Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Guncangan dahsyat


__ADS_3

Rumanah menatap lembut manik mata suaminya. Empat mata itu kini saling beradu. Perlahan-lahan wajah keduanya saling mendekat. Embusan napas Andre yang menerpa wajah cantik Rumanah, membuat wanita cantik itu bergidik dan memejamkan mata.


"Bagaimana bisa kau bertemu dengan pria itu? Dia kah yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Andre dengan suara yang dingin dan begitu menusuk.


Rumanah membuka matanya dan secepat kilat ia mengangguk. Tidak perlu ia berbohong, kejujuran yang saat ini suaminya butuhkan.


"Ya, sayang. Dia Chaisay, teman kecilku. Tadi, dia datang ke sini saat kau tidur. Aku juga kaget banget, kukira dia bakalan maksa aku buat nikah sama dia. Ternyata, tidak! Dia bisa menerima apa yang telah menjadi keputusanku." Ungkap wanita cantik berdarah Indonesia-Thailand itu.


Andre manggut-manggut dan memutar tubuhnya. Melangkahkan kaki mendekati jendela yang terbuka. Sementara Rumanah tampak membuang napasnya lega. Beruntung ia karena sang suami tidak marah padanya.


"Kau tahu? Aku lapar. Sedari tadi kumenunggumu di sini." Ucap pria tampan itu sedikit merajuk manja.


Rumanah tersenyum kecil dan melangkah mendekati suaminya. "Uuunch, kasihan sekali." Ucapnya sembari melingkarkan tangannya di tubuh kekar suaminya. Ia peluk sehangat mungkin.


Andre berpangku tangan dan membuang pandangannya ke arah yang begitu jauh. Air terjun yang indah dan pegunungan di seberang sana.


"Kalau gitu, ayo kita makan. Kulihat makanannya sudah siap di meja." Ajak Rumanah sembari melepaskan pelukannya lalu melangkahkan kakinya ke samping suaminya. Menatap manis wajah tampan suaminya yang fokus memandang air terjun.


Andre menolehkan wajahnya dan menyunggingkan senyuman manisnya. "Sayang sekali. Aku sudah tidak lapar," ucapnya menolak secara halus. Tampaknya ia masih merajuk manja pada wanita cantik di sampingnya itu.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap tak mengerti pada suaminya. Apalagi saat ini Andre sudah memalingkan wajahnya dan kembali berwajah dingin.


"Tadi dia bilang lapar. Sekarang, sudah tidak lapar. Hmm, gimana sih? Mempusing!" dengus Rumanah di dalam hati.


Andre masih diam dan menatap pemandangan kembali. Memang perutnya kini sudah tak lapar lagi. Tapi, mungkin lapar dengan yang lain.


"Sayang, tadi 'kan kamu bilang lapar. Ya sudah, ayo kita makan. Kenapa sekarang malah bilang sudah tidak lapar? Hmmm," omel Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.


"Ya jelas, aku sudah tidak lapar. Karena tadi aku melihat kau begitu mesra dan akrab dengan pria Thailand itu." Desis Andre di dalam hati.


Rumanah menatap intens wajah tampan suaminya. Ia tahu, pria di sampingnya itu memang masih kesal padanya. Ia juga tahu apa yang menyebabkan rasa lapar suaminya tiba-tiba hilang.


"Kamu masih marah, hubby?" sindir Rumanah penuh desakan.


"Hmmm." Andre hanya menanggapi dengan dehaman.


Rumanah memutar bola matanya dan bersilang tangan di dadanya. "Kan aku sudah jelasin dan minta maaf, sayang. Harusnya kamu jangan marah. Lagipula, aku tidak macam-macam dengan Chaisay. Dia juga tidak berani melakukan apa pun padaku. Malah, Chaisay ingin aku hidup bahagia bersamamu. Dia bukan orang jahat dan tukang iri dengki, maka tidak heran kalau dia bersikap bijaksana dan mendoakan kebaikan pada pernikahan kita." Ujarnya panjang kali lebar kali tinggi.


Andre menaikkan bola matanya dan tampak sebal mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya. Seketika telinganya terasa panas dan napasnya kembali naik turun tak beraturan.


"Sayang, setelah mendengar semua yang aku katakan tentang Chaisay, harusnya kau tidak marah lagi. Karena, Chaisay tidak berniat untuk menghancurkan pernikahan kita." Lanjut Rumanah yang terus membujuk suaminya agar tidak marah padanya.

__ADS_1


Andre menolehkan wajahnya dan menatap sengit pada istri cantiknya yang merasa tidak salah apa-apa. Padahal, di mata Andre, wanita cantik itu sangat salah sekali.


"Tidak semestinya kau memuji dan membangga-banggakan pria lain di hadapanku, Annabelle!" Sungut Andre dengan suara yang dingin.


Rumanah tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu tersentak kaget mendengar ucapan suaminya. Seketika wajahnya berubah menjadi pias dan menciut. Benar juga, tidak semestinya Rumanah memuji pria lain di hadapan suaminya sendiri. Bukan saja karena menjaga perasaan suaminya, tapi juga memang hal itu sangat dilarang.


"Maaf, aku bukan bermaksud memuji pria lain di hadapanmu. Tapi, aku hanya menjelaskan secara mendetail kepada dirimu agar kau bisa mengerti!" protes wanita cantik itu yang masih saja tidak terima dengan kesalahannya sendiri.


Andre memutar bola matanya malas dan memalingkan wajahnya kembali. Sulit sekali bicara dengan anak kecil. Pikirnya.


"Sayang, aku sama sekali tidak memuji Chaisay. Kamu jangan salah paham lagi dong!" rengek Rumanah sembari melingkarkan tangannya di lengan kekar suaminya. Menyandarkan kepalanya di pundak kekar pria tampan itu.


"Aku tidak salah paham, darling. Aku hanya memberitahumu satu hal yang sama sekali tidak kau ketahui." Ujar Andre sembari melepaskan tangan istrinya dan menggeser tubuhnya menghadap sang istri.


Rumanah menekuk wajahnya manja.


"Aku tidak marah lagi, kok. Tapi dengar, kau harus tahu ini. Seorang istri tidak berhak dan tidak pantas memuji pria lain di hadapan suaminya sendiri. Begitu pun dengan seorang suami, ia tidak pantas dan tidak boleh memuji wanita lain di hadapan istrinya sendiri. Hanya suami yang pantas kau puji dan kau banggakan, Sanee. Camkan itu!" terang Andre seraya mencolek hidung istrinya yang tidak seberapa mancung.


Rumanah menatap serius dan mendengarkan secara saksama setiap kata yang terucap dari mulut suaminya. Ia begitu jeli dan gesit mencerna semua ucapan yang bermanfaat sekali baginya.


"Aku mengerti, sayang." Katanya seraya mengusap lembut dada bidang suaminya.


Andre tersenyum dan membiarkan Rumanah membelai lembut dada bidangnya.


"Aku percaya," jawab Andre sambil mengangguk.


Rumanah tersenyum. Tanpa pikir panjang ia pun mendaratkan bibirnya pada bibir tebal suaminya. Tentu saja Andre tidak mau melewatkan kesempatan manis itu.


"You want me?" Andre berkata sambil membelai lembut wajah cantik istrinya dan mengusap manja bibir ranum istrinya yang basah terkena salivanya.


Rumanah tersenyum manis dan tersipu malu. Wajahnya memerah dan berpaling menyembunyikan rona merah itu.


"I want you!" Bisik Andre.


Rumanah bergidik dan melenguh kecil. Memejamkan mata saat desiran itu kini naik ke ubun-ubunnya lagi.


"Tunggu sebentar, aku perlu mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu usaha kita," Ucap Andre yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu. Tentu saja ia harus mengunci pintu agar tidak ada yang masuk dengan tiba-tiba.


Rumanah tersenyum kecil dan membuang napasnya berat. Menggeleng kecil seraya memutar tubuhnya menatap suaminya.


"Manisnya. Akhirnya, rumah dan villa ini merasakan guncangan yang begitu dahsyat dari kami. Guncangan yang begitu nikmat." Ucap Rumanah dalam hati.

__ADS_1


"Darling," panggil Andre yang berhasil membuat Rumanah harus meninggalkan lamunannya.


"Ya sayang, sudah menguncinya?" sahutnya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Sudah." Jawab Andre sambil menangkap tubuh istrinya dan merangkulnya manja. "Apa yang kau pikirkan, darling?" tanyanya dengan senyuman manisnya.


Rumanah tersentak dan refleks menggeleng cepat. "Tidak ada, sayang." Jawabnya berkilah.


"Benarkah? Kupikir kau sedang memikirkan bagaimana cara memanjakanku hingga lima ronde. He he he," kekehnya sembari mengacak rambut istrinya.


Rumanah tercengang dan membulatkan kedua bola matanya penuh. Ia lupa jika sudah menjanjikan lima ronde jika suaminya berhasil mengangkut keranjang berisi bunga sampai sepuluh kali.


"Oh Ya Tuhan, aku melupakan hal itu, hubby." Ucapnya sambil menepuk jidatnya.


Andre terkekeh kecil. "Sekarang kau sudah ingat, bukan? Jadi, ayo kita lakukan. Aku sangat menunggu lima ronde yang mungkin akan menghabiskan waktu sampai beberapa jam." Ucapnya sembari melepaskan baju yang menempel di tubuhnya.


Rumanah memutar bola matanya dan membuang napasnya frustasi. Ia pasti akan lemas dan kewalahan menghadapi pria tangguh dan perkasa di hadapannya itu. Mana belum mengisi perutnya dengan nasi liwet, lagi. Astaga!


"I want you. Now!" Ucap Andre penuh penegasan dan penekanan. Tanpa membuang waktu lagi ia pun menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.


Mereka pun kembali mereguk kasih yang manis.


***


Chaisay berdiri menatap foto Rumanah yang menempel di dinding rumah besar milik Phoo Boon-Nam. Ada rasa rindu yang menggelayut di matanya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman manis.


"Lupakan Sanee, Chai. Dia sudah tidak bisa menikah denganmu." Ucap Maae Lilis yang tiba-tiba menghampiri.


Chaisay tersenyum lantas menoleh. "Tentu saja, Maae. Chaisay tidak akan mengganggu kehidupan Sanee. Dia berhak bahagia bersama suaminya." Jawabnya penuh kepasrahan.


Maae Lilis tersenyum dan mengangguk. "Kau sudah mengetahui semuanya?" tanyanya penuh selidik.


"Sudah, Maae. Sanee sudah mengatakan semuanya pada Chaisay. Dan, Chaisay sama sekali tidak marah padanya. Yang namanya jodoh sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, Maae. Jadi, Chaisay tidak bisa menolak kenyataan yang telah terjadi." Jawab Chaisay penuh bijaksana.


Maae Lilis tersenyum kagum. Ia bangga dan senang mendengar jawaban anak muda di hadapannya itu. Mungkin, jika Rumanah tidak nekat kabur dari rumah saat itu, pria muda di hadapannya itu kini sudah menjadi menantunya. Namun, ternyata Tuhan memberi jalan lain. Tanpa mereka duga, Rumanah menikah dengan seorang duda yang sama sekali tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.


"Good. Sepertinya kau sudah beranjak dewasa, Nak." Balas Maae Lilis sembari menepuk lengan Chaisay.


Chaisay tersenyum hangat. "Mudah-mudahan begitu, Maae." Jawabnya.


Chaisay memang seorang pria yang baik. Walaupun ia terlahir dari keluarga kaya dan masih memiliki ikatan keluarga dengan sang raja di Thailand. Tapi, ia tidak pernah diajarkan untuk menjadi pria sombong dan egois. Sama halnya dengan Rumanah yang selalu dididik menjadi wanita yang baik oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2