
Rumanah nyelonong masuk ke dalam kamar Sandrina. Dari mulutnya tak henti-hentinya keluar kicauan ngedumel pada majikan dudanya.
"Dia bilang aku anak kecil, ciiih.. Kecil-kecil juga aku sudah dewasa. Buktinya aku rela merantau dari Desa pergi ke Kota hanya untuk mencari sebongkah berlian. Ah, tidak, bukan berlian. Uang, ya, aku sedang mencari uang." cerocos Rumanah mengomel sendiri.
Dilihatnya Sandrina yang tampak masih terpejam, selimut tebal yang sepertinya bekas dipakai oleh Andre begitu tergeletak di lantai.
"Ck, dasar majikan galak. Enak betul kau taruh selimut ini, apa susahnya kau taruh kembali ke tempatnya? Ssssh, orang kaya seperti dia memang patut dilawan jika menindas orang miskin seperti saya. Pantas saja istrinya meninggalkannya, ternyata dia memang sangat menyebalkan. Aku pun kalau jadi istrinya pasti tidak akan tahan menghadapi sifatnya." kembali Rumanah mengoceh ria.
Dengan sebal gadis desa itu melipat selimut tebal bekas digunakan oleh majikan galaknya, mulutnya masih tak berhenti mengoceh. Hingga pada saat ia tak sengaja menghirup aroma maskulin dari selimut tebal itu, tiba-tiba jantungnya terasa berdetak dan aroma maskulin itu masuk ke dalam setiap saraf dan urat nadi gadis desa itu.
"Harumnya, uuuuuuuhhh, kenapa aroma ini membuatku tenang dan nyaman." gumam Rumanah dalam hati.
Gadis desa itu tampak masih menghirup aroma maskulin yang berasal dari selimut tebal bekas majikan galaknya. Kedua manik matanya tampak terpejam dan senyuman manja terukir di wajah manisnya.
"Dewi peri, kau sedang apa?" terdengar suara princess Sandrina yang berhasil membuat Rumanah terjingkat kaget.
Dengan cepat Rumanah meletakkan selimut tebal itu ke tempatnya. Wajahnya tampak merah merona menahan malu. Walaupun mungkin saja Sandrina tidak peka dan tidak memperhatikan Rumanah, tapi gadis desa itu merasa malu karena sudah terlanjur tercyduk oleh asuhannya.
"Hai princess imuuut, kamu sudah bangun sayang." basa-basi Rumanah tampak mencoba mengusir ketengsinannya.
"Sudah dari tadi." jawab gadis kecil berusia lima tahun itu.
"Hah? Dari tadi? Berapa menit yang lalu, princess?" tanya Rumanah yang terlihat syok dan panik.
"Entahlah, yang pasti aku mendengar semua rutukanmu pada Daddyku." jawab princess Sandrina dengan ekspresi santainya.
Rumanah tampak benar-benar tercengang dan syok berat mendengar penuturan asuhannya. Tentu saja ia semakin merasa malu pada Sandrina karena apa yang telah ia katakan sedari tadi ternyata telah didengar oleh asuhannya.
"Astaga princeesss, apa yang kau katakan." Rumanah berlari kecil lalu mendudukkan bokongnya di sisi ranjang princess Sandrina.
__ADS_1
Sandrina beringsut membangunkan tubuhnya.
"Aku mendengar semua yang kau katakan, dewi peri." ucapnya setengah menekan setiap ucapannya.
Rumanah menutup mulutnya dan membuang napasnya kasar.
"Princess, anu, itu hanya omong kosong belaka. Dewi peri hanya.." belum sampai Rumanah menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Sandrina menyelanya.
"Kau salah sangka pada Daddyku, dewi peri." celetuk Sandrina menyela ucapan pengasuhnya.
Rumanah tampak terjingkat kaget dan membulatkan kedua bola matanya penuh. Nampaknya gadis kecil itu benar-benar mendengar apa yang Rumanah katakan.
"Aduuuh, sepertinya princess benar-benar mendengar semua yang aku katakan tadi. Ya Tuhan, bagaimana ini? Jangan sampai gadis kecil ini mengadu pada Daddynya. Bisa-bisa aku dihukum gantung oleh majikan galak itu." celotehnya dalam hati.
"Dewi peri, apa yang kau pikirkan?" Sandrina kembali mengeluarkan suaranya dan berhasil membuyarkan lamunan Rumanah.
Sandrina mengernyitkan dahinya dan menatap serius pada dewi perinya.
"Jadi, dewi peri minta tolong pada princess untuk tidak mengadukan hal ini pada Daddy princess yang paling tampan itu." lanjut Rumanah yang berhasil membuat Sandrina tersenyum sinis.
"Hng, Daddyku yang paling tampan? Tadi kau mengatakan jika dia adalah majikan galak." sindir Sandrina yang berhasil membuat Rumanah tersenyum kaku.
"Aah itu, dewi peri hanya bercanda, sayang. Dewi peri mohoooon, princess cantik jangan marah pada dewi peri. Dewi peri hanya..." lagi-lagi Rumanah menjeda ucapannya saat tiba-tiba Sandrina menyelanya.
"Kau tenang saja, dewi peri. Princess tidak marah pada dewi peri, karena princess tahu kalau dewi peri sedang kesal pada Daddy princess." ucap Sandrina diiringi senyuman manisnya.
"Haaaaaah, princess serius tidak marah? Aaaaa, princess baik sekali." sorak Rumanah seraya memeluk manja asuhannya itu.
Sandrina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku memang baik, sama seperti Daddy, dia sangat baik dan perfect." ucapnya lirih.
Rumanah melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah cantik asuhannya itu. Dapat dia lihat jika Sandrina memang benar-benar sangat menyayangi Daddynya. Tapi, bagaimana dengan ibunya? Rumanah benar-benar penasaran dan rasanya ia ingin mencari tahu tentang masalah yang mengakibatkan pernikahan majikan galaknya berakhir dengan perceraian.
"Princess sayang, kamu sangat menyayangi Daddy?" selidik Rumanah yang mulai mencoba mengorek tentang keluarga majikan galaknya itu.
Sandrina mengangguk kecil.
"Tentu saja, karena Daddy selalu ada di samping princess. Daddy selalu setia mendampingi princess, Daddy selalu sabar menjaga princess. Daddy selalu menyayangi princess, Daddy selalu ada di saat princess membutuhkannya. Pokoknya Daddy segalanya untuk princess. Princess sayaaaaaang sekali pada Daddy." cerocos gadis kecil berusia lima tahun itu.
Rumanah tertegun mendengar setiap kata yang keluar dari mulut asuhannya. Sedikit demi sedikit Rumanah tampak memutar otaknya dan mencerna setiap ucapan asuhannya.
"Ya, aku mengerti sekarang. Mungkin benar yang dikatakan gadis kecil ini. Aku telah salah sangka pada Daddynya. Aku rasa pernikahan majikan galak itu berakhir karena mantan istrinya yang berulah dan membuat Sandrina sampai tidak pernah mengungkitnya sama sekali. Hmmm, kalau seperti itu, apa lagi alasannya selain princess membenci ibunya sendiri. Tapi, apa sebab princess sampai membenci ibunya?" batin Rumanah berargumen.
Tak berapa lama..
"Ceklek!" terdengar suara pintu dibuka, Rumanah dan Sandrina menolehkan wajah mereka secara bersamaan.
Dari balik pintu muncul sesosok pria tampan yang sudah tak asing lagi bagi Rumanah. Pria dewasa yang sudah berusia tiga puluh lima tahun itu tampak masih terlihat tampan dan terlihat muda. Tak akan ada yang menyangka jika duda kaya itu sudah berusia tiga puluh lima tahun. Bahkan jika harus jujur, Rumanah sempat mengira jika Sandrina adalah adik dari pria tampan yang kini telah menjadi majikannya itu.
"Daddy!" Sandrina bersorak memanggil Daddynya. Sang Daddy tampak tersenyum manis dan berjalan menghampiri putri sematawayangnya. Rambut hitamnya yang sedikit basah tampak terlihat seksy dan menawan di pandangan mata Rumanah.
Gadis desa itu tampak menelan ludahnya kasar dan megerjapkan matanya berkali-kali, tak ingin majikan galaknya menyadari jika dia telah memperhatikannya.
Andre mendudukkan bokongnya di sisi ranjang dekat putrinya, sementara Rumanah yang sedang duduk di sisi ranjang princess, tampak beringsut dan sedikit menjauh dari tempat tidur princess.
"Astaga, Rumanaaah, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau malah terpesona pada majikan galak itu? Ya Tuhan, ingat Rum, kau datang ke sini untuk mengais rezeky, bukan untuk mencari jodoh. Astaga, lagi pula kau harus sadar diri, wanita jelek seperti dirimu tidak mungkin mendapatkan pria tampan dan kaya seperti majikan galak itu." cerocos Rumanah dalam hati.
***
__ADS_1