
Warning: Terdapat banyak adegan yang harus dihindari oleh kalian yang belum cukup umur dan belum memiliki suami atau istri.
______________________________________
Matahari semakin menguatkan cahayanya. Hawa panas yang dipancarkan membuat penduduk Kota tak segan menyalakan pendingin ruangan dan nyaris tak mau terlalu lama berada di luar rumah. Deru mesin kendaraan masih terdengar ramai memadati lalulintas yang tak pernah usai beroperasi.
Di dalam kamar yang bernuansakan honeymoon, sepasang suami istri tampak sedang bergum*ul satu di atas ranjang. Satu orang di antara mereka berada di atas, dan satu orang lagi berada di bawah. Mereka berdua, Andre dan Rumanah.
"Wajahmu yang cantik dan bibirmu yang mungil selalu membuatku ingin menikmatinya, Annabelle." lelaki itu berbisik manja dan lembut pada telinga wanita yang sedang berada dalam kendalinya.
Sang wanita memejamkan matanya, memeluk hangat tubuh pria yang nyaris tak pernah terlihat jelek di matanya. Ya, memang lelaki itu sangat tampan dan juga seksi. Senyuman manis itu terukir indah di wajah cantiknya. Seakan dunia milik mereka berdua, kelopak bunga mawar yang mereka tiduri pun nyaris tak membuat keduanya merasa terganggu. Mungkin, kelopak-kelopak bunga mawar itu memekik dan meronta karena panas melihat sepasang pengantin baru yang sedang menikmati siang pertama mereka.
"Katakan sekali lagi, Tuan. Apakah saya benar-benar cantik di mata Anda?" pinta si wanita yang bernama Rumanah itu. Deru napasnya sudah tidak karuan. Dress hitam yang semula melekat indah di tubuhnya, kini sudah tergeletak di lantai.
Andre mengangkat wajahnya lantas mengecup manja bibir ranum nan lezat itu.
Muach!
"Kau terlalu mubazir untuk tidak kunikmati, Annabelle. Kau pikir, aku sudi meniduri wanita yang jauh dari kata cantik? Sudah jelas sekarang, kau sangat cantik di mataku!" jawab pria tampan itu yang tampak berhasil membuat Rumanah semakin melebarkan senyumannya.
"Terima kasih," ucap gadis desa itu seraya menggerakkan tangan kanannya dan mengusap lembut wajah tampan pria dewasa yang kini sudah sah menjadi suaminya. "Anda juga sangat tampan, Tuan." lanjut Rumanah dengan refleks memuji suami tampannya itu.
Dan Andre, mendengar hal itu sangat senang dan tersanjung. Padahal, bukan sekali atau dua kali dia dipuji karena ketampanannya. Tapi, entah mengapa ia sangat bahagia dan begitu merasa terbang ke atas awan saat gadis desa itu memuji ketampanannya.
Cup!
Kembali Andre mendaratkan bibirnya pada bibir ranum milik istrinya. Sementara tangannya kini tak mau diam. Seperti biasa tangan kekarnya menyusup masuk ke dalam CD yang Rumanah kenakan. Dan hal itu semakin membuat Rumanah mendes*ah nikmat.
__ADS_1
"Aaacchh!" des*ahan itu, sangat terdengar manis namun juga seksi. Menggoda dan mengundang si ular kasur yang sedang tidur seketika terbangun karena gadis desa itu.
"Thank you, Annabelle. Aku memang tampan, dan kau adalah orang ke sekian kalinya yang mengakui jika aku tampan," ucap duda tampan itu seraya memainkan tangannya pada mis vags yang sudah basah sedari tadi.
"Eeemh! Benar sekali," gumam gadis desa itu seraya membuka matanya dan melemparkan senyuman manisnya.
Andre tersenyum dan sangat gemas melihat wajah cantik Rumanah yang sedang hornay. Tangan satunya lantas meremas lembut balon kembar yang masih tertutup oleh BRA merah yang Rumanah kenakan.
"Tuan, jangan menatap saya seperti itu," ucap Rumanah dengan napas yang semakin berat. Ia merasa malu karena sang suami menatapnya sembari tersenyum genit.
"Why?" tanya Andre seraya menurunkan CD yang Rumanah kenakan hingga turun seturun-turunnya.
"Saya malu!" jawab gadis desa itu seraya menutupi wajahnya.
"Hehe, tidak usah malu, Annabelle. Kita sudah menjadi suami istri," ucap Andre yang kini sudah berhasil melepaskan CD dari tempatnya.
Andre semakin berhasrat kala melihat gundukan yang sudah lama ia inginkan. Rasanya ia tak sabar ingin menjil*at serta menghisap mekmew yang harus dan merekah indah itu.
"Uuuuhhhhh, Tuan. Emh!" Rumanah tak kuasa menahan nikmat saat jemari Andre mengusap lembut titik sensitif di bagian mis vagsnya.
Andre tersenyum. Dengan cepat ia menyatukan bibirnya dengan bibir istri kecilnya itu. Dan Rumanah pun menyambutnya dengan lembut dan hangat. Mereka kembali bergulat bibir dan lidah. Sementara tangan kekar itu berusaha melebarkan paha istrinya agar ia dapat dengan mudah menikmati mekmew yang cantik itu.
Semula, Rumanah ragu dan malu-malu untuk membiarkan sang suami membuka pahanya. Namun, sekian kali Andre mencoba dan memaksa, akhirnya gadis desa itu pun pasrah.
"Eeemmmhhhhhh! Aaaarggh!" seketika Rumanah melepaskan ciumannya. Gadis desa itu memekik dan menggelinjang hebat saat tiba-tiba jari tengah yang lebih besar dari jari tengah miliknya mencoba berusaha masuk menerobos lubang yang kecil dan sempit itu.
"Apakah kau baik-baik saja, Annabelle?" tanya Andre yang sedikit terkejut dengan pekikan istrinya itu.
__ADS_1
Rumanah mengatur napasnya yang ngos-ngosan. "Tuan, kenapa sakit sekali. Shhhh," rintih gadis desa itu seraya menggigit bibir bawahnya.
"Sorry, aku akan melakukannya dengan lembut dan hati-hati. Sekarang, jangan pikirkan apa-apa lagi selain soal se*ks yang nikmat," ucap pria tampan itu seraya melepaskan bra yang Rumanah kenakan.
Gadis desa itu menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. Sepertinya ia memang harus menyiapkan mental dan keberaniannya.
"So beautifull, Annabelle." duda tampan itu memuji dengan suara yang lembut. Tangannya memilin pelan pucuk balon kembar yang kenyal itu.
Seketika Rumanah kembali memejamkan matanya saat sensasi nikmat kembali ia rasakan. "Aaachhh!" desa*hnya manja serta meremas sprei.
Tak membuang waktu lagi Andre pun mendaratkan bibir dan lidahnya bermain pada pucuk balon kembar yang mungil dan cantik itu. Uh, rasanya membuat Rumanah merem melek dan menggigit bibir bawahnya. Belum lagi jari-jari yang besar itu mengorek-ngorek mis vagsnya.
"Aaaach, pelan-pelan, Tuan. Ini sa... sakit sekali! Uh!" Rumanah meringis kecil saat jari tengah Andre berusaha kuat menerobos masuk ke dalam lubang yang sempit itu.
"Ini sudah pelan, Belle. Tahanlah sedikit saja," ucap Andre yang kemudian menyapu habis balon kembar hingga ke perut rata istrinya itu.
"Uuuuuhhhh, Tuan! Ampun!" gadis desa itu tak kuat menahan sakit. Rasanya perih walau hanya dimasuki oleh jari tengah yang jauh lebih kecil dari kejantanan milik suaminya itu.
"Tenanglah! Kita lakukan secara perlahan, ya." duda tampan itu mencoba menenangkan.
"Hummm," jawab Rumanah disertai anggukkannya.
"Manisnya milikmu ini, Belle. Aku sungguh sudah tak sabar ingin menancapkan samurai pedang panjang milikku ini!" ucap Andre dalam hati.
Rumanah mengatur napasnya yang kian ngos-ngosan. Walau kamar itu memakai pendingin ruangan yang cukup tinggi. Tapi, keringat sebesar jagung mengucur deras di tubuh gadis desa itu.
Uh, ini baru permulaan, Belle. Segitu saja sudah minta ampun. Hihihi...
__ADS_1
BERSAMBUNG...