
"Bagaimana, darling? Apakah kau menyukai permainan tadi?" tanya Andre pada istrinya yang sedang berendam di air hangat.
Rumanah tersenyum, di tangannya terdapat segelas minuman soda yang didapat dari New York. "Tentu saja, Tuan. Permainannya sangat asyik sekali. Saya bahkan seperti tidak merasakan adanya air di sana." jawabnya penuh kekaguman.
Andre tersenyum hangat serta mengusap lembut surai istrinya. "Kalau begitu, besok aku akan membuat kolam di dalam kamar kita, darling. Kau sangat menginginkannya, bukan?" ucapnya yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
"Apa? Membuat kolam di dalam kamar?" Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh.
Andre mengangguk mengiyakan. "Ya, darling. Bagaimana, kau setuju?" jawabnya.
Rumanah tersenyum tipis dan menatap santai wajah suaminya. "Itu terlalu berlebihan, Tuan." ucapnya seraya meletakkan gelas minumannya.
"Apanya yang berlebihan? Hei, ini hanya sebuah kolam renang yang akan mengisi kamar kita. Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?" seloroh Andre yang tampak menekan setiap ucapannya.
Rumanah tersenyum kaku dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Bukan begitu maksud saya, Tuan. Tentu saja saya tahu jika Anda bisa melakukannya. Tapi, saya rasa itu terlalu berlebihan jika benar-benar Anda lakukan. Bisa-bisa setiap hari kita akan melakukannya di kolam renang. He he he. Lagipula, di rumah Anda sudah ada kolam renang. Jadi, kita bisa berenang di sana saja," ujarnya panjang lebar dan penuh penekanan.
Andre terdiam dan manggut-manggut tanda mengerti. Tampaknya, pria tampan itu mudah mencerna setiap kata yang terucap dari mulut istrinya.
"Hmm, begitu rupanya. Baiklah, jika begitu, aku tidak akan membuat kolam renang di dalam kamar kita," ucap Andre seraya menggenggam erat tangan mungil istrinya.
Rumanah tersenyum serta mengangguk. Setelah mereka berbincang ringan, keduanya bergegas membersihkan diri masing-masing.
•
•
Rumanah merangkul manja lengan kekar suaminya, mereka berdua berjalan bersejajar menuju sebuah restoran di dalam hotel itu.
"Silakan duduk, darling," ucap Andre mempersilakan istrinya duduk.
Rumanah mengangguk serta tersenyum, tanpa membuang waktu lagi ia pun mendudukkan bokongnya di kursi. Berhadapan dengan sang suami yang tampan itu.
"Silakan pilih menu makanannya, Tuan, Nona," ucap seorang pelayan sembari memberikan brosur berupa aneka makanan yang berasal dari luar negeri.
__ADS_1
"Baik," jawab Andre seraya mulai mencari makanan apa yang dia inginkan.
Sementara itu, Rumanah tampak diam dan menunggu suaminya yang sedang memilih.
"Kau ingin makanan dari negara mana, darling?" tanya Andre tanpa mendongakkan wajahnya.
Rumanah terdiam sejenak. Tentu saja ia harus berpikir keras. Namun, sepertinya ada satu makanan yang sangat ia inginkan.
"Emh, saya ingin makanan dari Thailand, Tuan. Apakah tersedia di restoran ini?" ucap Rumanah yang sedikit membuat Andre terjingkat kaget.
"Thailand? Emh, rupanya kau menyukai makanan Tiongkok. Tentu saja tersedia, darling. Biar aku saja yang memilihnya," jawab Andre seraya mengganti lembaran brosur di tangannya.
Rumanah tersenyum kecil. "Tentu saja, bahkan dulu aku serasa tidak bisa hidup jika tidak memakan makanan Tiongkok. Astaga," ucapnya dalam hati.
"Yang ini saja. Ini juga boleh, ini, ini. Aku makanan Pranciss saja," ucap Andre pada pelayan itu.
"Baik, Tuan. Akan kami siapkan," jawab si pelayan yang kemudian meraih brosur lalu melangkahkan kaki kembali.
Rumanah tersenyum manis kepada suaminya. Ia benar-benar tidak menyangka jika pria di hadapannya akan menjadi pendamping hidupnya.
Andre mengangguk dan menyunggingkan senyuman hangatnya. Tangan kekarnya lantas menggenggam erat tangan mungil istrinya.
"Kau berhak mendapatkannya, darling. Dan, aku akan selalu membuatmu happy," balas Andre dengan tatapan hangat dan penuh cinta.
Rumanah tersenyum.
Cup!
Dengan lembut Andre mengecup punggung tangan mungil istrinya. Dan hal itu berhasil membuat Rumanah tersenyum manis dan tersipu malu.
"Bahagialah bersamaku, darling. Jadilah pasanganku untuk selama-lamanya," ucap Andre seraya menunjukkan sebuah kotak yang sudah dapat ditebak isinya adalah perhiasan.
Rumanah tampak tersenyum sumringah dan menatap manja wajah tampan suaminya. "Apa yang ada dalam kotak itu, Tuan?" tanyanya.
__ADS_1
Andre tersenyum. "Kau akan melihatnya sendiri," ucapnya seraya membuka kotak di tangannya.
"Haaaaa!!" betapa terkejutnya Rumanah saat melihat seuntai kalung yang indah. Dihiasi dengan liontin shavire berbennuk hati berwarna merah delima. Sungguh indah dan mewah.
"Kalung ini aku dapatkan dua tahun yang lalu dari pelelangan di Mexico. Apakah kau menyukainya?" ungkap.Andre seraya menatap penuh cinta pada istrinya.
Rumanah mengangguk mengiyakan. "Ya Tuhan, ini benar-benar membuat saya tersanjung, Tuan." ucapnya penuh sumringah. "Tentu saja saya sangat menyukainya. Ini sangat indah sekali," lanjutnya.
Andre tersenyum. "Baiklah, kalau begitu ... aku akan memakaikannya pada lehermu," ucapnya seraya beranjak dari duduknya.
"Ya Tuhan, menakjubkan sekali." Rumanah tampak terpukau hebat. Sementara sang suami tampak sudah memasangkan kalung yang sengaja ia beli untuk orang yang ia cintai. Ya, tentu saja saat ia membeli kalung itu, belum ada wanita yang mengisi hatinya setelah kandasnya pernikahannya dengan Luna.
"Tampak cantik, darling. Cocok sekali melingkar indah di lehermu itu," puji Andre seraya menatap lembut wajah cantik istrinya.
Rumanah tersenyum seraya meraih liontin shavire berwarna merah delima itu. "Anda sangat luar biasa, Tuan. Saya sangat menyukainya," ucapnya penuh keceriaan.
"Syukurlah kalau kau menyukainya. Kalau begitu, ayo kita makan dulu, darling," ucap Andre yang kemudian mengajak istrinya menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapan mata mereka berdua.
Rumanah mengangguk mengiyakan. Manik matanya tampak berbinar ria saat melihat beberapa macam makanan Thailand di hadapannya. "Woaaah! Ini sangat enak dan menggiurkan sekali," soraknya dalam hati.
Tanpa membuang waktu lagi, Rumanah pun meraih sumpit dan mulai menyantap makanan di hadapannya. Tingkahnya kece dan elegant, tidak katro dan norak. Jauh berbeda dengan saat pertama kali Andre mengajaknya makan di Mall bersama Ferhat dan Sandrina. Ya, saat itu Rumanah yang makan makanan Jepang, tampak kewalahan dan mengaku tidak bisa makan menggunakan sumpit. Tapi sekarang?
"Darling, kau sudah bisa makan menggunakan sumpit? Bahkan bergantian memegang pisau dan garpu?" tanya Andre yang tampak berhasil membuat Rumanah tersentak kaget.
"Uhuk uhuk uhuk!" Rumanah terbatuk kecil karena tersedak makanan yang sedang ia kunyah.
"Ada apa? Pelan-pelan saja makannya, darling. Aku tidak akan meminta makananmu," ucap Andre seraya memberikan segelas minuman untuk istrinya.
Rumanah tersenyum kaku dan sesegera mungkin ia meneguk minuman yang Andre berikan padanya. "Emh, maaf." ucapnya seraya mengelap mulutnya menggunakan tissue.
"Kau terkejut dengan pertanyaanku? Astaga, aku bahkan tidak tahu jika kau sudah bisa makan menggunakan sumpit," tebak Andre yang terkesan mendesak dan menyelidiki.
Rumanah tersenyum kecil. "Ya, Tuan. Sebenarnya ... selama ini saya sudah belajar menggunakan sumpit. Dan, Pak Muhsin yang mengajari saya," ungkapnya.
__ADS_1
Andre mengerutkan dahi dan menatap intens wajah cantik istrinya. "Sepertinya kau sedang berbohong, Annabelle." ucapnya dalam hati.
BERSAMBUNG...