Terjerat Cinta Majikan Duda

Terjerat Cinta Majikan Duda
Menemukan kebenaran


__ADS_3

Luna memarkirkan kendaraannya di depan sekolah princess Sandrina. Hari ini ia bertekad untuk membawa pergi Sandrina bersamanya. Sudah lima bulan lebih ia tidak bertemu dengan putrinya itu. Tentu saja sang model cantik itu begitu sangat merindukan putri satu-satunya itu.


"Kau pasti akan terkejut melihat Mommy, sayang. Hari ini Mommy akan mengajakmu tinggal bersama Mommy." bisik Luna seraya menatap jeli pada lingkungan sekolah.


Suasana masih sepi karena belum waktunya pulang sekolah. Nampaknya Luna terlalu cepat datang ke sekolah itu, maka hal itu mengharuskan Luna untuk menunggu dengan penuh kesabaran.


Seperti biasa, Sandrina akan pulang pukul tiga sore. Banyak sekali kegiatan yang ia pelajari di sekolah. Gadis kecil yang cantik itu pun mengikuti kelas ballet. Rencananya, akhir tahun ini princess Sandrina akan mengikuti lomba ballet antar kota.


"Ayo sayang, princess cantik kesayangan semuanya. Jangan membuat Daddy menunggu, kalau bisa kita saja yang menunggunya." ajak Rumanah pada asuhannya, seperti biasa ia akan menyelipkan petuah dan pelajaran yang baik untuk asuhannya itu.


"Tapi princess tidak mau kelamaan menunggu, dewi periii. Princess pegal dan capek, kalau Daddy kelamaan nanti princess bisa pingsan di sini." rengek gadis kecil berusia lima tahun itu.


Rumanah tersenyum kecil mendengar jawaban asuhannya yang manja itu. "Princess terlalu berlebihan. Lagi pula, kita tidak akan kelamaan menunggu Daddy. Princess kan tahu jika Daddy sedang bekerja, jadi kalaupun Daddy sedikit terlambat menjemput princess, princess harus memakluminya. Apakah princess mengerti pada ucapan dewi peri?" terang Rumanah mencoba memberi pencerahan pada asuhannya.


Sandrina tampak manggut-manggut tanda mengerti. "Oooh begitu ya, jadi princess harus sabar dan memaklumi Daddy ya." ucap gadis kecil itu.


"Ya, benar sekali, sayang. Agar princess menjadi anak yang baik." jawab Rumanah seraya mencubit gemas pipi chubby asuhannya itu.


Sandrina tersenyum sumringah, mereka pun berjalan ke luar sekolah untuk menunggu sang Daddy yang setiap hari harus menjemput Sandrina.


Sementara itu, Luna yang sudah satu jam lebih menunggu Sandrina tampak gusar dan pegal. Sesekali model cantik itu membuka kaca jendela mobilnya, memantau keberadaan putri kecilnya.


"Lama sekali, apakah setiap hari gadis kecil itu sekolah sampai sore begini? Hng, astaga! Kenapa aku sebal sekali jika hal itu benar-benar terjadi. Dasar pria aneh, bisa-bisanya dia menyiksa putrinya seperti itu." Luna berdecak kesal dan merutuki mantan suaminya.

__ADS_1


"Lebih baik aku keluar mencari princess sebelum Daddynya datang." ucap Luna seraya membuka pintu mobilnya.


Luna pun melangkahkan kakinya untuk mencari putrinya. Anak-anak yang lain tampak sudah berhamburan keluar dari area sekolah elit itu. Dengan telaten Luna memperhatikan satu persatu setiap anak perempuan yang keluar dari sekolah itu.


"Ngomong-ngomong, princess ditemani siapa ya?" ucap Luna dalan hati.


Sementara itu, Rumanah dan Sandrina tampak baru saja menginjakkan kaki mereka keluar dari pintu gerbang sekolah elite itu. Tak ada firasat atau pun curiga yang mereka rasakan saat itu.


"Tuh kan, Daddy belum datang, dewi peri." ucap Sandrina seraya mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Sosok Luna belum nampak di hadapan matanya.


"Ya sudah tidak masalah, sayang. Kan sudah dewi peri beri tahu jika princess tidak boleh membuat Daddy menunggu terlalu lama. Lebih baik kita yang menunggunya, jadi sekarang ayo kita duduk di tempat biasa." tutur Rumanah kembali mengingatkan asuhannya pada kebaikan.


"Hmm, baiklah." gadis kecil itu menjawab santai dan pasrah. Akhirnya mereka berdua pun bergegas ke sebuah bangku yang biasa ia gunakan untuk menunggu Andre.


"Itu dia princess, lebih baik aku segera temui dia sebelum Daddynya datang. Tapi, siapa wanita yang di sampingnya itu? Apakah dia istri baru Andre? Ah tidak mungkin, melihat dari penampilannya, wanita itu cocok menjadi pengasuh putriku." cerocos Luna seraya memperhatikan putrinya yang sedang duduk dengan Rumanah.


Tanpa membuang waktu lagi Luna pun melangkahkan kakinya menghampiri Sandrina yang sedang memakan buah yang sempat Rumanah bawa dari rumah.


"Princess." panggil Luna saat ia telah berada di belakang putrinya.


Sandrina tampak terjingkat kaget saat mendengar suara wanita yang sudah tak asing lagi baginya. Tentu saja dia hafal betul pada suara Mommynya. Gadis kecil itu tampak diam mematung dan tidak menolehkan wajahnya sama sekali.


Berbeda dengan Sandrina, Rumanah tampak menolehkan wajahnya tanpa curiga. Dan pada saat itu...

__ADS_1


"Hah??? Nenek lampir!?" Rumanah tampak terjingkat kaget saat melihat sosok wanita yang tempo hari pernah tak sengaja bertemu dengannya. Ya, wanita yang membuatnya sampai berlari dan bersembunyi di mobil milik Andre dan bahkan membuatnya menjadi pengasuh putri sang pemilik mobil itu.


Namun, yang jadi pertanyaan bagi Rumanah saat ini adalah, siapa wanita yang pernah bertengkar dengannya beberapa waktu yang lalu?


"Kau!" Luna pun tak kalah terkejutnya saat melihat sosok gadis desa yang pernah menjambak rambutnya. Gadis desa yang ia katai cupu.


Rumanah menatap tajam pada Luna dengan sebuah rasa penasaran yang sangat tinggi. "Siapa wanita ini? Kenapa dia memanggil princess dan kenal pada gadis kecil ini. Tapi, kenapa princess diam saja?" ucapnya dalam hati.


"Kau, apa yang kau lakukan pada putriku?" Luna melangkahkan kakinya lalu mendekati Sandrina yang sedang mematung tanpa kata.


"Apaaa??" Rumanah benar-benar terbelalak kaget saat mengetahui kebenarannya, tentu saja ia sangat tidak menyangka jika ternyata wanita yang ia panggil nenek lampir itu adalah Ibu Sandrina.


"Princess, ayo ikut Mommy, sayang. Mommy kangen banget sama princess." Luna memeluk hangat putri satu-satunya itu. Namun mirisnya, Sandrina tak membalas pelukan hangat Mommynya dan malah mendorong tubuh wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"Mommy? Kau ibu kandung princess?" selidik Rumanah.


"Kau pikir siapa? Dan kau, kenapa kau bisa bersama putriku yang cantik ini. Aku sungguh tidak rela membiarkan putriku dekat dengan wanita cupu dan kampungan seperti dirimu!" hardik Luna yang berhasil membuat Sandrina kesal karena dewi perinya direndahkan dan dihina oleh Mommynya.


"Hentikan, dewi peri tidak seperti yang kamu katakan." gadis kecil itu tampak menatap menatap tajam dan kesal pada Mommynya sendiri.


Luna sangat terkejut saat melihat putrinya membela gadis desa yang pernah bertengkar dengannya beberapa waktu yang lalu. Dan hal itu tentu benar-benar membuatnya kesal dan malu karena putrinya tidak pernah menganggapnya ada


***

__ADS_1


__ADS_2