidasi.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan mematung di tempatnya.
"Dewi peri semalam tidurnya nyenyak, bukan? Princess bacakan dongeng cinderella sampai selesai," ucap gadis kecil itu seraya beringsut bangun dari tidurnya.
Rumanah mengangguk kecil serta tersenyum kaku. "Nyenyak sekali, sayang. Bahkan dewi peri tidak dapat mendengar apa pun semalam. He he he, terima kasih ya, karena sudah membacakan dongeng untuk dewi peri." ucap wanita cantik itu seraya melangkahkan kakinya menghampiri putri sambungnya.
Sandrina tersenyum lantas menganggukkan kepalanya. "Pantas saja dewi peri tidak bangun saat Daddy masuk ke sini dan mengomeli princess. Dewi peri pasti tidak menyangka jika princess digendong seperti baby oleh Daddy. Ha ha ha ha," ucap gadis kecil itu sedikit bercerita.
"Haaah?? Benarkah begitu, sayang? Jadi, Daddy menggendong princess sampai tertidur?" seru Rumanah.
Sandrina mengangguk. "Yes, princess yang memintanya. He he he he," jawabnya.
Rumanah tersenyum kecil serta manggut-manggut. "Hmmmm, pantas saja dia sangat kesal semalam. Rupanya dia dikerjai oleh putrinya sendiri. Ha ha ha ha," batinnya berucap.
"Dewi peri, apa yang terjadi padamu? Kenapa banyak sekali tempelan stiker polos di leher dewi peri?" tanya Sandrina saat ia menyadari tempelan koyo yang menghiasi leher dewi peri nya.
Rumanah terdiam sejenak dan mencoba berpikir keras. Ini baru anak kecil yang bertanya, dia yakin setelah ini orang-orang dewasa penghuni rumah itu yang akan bertanya padanya. Dan, tentu saja ia harus menyiapkan jawaban yang tepat dan meyakinkan.
"Eeemmh, ini ... sebetulnya dewi peri sedang tidak enak badan, princess." Rumanah menjawab dengan raut wajah yang ia buat sedemikian rupa melasnya.
"Tidak enak badan? Dewi peri sakit, ya???" tanya Sandrina yang tampak sedikit kaget.
Rumanah mengangguk kecil dan tersenyum tipis. "Tapi tidak apa-apa, sayang. Hanya sakit kepala sedikit saja," ucap wanita cantik itu.
__ADS_1
"Oooooh, hanya sedikit saja ya," ucap Sandrina.
"Iya sayaaaaang," jawab Rumanah seraya mencubit gemas pipi chubby putri sambungnya. "Emh, kalau gitu ayo mandi dan bersiap untuk sekolah. Hari ini princess ada latihan ballet 'kan? Ayo, bergegaslah. Dewi peri akan menyiapkan seragam sekolah princess kemudian menyiapkan bekal." lanjut wanita cantik itu.
"Baiklah, princess mandi dulu yaa. Sekarang princess sudah bisa mandi sendiri lhoooo," seru Sandrina.
"Hmmm, pintar! Pasti semenjak dewi peri tangannya dioperasi, ya!" ucap Rumanah.
"Hehe, iya,"
Sandrina pun masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Rumanah menyiapkan saragam sekolah. Setelah itu ia bergegas keluar dari kamar putri sambungnya dan berjalan menuju dapur.
"Selamat pagi, Pak Muh," sapa Rumanah seraya menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Pagi juga, Rum. Sarapan princess sudah kusiapkan di meja, ya. Kau siapkan bekalnya saja," sahut Pak Muhsin.
"Oh, baiklah. Terkadang Anda sangat pengertian, Pak Muh." Rumanah berkata penuh pujian namun juga mengandung sindiran.
Pak Muhsin hanya menaikkan alisnya dan sibuk dengan kegiatannya. Sementara Rumanah pun kini sibuk membuat bekal untuk princess Sandrina.
"Ehem!" terdengar deheman seorang pria yang sudah tak asing lagi bagi Rumanah.
"Selamat pagi, Tuan. Kopi hangatnya sudah saya siapkan dengan cake vegetable yang lezat dan sehat," ucap Muhsin seraya membungkuk memberi hormat.
"Baik, terima kasih, Muh." Andre menjawab seraya mendudukkan bokongnya di kursi. Sementara manik matanya terkadang meleset melirik sang istri yang tampak cuek dan sibuk dengan kegiatannya.
"Apakah kau sudah sarapan, Muh?" tanya Andre yang sesungguhnya bertujuan pada Rumanah.
Muhsin tampak tercengang kaget mendengar pertanyaan langka sang majikan yang tak pernah menanyakan hal itu sebelumnya. "Hah? Apakah ini mimpi? Tumben sekali Tuan Andre perhatian padaku." ucap Muhsin dalam hati.
"Maksudku bukan kamu, Muh. Tapi wanita yang ada di belakangmu," ucap Andre dalam hati.
"Cih, sok perhatian sekali dia pada Pak Muh," desis Rumanah di dalam hati.
"Emh, kebetulan saya sudah sarapan, Tuan," jawab Muhsin.
"Pak Muh, apakah Anda tidak membuat telur gulung rumput laut?" tanya Rumanah.
"Tidak, Rum. Aku membuat ayam rica-rica yang lezat. Princess sangat menyukai ayam," jawab Muhsin.
"Hmmm, tidak apa-apa. Itu hal yang bagus, Pak Muh. Jangan makan telur setiap hari, karena itu menyebabkan bisul," ucap Rumanah yang berhasil membuat Andre tersentak kaget dan juga tampak menahan tawanya.
"What? Menyebabkan bisul? Dari mana ilmunya?" tanya Pak Muhsin.
"Dari nenek saya." Rumanah menjawab disertai senyumannya.
"Aku baru dengar akan hal itu. Eh, tapi ... ada apa denganmu? Kenapa kau memakai banyak koyo seperti itu?" ucap Pak Muhsin yang tampak mulai sadar jika Rumanah mengenakan koyo.
Rumanah terdiam sejenak dan sedikit terhenyak kaget. Sementara Andre tampak menatap intens pada istri sirrinya itu.
"Hmm, ternyata dia menggunakan koyo untuk menutupi tato merah tanda kepemilikan yang telah kuukir di lehernya. Ha ha ha," ucap Andre di dalam hati.
"Ah iya, Pak Muh. Sebenarnya hari ini saya sedikit merasa tidak enak badan. Kepala saya terasa pusing dan badan saya terasa lemas," jawab Rumanah beralasan.
Muhsin mengernyitkan dahinya. "Kepala kau pusing? Tapi ... apa hubungannya dengan koyo yang ada di lehermu itu?" selidik Pak Muhsin yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
"Astaga, kenapa orang ini bertanya secara mendetail. Sudah macam wartawan saja kau, Pak Muh!" cicit Rumanah di dalam hati.
"Hmmmm, aku ingin tahu jawaban apa yang kau berikan pada Muhsin, Belle." Andre berucap dalam hati.
"Emh, ini ... sebetulnya saya ... uhuk uhuk uhuk!" Rumanah pura-pura terbatuk. "Sebenarnya tenggorokan saya terasa gatal, Pak Muh. Sepertinya saya akan terserang batuk. Jadi, saya pikir dengan koyo ini akan menghangatkan tenggorokan saya. He he he he," lanjut wanita cantik itu yang lagi-lagi harus berbohong.
Mendengar hal itu membuat Andre menahan tawanya. Ia sangat geli mendengar jawaban istri sirrinya itu. Sementara Rumanah tampak melirikkan matanya dan menatap kesal pada suami rahasianya itu.
__ADS_1
"Seneng ya lihat istrinya kebingungan dan gelagapan. Dasar menyebalkan!" cicit Rumanah di dalam hati.
"Ya ampun! Jika tenggorokanmu gatal, kau bisa bicara padaku. Maka aku akan membuatkan minuman hangat untuk menghilangkan gatal di tenggorokanmu itu. Baru lihat aku cara yang aneh seperti itu. Astaga," ucap Muhsin yang tampak sedikit perhatian.
"He he he he, terima kasih Pak Muh. Tidak usah repot-repot.Tapi ... jika tidak keberatan, maka tidak apa-apa. He he he," jawab Rumanah disertai cengesnya.
Pak Muhsin mendelikkan matanya dan membuang napasnya kasar. "Ucapanmu yang merepotkanku, Rum!" cicit Pak Muhsin sebal.
"He he he he," Rumanah nyengenges.
"Dan kenapa pagi ini kau terlihat seperti pengantin baru, Rum? Lihat rambutmu yang basah itu. Kau seperti pengantin baru yang habis melakukan ... emh, ya sudah, akan kubuatkan minuman hangat terbuat dari jahe untukmu," ucap Muhsin.
Rumanah tampak terjingkat kaget mendengar ucapan Pak Muhsin. Tentu saja ia sangat merasa ketar ketir saat Pak Muhsin menyinggung soal pengantin baru. Namun, ia harus bersikap profesional dan tetap tenang. Ia pun tersenyum kecil dan mengangguk. Tak menanggapi ucapan Pak Muhsin yang mengatainya seperti pengantin baru. Padahal, aslinya memang dia pengantin baru.
"Astaga, untung saja Muhsin hanya bicara santai tanpa menaruh curiga." ucap Andre dalam hati.
Andre menguyup kopi hangatnya lalu meletakkannya di atas meja. Melihat perhatian Muhsin pada istri sirrinya, membuat Andre sedikit menyimpan rasa cemburu.
"Ehem, kau tidak perlu repot-repot membuat minuman jahe untuknya, Muh. Biar aku saja yang pesankan wedang jahe di depot jamu. Kau kerjakan saja yang harus kau kerjakan," tegur Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Oh, baiklah jika begitu, Tuan." Muhsin pasrah.
Rumanah memutar bola matanya malas dan membuang napasnya kasar. "Dasar, predator merugikan!" cicit Rumanah di dalam hati.
"Ngomong-ngomong, princess sudah bangun kah, Belle?" tanya Andre basa basi.
"Sudah," jawab Rumanah singkat dan dingin.
"Hmmm, apakah ada jadwal les hari ini?" tanya Andre lagi.
Rumanah tak menjawab. Ia hanya mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, tolong bawakan segelas air hangat ke kamarku." Andre beranjak dari duduknya dan menyuruh istrinya membawakan air hangat untuknya.
"Maaf, Tuan. Saya harus bergegas ke kamar princess. Gadis kecil itu mungkin sudah selesai mandi dan menunggu saya," ucap Rumanah yang tampak menolak perintah suami rahasianya itu secara halus. Terlihat jelas jika ia sedang sebal pada suami tampannya itu.
Andre tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap penuh intimidasi pada istri sirrinya itu. "Astaga, dia benar-benar marah padaku." desis pria tampan itu di dalam hati.
Sementara itu Rumanah tampak berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata pun. Dan hal itu benar-benar membuat Andre sedikit kesal. Dan Muhsin, tentu saja ia heran pada Rumanah yang dengan berani melanggar perintah majikannya itu.
"Hebat sekali si Rumanah. Bisa-bisanya dia menolak perintah dari Tuan Andre. Dan, kenapa Tuan Andre tidak marah padanya? Ah, mungkin karena Rumanah pengsuh putri kecilnya," ucap Pak Muhsin di dalam hati.
"Apa yang kau lihat dan kau pikirkan, Muhsin!?" tegur Andre yang tampak sewot.
Muhsin terjingkat kaget dan buru-buru memutar tubuhnya.
"Menyebalkan!" desis Andre seraya menghentakkan kakinya dan berjalan dengan kesal.
•
•
"Sudah siap, guys?" tanya Andre saat ia turun dari kamarnya dan sudah siap untuk berangkat ke perusahaannya. Sementara Sandrina dan Rumanah tampak sedang berada di meja makan.
"Sudah, Dadd." Sandrina menjawab disertai senyumannya.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Oh ya, princess, apakah dewi peri mu sudah sarapan?" ucap Andre.
Sandrina mengangkat bahunya.
"Coba kau tanyakan pada dewi peri mu!" perintah Andre.
"Baiklah," jawab Sandrina seraya mengangguk. "Dewi peri, kata Daddy, apakah dewi peri sudah sarapan?" tanya Sandrina.
__ADS_1
Rumanah mengangguk kecil dan tersenyum masam. "Sudah, princess," jawabnya. "Astaga, aku sudah mendengar pertanyaan pria ini, untuk apa dia menyuruh putrinya lagi. Benar-benar pemborosan!" sambungnya dalam hati.
BERSAMBUNG...